Personal Assistant

Personal Assistant
Berusaha merayunya.


__ADS_3

Usai pertemuannya dengan Rena, Kellen tak langsung pulang melainkan pergi ke makam Tania. Sejujurnya, pria itu seperti menemukan kedamaian batin setiap kali berkunjung ke makam auntnya.


"Aunty, El datang membawa kabar bahagia" Lirihnya sembari menaburkan bunga yang ia beli di depan komplek makam, matanya masih di lingkupi oleh kacamata hitamnya "El sudah menyingkirkan duri yang selama ini tercekat di tenggorokan kita semua aunty, termasuk keluarga bayi yang hilang di rumah sakit kita" Sambungnya lalu menghembuskan napas pelan. "Dan aunty tahu? bayi itu justru sekarant menjadi istri El"


Lalu sunyi, pria itu terus menatap lekat pusara Tania yang sedari tadi di usap dengan tangan kanan. Pusara auntynya yang paling ia sayangi. Dia memang kerap sekali berkunjung kesini semenjak tinggal di Indonesia beberapa bulan ini. Tak hanya ketika hatinya tengah resah, tapi Kellen memang sengaja menyempatkan diri merawat makam adik dari daddynya.


Terusik dan sesak, tiba-tiba Ingatannya memutar kembali peristiwa demi peristiwa yang membuat Tania meninggal.


"Sekarang, aunty bisa istirahat dengan tenang karena El sudah berhasil menangkap penjahat yang sesungguhnya. Selain pelakunya dendam pada kita, ternyata wanita itu juga dendam pada keluarga bayi itu aunty. Wanita itu ternyata memang sudah merencanakannya jauh-jauh hari" Dia masih bermonolog di samping pusara. "Wanita licik itu, sudah menjadikan aunty dan Eve korban atas perbuatannya, akan El pastikan supaya dia mendapat hukuman yang setimpal, aunty" sambungnya kemudian dengan panjang lebar.


Cukup lama Kellen bertahan di area makam. Ketika terdengar suara adzan dzuhur, ia baru beranjak pergi meninggalkan makam auntynya.


Setibanya di mobil, pria itu tak langsung pergi. Mencoba menenangkan diri, dia bertahan di dalam mobil yang cukup mewah untuk seorang CEO.


Perlahan, ia mulai merasakan pikirannya kembali jernih. Teringat bagaimana menggemaskannya wajah Eve, juga betapa keras kepalanya wanita yang memiliki hatinya, membuat Kellen akhirnya menancapkan gas dan melajukannya ke mall milik Daffa. Dia akan membeli beberapa pakaian khusus untuk ibu hamil, selain itu, dia juga akan membeli bunga dan beberapa makanan yang di sukainya.


Sesampainya di mall, pria itu langsung turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya memasuki mall. Sebelum berbelanja, ia menyempatkan diri untuk menemui kakak ipar yang kemungkinan besar masih berada di kantor yang letakanya berada di lantai paling atas.


"El" Pria gagah itu bertepuk tangan begitu melihat adik iparnyalah yang ternyata memasuki ruangannya. "Hebat kamu El, dalam waktu singkat, kamu bisa menemukan pengacau di family care, kakak yakin, kamu pasti akan mendapatkan penghargaan luar biasa dari daddy dan mommy"


"Itu memang misiku setelah membuka kembali familly care kak" Kellen sudah duduk di depan meja Daffa setelah sebelumnya saling berpelukan. "Aku memang sengaja datang ke sini hanya untuk mencari tahu tentang penjahat jahanam itu"


"Dan usahamu itu tidak sia-sia El"


El tersenyum tipis meresponnya.


"Ini sebuah kemenangan untuk keluarga besar kita El, kita harus merayakannya"


El kembali tersenyum. "Masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan kak"


"Beberapa apanya? kamu hanya tinggal mendapatkan Eve kembali"


"Bukan hanya itu kak"


"Lantas?" selidik Daffa dengan raut penasaran.


"Ibu Pelita harus di bawa kesini"


"Ibu angkatnya Eve?"


"Iya kak"


"Itu hal yang mudah, tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra, satu jentikan saja pasti beres"


"Kakak bisa saja" pungkas Kellen berdecih. "Okay kak, aku mau belanjan dulu"

__ADS_1


"Oh jadi kesini mau shoping?"


"Ya, hanya membeli beberapa barang saja"


"Untuk Eve?"


