Personal Assistant

Personal Assistant
Di atas 15.000 ft


__ADS_3

Ben serta Zea merasa lega ketika Kellen tidak mengalami luka dalam akibat pukulan dari para preman. Zea langsung pulang ketika mendengar sang kakak harus istirahat, sementara Ben yang akan menemani Kellen di rumah sakit.


Setelah melewati masa kritis selama beberapa jam tadi, kini sorot elang Kellen perlahan terbuka. Ada sosok dokter Samira yang tertangkap tengah duduk di kursi sebelah ranjang dengan tatapan sepenuhnya ke wajah pria yang terbaring lemah.


Ia langsung memeriksa kondisinya begitu menyadari sepasang iris kelam itu tiba-tiba tampak dengan sangat jelas.


"Syukurlah detak jantung anda normal, tuan El"


Pria itu menghembuskan napas panjang.


"Tolong panggil dokter lain untuk merawatku, dokter Samira"


"Kenapa? saya pun akan merawat tuan dengan baik"


"Istriku sangat cemburu padamu, saat ini dia masih marah padaku, jadi jangan membuatku semakin sulit mendapatkan maafnya karena keberadaanmu"


"Anda masih berharap padanya, tuan? jelas-jelas dia sudah menolakmu"


"Dari mana kamu tahu, istriku menolakku?" tanya Kellen sedikit tersinggung.


"Berita tentang kalian selalu menjadi topik utama di rumah sakit ini, jadi siapa yang tidak tahu dengan hubungan anda dan istri anda sebenarnya? semuanya mendengar, semuanya tahu"


Tak ingin membahasnya, pria itu buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Tolong panggil Ben"


Tak menjawab, dokter Samira langsung berbalik kemudian melangkah keluar.


Tak kurang dari satu menit, sosok Ben sudah berjalan menghampiri atasannya.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"Apa dokter Samira yang telah merawatku?"


"Iya tuan"


"Tolong minta dokter lain menggantikan dia"


"Baik tuan"


"Satu lagi" ucap Kellen membuat lipatan di dahi Ben tampak jelas.


"Bagaimana dengan Eve? apa dia tidak menjengukku?"


Dengan berat Ben menggelengkan kepalanya.


"Apa lebih baik aku mundur saja Ben? sepertinya Eve memang benar-benar ingin bercerai dan tidak mencintaiku"


"Coba berusaha kebih giat lagi, tuan"


"Tapi bagaimana caranya? aku tidak berpengalaman soal ini. Dalam kondisiku seperti ini saja dia sama sekali tidak peduli"


Mengeratkan rahangnya, Ben menarik napas dalam kemudian membuangnya perlahan.


"Jangan putus asa tuan, jika tuan sangat mencintainya, sebisa mungkin tuan harus mampu memperjuangkannya dan mempertahankan nona Eve"


"Tapi rasanya sulit jika harus berjuang sendiri"


"Tetap perjuangkan tuan, jangan menyerah, nona Eve itu seperti nyonya Nayla, dia sangat lembut, pasti suatu saat akan luluh"


Berfikir sejenak, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk. Dua orang polisi datang menghampirinya.


"Selamat pagi tuan!" sapanya ramah.


"Selamat pagi"


"Maaf, jika kedatangan kami kemari mengganggu waktu istirahat anda"


"Tidak masalah pak" balas Kellen.


"Kami berniat menginterogasi anda tentang pengeroyokan yang anda alami tuan"


"Ya, silakan"

__ADS_1


"Terimakasih" sahutnya. "Apa anda mengenal dengan orang-orang yang sudah memukuli anda?"


"Saya tidak mengenalnya pak, saya juga tidak tahu siapa preman-preman itu sebab kepalanya tertutup kain"


"Saat kejadian, kami tidak menemukan saksi lain selain wanita yang sudah membawa anda kemari, itu akan mempersulit penyelidikan kami dan mungkin akan memakan waktu lebih lama. Selain itu, tidak ada bukti dan jejak yang mereka tinggalkan, tuan"


"Saya mengerti pak, dan saya akan meminta sekertaris saya untuk turut menyelidikinya"


"Baik, hanya itu yang bisa kami sampaikan, kami akan berusaha menangkap pelakunya"


"Terimakasih, pak"


"Sama-sama, kalau begitu, kami permisi. Selamati pagi" Dua orang polisi menatap Kellen lalu Ben secara bergantian.


"Ben, siapa yang membawaku kemari?"


"Seorang dokter tuan, dia sempat memberikan pertolongan pertama pada tuan dengan alat medis yang dia bawa di tas kerjanya"


"Dimana orang itu?"


"Maaf, tuan El, dia menolak memberitahu dimana dia tinggal, dia hanya mengatakan kalau dirinya seorang dokter bernama Adinda Sofiana"


"Adinda Sofiana?"


"Iya, tuan"


"Tapi kamu sudah berterimakasih padanya kan?"


"Tentu saja sudah"


Kellen lantas meresponnya dengan bahasa tubuh. Mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kira-kira, apa mereka suruhan Mishella, tuan?"


"Mishella?" Netra Kellen tajam menyoroti wajah Ben.


"Jika benar Mishella, itu artinya Eve dalam bahaya Ben"


"Kerja bagus Ben, jangan hanya Eve, tapi daddy mommy, serta kak Ara, kak Daffa dan Tita juga harus kita jaga. Tidak menutup kemungkinan wanita jahanam itu akan menyerang mereka bukan?"


