
perlahan Suci berjalan melewati lorong-lorong rumahnya menuju ruang depan, didalam ruang tamu suci tidak menemukan tamu yang dimaksud bi Sani,
Bi Sani mengekor di belakang Suci menunjukkan tamu yang dimaksudnya dengan mengisyaratkan jari jempol yang ia julurkan kedepan"disana non tamunya!" ucap bi Sani
Suci menatap punggung pria yang amat ia kenali sedang terduduk disofa coklat bundar depan rumahnya.
Eza mengarahkan pandangannya pada asal suara yang mengarah padanya, matanya tidak berhenti menatap , menatap wanita yang tengah berdiri sedikit berjauhan dengannya, wanita yang sangat amat ia rindukan, ingin rasanya ia berlari cepat untuk segera memeluk Suci wanita yang sudah ia cintai selama 6 tahun itu, memeluk melepas kerinduan setelah melupakan kenyataan jika suci yang ia cintai sudah menikah dengan teman baiknya sendiri.
Eza berjalan menghampiri Suci yang tengah mematung menatapnya, ingin rasanya ia mengatakan semua isi hatinya mengenai kerinduannya selama ini pada Suci wanita yang sangat iya Cinta itu, tapi niatnya ia urungkan karena sosok bi Sani yang terus menempel disamping Suci.
"bi buatkan minum dulu yah non!" ucap bi Sani membalikkan badannya dari Suci,
Dengan segera suci menarik lengan bi Sani, memintanya untuk tetap berada disampingnya "tidak usah bi sebentar lagi tamunya mau pulang, bukankah begitu kak Eza?" Suci mencoba bertanya pada Eza
__ADS_1
Eza mendengar ucapan Suci ia tersenyum tipis "ya bi, tidak usah" timpalnya "oh iya cantik ini kak bawain pesanan kamu!" Eza menyodorkan 2 kotak bubur yang ia bawa sesuai pesanan suci.
"apa itu bubur kak?" tanya suci, salivanya bergemuruh ingin segera menyantap bubur yang ada ditangan Eza, dalam hatinya ia bertanya tanya mengapa Eza bisa membawakan bubur untuknya, dan dari mana Eza tahu jika dirinya sangat menginginkan bubur itu yang sampai terbawa dalam mimpinya, Suci berfikir keras "iya..ya..aku ingat, apakah mengenai telpon, mengenai bubur bukan sebuah mimpi?" batinnya
"non..non.." bi Sani membuyarkan lamunan Suci "non..itu non..?" bi sani menyadarkan suci untuk segera mengambil kotak yang eza berikan didepannya.
Eza tersenyum "iya ini bubur yang kamu mau Bubur Cirebon, pake satenya lima, nggak pake kecap dengan suir ayam yang yang banyak sesuai permintaan cantik" ucap Eza menjelaskan kembali ucapan suci padanya ditelpon
"makasih yah kak!" ucap Suci mengambil bubur yang Eza berikan padanya " Kalau begitu Suci pamit masuk yang kak, Suci mau makan buburnya sekarang!" Suci mencoba untuk menyuruh Eza pulang dengan cara yang halus.
bi Sani memelototkan matanya, ia berfikir keras bertanya dalam hatinya, mengenai ucapan pria didepannya pada nona rumahnya
"walah, ini temen non suci kok ngomongnya begitu yah, apa...!" batin bi Sani menggantung kala eza berpamitan padanya
__ADS_1
"bibi yang cantik saya permisi pulang yah, trimakasih!" ucap Eza pada bi Sani
"iya den, hati2 yah" ucap bi sani "hehe, ternyata den ganteng itu ramah sama siapa aja, nyatanya tadi aku dipanggil cantik juga" batin bi Sani
Suci menutup pintu rumah setelah Eza membalikkan badannya untuk keluar dari halaman rumah zhul,
berat rasanya hati Eza untuk berpisah lagi dengan suci, berbincang lama saja sudah tidak bisa dan mungkin tidak akan pernah seperti dulu lagi, apalagi keinginannya untuk memeluk tubuh suci, memeluk untuk sekedar melepaskan rindu yang begitu sangat menyiksanya.
Eza mengendarai mobilnya perlahan, ia tidak menutup kaca mobil depannya, rasa dadanya masih sesak dengan kenyataan yang ada, dengan sikap Suci yang sudah benar-benar berubah padanya, hembusan angin diluar mobil memberikan sedikit kesejukan pada fikirannya yang sedang terluka,
sebuah mobil sedan hitam melintas disamping mobil Eza,
zhul yang tengah terduduk disamping kemudi mobil yang dibawa Reno menatap mobil putih yang berjalan semakin mendekat dengan mobilnya, mulai melintas disamping mobilnya, zhul sangat tahu siapa pengemudi mobil itu, siapa pemilik mobil putih itu, ia hapal dengan modifikasi mobil yang pernah ia bawa saat dulu dirinya dengan pemiliknya menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
"berhenti....