Personal Assistant

Personal Assistant
Diam-diam menghanyutkan dan Impas balas budi.


__ADS_3

Saat langkah Kellen telah sampai di ujung tangga, sepasang telinganya menangkap suara Ben tengah mengobrol dengan Pelita.


Pijar yang baru saja keluar dari area dapur, menatap sinis punggung Kellen yang berjalan menuju ruang tamu.


Diam-diam, pria itu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan pihak keluarga maupun Kellen.


"Bagaimana Ben?" tanya Kellen seraya duduk di ujung sofa panjang. Sofa yang juga di duduki oleh Pelita.


"Nona Rena sudah kembali dari Makasar, tuan"


"Apa dia sudah di rumah saat ini?"


"Sudah sejak satu jam yang lalu"


Rena yang baru saja berziarah ke makam papah serta kakek neneknya, beberapa saat lalu sudah kembali ke Jakarta. Dan Kellen akan memberikan kejutan padanya sebagai bentuk terimakasih karena sudah membantu menjebloskan targetnya ke penjara.


"Apa dia sudah tahu Ben?"


"Sesuai perintah tuan, nona Rena sama sekali belum mengetahui kalau bu Pelita sudah kita temukan"


"Okay, lebih baik kita segera kesana, aku yakin mamah pasti sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya" Saat mengatakan itu, pandangan Kellen jatuh pada Pelita.


"Makasih El"


"Pak Ben, mari di minum dulu" Potong Nara membawakan beberapa cangkir teh.


"Terimakasih nyonya Tama"


"Tak perlu sungkan, silakan di minum"


Ben mengangguk, lalu meraih cangkir teh dan menyruputnya.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" Nara, Kellen, Pelita serta Ben kompak menolehkan wajah ke arah pintu.


Sosok wanita berhijab, membuat Ben tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang tiba-tiba berontak seperti tak tahu aturan.


Sementara Shanum belum menyadari jika salah satu pria itu adalah Ben. Pria yang kerap sekali bertemu dengannya tanpa sengaja.


"Shanum" Wanita itu mendekat ke arah Nara untuk mengecup punggung tangannya.


"Sha, ini mamah angkat Eve" sambung Nara.


"Shanum, tante" gadis itu mengulurkan tangan.


"Pelita"


Ben hanya diam seraya menatap Shanum dari samping yang masih berdiri di sebelah Nara.


"Sendirian Sha?" tanya Nara.


"Iya ma, pengin makan malam disini katanya juga Pijar pulang, ada Eve juga kan enak kalau makan rame-rame, soalnya daddy sama mommy lagi jengukin oma Diana"


"Kamu nggak ikut jengukin oma kamu memangnya?"


"Tadinya mau ikut, tapi aku ada meeting mendadak, gantiin mommy"


"Oh" respon Nara paham.


"Aku ke dalam dulu ya ma"


"Eve ada di kamar nak"


"Iya ma" sahut Shanum lalu mengalihkan pandangan pada Pelita, Kellen, lalu Ben.


Hatinya sontak terkejut ketika menyadari pria yang duduk seraya menatapnya adalah Ben, pria yang kemarin lusa di temuinya untuk menukar flashdisk yang tertukar.


"Mari, semuanya" Shanum tersenyum, dan itu membuat jantung Ben makin kebat-kebit ketika pandangan mereka bersirobok.


"Nyonya Nara, maaf saya tidak bisa makan malam di sini" ucap Pelita usai kepergian Shanum.


"Makan malam tinggal beberapa jam lagi bu Pelita, lebih baik makanlah dulu di sini"


"Terimakasih, tetapi saya tidak bisa menahan rasa rindu terhadap putri kandung saya"


"Baiklah, saya mengerti" sahut Nara dengan seulas senyum.


"Mau pergi sekarang mah?" tanya Kellen menatap Pelita.


"Iya El, ayo"


"El" tiba-tiba suara Pijar menggema.


"Iya Jar?" Jawab Kellen menatap Pijar dengan sorot heran.


"Apa pak Ben akan ikut denganmu?"

__ADS_1


Pertanyaan Pijar membuat Kellen dan Ben saling mempertemukan pandangan.


"Biarkan pak Ben disini dan makan malam bersama kami, iya kan mom"


"Sepertinya ide bagus" balas Nara. "Pak Ben, makanlah disini rame-rame, pak Ben pasti jarang-jarang kan, makan bersama keluarga?"