"Betul tuan, saya sudah antisipasi untuk itu"


"Bagus" sahut El kembali memuji gerak cepat sekertarisnya.


"Tuan, saya akan menemui dokter lain menggantikan dokter Samira untuk merawat anda"


"Iya pegilah, dan urus semua pekerjaanmu, aku akan istirahat"


****


Hanya selang lima menit setelah kepergian Ben, sosok pria berwajah tampan memasuki bangsal yang Kellen tempati.


Pria itu tersenyum sembari melangkah ke arah ranjang setelah menutup dan mengunci pintu.


"Pijar?" ucap Kellen dengan tatapan heran.


"Bagaimana lukamu, apa ada yang serius?"


"Tidak"


"Syukurlah para pesuruhku tidak membuangmu ke laut"


"Apa yang kamu katakan, Pijar?"


"Tuduhanmu terhadap Mishella itu salah besar, tidak mungkin wanita licik yang sudah renta itu berani melakukan hal itu"


"Apa maksudmu?"


"Tidak usah repot-repot mencari pelaku pengeroyokan tadi malam, karena pelaku yang sebenarnya ada di hadapanmu saat ini"


"Jadi, apa itu artinya kamu yang melakukannya?"


"Ya memangnya siapa lagi yang ada di depanmu saat ini"

__ADS_1


Tercenung, Kellen mendengar pengakuan adik kembar dari istrinya.


"Kenapa kamu melakukan itu?" selidik Kellen mengintimidasi.


"Kamu masih bertanya kenapa aku melakukan itu? Kamu punya otak bukan? dan otak gunanya untuk berfikir" kata Pijar dengan tatapan penuh benci.


"Aku hanya ingin membalas rasa sakit hatiku padamu atas perlakuan kejimu pada saudari kembarku, tidak ada alasan lain selain itu, tuan El"


Dengan susah payah dan masih dengan sorot tak percaya, Kellen menelan salivanya sendiri.


"Jika kamu ingin menyerahkanku ke polisi, ayo lakukan sekarang" Lanjut Pijar seraya mengulurkan kedua tangannya yang mengepal. "Bawa aku ke polisi sekarang juga"


Hening, mereka terdiam saling beradu pandang dan saling mengunci sepasang netranya masing-masing.


Jelas Kellen tidak berani membawa Pijar ke kantor polisi, karena tidak mungkin ia memenjarakan adik iparnya yang kemungkinan besar akan berdampak lebih buruk lagi ke dalam hubungannya dengan Eve. Sedangkan Kellen, benar-benar tidak ingin kehilangan istri cantiknya.


"Jika siap kehilangan Eve, ayo kita ke kantor polisi, aku akan mengakui perbuatanku"


"Lantas, apa sekarang kamu puas?" tanya Kellen tak merespon ucapan Pijar barusan.


"Sebenarnya belum puas, tapi karena calon keponakanku butuh papahnya, jadi aku memilih tak membunuhmu"


"Jadi kamu berniat membunuhku?"


"Ya, karena kamu yang lebih dulu berniat membunuh sebagian dari nafasku"


Kembali Kellen di buat terkejut.


"Kamu tahu kalau saudara kembar itu bisa saling merasakan suka duka kembarannya?"


Pria yang terpasang jarum infus di tangan kirinya hanya bergeming sambil lekat menatap lawan bicaranya.


Aku ingat betapa senangnya Eve ketika melihat pertandingan Pijar saat itu, dan betapa sedihnya ketika Pijar kalah melawan China.


Mungkin itulah yang di namakan ikatan batin.


Kellen membatin saat teringat akan sesuatu.


"AKU JUGA MERASAKAN PENDERITAAN EVE, MESKI SAAT ITU AKU BELUM TAHU TENTANG EVE DAN PERLAKUAN KASARMU" lirih, tapi penuh penekanan.


"Aku minta maaf soal itu padamu, aku tidak akan menyeretmu ke kantor polisi"


"Kenapa? kamu takut kehilangan Eve" tanya Pijar dengan nada meledek.


"Kalau kamu tahu, kenapa masih bertanya?"


Pijar tersenyum miring.


"Dimana otakmu sebelum menyiksa istri tercintamu? di saat yang bersamaan, kamu mencintainya, tapi juga menyiksanya"


"Lalu sekarang apa maumu? apa aku harus melupakan saudari kembarmu lalu pergi darinya?"


"Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" kata Pijar tegas "Pertahankan jika memang kamu tidak ingin berpisah dengannya, tapi setelah kamu berhasil membawanya ke pelukanmu, dan kamu kembali menyiksanya, aku tidak segan-segan menarik tanganmu untuk menaiki jet pribadiku kemudian akan melemparmu dari ketinggian lima belas ribu kaki"


"Camkan itu" tambah Pijar mengancam.


Bersambung.


Kalau misalnya 1 meter \= 3 kaki.


Berarti 15000 kaki di bagi 3 kaki.


ketemunya 5000 meter


5000 meter \= 5km


Seberapa tinggi itu??? 😂😂😂


Pijar Pijar... (Sambil geleng-geleng kepala)


Maaf kalau salah.


Ada kisah dokter Dinda di novel lain ya..

__ADS_1


__ADS_2