PERNIKAHAN KE DUA

PERNIKAHAN KE DUA
MELUAPKAN


__ADS_3

“Mas!!” Ucap Wafa, ia sedikit menaikan nada bicaranya karena kesal.


“Kenapa kamu sampai berteriak sayang??”


“Kamu gak mikirin aku sama sekali.” Kata Wafa, ia masih menaikan nada bicaranya. “Inikah kejutan yang kamu maksud mas??”


“Iya, aku gak mau terus-terusan ada pria yang mendekati kamu. Kamu milik ku.”


“Aku memang milik kamu mas, kamu gak perlu mengumumkannya seperti itu. Apa mas pernah memikirkan bagaimana kalau mereka mengorek masa lalu ku, wanita beruntung yang kamu nikahi. Bagaimana kalau mereka menemui keluarga ku? Mas, bahkan pernikahan kita di bawah tangan, kita hanya menikah siri, kalau mereka tahu, apa kamu pernah memikirkan perasaan ku? Bukankah ini akan menjadi bahan hujatan yang empuk? Seorang janda yang berasal dari sebuah kampung dan keluarga biasa dengan beruntungnya di nikahi seorang pengusaha muda yang sukses.”


Arsya terdiam, ia tak memikirkan hal itu, dan bodohnya ia bahkan lupa mendaftarkan pernikahannya di catatan Negara. Ia terlalu terbuai dengan indahnya pernikahan, tapi ternyata tanpa Arsya ketahui, Wafa memikirkan banyak hal dan banyak beban tentang pernikahan mereka.


“Kamu tidak pernah memikirkan hal itu kan mas??” Lirih Wafa, “Kamu tidak tahu kalau setiap hari aku memikirkan banyak hal, kamu juga tidak pernah bertanya apa yang aku mau dan aku fikirkan, kamu tidak pernah bertanya apa yang aku rasakan. Mas, setiap hari aku merasa resah, bagaimana kalau seandainya aku hamil? Sedangkan pernikahan kita saja belum sah secara Negara, bagaimana dengan status anak ku nanti, aku pernah mengingatkan kamu tentang mendaftarkan pernikahan kita. Kamu bilang IYA, tapi sampai sekarang kamu tidak melakukannya.”


Akhirnya segala beban yang Wafa fikirkan di setiap harinya keluar begitu saja dari mulutnya. Setiap hari Wafa selalu menunggu kabar baik dari Arsya mengenai pendaftaran pernikahan mereka, tapi sampai saat ini, itu tidak Arsya lakukan. Wafa bahkan pernah mengingatkan hal itu pada Arsya, namun Arsya hanya menjawab YA tanpa pria itu lakukan. Bisa saja Arsya memerintahkan salah satu anak buahnya untuk mengurus itu, tapi itu juga tidak Arsya lakukan. Atau bisa kan Arsya meluangkan waktunya sehari saja untuk mendaftarkan pernikahannya, tapi itu juga tidak Arsya lakukan.

__ADS_1


“Mungkin karena kamu tidak mencintai aku mas, sampai kamu sesantai itu. Tapi aku seorang wanita yang pernah gagal mas, aku takut. Kegagalan itu menjadi sesuatu yang menakutkan untuk ku, berbeda dengan mu yang bisa begitu mudah menjalani ini semua.”


Wafa mulai menangis, ia menunduk dengan dua tangan menutup wajahnya.


“Bukan seperti itu Fa, maafkan aku. Aku hanya belum menemukan waktu untuk mendaftarkan pernikahan kita.”


“Sampai kapan mas?? Sampai aku hamil lalu melahirkan? Atau sampai aku bosan mengingatkan lalu aku pergi? Sampai kapan aku harus menunggu??”


Arsya menggelengkan kepalanya. “Jangan katakana itu, jangan berniat untuk pergi dari ku Fa, aku gak bisa tanpa kamu.”


“Apa aku terlihat serendah itu??” Lirih Arsya.


Wafa tak menjawab, ia membuka set belt yang sebelumnya sudah ia pakai kemudian hendak membuka pintu mobil Arsya, namun Arsya menahannya.


“Aku butuh waktu sendiri mas.”

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Aku bisa gila karena mencari mu.”


“kalau begitu jangan cari aku.”


Wafa melepaskan tangan Arsya dari lengannya dengan perlahan, kemudian ia turun dari mobil meninggalkan Arsya yang terus memanggil namanya.


“Fa, sayang tunggu..”


Wafa menghapus air matanya. Ia masih berada di lingkungan hotel tempat acara tadi di gelar, ia tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.


“Wafa tunggu, Wafa!!” Arsya mengejar Wafa dan meraih tangan perempuan itu. “Jangan bersikap seperti anak kecil. Dikit-dikit kabur dikit-dikit ngambek. Aku suami kamu, patuhi aku atau aku akan mencium mu sekarang juga.” Ancam Arsya.


Wafa berdecih. “Ancaman macam apa itu??” Batinnya.


“Kamu tidak mau kan menjadi bahan tontonan orang. Masuk ke mobil, kita bicarakan ini di rumah.”

__ADS_1


Wafa menghela nafas dalam kemudian mengikuti tarikan tangan Arsya dengan pasrah.


__ADS_2