
Arsya membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar bercat putih dengan lampu hias menggantung menegaskan kemewahan kamar tersebut. Ia lipat kedua tangannya dan ia jadikan alas untuk kepalanya, dua kakinya masih menggantung ke lantai, sepatu mengkilat masih membungkus dua kaki pria itu. Bahkan untuk membuka sepatu saja rasanya ia enggan, itu karena hatinya tengah tak karuan memikirkan istrinya. “Bagaimana caranya aku mengatakan kalau aku mencintai kamu Wafa? Kamu pasti sulit untuk mempercayai aku.”
Arsya takut jika ungkapan cintanya pada Wafa di anggap perempuan itu sebagai kata-kata bualan yang semata-mata ia katakan karena rasa bersalah saja.
Memikirkan Wafa dalam keadaan yang lelah membuat Arsya memejamkan matanya dan ia pun tertidur.
***
Wafa keluar dari kamar mandi, rambutnya yang masih basah ia bungkus dengan handuk kecil. Ia melirik jam yang menggantung di dinding. “Jam Empat..” Gumamnya. Dan sebelum ia menemui maminya, ia memutuskan untuk melaksanakan ibadah ashar terlebih dahulu. Mulanya ia ingin membangunkan Arsya karena priaitu tampak tertidur, namun tak ingin mengganggu, Wafa memutuskan untuk sholat lebih dulu. Ia akan membiarkan Arsya istirahat dan akan ia bangunkan satu jam lagi.
Selesai sholat, Wafa memakai hijab instannya kemudian keluar dari kamar. Ia akan menemui mami yang mungkin sedari tadi sudah menunggunya.
“Mi, maaf. Mami pasti lama nunggu.”
“Enggak kok sayang, mami juga baru aja duduk. Sini duduk deket mami.” Mami menepuk bagian kosong di sebelahnya. Memang paling menyenangkan jika di sore hari yang cerah duduk di sofa santai menghadap kolam renang di temani dengan secangkir teh hangat dan camilan hangat seperti pisang goreng.
“Sayang…”
“Iya mi??”
“Kamu sama Arsya baik-baik aja kan??”
__ADS_1
“Kita baik-baik aja mi.” Ucap Wafa, ia mencoba tersenyum untuk menenangkan sang mami.
“Tapi mata kamu tidak bisa berbohong nak, ada apa?? Kamu bisa membaginya dengan mami.”
Wafa terdiam, ia tengah berfikir, apakah tepat menceritakan masalahnya dengan Arsya pada mami mertuanya sendiri? Ia takut menyinggung wanita baik itu.
Melihat keterdiaman Wafa membuat mami semakin yakin jika ada sesuatu di antara Wafa dan Arsya. “Nak, ceritakan apapun yang membuat kamu sedih. Mami siap menjadi teman untuk kamu.”
Wafa menatap wanita yang sudah tak lagi muda itu, senyuman lembut dari wanita itu membuat Wafa mengangguk. Tatapan wanita itu memancarkan ketulusan dan kasih sayang, Wafa merasa ada sosok ibu yang dia butuhkan saat ini di dalam diri mami.
“Mi, mami tahu kan kalau mas Arsya mengumumkan tentang pernikahan kami??”
“Aku tidak setuju dengan hal itu mi. mas Arsya bahkan tidak membicarakan itu dulu dengan ku.”
“Loh kenapa sayang?? Bukannya itu bagus? Arsya menunjukan kesungguhannya pada mu dengan mengumumkan pernikahan kalian.”
“Tapi mas Arsya belum mendaftarkan pernikahan kami secara Negara mi, itu yang membuat aku tidak sependapat dengannya. Aku tahu, dia tidak mencintaiku, dia tidak menganggap pernikahannya dengan ku penting. Tujuh bulan kami menikah, tapi mas Arsya masih belum mendaftarkan pernikahan kami. Aku takut mi, media pasti akan terus mengorek kehidupan pribadi kami, aku tidak mau mereka tahu kalau aku hanyalah istri siri mas Arsya mi. aku bahkan seorang janda.”
Mami terkejut mendengar penuturan Wafa. “Astaghfirullah Arsya, jadi dia sama sekali belum mendaftarkan pernikahan kalian??”
Wafa menggelengkan kepalanya. “Mungkin aku ataupun pernikahan ini tidak terlalu penting untuknya. Dia bisa menunda-nunda hal penting seperti itu.”
__ADS_1
“Tidak nak, mami yakin kalau Arsya sangat mencintai kamu.”
“Dia tidak pernah mengatakan itu mi, dan pernikahan kami hanyalah sebatas kebutuhan satu sama lain.”
“Tidak, mami sangat yakin kalau Arsya sangat mencintai kamu. Dia putra mami, mami sangat mengenalnya, dari matanya menatap mu saja mami sudah dapat menebak perasaannya pada mu.”
Wafa terdiam, ia hanya menunduk menyembunyikan rasa sedihnya.
“Maafkan mami nak, karena kelalaian mami juga Arsya melupakan hal penting seperti itu, mami kira dia sudah mengurus semuanya. Kenapa dia tidak memerintahkan Reno atau pengacaranya mengurus pendaftaran pernikahan kalian.” Gumam mami.
“Karena mas Arsya memang tidak menganggap itu penting mi.”
“Nak, jangan terbawa emosi. Tenangkan dirimu.”
“Iya mi, aku pernah gagal. Aku takut mi, aku tidak mau mengalami kegagalan lagi. Jika itu terjadi, aku tidak tahu bisa melaluinya atau tidak.”
“Jangan bicara seperti itu nak, mami sangat menyayangi mu. Mami tidak akan membiarkan kamu terluka. Mami sangat berhutang sama ibu kamu, karena itu mami akan selalu menjaga mu dan menyayangi mu.”
Wafa teringat sesuatu. “Mi, apa aku boleh tahu cerita tentang mami dan ibu??”
“Tentu nak.”
__ADS_1