Ben kembali memusatkan netranya ke arah Kellen.


"Aku setuju Ben, lagi pula aku hanya mengantar mamah"


"Setelah itu langsung pulang" Potong Nara kilat "Makan disini El"


"Iya mom"


"Baik tuan" Kata Ben menyetujui.


"Sambil menunggu makan malam siap, bagaimana kalau kita main catur pak Ben?" Ajak Pijar setelah kepergian Kellen dan pelita beberapa menit lalu.


"Okay, mari kita bertanding" Ben menerima tantangan Pijar.


****


Di tempat lain, Kellen yang baru saja sampai di rumah mewah milik Rena, langsung beranjak turun dari mobil kemudian membuka pintu untuk Pelita.


Wanita paruh baya yang baru saja keluar dari mobil, langsung menatap takjub kediaman Rena. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi.


"Ini rumah Rena mah, rumah peninggalan pak Jonas, mantan suami mamah yang sudah meninggal"


"Disini, Rena tinggal dengan siapa El?"


"Tadinya sama Mishela mah, tapi semenjak wanita jahat itu masuk penjara, Rena tinggal sendiri dengan dua ART yang baru saja bekerja"


"Baru bekerja?"


"Iya mah, untuk lebih detailnya, mamah bisa tanyakan nanti pada putri mamah. Aku dan Ben hanya mencarikan ART untuknya setelah mamah tirinya di penjara"


"Benar tidak ada siapa-siapa selain Rena El?"


"Benar mah, orang tua Mishella sudah meninggal, hanya ada kakak-kakaknya Mishela tapi mereka tinggal di luar negri"


"Apa mamah masih takut?" Selidik Kellen.


Diamnya Pelita otomatis membuat Kellen mengerti.


"Mamah tidak perlu takut, ada aku dan Rena yang akan melindungi mamah. Aku yakin Eve juga tidak akan tinggal diam kalau ada seseorang yang menyakiti mamah"


"Kalau Eve jelas El, dia bahkan sudah membuat mamah sembuh dari sakitnya"


"Makasih El"


"Kita masuk mah"


"Iya"


Perlahan, keduanya melangkah menuju pintu. Setelah mengetuknya hingga tiga kali, seorang ART membukanya.


"Selamat malam,"


"Selamat malam, tuan?"


"Nona Rena ada?"


"Ada tuan, mari masuk"


"Ayo mah" Ajak Kellen pada Pelita.


"Silakan duduk, tuan, nona Rena ada di kamarnya, akan saya panggilkan"


"Iya" Kellen dan Pelitan mendudukan dirinya di sofa.


Selang sekitar lima menit, sosok Rena muncul di hadapan Pelita.


Selain saat itu Rena masih berusia empat tahun, dimana ingatan masa kecilnya tak begitu tajam, di tambah wajah Pelita tidak semuda saat Pelita meninggalkannya, membuatnya tidak tahu jika wanita di hadapannya adalah mamah kandungnya.


"Tuan El!"


"Apa kabar nona?"


"Saya baik" Rena duduk bersebrangan dengan El dan juga Pelita.


"Seperti janji saya yang akan membantu anda menemukan mamah anda" ucap Kellen setelah berbasa-basi sesaat. "Dan wanita di samping saya ini, adalah bu Pelita, mamah anda"


Mendengar kalimat Kellen, persekian detik kemudian wajah Rena berpaling memindai tubuh Pelita.


"Ini adalah bu Pelita, mantan istri pak Jonas, mamah kandung anda, nona" tambah Kellen dengar sorot serius.


"M-mamah?"

__ADS_1


Pelita yang masih menunduk, berusaha keras menahan laju air yang kian deras. Tak tahu harus berbuat apa setelah sekian lama terpisah dari putri kandungnya.


Merasa panggilannya tak di indahi, Rena kembali menatap Kellen seolah meminta penjelasan yang lebih.


"Pelita adalah mamah kandung anda, nona"


"S-sungguh?" tanya Rena tak percaya. Matanya berbinar menahan genangan air yang sudah membendung. Sejujurnya, Ia tak menyangka jika Kellen bisa menemukan mamah kandungnya secepat ini.


