
Dua keluarga panik mendengar berita hilangnya kontak pesawat. Pesawat yang di tumpangi oleh Kellen, akan membawanya ke benua Amerika tepatnya di bagian utara.
Ben serta Alvin sendiri belum tahu mengenai berita itu sebab mereka juga sedang dalam perjalanan menuju ke Kanada.
Sementara Tama, sang istri dan kedua anak kembarnya sudah berada di Bandara untuk mendapatkan kejelasan informasinya.
Ketika Tama sedang sibuk menerima telfon dari orang tuanya yang ingin mendapat informasi mengenai pesawat itu, tiba-tiba ponsel Nara pun berdering. Sebuah panggilan masuk dari Nayla yang saat ini berada di negaranya.
"Iya jeng Nay?"
"Bagaimana situasinya jeng? berita itu hoak kan jeng? itu bohong kan?"
"Halo jeng Nayla, saya tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Disini sangat berisik"
Tentu saja suasana tak sekondusif biasanya. Karena beberapa keluarga tengah merasa panik memikirkan nasib kerabatnya yang menjadi penumpang di Syiang Yi airlines.
Ada dari mereka yang mengomel pihak maskapai karena begitu lambat memberikan informasi, ada yang teriak histeris lalu pingsan karena shock, ada pula yang menangis.
Nara sendiri merasa bingung menghadapi putrinya yang hanya bergeming dengan tatapan kosong sambil terus meluncurkan butiran bening dari pelupuk mata.
"Jeng Nara, saya dan suami akan terbang ke Jakarta besok pagi"
"Iya jeng, saya tunggu ya"
Nara sempat meninggalkan Eve di tempat duduk ruang tunggu untuk mencari tempat yang tidak terlalu berisik supaya bisa mendengar suara Nayla dari ujung telfon. Namun, saat panggilan sudah berakhir, dan saat Nara kembali ke ruang tunggu di mana Eve duduk, sepasang matanya mendapati tempat itu kosong. Tidak ada Eve di sana, dan itu membuat jantung Nara persekian detik berdebar sangat kencang.
"E-Eve!"
"K-kemana putriku?" Nara mengedarkan pandangan sembari memutar tubuhnya. Mencari keberadaan Eve yang tiba-tiba menghilang.
"M-mas Tama. Dimana mas Tama?"
"Mom?" Tama datang.
"Dad, E-Eve hilang. Dia tidak ada di sana"
Mendengar ucapan Istrinya, Tama langsung menoleh ke bangku panjang yang baru saja di tunjuk sang istri.
"Hilang gimana mom?"
"T-tadi mommy cari tempat yang agak sunyi, buat angkat telfon dari jeng Nalya, enggak jauh dari sini dad, tapi pas mommy kembali, dia sudah tidak ada di sini"
"A-pa?"
"Dimana Eve dad?" Nara malah bertanya balik. Ia bahkan tak memperdulikan ponselnya yang terus berdering.
"Pijar" Pria itu langsung menghubungi putranya melalui ponsel.
"Assalamu'alaikum dad?"
"Wa'alaikumsalam Pijar, kamu dimana nak?"
"Aku di bagian informasi di exit G, dad, Kenapa?"
"Apa Eve ada bersamamu?"
__ADS_1
"Loh bukannya sama daddy mommy?"
"Itu berarti, Eve tidak bersamamu?"
"Tidak dad"
"Eve juga tidak bersama kami Jar"
"Apa?"
"Eve menghilang entah kemana"
"Okay, aku ke daddy sekarang, kita cari sama-sama" Tanpa pikir panjang, Pijar bergegas lari menuju area di mana dia meninggalkan kedua orang tua serta kakaknya.___
Sibuk mencari putrinya yang mendadak menghilang, Tama, Nara serta Pijar benar-benar mengabaikan panggilan dari para kerabatnya yang ingin mengetahui kabar terkini.
Kemana kamu nak? Tatapan Nara kelam, sekelam malam tanpa penyinaran. Sesekali pandangannya mengabur karena menangis.
Mommy sudah panik memikirkan suamimu, jangan buat mommy tambah panik sayang, mommy nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya.
Wanita itu merasa putus asa, mengusap pipinya yang basah. Netranya terus mencari titik keberadaan sang putri.
Di situasi lain "Gimana dek?"
"Nggak di angkat mas"
Amara dan Daffa langsung menyusul ke bandara begitu di beri kabar oleh Pijar.
"Kita coba kesana dek" Daffa menggenggam erat tangan istrinya sembari melangkah dengan gugup.
Pandangan mereka mengedar mencari sosok daddy dan mommynya.
"Sudah, tapi nggak di angkat juga, daddy sama Pijar pun sama, nggak angkat. Ada apa ya mas?"
"Mungkin mereka terlalu panik, jadi tidak sadar ponselnya bunyi"
"Mommy, angkat dong mom" Gumam Amara lirih. Ia terus berusaha melakukan panggilan.
***
Sementara Tama, dan Nara masih terus mencari Eve.
