
Beberapa hari telah berlalu. Dan besok hasil DNA sudah keluar dari rumah sakit milik keluarga Paramita. Amara sangat berharap jika hasilnya benar-benar cocok dan Eve adalah adik kandung yang selama ini dia cari.
Daffa, Amara, dan Eve saat ini tengah berkumpul di dalam kamar Eve usai makan malam berakhir.
"Besok hasil DNAnya keluar kan dek?" tanya Daffa menatap Amara.
"Iya, apa kamu mau ikut ambil hasilnya Ve?"
"Enggak kak" Lebih dari lima hari berkomunikasi dengan keluarga kecil Daffa, Ramdan serta ART membuat Eve terbiasa mengikuti gaya bahasa mereka.
"Aku takut kecewa, entah kenapa tiba-tiba terlintas kalau Kellen hanya berkata bohong pada uncle Alvin waktu itu"
"Cocok atau tidak, kami akan menganggapmu sebagai adik kami kok" pungkas Daffa serius. "Kamu itu benar-benar sangat mirip dengan Pijar Ve"
"Tapi hanya mirip kan kak, kalau hasil biologisnya tidak cocok, mau bagaimana lagi, kemiripan itu tidak akan ada gunanya"
"Kata siapa?" Sahut Amara menangkis pendapat Eve. "Mommy bahkan sangat senang ketika tahu kamu tinggal di sini, sampai-sampai mommy menyuruh kakak buat bujuk kamu supaya tinggal di rumah daddy mommy, mereka akan angkat kamu jadi anaknya. So baik hasilnya positive ataupun negative, sama sekali enggak berpengaruh sama hubungan kita yang sudah seakrab ini"
"Kalian benar-benar orang baik, jika aku bukan Pelita, semoga saja kalian bisa menemukan Pelita kalian yang sebenarnya"
"Tapi kami berharap banyak padamu Ve" kata Amara sendu.
"Aku juga sangat berharap kalian adalah keluargaku, sejak tahu aku bukan anak kandung mamah Pelita, aku sudah bertekad mau mencari orang tuaku, tapi tidak tahu dengan cara apa aku mencarinya karena memang tidak ada sesuatu yang bisa aku jadikan petunjuk"
"Ya sudah kita sama-sama berdoa, biar hasilnya sesuai dengan harapan kita" ujar Daffa seolah menenangkan kegelisahan istri dan wanita yang
kemungkinan besar adalah adik kandung dari istrinya.
"Papi"
Suara Tita menyela obrolan mereka.
"Sayang, udah mainnya?" Dafa memalingkan wajah ke arah pintu.
"Sudah" gadis kecil itu melangkah menuju ranjang setelah sebelumnya menutup pintu kamar.
"Kalau gitu ayo papi bantu gosok gigi"
"Tapi sebentar lagi"
"Udah jam sembilan, sudah waktunya bobo biar besok enggak telat sekolahnya"
"Tapi Tita mau main sama aunty Veve"
"Seharian sudah main sama aunty loh" kata Eve.
"Kenapa memangnya, aunty bosan main sama Tita?"
"Bukan sayang" serga Eve cepat. "Besok kan hari senin, nggak boleh telat kan sekolahnya. Besok pulang sekolah, kita bisa main-main lagi"
Anak itu mengerjap seraya mencermati wajah Eve lekat-lekat.
"Aunty Eve harus istirahat nak" Kata Amara. "Ada dedek bayi di dalam perutnya, nggak boleh capek banyak-banyak auntynya"
"Dedek bayi?" Tita menoleh ke wajah maminya.
"Hmm"
"Serius mih"
"Serius dong, makannya sekarang Tita bobo aja, biar besok aunty punya banyak tenaga buat main sama Tita"
"Ya udah ayo pih bobo" Anak itu mengecup pipi kirinya Amara lalu beralih ke pipi Eve sebelum kemudian beranjak dengan sang papi.
