
"Gimana mom, Zea, kalau kita nikahkan kak El dengan Eve?"
"Mommy si terserah saja dad, tapi kasihan kak El dan Eve. Sepertinya mereka tidak saling cinta, kalau satu dari mereka ada yang cinta si tidak masalah, kayak daddy mommy dulu, aunty Delita dan uncle Alvin juga"
"Masa sama Eve si dad, tidak ada wanita yang agak berkelas dan berkualitas dikit gitu, masa abis nolak Fiona dapatnya Eve, nanti Fiona ketawa jahat pasti" celetuk Zea putri kedua mereka.
"Zea, jangan menilai seseorang dari kastanya, mommy juga dulu kayak Eve, bukan wanita berkelas, bukan wanita kaya"
"Ya ya, mommy emang the best kalau urusan yang begini"
"Harus ngomong dulu sama Kak El kan dad?" tanya Nayla yang duduk di samping suaminya.
"Iya, nanti daddy coba kasih pengertian pada El, toh Eve sebenarnya bukan gadis yang buruk, dia cantik, pintar, baik juga. Tinggal kita modalin dikit, pasti akan jadi wanita berkelas" Pandu melirik sang putri. "Contohnya mommy, mommy jadi wanita berkelas setelah nikah sama daddy"
"Betul itu dad" Sela Nayla. "Jadi jangan menilai seseorang dari covernya saja Ze, coba tengok hatinya. Cantik paripurna itu ada dalam jiwa yang selalu bersyukur atas apa yang di takdirkan. Entah itu jadi wanita berkelas, berkualitas ataupun wanita miskin seperti mommymu" tambahnya berusaha memberikan pengertian pada putrinya. "Ya sudah, telfon kak El sekarang dad?"
"Telfonnya nanti saja deh dad" Cegah Zea. "Uncle sama aunty sudah nunggu di meja makan, tadi Zea di suruh buat panggil daddy sama mommy, tapi malah kejebak di sini sampai lima belas menit"
"Okey, kita sarapan dulu, mudah-mudahan ingatan genma sudah kembali, terus kita bisa sarapan sama-sama" kata Pandu lalu bangkit. Di susul oleh Nayla dan Zea yang turut berdiri.
Begitu keluar dari kamar, Pandu, Nayla serta Zea berpapasan dengan Risa dan Eve yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
Nayla langsung menyembunyikan diri di belakang tubuh sang suami, sementara Zea dan Risa menatap tingkahnya dengan sorot heran.
"Ada apa denganmu Nay?" Tanya Risa.
"Sepertinya ingatan ibu sudah kembali dad" Nayla berbisik di telinga Pandu.
"Ada apa denganmu?" ulang Risa ketika Nayla tak kunjung menjawab.
"Ingatan ibu sudah kembali?"
"Iya, tadi nona Eve sudah crita semuanya, ibu minta maaf ya nak?"
Belum sempat Nayla merespon, Pundu sudah lebih dulu menyambarnya. "Kita sarapan dulu bu" Dia merangkul Risa kemudian menuntunnya ke ruang makan. "Soal itu kita bahas nanti setelah makan"
"Ayo Ve, kita sarapan sama-sama" Nayla tersenyum, kemudian merangkul tubuh Eve. Ia sangat berterimakasih padanya yang sudah bersedia datang jauh-jauh dari Indonesia menuju Macau.
"Baik bu Nayla"
Mas Pandu benar, sepertinya aku memang harus melamar Eve untuk putraku, kami tidak bisa terus-terusan memanfaatkan Eve, jika Eve menikah dengan El, kami tidak lagi merasa tidak enak karena Eve adalah menantu kami. Eve akan tinggal di sini bersama kami. Dan ibu, tidak akan menjambak rambutku jika dimensianya kambuh. Akan ada Eve di rumah ini dalam waktu dua puluh empat jam.
Nayla membatin di tengah-tengah langkahnya.
*****
Waktu dunia di setiap negara memiliki perbedaan, begitu juga Jakarta-Macau yang memiliki selisih waktu satu jam. Jika di Macau saat ini pukul 07:00, maka di jakarta, waktu baru menunjukkan pukul 06:00, itu artinya Macau lebih cepat satu jam dari Jakarta.
Sementara di Indonesia, baru semalam tidak mendengar celoteh Eve, Kellen sudah uring-uringan dan kerap menggerutu tidak jelas. Karena terbiasa dengan semuanya yang tahu-tahu beres, tapi pagi ini, dia harus menyiapkan semuanya sendiri.