Sudah tiga puluh menit berlalu, Nara terkejut ketika manik hitamnya menangkap sosok yang begitu familiar. Saking tak percayanya, wanita itu membatu sambil membungkam mulutnya melihat pemandangan di hadapannya. Tatapannya menyorot tak percaya mendapati Eve dan Kellen tengah berpelukan.
Bagaimana bisa? apa itu hanya halusinasiku? Nara membatin seraya terus memfokuskan pandangan pada anak serta menantunya.
FLASHBACK ON...
Beberapa menit setelah mendengar pesawat ke Hawai hilang kontak, Kellen yang baru saja selesai meeting, langsung menuju ke bandara. Ia tahu informasi itu dari siaran televisi ketika di lobi hotel tempatnya melakukan pertemuan dengan para kolega.
Berlari sekencang-kencangnya, ia khawatir jika keluarganya pasti menyangka kalau dirinya menjadi korban pesawat itu. Langkahnya lebar, menuju bandara yang kebetulan tak jauh dari hotel. Bahkan, ia menerobos jalan dan mengabaikan para pengendara yang tiba-tiba mengerem mendadak kemudian mengumpatnya.
Saat langkahnya telah sampai di pintu masuk area bandara, Eve seperti merasakan pijakan kaki sang suami. Wanita itu lantas bangkit dari duduknya kemudian menoleh ke belakang.
El!!
__ADS_1
Eve menggumam dalam hati.
El, aku yakin kamu ada disini, kamu nggak akan pernah ninggalin aku.
Eve berbalik, tanpa sadar ia berjalan mencari suara langkah kaki yang ia yakini adalah suara sepatu yang Kellen pakai.
Ada dimana kamu El, anakmu merindukanmu.
Sepasang netranya terus menyusuri area sekelilingnya sembari terus melangkahkan kaki. Ia mengabaikan orang yang berlalu lalang dan tetap fokus mencari sosok suaminya.
Aku tahu itu suara sepatumu, aku tahu itu kamu. Aku paham betul ketukan langkah kakimu, El.
Lebih dari lima belas menit berputar-putar di area tempat untuk penimbangan bagasi, tiba-tiba pandangan Eve dan Kellen bertemu dari jarak sekitar lima belas meter. Spontan, keduanya sama-sama menghentikan langkahnya dan hanya saling memandang.
Tatapan yang menyiratkan sebuah cinta, kerinduan, serta permohonan maaf dari keduanya.
Pelan, Eve dan Kellen sama-sama melangkah hingga jarak mereka kian terkikis.
Tepat ketika berada dengan jarak tiga meter, langkah mereka kembali terhenti.
Satu detik, dua detik, hingga berganti menjadi tiga detik, sepasang kaki mereka kembali terayun dengan setengah berlari, kemudian langsung menghambur ke dalam pelukan.
Flashback Of..
Ada isak keluar dari mulut wanita yang kini tengah mengandung dua bulan. Sementara Kellen terus mendekapnya erat, sambil memberikan usapan lembut di punggung sang istri.
Pelukan yang mampu membunuh ketakutan di hati Eve.
Air mata yang sarat emosi, hingga tiba-tiba, Eve merasakan pergerakan dari pria yang ia cintai. Detik kemudian mengecup pipinya cukup lama, sebelum kemudian berbisik.
"Aku baik-baik saja, aku tidak mungkin tega meninggalkanmu dan anak kita"
Mendengar ucapannya, pelukan Eve mengerat seakan tak ingin terlepas dari dekapannya.
"Aku mencantaimu, Ve" pria itu mendaratkan dagu di puncak kepala Eve. Memejamkan mata, lelaki itu menikmati hangatnya pelukan yang sangat ia nantikan.
"Mom" Panggilan Tama membuat Nara tersentak, lalu menoleh sang suami.
"Mommy kenapa?"
Alih-alih menjawab, Nara justru mengulurkan tangan menunjuk dua insan yang sedang berpelukan. Otomatis, perhatian Tama mengikuti kemana arah tangan Nara menunjuk.
"Eve? El?"
Disaat yang bersamaan, Daffa dan Amara menemukan keberadaan daddy serta mommynya, lantas menghampirinya dengan sorot khawatir.
"Daddy, mommy?" Reflek pandangan Dafa dan Amara mengikuti kemana pandangan Tama tertuju.
Mulut Amara menganga begitu melihat Eve dan Kellen, dia langsung menutup mulutnya saat menyadari keterkejutannya. Begitu juga dengan Daffa yang seakan tak percaya dengan pemandangan di depannya.
Dari arah berlawanan, ada Pijar yang juga melihat adegan mengharukan antara kakak dan kakak iparnya.
Syukurlah pria itu selamat. Tapi bagaimana bisa dia tidak menaiki pesawat itu? Pijar membatin dengan sekelumit pertanyaan.
Bersambung.
__ADS_1
Next part Kellen akan menceritakan kenapa dia bisa gagal menaiki pesawat itu.
Sampai jumpa di up selanjutnya. 😘😘😘