
Tadi sewaktu Fadila selesai mencuci muka dan gosok gigi. Wanita itu ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Tapi begitu selesai memakai pakaian, Fadila di kagetkan dengan keberadaan kepala pelayan.
Fadila yang melihat wanita itu dari pantulan cermin begitu shok. Namun posisi Fadila belum di ketahui oleh kepala pelayan itu yang terlihat sedang mencari sesuatu.
Saat akan mendekat, Fadila mendengar suara wanita itu yang ternyata mencari suaminya. Di situlah Fadila menampakkan diri dengan keadaan marah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Bentak Fadila yang membuat kepala pelayan itu sangat kaget.
Bukan Arnan yang di temuinya, malah Fadila yang memergoki dirinya.
"Nyo-Nyonya Muda, sa-saya hanya ingin mengantarkan p-pakaian," ucapnya gugup. Wajahnya juga terlihat memucat dan ketakutan.
"KELUAR!!"
Fadila berteriak sembari meraih rambut wanita itu kasar. Fadila begitu kesal pada kepala pelayan itu. Katanya mengantar pakaian, padahal tidak ada apapun di tangannya.
Malah pakaian kepala pelayan itu sendiri yang terlihat kurang bahan. Rok sepangkal paha dengan bagian depan yang terbuka.
Padahal tadi saat bertemu di bawah, wanita itu mengenakan daster selutut. Kenapa sekarang sudah pakaia pakaian penggoda seperti itu?
Menyeret wanita itu keluar dari ruang ganti, Fadila melihat suaminya yang ada di depan pintu terlihat khawatir.
"Ada apa sayang?" Tanya Arnan.
"Awas Mas, aku mau bawa perempuan penggoda ini keluar." Fadila menerobos tubuh Arnan yang baru bergeser dari pintu.
Mendorong kepala pelayan yang meraung kesakitan sembari memegangi rambutnya yang di tarik Fadila. Belum lagi salah satu tangannya yang di pelintir Fadila.
"Ampun Nyonya, ampun. Maafkan saya," teriak wanita itu kesakitan.
Fadila tidak perduli dan terus membawa kepala pelayan itu turun ke lantai bawah melalui tangga. Meski cukup lama hingga sampai di bawah, Fadila tidak mempermasalahkan hal itu.
Trauma masa lalunya saat di selingkuhi kembali terekam di ingatannya. Ia takut hal serupa akan terulang kembali. Itulah sebabnya ia sangat murka dan marah.
Apa lagi yang akan di lakukan seorang wanita dewasa berpakaian minim di kamar orang lain. Apa lagi yang di carinya adalah seorang pria yang sudah beristri.
"Maaf untuk apa, hah? Kamu menyelinap masuk kamar saya dan mencari suami saya untuk apa?" Marah Fadila terus menggiring kepala pelayan itu hingga lantai bawah.
Arnan hanya bisa mengikuti saja langkah istrinya tanpa berniat melerai. Ia hanya takut kalau Fadila jatuh atau di sakiti oleh kepala pelayan.
__ADS_1
"Pelan-pelan sayang," ucap Arnan yang berada di belakang Fadila.
Ia khawatir juga kalau sikap istrinya itu karena traumanya kembali. Dan ego kerasnya yang dapat melakukan sesuatu di luar kendali kumat juga.
Sesampainya di ruang tengah rumah, Fadila menodorng kasar wanita berpakaian seksi itu.
Seorang Satpam yang kebetulan berada di dapur karena membuat kopi untuk teman berjaga datang mendekat saat mendengar keributan.
"Ada masalah apa, Nyonya muda, Tuan Muda?" Tanya si Satpam kala mendapati tuan rumah ada di ruang tengah.
"Cari apapun untuk menutupi tubuhnya, Pak." Arnan memerintah Satpam itu karena merasa malu melihat seorang wanita berpakain kurang bahan itu.
Kalau istrinya sendiri yang begitu di hadapannya, Tentu saja Arnan tidak akan keberatan. Namun sangat malu jika itu wanita lain, bahkan saat di luar negeri. Arnan sangat menjaga pandangannya dari para wanita berbikini atau pakaian yang terlalu terbuka.
Pak Satpam segera berlari ke dapur dan bertemu pelayan lainnya.
"Eh! Untuk apa, Pak?" Kaget pelayan itu saat daster sobek miliknya di ambil si Satpam.