"Good night aunty, good night mommy"
"Good night" ucap Amara dan Eve nyaris bersamaan.
"Kamu benar-benar nggak mau jenguk suamimu Ve, dia di rawat sudah dua hari loh" pungkas Amara setelah Daffa dan Amara keluar dari kamar.
__ADS_1
Eve memberikan jawaban dengan gelengan kepala lalu berucap. "Memangnya dia sakit apa kak?"
"Sepertinya nggak sakit apapun, soalnya pas di cek secara keseluruhan, semuanya normal"
"Tapi kenapa bisa di rawat?"
"Menurut diagnosa kakak si dia mengalami sindrom Couvade atau bisa disebut juga kehamilan simpatik"
"Apa itu kak?"
"Gejala dimana si suami juga ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung"
"Bisa begitu juga?"
"Tentu saja bisa, apalagi jika si suami terlalu stres, bisa juga dipicu karena perasaan khawatir dengan masalah finansial, masalah rumah tangga atau masalah lain termasuk kesehatan istri. Selama periode ini, rasa empati dapat muncul dan menambah beban pikiran, sehingga menyebabkan timbulnya tanda kehamilan seperti muntah, sulit tidur, atau menginginkan sesuatu yang di luar dugaan"
Stres?? Apa El stres karena kita pisah kamar dan kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi selama sebulan ini?
Stres karena masalah kami yang lain?
"Kakak nggak ngomong kan kalau aku sedang hamil?"
"Enggak, tapi dengar-dengar orang tuanya akan membawanya berobat di Hongkong"
"Berobat ke Hongkong?"
"Iya, mereka mengira ada penyakit yang bersarang di lambung atau ususnya. Mereka sangat khawatir, padahal sudah di USG, sampai melakukan endoscopy tidak ada penyakit yang di temukan"
"Memangnya sampai kapan kehamilan simpatik itu kak? dan apa obatnya?"
"Kehamilan simpatik biasanya dialami suami saat kehamilan istri berada di trimester pertama dan ketiga. Dan nggak ada obatnya sampai si istri melahirkan"
"Selama masa kehamilan? apa selama sembilan bulan?"
"Hmm" sahut Amara lalu kembali menjelaskan. "tidak perlu cemas Ve, karena kehamilan simpatik bukanlah suatu penyakit maupun kelainan mental. Kondisi ini umumnya tidak serius dan hanya bersifat sementara"
"Apa solusinya kak?"
"Maksudnya?" tanya Eve tak mengerti.
"Suami istri saling memahami, tingkatkan komunikasi antara suami istri, karena komunikasi antara Bumil dan suami sangat penting dan bisa menjadi kunci untuk saling menenangkan selama masa kehamilan"
Eve menarik napas panjang lalu mengehembuskannya pelan.
"Sebaiknya kamu temui suamimu Ve, katakan yang sebenarnya, karena dalam situasi apapun, seorang istri tidak di benarkan pergi dari rumah ketika sedang ada masalah. Mungkin suamimu merahasiakan identitasmu karena ingin melindungimu dari orang-orang jahat, dan mungkin sedang mencari waktu yang tepat untuk ngomong ke kamu dan keluarga"
Tapi sayangnya bukan itu kak tujuannya, dia justru akan membunuhku secara perlahan karena daddy dan mommy sudah memenjarakan auntynya.
Di benak Eve tiba-tiba terlintas ekspresi marah dan perlakuan kasar suaminya.
Apa yang sudah El lakukan padaku, memang tak menyakiti fisikku, tetapi secara psikis, aku seperti mengalami ketakutan mental di atas batas normal.
"Ve?" panggilan Amara membuat lamunan Eve seketika buyar.
"Kenapa?"
"Tidak ada kak"
"Ya sudah mungkin kamu lelah, kamu istirahat ya, besok pagi kakak akan langsung ke rumah sakit Ar-Raudhah untuk ambil hasil DNA"
Eve mengangguk, sementara Amara langsung keluar dari kamarnya.
