
🌹🌹🌹
maaf yah sebenarnya ini bab yang belum beres atau belum kelar. kesalahan author karena lupa atur waktu. Semalam author kehabisan ide sudah mengantuk jadi stop nulis eh nyatanya malah keduluan up..duh Gusti gantot Banget yah 🙏🙏😂
jangan lupa like komen dan votenya
biar dan supaya authornya semangat..
Eza masih memeluk Suci erat. Sementara Suci sudah mulai kembali pada kesadarannya setelah sekian lama dirinya mematung dalam pelukan Eza memikirkan apa yang baru saja Eza katakan padanya 'Zhul orang baru yang baru kamu kenal Suci sementara kamu begitu dengan mudahnya bisa mencintai dia' sepenggal kalimat Eza yang mampu membuat pemikiran Suci seakan tergoyahkan.
"Izinkan aku terus mencintai kamu Suci. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpa kamu." Lirih Eza diiringi dengan tangisnya. Eza membenamkan wajahnya pada bahu Suci disana ia menemukan kedamain dalam hidupnya. Karena hanya Suci lah wanita yang ia cintai dan sayangi setelah mamahnya. Hingga hatinya sudah membeku untuk menempatkan wanita lain direlung hatinya.
Suci menangis sesenggukan. Pikirannya sudah kembali dengan segera ia menepis pelukan Eza pada tubuhnya "kaaak.." teriaknya "kita nggak bisa seperti ini. Suci mohon!" pintanya. Suci mendorong tubuh Eza kasar. Eza yang telah lemah berhasil sedikit menjauh dari tubuh Suci dan meregangkan pelukannya. Namun dengan segera Eza mendekati Suci lagi menatap manik mata yang menurutnya menyejukkan itu.
Eza mencakup kedua pipi Suci "kak mohon izinkan kak memeluk kamu?" tanpa menunggu jawaban Suci Eza langsung memeluk kembali tubuh Suci ia melabuhkan wajah Suci pada dadanya.
Suci terkejut dengan apa yang Eza kembali lakukan padanya. Ini sebuah paksaan bagi Suci, ia memukul-mukul tubuh Eza. Dengan nafas sesak Suci berusaha meminta untuk dilepaskan "kak..lepaskan!" teriaknya dalam dekapan Eza.
Eza tak kunjung melepaskan pelukannya dengan wajah Suci masih berada didada bidangnya. Lama kelamaan Suci merasakan sesuatu perlahan menembus indra penciumanya. Aroma itu kembali menyeruak dengan cepat menusuk Indra penciuman Suci. Suci sudah tidak kuat, meronta sudah ia lakukan agar Eza yang sedang gila itu segera melepaskannya namun hasil nihil yang Suci dapatkan. Mual semakin mual Suci rasakan. Seakan isi perutnya terkoyak dengan cepat. Keringat dingin mulai membutir dipelipisnya.
__ADS_1
"Lepaskan..." lirihnya dengan nada memelas mungkin. "hoooekkk..hooekk.." Suci segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Eza meregangkan pelukannya "ka..kamu nggak pa-pa Suci?" tanya Eza
Tanpa menjawab Suci melirik sekilas pada Eza dengan tatapan dinginnya. Suci berjalan menuju wastafel yang tak jauh darinya dan Eza berdiri.
Suci berusaha memuntahkan apa pun itu sebisa dirinya. Rasa mual itu bertambah kala Eza Kembali mendekati dirinya.
"Kamu nggak pa-pa Suci?" tanya Eza khawatir melihat raut wajah Suci yang memucat.
Suci menatap Eza sekilas dari cermin depan wastafel. Kembali ia berusaha untuk memuntahkan apapun itu yang ada dalam perutnya "berhenti kak! Jangan mendekat!" perintah Suci saat melihat Eza yang kini ada dibelakangnya yang berniat akan membantu Suci. "aku bilang berhenti jangan mendekat!" teriak Suci karena Eza kini sudah ada dibelakangnya.
"menjauh kak..aku mohon!"teriak Suci kembali
Repleks Eza memundurkan langkahnya kembali "Apa kamu benar-benar membenciku? sehingga kamu selalu menghindariku Suci?" tanya Eza
Suci blum menjawab pertanyaan Eza dirinya tengah sibuk membasuh mulut serta wajahnya.
"Jawab aku Suci!?" tegas Eza langkahnya kembali ia majukan menuju Suci
__ADS_1
Suci menatap kembali wajah Eza dari cermin. Bau yang membuatnya mual seketika kembali menyeruak menusuk Indra penciumanya. Dengan segera Suci membalikkan posisi tubuhnya menghadap Eza "Jangan dekati aku kak!" teriaknya semakin kencang dengan air mata yang sudah mengalir.
Eza membelalakkan kedua matanya mendengar teriakan Suci. Sungguh ia tidak mempercayai dengan apa yang baru saja ia dengar sebuah teriakan kencang yang keluar dari wanita yang ia kenal sangat baik dan lembut itu.
"Apa Zhul merubahmu untuk berkata seperti itu Suci?" tuduh Eza
Suci menggeleng dengan cepat merasa tuduhan Eza tidak benar.
"lalu kenapa kamu harus berkata seperti itu padaku? Kamu sudah lupa padaku? aku lelaki yang selalu ada untuk kamu. Aku yang selalu berusaha untuk selalu bisa kamu andalkan. Aku yang selalu mengesampingkan urusanku hanya untuk selalu bersama kamu Suci. Jadi jangan lakukan hal seperti itu padaku. Karena aku sangat mencintai kamu." tegas Eza kini ia mendekati Suci yang tengah terisak
"Jangan dekati aku kak. Aku mohon!" pinta Suci ia mengepalkan tangannya memohon sebisanya pada Eza yang sudah tersulut emosi dan kesedihan.
"Begitu bencinya kah kamu padaku Suci?" tanya ulang Eza
Suci menggeleng dengan cepat "aku tidak pernah membencimu kak. Aku hanya sedang--" ucapnya terpotong
"kenapa? kenapa kamu diam Suci?" tanya Eza
kenapa.. kenapa hayooo....???
__ADS_1
semalem babnya belum kelar yah. Eh kedualuan Up. hehe