
"Mas! Kamu apa-apaan sih? Buat apa kamu kejar-kejar dia?" Marah Baby mendekati suaminya yang masih menatap jalan yang di lalui mobil yang di tumpangi Fadila.
"Iya, Feb. Buat apa kamu kejar-kejar dia, hah? Gak guna," ucap bu Rita ikutan marah.
"Kalian itu gak tahu apa-apa. Ini masalah serius yang mau aku bicarakan sama Fadila, jadi kalian diam dan jangan banyak protes," kata Febri kesal.
Sudah Fadila tidak mau bicara dan mengabaikannya. Kini malah ibu dan istrinya ribut dan terus marah-marah. Semakin kesal sajalah Febri di buatnya.
Mana mantan semakin cantik danmempesona lagi. Kan gagal move on kalau begini caranya, batin Febri.
"Memangnya masalah apa sih, Mas? Awas saja kalau sampai kamu ketemuan sama dia, aku aduin kamu sama papa," ancam Baby.
"Silahkan, setelah itu jangan harap bisa belanja lagi." Febri menarik Beni dari gendongan Baby kemudian berlalu dari loby hotel itu.
Baby menghentak-hentakkan kedua kakinya marah dan kesal. Suaminya sekarang tidak bisa lagi di kendalikan olehnya. Bahkan semua ucapannya sekarang bisa di balikkan lagi oleh Febri.
Di dalam mobil, Fadila dan Anan sedang berbincang hangat. Arnan hanya menjadi pendengar saja dan sesekali ikut menimpali obrolan istri dan anaknya.
"Pesawatnya masih jauh ndak, Mi?" Tanya Anan menatap Fadila.
"Masih," jawab Fadila singkat.
"Kapan kita bisa naik pesawat lagi, Mi?"
"Nanti kita naik pesawat."
"Selain nanti, aku mau naik pesawat banyak-banyak."
"Memangnya Anan mau kemana?" Tanya Arnan yang menarik perhatian anaknya untuk menoleh.
"Ndak kemana-mana, cuma mau naik pesawat saja, Daddy."
"Walau pesawatnya gak terbang?" Tanya Arnan yang membuat Anan menggeleng.
"Halus telbang, Dad. Kalau ndak telbang nanti kita ndak bisa pelgi. Katanya kita mau pulang ketemu nenek, ndak jadi ya?"
__ADS_1
Fadila menahan senyumnya sembari buang muka ke arah samping pintu kala Arnan bingung harus menjawab apa ucapan polos anaknya.
"Jadi," jawab Arnan singkat.
"Tlus kenapa pesawatnya ndak telbang? Apa bannya kempes? Apa minyaknya habis, Dad?"
Arnan menghela napas panjang karena pertanyaan anaknya. Bagaimana pula ban pesawat bisa kempes? Apa lagi minyaknya habis, kan gak mungkin pihak maskpai gak periksa itu dulu. Ada-ada saja Anan bertanya.
"Wah kita sudah hampir sampai," ucap Arnan untuk mengalihkan pertanyaan anaknya.
Apa lagi memang kebetulan mereka sudah masuk ke area bandara dan tinggal menghentikan mobil saja.
Keluarga kecil itu segera masuk ke dalam bandara setelah tiba dan segera menuju pesawat pribadi keluarga Arnan. Karena memang sudah waktunya mereka akan segera terbang.
Anan bersorak bahagia saat naik ke atas pesawat, hingga dua orang Pilot dan dua orang Pramugari yang menyambut mereka di atas pesawat di sapa dengan ramah oleh Anan.
Pesawat mengudara membawa keluarga kecil itu untuk kembali ke Jakarta.
"Daddy, aku mau buat gambal sama Ante-Ante itu boleh?" Pinta Anan sembari menunjuk kedua Pramugari yang sedang mengubah posisi kursi jadi tempat tidur.
"Boleh, tapi nanti setelah pekerjaan Ante selesai ya, Nak." Arnan mengangguk semangat dan duduk diam di tempatnya menunggu.
Fadila sendiri membiarkan anaknya melakukan apa yang ia mau selama tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain. Wanita itu memilih untuk merebahkan dirinya di tempat tidur yang tadi sudah di siapkan.