"Sepertinya, kau memang tidak bisa hidup tanpa Eve El. Tiga bulan lebih semua dia yang atur, kau di manja olehnya, di siapkan segala sesuatunya, bahkan menyisir rambut dan memotong kuku pun Eve yang melakukannya"
Kellen tersenyum miring. Bayangan Eve seolah berkelebat bebas di otaknya.
"Padahal sebelum ada Eve, kau melakukan semuanya sendiri, bahkan tak mengijinkan siapapun menyentuh barang-barangmu, but Know, kau kecanduan dengan semua perlakuannya"
"Hhh,, kapan kau kembali Ve?"
Pria itu memakaikan kaos kaki di kaki kanannyam Setelah selesai, dia hendak beranjak dari kamar menuju ruang makan. Tapi baru saja akan bangkit, ponsel di atas kasur berbunyi, keningnya mengerut ketika nama mommy yang muncul di layar ponsel. Kellen langsung meraih benda itu dan menggeser ikon bergambar telepon.
"Hallo mom?"
"El ini daddy"
"Daddy?" Lipatan di kening Kellen kian tajam. Tak biasanya sang daddy menelponnya sepagi ini, di tambah ponsel mommynya yang ia gunakan.
"Iya nak"
__ADS_1
"Ada apa dad, semua baik-baik saja kan?"
"Iya semuanya baik, Eve juga sudah berada di sini"
"Lalu genma?"
"Ingatannya sudah kembali" sahut Pandu dari balik telfon. "El?"
"Iya dad?"
"Daddy ingin bicara"
"Bicara?" Sebelah alis Kellen terangkat. "Bicara apa?"
"Tidak apa-apa bicara melalui telfon?"
"Tidak apa-apa dad"
"Begini El" Ragu-ragu Pandu mengatakannya. "Daddy mau menjodohkanmu dengan seorang gadis"
"Menjodohkan?"
"Iya nak"
"Dengan siapa?"
Sebelum menjawab, terdengar hembusan napas berat dari Pandu.
"Asistenmu"
"Asistenku dad?"
"Iya El"
"Eve?" Kellen memastikan.
"Iya"
"Daddy melakukan ini karena genma El"
"Bisa ke intinya saja dad, El bingung kalau harus basa-basi"
"Kita tidak bisa memanfaatkan Eve untuk terus ada buat genma kan? jika kalian menikah, Eve akan tinggal dengan kita dan kita tidak perlu tak enak hati jika dimensia genma kambuh"
"Lantas, jika genma bisa dinyatakan sembuh, dan kalau misalnya genma meninggal, daddy akan menyuruh El menceraikan Eve?"
"Kenapa kau berfikir seperti itu nak?"
"Ya karena Eve sudah tidak kita butuhkan dad"
"Ya tidak begitu juga El, daddy berharap si lambat laun kalian akan saling cinta, supaya tidak ada perceraian di antara kalian"
Mendengkus pelan, rahang Kellen mengeras.
"Mommy dan yang lain gimana?"
"Mereka setuju, kau tahu kan kita bukan orang yang kejam, meskipun dalam bisnis tergolong tak pandang bulu, tapi untuk urusan perikemanusiaan, keluarga kita tidak sejahat itu, apalagi mommymu, dia tak ingin berbuat tidak adil pada Eve"
"Jadi untuk membalas budi kebaikan Eve pada genma, El yang harus membayarnya dad?
"Tidak, nak, jangan salah paham, kami hanya ingin ada hubungan keluarga dengan Eve"
"Akan El pikirkan" jawab Kellen datar.
"Okey nak, daddy tunggu jawabanmu secepatnya ya"
"Iya"
__ADS_1
Panggilanpun terputus.
Aku tidak tahu apa itu cinta, ketika menyukai Fiona, hanya bisnis yang ada di otakku, tapi Eve? aku bahagia saat bersamanya.
Bak gayung bersambut, ini merupakan kesempatan buat Kellen menikahi Eve. Dia tidak perlu mengakui perasaannya karena El akan bilang jika orang tuanya yang sudah memaksanya. Dengan begitu, ia tak perlu kehilangan nama baik di depan Eve.
Eve, kau tidak akan bisa lari dariku, jika kau menolak dengan rencana keluargaku, maka hutang-hutangmu akan ku jadikan tameng, kau tidak akan bisa berbuat apa-apa Ve, kau akan menjadi milikku, seutuhnya.