Padahal pelayan itu ke ingin mengambil gunting yang ada di dapur karena mau menjahit daster yang sudah sobek itu.
"Ayo, ayo cepat!" Ajak Pak Satpam yang membuat pelayan itu kepo dan mengikut.
Pak Satpam memakaikan daster dengan mudah karena tubuh kepala pelayan itu kecil.
"Katakan apa mau mu datang ke kamarku dengan penampilan begitu?" Tanya Fadila dengan suara rendah tapi terdengar menyeramkan.
Arnan yang mendengar suara istrinya jadi bergidik ngeri. Pasalnya selama ini sang istri sangat lembut, meski pernah melihat Fadila marah. Tapi tidak separah ini, batinnya.
Pelayan dan pak Satpam juga ikutan merinding mendnegar suara Fadila itu.
Nyonya serem juga kalau marah, batin keduanya menunduk.
"Sa-saya cuma me ..."
"Mengantar pakaian?" Sela Fadila mengulang jawaban kepala pelayan itu saat di atas.
"iya, Nyonya Muda."
"Mengantar pakaian atau mengantar tubuhmu untuk suamiku, HAH?" Teriak Fadila marah.
__ADS_1
Arnan tersentak kaget di belakang Fadila. Bukan hanya suara teriakan saja, tapi juga kalimat yang di keluarkan istrinya.
"Apa maksudnya sayang?" Tanya Arnan meminta penjelasan.
"Dia menyelinap masuk kamar kita, Mas. Saat aku sedang ganti pakaian, aku melihat bayangannya di kaca. Aku juga mendengarnya mengatakan kalau sedang mencari kamu karena aku sedang di kamar Anan. Dia ingin menggunakan kesempatan itu untuk merayu kamu," ucap Fadila dengan hati berkecamuk.
Istri mana yang tidak marah dan kesal saat mendengar sendiri kalau ada orang yang ingin menghoda suaminya. Bahkan dalam situasi keadaan sangat mendesak sekalipun.
Arnan menatap tajam wanita yang meringkuk ketakutan di lantai itu. Kemarahannya atas apa yang di lakukan wanita itu siang tadi belum terealisasikan.
Dan kini sudah berbuat ulah lagi dengan melakukan hal nekat.
"Kamu kira saya wanita lemah yang tidak mampu melawan dan hanya akan diam saja saat ada pelakor? Kamu salah, saya akan menjadi singa yang akan mencabik-cabik kamu sampai tidak berbentuk kalau berani mengganggu keluarga saya. Apa lagi merebut suami saya," ucap Fadila.
Fadila menarik daster yang menutupi tubuh wanita itu dan sungguh-sungguh mencabik-cabik pelakor di depannya.
Perasaan kalut Fadila membuatnya gelap mata dan hanya ingin meluapkan semua kesakitannya.
Rambut, wajah, hingga tangan dan pakaian, semua menjadi sasaran Fadila. Apa saja yang kena di tangannya akan ia habisi.
Arnan yang melihat istrinya semakin hilang kendali segera menangkap tubuh Fadila. Namun Fadila melawan dan tetap berusaha untuk menghabisi kepala pelayan yang sudah berteriak kesakitan.
Pelayan lainnya dan Satpam yang berjaga di depan sontak berlari ke asal suara gaduh. Mereka ikut membantu memisahkan Fadila yang sedang mengamuk pada kepala pelayan itu.
"Sayang, tenang sayang. Jangan seperti ini," ucap Arnan terus berusaha menarik istrinya yang sedang menjambak rambut sasarannya.
"Dasar pelakor murahan," teriak Fadila.
"Ingat Anan, sayang. Ingat anak kita," kata Arnan akhirnya.
Fadila sontak melepaskan jambakannya mendengar nama anaknya di sebut. Sontak kesadarannya kembali lagi seperti semula.
Arnan memeluk Fadila yang menangis dan berusaha menenangkan istrinya.
"Mas cuma maunya kamu, bukan perempuan itu atau perempuan lainnya. Cuma kamu istriku, cuma kamu," ucap Arnan sembari mengecupi kepala Fadila.
........
Maaf baru update, saya baru sembuhππ
__ADS_1
Semoga tidak bosan menunggu dan tetap setia. Terimakasih sudah membaca cerita iniπππ