Personal Assistant

Personal Assistant
Pria di balik koran


__ADS_3

Takdir macam apa yang Tuhan tentukan untukku?


Eve berdiri melamun sembari menata hasil masakannya di meja makan.


Aku di buang oleh orang tuaku, harus hidup dengan keluarga baru yang berada pada garis kemiskinan.


Bekerja pada Kellen Austin yang sudah meperlakukanku dengan sesuka hati, dan kini neneknya justru menganggapku sebagai putrinya.


Mendengar penjelasan Kellen tadi malam, sepertinya penyakit bu Risa cukup serius. Beliau menderita dimensia akut yang seketika bisa lupa dengan keluarganya sendiri. Hanya orang-orang baik yang terekam jelas dalam ingatannya, selain itu beliau akan menganggap musuh pada orang jahat meskipun itu keluarganya sendiri.


Bukan wajah Eve yang mirip dengan mendiang Tania, tapi Dimensia Risalah yang sudah mengira jika Eve adalah Tania.


Huft semakin rumit saja...


Eve menggelengkan kepala tanpa sadar. Ia bahkan tak tahu jika Kellen sudah duduk di kursi makan.


"Urus semua perekrutan dokter dan suster secara besar-besaran, pilih dokter terbaik dan berpengalaman karena kita akan membayarnya dengan gaji yang tinggi"


"Baiklah, saya akan datang secepatnya bersama dewan direksi yang sudah ku tunjuk dari sini"


"Iya selamat pagi"


Eve mengernyit mendengar bosnya berbicara melalui ponsel. Entah apa yang dia bicarakan, yang jelas Eve harus mempersiapkan diri untuk ikut dengannya ke negara orang. Negara yang sama sekali belum pernah ia kunjungi.


"Tuan, hari ini saya libur kan? saya ingin mengunjungi mamah saya"


"Aku akan ikut denganmu, ku beri waktu satu jam bertemu dengan mamahmu, setelah itu ikut aku ke Hongkong untuk menandatangani berkas-berkas di sana"


"Ini hari liburku tuan, kenapa aku harus ikut denganmu? bukankah di jadwal kau akan pergi sendiri?"


"Jangan banyak bertanya dan jangan banyak protes, kau hanya duduk menemaniku, kau tidak perlu buang tenaga untuk melakukan pekerjaan itu. Menurutlah kalau tidak ingin mamahmu masuk penjara"


"Apa maksudmu?"


"Kau lupa dengan hutang-hutangmu? aku bisa melaporkan mamahmu ke polisi untuk urusan utang piutang"


"Tapi bu_"


"Satu jam bertemu mamahmu, atau tidak sama sekali" potong Kellen cepat.


Eve mencebik sebal, dengan kasar ia melayani Kellen sarapan.


"Lembut dikit bisa? aku ini bosmu bukan musuhmu"


"Kau musuhku"


"Kau bawahanku" Kellen tak mau kalah.


"Kau_"


"Diam!!" sentak Kellen dengan mata menajam. "Aku ingin sarapan bukan mau berdebat"


Aku tidak menyangka kenapa bisa berurusan dengan keluarga mafia seperti keluarganya.


Dia memperlakukanku dengan sangat kejam, dia bahkan ingin memenjarakan mama dengan dalih hutang piutang.


Kellen Austin, aku harap suatu saat nanti, kau akan mendapatkan balasan atas perlakuanmu yang semena-mena terhadapku.


"Kenapa diam, makan setelah itu kau bisa bersiap. Aku akan mengantarmu menemui mamahmu"


Tak berani membantah, Eve akhirnya duduk.

__ADS_1


Selama sesi sarapan, Eve di buat kehilangan nafsu makan, sebab Kellen tak berhenti menatapnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tetapi matanya hanya beralih pandang ketika menyendok makanan atau mengambil minuman. Selebihnya, sorot tajamnya terpaku pada Eve.


"Kau sudah memberitahu mamahmu kau akan mengunjunginya?" Tanya Kellen memecah kesunyian.


Sementara Eve nyaris tersedak mendengar pertanyaan Kellen, lalu menggeleng sambil berusaha mengendalikan jantung yang berpacu kian hebat.


"Jadi mamahmu belum tahu kau akan datang?"


"Iya" jawab Eve setelah menelan makanan yang ia kunyah.


Tak ada percakapan lagi setelah itu. Selesai sarapan, Kellen menyuruh Eve bersiap selagi dia membereskan semua peralatan makan yang mereka gunakan.


Tadinya Eve melarang Kellen membereskan meja makan, tapi ancamannya tak bisa di ganggu gugat. Akhirnya Eve mengalah dan memilih memasuki kamar untuk bersiap.