*****
Fajar kembali menyingsing, semburat jingga tampak begitu mempesona dari ufuk timur, Amara sudah bersiap untuk pergi ke Ar_Raudhah dengan perasaan grogi dan sedikit cemas.
Semalam, dia tidak bisa tidur nyenyak sebab sudah tak sabar ingin tahu mengenai hasil identitas Eve yang sebenarnya.
Saat tengah fokus mengemudi mobilnya, ponsel di atas dashboard tiba-tiba berbunyi. Ia mengerutkan kening ketika nama Ben muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"Sekertaris Ben?" gumamnya lirih. "Ada apa dia menelfonku?"
Karena tak ingin terjadi sesuatu, Amarapun menepikan mobilnya untuk menjawab panggilan dari rekan kerjanya di Family Care.
"Selamat pagi pak Ben?"
"Selamat pagi nona Amara" balasnya dari sebrang telfon.
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Jika berkenan, tolong bujuk nona Eve untuk datang ke family care karena nona Eve adalah tanggung jawab kami, saya akan datang saat ini juga untuk menjemputnya"
"Dia juga tanggung jawab saya pak Ben, karena saya adalah kakaknya"
"Maaf saya membicarakan tentang status nona Eve yang saat ini adalah istri dari atasan saya" ucap Ben dengan nada datar. "Atasan saya lebih berhak atas nona Eve"
"Tapi maaf, saat ini saya sudah dalam perjalanan, jadi lebih baik pak Ben datang setelah pulang kantor"
"Apa anda akan menuju rumah sakit Ar-Raudhah?"
Darimana dia tahu aku akan ke Raudhah?
"Nona Amara?" panggil Ben.
"Iya pak Ben?"
"Okay, sepulang kantor saya akan datang untuk membawa nona Eve, selamat pagi"
"Selamat pagi"
Sambungan pun terputus. Entah kenapa ada rasa was-was yang mendadak singgah.
Semoga saja hasilnya cocok dan tidak ada kecurangan.
Wanita itu membatin seraya menginjak pedal gas.
Setibanya di Ar-Raudhah, Amara langsung menuju ruangan Mita yang sudah di tunggu kedatangannya.
Saat ini hasil itu sudah berada di tangan Mita dan masih tersegel. Mita sendiri sangat penasaran dengan hasilnya. Itu sebabnya setelah jaga malam, dia tidak langsung pulang karena ingin sekali melihat hasil DNA antara Eve dan Nara.
"Mita" kata Amara begitu membuka pintu.
"Amara?"
"Maaf menunggu lama" balasnya dengan nafas tersengal, lalu menarik kursi.
"Enggak kok Ra, baru lima belas menit"
"Mana hasilnya?" tanya Amara menyelidik.
"Tuh" Sepasang netra Mita menunjuk amplop coklat di atas mejanya. Melihat itu atensi Amara pun mengikuti ke mana manik hitam Mita tertuju.
"Masih tersegel" tambah Mita tenang.
"Bisa aku buka sekarang, Ta?"
"Bukalah!"
Sembari mengatur nafas, tangan Amara terulur. Ia berusaha menelan salivanya yang seakan tercekat di tenggorokan.
Perlahan ia robek amplopnya, ia raih lipatan kertasnya, kemudian dengan tangan agak sedikit gemetar ia membuka lipatan kertas itu.
Wanita itu sama sekali tidak membaca kalimat demi kalimat dari awal. Netranya justu langsung tertuju pada tulisan positive atau negative dari hasil DNA.
Ia menghela napas berat, lalu memejamkan matanya.
"Gimana Ra?" tanya Mita penasaran.
Alih-alih menjawab, Amara justru menyerahkan hasilnya pada Mita"
__ADS_1
Bersambung