"Tentu saja kak, memang untuk siapa lagi"


"Kalau begitu, beli juga anggur hijau, tadi kak Ara telfon kakak, minta kakak beli anggur itu buat Eve, katanya si Eve lagi pengin makan buah yang warnanya hijau-hijau, kakak rasa lebih baik kamu yang beli untuk istrimu"


"Anggur hijau?"


"Hmm"


"Hanya itu kak?"


"Iya, kak Ara cuma minta itu"


"Baiklah aku akan membelinya untuk Eve" ucapnya lalu berdiri. "Aku permisi kak"


"Ya, salam buat Eve dan opa oma"


"Ok"


Begitu keluar dari ruangan Daffa, langkah kaki El tertuju ke stand pakaian branded yang cukup terkenal untuk kalangan kelas atas. Sembari melangkah, dia membatin dengan ekspresi wajah yang berbinar.


Haha...!


Oh my God, aku tak menyangka akan menikahi wanita yang awalnya membuatku kesal karena sudah menggagalkan misiku mendekati Fiona. Satu-satunya wanita dan wanita pertama yang berani menamparku sampai tiga kali.


"Saya ambil sepuluh baju hamil ini dengan warna yang berbeda ya mbak" kata Kellen setelah berjam-jam memilih pakaian hamil.


"Siap pak"


Setelah dari stand baju, ia melangkah menuju stand buah segar, lalu ke stand bunga.


"My assistant, my muse, my future, my cute wife, I miss you my Sunshine, my sweetheart!"


Itulah sesuatu yang tertulis di buket bunga mawar berwarna pink campur merah hati yang sudah El pilih untuk merayu istrinya.


Hhhh dasar wanita sialan, kamu benar-benar membuatku mengemis cinta, Eve!.


Lihat saja, setelah aku berhasil membawamu pulang dan kembali ke pelukanku, kamu tidak akan lagi membuatku menjadi pengemis, karena aku akan membuatmu jatuh cinta padaku di setiap harinya.


Menginjak gas, pria itu memutar roda kemudi ke arah kiri sebelum kemudian melajukannya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


****


Suara klakson membuat Eve yang tengah menyiram tanaman di halaman rumah Tama, mengarahkan netranya pada mobil yang tiba-tiba menelusup masuk melewati pintu gerbang. Dia sangat faham dan tahu siapa pemilik mobil itu.


Mengabaikannya, dengan santai Eve terus mengarahkan slang ke tanaman yang tampak hijau.


Entah kenapa, hari ini selain ingin makan buah yang berwarna hijau, matanya juga tampak puas ketika melihat tanaman berwarna hijau. Ingin rasanya ia terus menatap pemandangan indah nan segar itu.


Hingga tahu-tahu, suaminya sudah berdiri di sampingnya dengan membawa beberapa paperbag di tangan kiri dan bunga di tangan kanannya.


"Sayang" kata Kellen lembut.


"Apa" sahut Eve ketus.


"Aku bawa ini untukmu"


Eve melirik sekilas lalu kembali menatap tanaman di hadapannya.


"Aku bawain anggur hijau buatmu. Aku juga bawain pakaian khusus ibu hamil serta bunga"


Sekali lagi Eve melirik ke arah Kellen kali ini netranya fokus menatap buket bunga berwarna pink dan merah hati itu. Warna yang beberapa hari ini sangat tidak di sukai oleh Eve.


Mendesah pelan, reflek kepala Eve menggeleng.


"Kan sudah di bilangin, nggak usah temuin aku"


"Kan sudah di bilangin, aku minta maaf"


"Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau untuk kembali, maaf aku tidak bisa"


"Aku mohon Ve"


Permohonanmu itu, sudah kamu coreng dengan pertemuanmu sama wanita yang lebih segalanya dariku.


"Aku tidak bisa El"


Kellen menghembuskan napas berat, lalu melangkah memasuki rumah mertuanya. Selang sekitar sepuluh menit, pria itu kembali menghampiri Eve.


"Aku akan pulang ke Macau nanti malam" kata Kellen setelah berdiri di sampingnya. "kamu jaga kandunganmu baik-baik! tadi aku bawain baju hamil buatmu, ada anggur hijau juga. Kamu makan ya, selalu jaga kesehatan. I love you"


Tangan Kellen terulur mengusap puncak kepala Eve, sekian detik kemudian dia melangkah menuju mobilnya.


Sementara Eve menatap punggung Kellen dengan sorot nanar.


Kenapa pulang ke Macau?

__ADS_1


Apa dia memilih wanita itu?


Bersambung.


__ADS_2