Arnan jelas saja mengikuti apa yang istrinya lakukan.
"Tetap perhatikan pekerjaan kalian meski sedang bermain," ucap Arnan pada kedua Pramugari itu.
"Baik, Tuan."
Fadila menatap suaminya yang ikut rebahan sembari memeluk dirinya. Pria itu juga tak segan-segan memberikan kecupan di kening Fadila.
Setelah beberapa jam mengudara, kini ketiganya sudah tiba di Jakarta. Anan di gendong oleh daddy nya karena baru bangun tidur. Bocah gembul itu memeluk erat leher daddy nya dan menyembunyikan wajah di sana sembari bersandar di pundak kokoh Arnan.
"Anann ... Buna datang!" Teriak Sinta berlari mendekati Fadila dan Arnan yabg sedang menggendong Anan.
__ADS_1
Robert hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya. Meski menjadi pusat perhatian, Sinta tidak perduli. Yang penting baginya tidak merugikan orang lain. Meski teriakan cukup mengganggu sebenarnya.
Tapi rasa rindunya pada Anan sudah tidak bsia di bendung lagi. Seminggu lebih tidak bertemu dengan Anan membuatnya ingin segera bertemu dengan anak angkatnya.
"Anan, Buna kangen." Gadis itu meraih tubuh Anan dari gendongan Arnan.
"Kangennya Buna sama kamu, Nak." Anan yang sudah berpindah ke gendongan Sinta langsung mendatpkan kecupan bertubi di wajahnya dari Sinta.
Anan yang belum sepenuhnya sadar setelah bangun tidur hanya diam menerima kecupan Bunanya.
"Kamu kenapa, Nak? Kok diem saja? Gak kangen Buna, ya?" Sinta memasang wajah sedih saat menyadari diamnya Anan.
"Dia baru bangun, Sin." Sinta beroh ria setelah Fadila memberitahunya.
"Maaf ya sayangnya, Buna. Habisnya Buna kangen banget sama kamu." Kembali Sinta mengecup kedua pipi Anan lalu memeluk bocah itu.
Anan membalas pelukan Sinta dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Ayo, Anan masih ngantuk tuh." Robert yang melihat Anan memejamkan mata lagi segera mrngajak yang lainnya pulang.
Memang mereka berdua yang datang menjemput keluarga kecil Arnan. Meski ada supir Arnan yang ikut datang ke sana juga.
"Fa, Anan ku bawa pulang ke rumah papa. Nanti kalau aku sudah puas bermain dengan Anan, baru ku pulangkan," ucap Sinta saat mereka akan naik ke mobil.
"Senin besok Anan akan ku daftarkan sekolah kanak-kanak. Jadi kamu harus pulangkan senin besok," kata Fadila memberitahu.
"Oh iya, Anan mau sekolah. Ya sudah, senin besok kita barengan ke sana. Sekalian beliin perlengkapan sekolahnya." Fadila menggangguk setuju dengan usulan Sinta.
Mereka naik dua mobil yang berbeda, mobil yang di tumpangi Fadila menuju rumah mereka sendiri. Sedangkan mobil yang di naiki Sinta dan Robert tentu menuju kediaman papa Vian.
"Memangnya nanti Anan gak nangis kalau di bawa mereka?" Tanya Arnan yang merasa ragu melepaskan Anan.
Fadila menatap suaminya sembari tersenyum lalu menggenggam tangan pria itu dengan tatapan meyakinkan.
"Sinta dan Dwi adalah dua orang yang selalu menemaniku di masa-masa sulit, Mas. Mereka berdua juga yang ikut membesarkan Anan. Jaid meski gak ada aku, asal ada salah satu dari mereka berdua. Anan, gak akan rewel selama masih bisa dengar suaraku. Nanti Sinta bakalan telpon aku kalau Anan minta. Lagian cuma 3 hari saja," jelas Fadila.
__ADS_1
Arnan mengangguk dan tersenyum lega, bukannya tidak suka Anan di bawa Sinta. Pria itu hanya tidak mau anaknya nanti menangis atau rewel saat bangun tidur tidak melihat ibu kandungnya.
Tali kalau memang seperti itu kedekatan mereka, Arnan bisa lega dan tidak merasa merepotkan orang lain lagi.