"Benar, nona. Dia ibu kandung yang selama ini anda cari"


Pelan, Pelita mengangkat kepalanya, ia menatap lekat-lekat wajah sang putri.


"Apa kakekmu bernama Suryadaya?"


Rena mengangguk dengan pandangan mengabur.


"Nenekmu bernama Shalima?"


Kedua kalinya wanita itu mengangguk, kali ini sambil mengusap titik bening yang tiba-tiba terjatuh melewati pipi mulusnya.


"Papahmu bernama Jonas Suryadaya, dan nama panjangmu Karena Suryadaya?"


"Benar" sahut Rena Lirih.


"Aku Pelita Kasih, wanita yang melahirkan Karena Suryadaya dua puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal dua puluh tujuh bulan sembilan"


Ucapan Pelita membuat Rena mematung, tak percaya jika wanita di hadapannya tahu segalanya tentang dirinya bahkan tanggal lahirnya.


"Mamah?"


Pelita mengangguk dengan deraian air mata yang sudah mengalir deras.


Di sana Kellen menunduk turut sedih dengan pertemuan anak dan ibu kandung.


Apakah Eve seperti ini saat bertemu dengan orang tuanya?


Apa sesedih ini Ve?


Pria itu mendesah lirih.


Maafkan aku, aku menyesal, benar-benar menyesal.


Andai tak tersulut dendam, mungkin aku bisa menyaksikan adegan mengharukan seperti ini antara kamu dan daddy serta mommy. Dan hubungan kita, pasti tidak setegang ini, iya kan Ve?


Kellen mendongak, menatap dua wanita beda generasi yang saat ini tahu-tahu sudah saling berpelukan.


Aku sudah menyelesaikan segalanya. Hanya satu yang belum tuntas, ngidamku yang masih suka muntah di pagi hari, dan berusaha melunakkan wanita yang saat ini sangat keras kepala.


"Maaf mah, nona" ujar Kellen sesaat setelah dua wanita di hadapannya melepaskan pelukannya. Otomatis pandangan keduanya langsung terarah ke wajah Kellen.


"Saya permisi pulang"


"Tidak makan malam di sini saja, tuan?"


"Tidak, terimakasih"


"El pasti di tunggu sama Eve, Rere. Tadi mommy mertuanya meminta El untuk makan malam di rumahnya" Kata Pelita yang seketika mengingatkan Rena dengan panggilan sayang dari sang mamah waktu kecil.


"Saya permisi dulu mah"


"Iya, hati-hati, El"


"Iya mah, selamat malam mah, nona Rena"


"Terimakasih untuk semuanya tuan"


"Sama-sama nona, saya juga berterimakasih pada anda untuk semuanya"


Seperginya Kellen, dua wanita itu langsung menuju meja makan karena makan malam sudah hampir siap. Rena memilih membawa Pelita ke ruang makan dan akan melepas rindu sembari makan malam benar-benar tersaji.


Sementara Kellen, saat di tengah-tengah perjalanan, ada setidaknya sepuluh pria berbadan tegap dan tinggi menghadang mobilnya.


Merasa heran, Kellen memberanikan diri untuk turun.


Namun, baru saja pria itu menutup pintu mobil, tiba-tiba kedua tangannya di cengkram oleh dua pria asing. Dua orang lainnya siaga di belakang Kellen, satu orang yang merupakan ketua geng itu tersenyum sadis. Sedangkan beberapa pria lainnya mengawasi situasi setempat.


"Apa-apaan kalian?" pekik Kellen seraya berusaha melepaskan cengkramannya.


"Kami ingin menghajarmu"


"Siapa kalian, dan apa urusan kalian denganku?"


"Tidak usah banyak bertanya, kami hanya melakukan tugas dari atasan kami"


Dengan cepat tiga orang preman langsung memukulinya tanpa ampun. Dua orang lainnya masih memegang erat masing-masing tangan kanan dan kirinya membuatnya tak mampu melawan para preman.


Kellen yang berusaha berontak, justru memantik emosi mereka kian kalap dan terus menghajarnya tanpa rasa iba sedikitpun. Mereka terus mengeroyoknya, memukulinya hingga babak belur dan akhirnya, pria itu jatuh tersungkur dengan luka di sekujur tubuh serta wajah penuh darah.

__ADS_1


Para preman secepat kilat meninggalkan Kellen yang sudah tak berdaya.


Bersambung


__ADS_2