Seringai penuh kelicikan terulas di bibirnya. Pria itu bangkit, lalu melangkah sambil menyambar kunci mobil dan tas kerjanya.
Gengsi dan pengecut mungkin itulah kata yang pas untuk menggambarkan dirinya. Sosok pria berimage baik di depan camera para paparazi.
***
Usai sarapan, Kellen langsung pergi ke kantor familly care yang bertempat di lantai paling atas gedung rumah sakit.
Dengan santainya pria itu berlenggang menuju ruangannya. Di tengah-tengah langkahnya, sepasang netranya menangkap pria yang tengah mengecup kening istrinya setelah sang istri mengecup punggung tangannya.
Reflek, senyum Kellen mengembang menyaksikan keromantisan Daffa dan Amara. Kellen berharap dia akan menjadi suami yang romantis seperti Daffa.
Langkahnya, kini semakin dekat dengan ruang kerja. Namun saat melintasi pantry, sosok Shola yang sedang membuatkan minuman untuk para direksi rumah sakit termasuk untuk dirinya, bergumam yang memantik langkah Kellen terhenti persekian detik. Bagaimana pria itu tak menghentikan langkahnya kalau pemimpin dapur itu menyebutkan nama Evelyn Stevanie. Nama yang selalu membuat jantungnya kebat-kebit bila di sebut.
Otomatis, Kellen langsung menajamkan pendengaran secara diam-diam.
"Evelyn Stevanie? aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" Shola berusaha keras mengingatnya. Tangannya terus bergerak membuat minuman. Kadang mengaduk, menuang ataupun menutup setiap gelas dengan penutup gelas.
Sementara Kellen, terus berdiri di balik pintu sambil mendengar baik-baik setiap kata yang keluar.
"Evelyn Stevanie" gumamnya. Sampai lima detik kemudian tiba-tiba...
"Bayi itu?" tambahnya ketika teringat akan sesuatu.
Bayi?? Kellen membatin lengkap dengan alisnya yang menukik tajam.
"Aku ingat sekarang, aku dengar dari pengasuhnya sebelum di buang, kalau Shella menamai bayi itu Evelyn Stevani"
"Astaga, apa jangan-jangan asisten tuan Kellen itu adalah bayi yang sudah ku culik?"
Di sana, Kellen tercengang dengan kalimat Sholla.
"K-kalau benar, itu artinya anak itu adalah anak dari pasangan Gautama Nara yang dulu beritanya sempat menggemparkan seluruh media?"
Apa? Kellen semakin tak percaya.
"T-tidak tidak" Sholla segera menangkis pikirannya itu. "Banyak nama yang sama di dunia ini, tapi beda orang, iya, ini hanya kebetulan, tidak mungkin jika nona Eve itu adalah Evelyn Stevanie, bayi kembar itu"
Bayi kembar? Pijar? ya, tanggal lahir Pijar dan Eve itu sama. Mereka juga sedikit ada kemiripan dari wajahnya. Meskipun berbeda jenis kelamin, tapi kesamaan itu tetaplah ada. Lalu Tama dan Nara, mereka sangat menyukai Eve, apa itu karena ikatan batin mereka yang sangat kuat? Eve juga yang sudah membuat mereka akhirnya memberikan ijin untuk familly care, selain itu ada Amara sang kakak yang juga sangat menyukai Eve. Ya Tuhan, apakah Eve bayi yang ku cari, anak mereka yang hilang?
Kellen menggelengkan kepala, benar-benar tak percaya dengan semua ini.
Tidak, ini pasti hanya kebetulan. Kita beda negara. Ini pasti salah.
"Tunggu" gumam Sholla ke sekian kalinya.
Dan itu, membuat Kellen kembali menajamkan indera pendengarannya.
"Tapi, bukankah saat itu Shella berencana membuang bayi itu ke luar negri?"
"Oh astaga, apa Shella membuangnya ke Macau?" Dengan setengah mati, Sholla menelan ludahnya sendiri. Bahkan seolah salivanya itu tak mampu melewati tenggorokannya.
"Ya Tuhan apa ini benar? Evelny Stevanie di buang ke Macau oleh Shella?"
Membuang ke Macau? Terkejut, Kellen menelan ludah, dadanya bergemuruh, sementara wajahnya sepersekian detik memanas.
Aku harus mencari tahu. Sholla, kau harus menjelaskan semua yang ku dengar.
Bersambung...
__ADS_1
Hari ini craazy uo yuk, tiga, empat apa lima episode??? 😂😂😂😂