
Arsya berjalan lunglai menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Hatinya tengah tak menentu, antara kesal, cemburu, juga merasa bersalah bercampur menjadi satu. Ingin sekali ia memeluk Wafa, karena biasanya ia akan merasa tenang dan lebih baik setelah memeluk istrinya. Tapi sekarang, yang menjadikan hatinya seperti itu adalah perempuan itu.
Arsya menghentikan langkahnya tepat di depan daun pintu kamarnya, helaan nafas panjang ia keluarkan dengan pelan. Tadi, ia tak melihat Wafa di dapur, itu artinya, Wafa berada di kamarnya. Dan ia harus menata perasaannya saat bertemu dengan perempuan itu.
Pria itu menjatuhkan jas yang semula ia sampirkan di lengannya dengan mata membulat saat ia membuka pintu, ia mendapati Wafa berdiri di dekat ranjang membelakanginya.
Arsya menelan ludahnya dengan susah payah saat perempuan itu mulai berbalik dan perlhan menghampirinya.
“Astaga…” Lirihnya
Wafa melangkah pelan dengan langkah gemulai, ia menghampiri Arsya dan mengambil jas suaminya yang tergeletak di atas lantai. “Jas kamu jatuh mas..” Ucapnya dengan lembut. Ia melewati Arsya dan menutup daun pintu di belakang pria itu yang masih tampak terbuka.
Arsya memejamkan matanya saat wangi Vanilla tercium jelas dari tubuh istrinya.
“Kamu pasti lelah, mandilah. Kita akan…”
__ADS_1
HAP
Dengan satu kali gerakan Arsya meraih pinggang Wafa dan memeluknya dengan erat. “Apa kamu sedang menggoda ku??”
Wafa mengerjap gugup, sebenarnya ini ide gila menurutnya. Tapi kata mami mertuanya ini adalah ide yang paling ampuh agar Arsya tak marah lagi padanya. Dengan dada berdebar-debar ia menuruti ide dari sang mami, ia bahkan sangat gugup saat Arsya menatapnya. “A..aku tidak menggoda mu, aku hanya..”
Ucapan Wafa terpotong saat tiba-tiba Arsya meraup bibirnya dan menciumnya dengan rakus.
“Baiklah Nyonya Gala Arsyanendra, kali ini aku akan mengikuti permainan mu.” Bisik Arsya saat ia melepaskan bibir istrinya.
Tahukah apa yang Wafa lakukan? Perempuan itu memakai gaun berwarna hitam menerawang yang di baliknya tergambar jelas br* dan pakaian dalam berenda yang perempuan itu pakai. Kulit putihnya sangat kontras dengan gaun hitam menerawang itu. Itu memang ide gila yang baru kali ini Wafa lakukan, tapi mami mertuanya itu benar, ide gila itu sepertinya disukai suaminya.
“Benarkah? Baiklah nakal, kita akan mulai bertarung.” Bisik Arsya lagi, dan ia terjingkat kaget saat Wafa menyerangnya lebih dulu dengan sebuah ciuman yang memabukkan.
>Nakal, kamu sudah banyak belajar rupanya.”
__ADS_1
“Kamu yang membuat ku nakal seperti ini.”
“Oyah? Tapi aku suka.”
Perbincangan saling menggoda itu mereka lakukan dengan posisi Wafa berada di pangkuan Arsya. Perempuan itu dengan nakalnya mengaitkan kedua kakinya di pinggang kuat Arsya, kedua tangannya mengalung ke leher Arsya dengan erat agar ia tak terjatuh.
“Ok, kita mulai.”
PLAK
Arsya memukul bok*ng istrinya, hingga membuat perempuan itu memekik kaget kemudian tertawa. "Siapa takut tuan muda."
Arsya kembali meraih bibir istrinya, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dan kenakalan perempuan itu membuat Arsya senang meski tak menyangka Wafa akan berbuat seperti itu.
Akhirnya malam itu menjadi malam panas bagi Arsya dan Wafa. Entah berapa kali keduanya melenguh dan menyebutkan nama masing-masing saat mereka mencapai puncak yang mereka inginkan.
__ADS_1