****


"Ingat, hanya satu jam setelah itu kita akan berkendara melewati jembatan panjang menuju Hongkong"


Eve menarik napas panjang sebelum kemudian mengangguk paham. Ia turun dari mobil kemudian bergegas lari menuju pintu rumahnya.


"Mah, ini Eve" panggilannya di sertai dengan ketukan pintu.


Tak menunggu lama, Pelita pun membuka pintunya.


"Eve"


"Mah, apa kabar?" Mereka berpelukan.


"Mama baik nak. Ayo kita masuk"


"Eve hanya satu jam mah, setelah ini Eve mau ke Hongkong"


"Dengan bosmu?"


"Duduklah, mamah punya sesuatu untukmu"


Eve mengernyit dengan hati penasaran.


Sekian detik kemudian Pelita pergi ke kamar, dan setelah beberapa menit berlalu wanita itu kembali dengan membawa hadiah di tangannya.


"Selamat ulang tahun Eve" serunya riang.


"Mamah?"


"Hari ini ulang tahunmu nak, selamat bertambahnya usiamu yang ke dua puluh tiga. Dan ini hadiah untukmu"


"Apa ini mah?"


"Bukalah, kau akan tahu setelah membukanya"


Dengan tidak sabar, Eve membuka kotak hadiah dari Pelita. Ia menemukan perlengkapan make up di dalamnya.


"Apa ini mah?"


"Kau benar-benar tidak tahu ini apa?"


"Aku tahu, tapi untuk apa?"


"Usiamu bertambah semakin dewasa, kau harus pandai berdandan agar lawan jenis tertarik padamu, dan kau bisa segera menikah"


Eve terkekeh geli mendengar ucapan Pelita.

__ADS_1


"Mamah tenang saja, aku sudah punya calon"


"Oh ya, kalau begitu segera bawa kemari, perkenalkan pada mamah"


"Jangan khawatir mah, itu pasti"


"Tapi ngomong-ngomong" Pelita mengernyitkan dahi. "Siapa pria beruntung itu?"


Alih-alih menjawab, Eve justru mengeluarkan koran pagi yang ia ambil dari meja makan sebelum kemari.


"Aku akan memperkenalkan dia pada mamah"


Pelita menerima koran berisi foto seorang atlet bulu tangkis dari Indonesia. Baru saja sang atlet memenangkan kejuaraan olimpiade terbesar yang di selenggarakan di Hongkong. Pria itu membawa pulang medali emas dalam final melawan China.


"Pijar Gala Nalendra?" ucap Pelita.


"Hemm"


"Kau begitu mengaguminya karena ketampanannya, prestasi, atau memiliki tanggal lahir yang sama denganmu?"


"Entahlah mah, yang jelas aku sangat kagum dengannya, apalagi saat menunjukkan kehebatannya ketika berdiri di lapangan bulu tangkis"


"Kau ini" Pelita menggelengkan kepala. "Ayo sekarang potong kuemu secepatnya karena waktu kita hanya satu jam"


Hening, Eve tak lagi menjawab. Ia justru sibuk mengendalikan emosionalnya. Tatapannya menyorot sendu tepat di wajah ibu yang merawatnya.


"Mah"


Pelita menghentikan gerakan membuka kardus kue.


"Ada apa Ve?"


"Terimakasih sudah menemaniku selama ini, meski mamah bukan wanita yang melahirkanku, tapi mamah tetaplah mamahku. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi mamah"


"Jangan bilang seperti itu nak, mungkin saja ibu kandungmu masih hidup, dia yang berhak dengan posisinya sebagai ibumu"


"Kalau begitu aku ralat" kata Eve dengan seulas senyum. "Kalian wanita yang luar biasa. Satu melahirkanku, satunya lagi merawatku"


"Mamah bangga padamu nak"


"Mah"


"Iya Ve?"


"Sebentar lagi Eve akan meninggalkan mamah, tapi sebelum Eve pergi ke negri orang, tuan El akan mencari ART untuk menemani mama selama aku di Indonesia"


"Kau jangan khawatirkan mama, Sekarang mamah sangat kuat, mamah sehat, dan mamah pasti akan baik-baik saja"


"Eve akan meminta ayik Mareta dan Olivia untuk sering-sering menjenguk mamah"


"Iya nak, mamah minta jaga dirimu baik-baik di negara orang. Patuhi semua perintah atasanmu"


"Iya mah"


Mereka saling berbalas senyum.


"Sebelum tiup lilin, ucapkan permintaanmu lebih dulu" Pelita mengatakannya seraya menyalakan lilin.


"Okey, sekarang tutup matamu, katakan permintaanmu"


Eve pun menuruti sang mama. Pelan, ia memejamkan matanya.

__ADS_1


Aku ingin bertemu keluargaku, jika mungkin, pertemukan aku dengan papa mamaku, kakaku, atau adik-adikku, Tuhan...


Bersambung.


__ADS_2