
Zhul menggandeng tangan Suci turun dari mobil. Seolah tidak ingat melepaskan atau menjauhkan dirinya dan Suci, Zhul masih bersikap lengket bak perangko pada Suci.
"Kak..ya udah lepasin..!" bisik Suci
"nggak apa-apa sayang. Kaya gini aja. Kan udah sah!" jawab Zhul
Tidak mau memperpanjang urusannya lagi Suci memilih diam dan tidak menjawab jawaban dari suaminya itu. Karena yang Suci tahu kini sikap Zhul yang selalu ingin menang sendiri dan selalu tidak ingin mendengar penolakan darinya.
Masih dengan tatapan lurus ke depan keduannya berjalan menelusuri karpet merah yang telah disediakan si pemilik acara. Beberapa tamu undangan Carla dan Zeky menatap kedatangan Suci dan Zhul. Mengalahkan tatapan mereka pada ratu dan raja semalam itu.
Eza yang berada di depan Sinta pun ikut menatap kearah Suci yang tengah digandeng Zhul dengan mesra. Tatapan dengan penuh rasa rindu yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Ingin rasanya Eza menarik lengan Suci dari samping Zhul suaminya. Dan ingin sekali Eza menyanyikan lagu dari Armada HARUSNYA AKU.
aku terluka melihat
kau bermesraan dengannya
__ADS_1
harusnya aku yang disana
dampingimu dan bukan dia ( kata dia ingin sekali Eza menunjuk kepala Zhul yang sudah berhasil merebut Suci darinya)
harusnya aku yang kau cinta
dan bukan dia
Harusnya kau tahu bahwa
Harusnya yang kau pilih bukan dia
Namun apa dayanya kini Eza hanya masa lalu untuk Suci. Namun Eza tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Suci lagi.
Sinta menggerakkan tangan Eza membuyarkan tatapannya pada Suci "Za. Lo kenapa?" Sinta menatap mata Eza yang kemerahan seakan menahan amarah dan sedihnya.
__ADS_1
"Gue nggak suka lihat mereka mesra seperti itu!" Eza menuntun pandangan Sinta pada dua sosok yang tengah menyalami dan berbincang dengan dua sosok raja dan ratu semalam yang ada didepan tempat duduk keduannya.
"Za" Sinta mengelus pundak Eza "Lo harus tegar. Mereka udah sah apapun yang mereka lakuin itu wajar" ucap Sinta
Eza menatap Sinta dengan marah. Matanya nyalang tidak suka dengan apa yang baru saja Sinta ucapkan padanya "Lo udah gue bayar mahal. Seharusnya Lo tuh belaiin gue!" Eza menghempaskan tangan Sinta yang tengah mengelus pundaknya.
"Za.."ucap tidak suka Sinta dengan perlakuan Eza padanya. Kasar amat kasar Sinta rasa. Ingin pergi dari samping Eza namun apa dayanya ia sangat membutuhkan apa yang sudah Eza janjikan padanya demi dan untuk mengobati ibunya. Sinta menghela nafas kasarnya. Mencoba merelaksasi pikiran dan hatinya menahan apa yang akan merugikan baginya. Tidak ada lagi ucapan Sinta untuk Eza.
Eza menatap Suci dan Zhul yang kini akan duduk di kursi bundar disampingnya. Pandangan Eza masih lekat menatap suci yang tengah tersenyum pada Zhul. Eza melemparkan senyum termanisnya pada Suci. Suci yang mengetahui jika Eza tengah menatapnya lekat mencoba membuang pandangan itu saat sepasang mata mereka bertemu. Suci memilih menatap dan kembali berbincang dengan Zhul suaminya.
Zhul mengelus punggung tangan Suci "ada apa sayang!" tanya Zhul melihat Suci yang sedikit berubah raut wajahnya
"Nggak apa-apa kak!" jelas Suci ia kembali mengelus punggung tangan Zhul
Zhul yang duduk membelakangi meja Eza tidak menyadari jika sahabat lamanya itu tengah memandang istrinya. Bahkan Zhul tidak menyadari jika Eza pun hadir dijam yang sama dengannya dipernikahan Carla.
__ADS_1