
Sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi Kellen masih berada di balik kamar mandi. Eve yang sudah mandi terlebih dulu merasa bimbang, antara menunggu pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya selesai mandi, atau langsung merebahkan diri dan pergi tidur.
Usai berkirim pesan dengan Amara, gadis itu termenung sambil sesekali melirik jam, pikiran Eve jatuh pada ucapan Kellen ketika meresmikan hubungan mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ia tak tahu apa artinya, tapi
Eve merasa heran sekaligus tak mengerti dengan Nama Gautama Nalendra yang di sebut saat pria itu berjabat tangan dengan lelaki muslim, yang kata Nayla ucapan Kellen itu namanya Ijab Qobul, Ikrar untuk meresmikan hubungan menurut orang islam. Eve yang tak faham dengan bahasa Indonesia, hanya bisa diam dan menurut begitu saja. Yang jelas, ketika penghulu menanyakan kesiapan menikah, Eve menjawab siap, rela, dan ikhlas lahir batin serta tanpa paksaan. Beruntung, meskipun Kellen menikahinya dengan di dasari ancaman, setidaknya ia memiliki mertua yang baik terhadapnya, dan juga Risa sebagai kartu As-nya.
Aku harus tanyakan pada si kurang ajar itu kenapa dia menyebut nama Gautama Nalendra. Tapi, apa Gautama Nalendra itu adalah sebuah kata yang memiliki arti misalnya sehidup semati?
Ah, apapun itu, aku harus menanyakannya.
Selang sekitar satu menit, tiba-tiba terdengar suara decitan pintu. Eve menoleh ke arah kamar mandi dan pandangan merekapun langsung bertemu.
Gadis itu menelan ludah ketika netranya menatap tubuh Kellen yang setengah telanjang dengan rambutnya yang basah. Ia sempat terpesona dengan pria pemilik tubuh proporsional itu, namun hanya persekian detik.
"Kenapa menatapku begitu?" Ketusnya.
"Boleh aku bertanya padamu?"
Kellen mengangkat satu alisnya sebelum merespon. "Tanyakan!" ucapnya sambil menutup pintu kamar mandi, lalu berjalan ke arah lemari dan meraih satu potong kaos tipis.
"Tadi saat ikrar pernikahan, kau sempat menyebutkan nama tuan Gautama, kenapa begitu?"
Kellen yang tengah mengenakan kaos, sempat menghentikan sekilas gerakan tangan yang hendak memasukkan kepala ke lobang kaos.
Saat kaos sudah terpakai sempurna, Kellen mengikis jarak. Pria itu masih dalam kondisi handuk melingkar di perutnya dan sama sekali belum mengenakan celana.
Sementara Eve yang duduk bersandar pada headboard, mendongakkan kepala menatap pria yang kini tengah berdiri dengan tangan bersedakap.
Seharusnya aku yang mengintimidasinya. Kenapa malah dia yang menyorotku tajam? Eve membatin.
"Kenapa?" tanya Kellen santai.
"Aku berhak tahu kan, kenapa tuan Tama di sebut?"
Kellen berdecih sambil terus menatap istrinya dalam-dalam.
Sehari sebelum pernikahan, Pandu menanyakan siapa nama ayah Eve pada Kellen.
Flashback On.
__ADS_1
"Siapa nama ayahnya Eve, El?"
"Ayah angkatnya sudah meninggal dad"
Pandu sempat terkejut, namun hanya sekian detik.
"Anak angkat?"
"Iya, jadi Pelita dan almarhum suaminya itu bukan orang tua kandungnya"
"Lantas dimana orang tua kandung Eve?"
"Tidak tahu dad" dusta Kellen, padahal yang sebenarnya, dia sangat tahu dan yakin bahwa Eve adalah putri kandung Gautama Nalendra. "Bu Pelita mengambilnya dari panti asuhan karena dia tidak bisa punya anak"
"Oh begitu" Sahut Pandu. "Benar-benar tidak tahu dimana orang tua kandung Eve berada?"
Kellen menggeleng meski di dalam hatinya merasa berat. Seumur-umur, ia tak pernah berbohong pada siapapun. Tapi kali ini, demi menuntaskan rasa sakit hatinya, dia terpaksa melakukan itu.
"Tapi kata bu Pelita, namanya si Gautama Nalendra yah"
"Gautama Nalendra?"
Karena sudah puluhan tahun berlalu, Pandu sudah lupa dengan Gautama yang memenjarakan sang adik. Berbeda dengan Kellen yang hampir setiap hari mengingat nama pria itu semenjak tahu kebenarannya saat dirinya berusia sembilan tahun.
"Ya sudah, karena kita tidak bisa menghadirkan wali, kita bisa menggunakan wali hakim. Karena bu Pelita sendiri juga sudah melimpahkan semuanya pada kita, dan Eve juga menurut apa kata kita"
"Iya dad"
Minimnya pengetahuan tentang islam, membuat Kellen menghalalkan segala cara demi menikahi Eve, meski dengan kebohongan sekalipun.
Bagi Kellen, ada mempelai pria, dan wanita, ada wali hakim, saksi dan ijab qobul itu sudah cukup sebagai syarat sah pernikahan dalam islam.
Flashback off.
"Halo" Nada Eve meninggi melihat Kellen justru melamun.
"Kau tahu, kalau seorang wanita dalam islam itu, menikah harus ada wali" Kata Kellen lalu duduk di tepi ranjang, tepat di depan Eve. "Dan kenapa aku menyebut nama pak Tama sebagai walimu?"
Kali ini pria itu mengatakannya sambil membelai rambut Eve yang langsung membuat fokus Eve buyar. "Karena aku tahu, kau baru kenal satu bulan sudah sangat dekat dengan mereka, sementara seorang wanita harus memiliki wali seorang pria. Coba, keluargamu mana ada laki-laki, semua perempuan, iya kan? jadi aku pilih pak Tama karena menurutku dia orang baik?" Kellen menyentuh dagu Eve lalu mencengkramnya sangat kuat.
__ADS_1
"Ku peringatkan sekali lagi"
Bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulut Kellen, Eve menelan ludahnya lalu memejamkan mata.
"Kau jangan terlalu banyak meminta penjelasan, lebih baik sekarang, lakukan kewajibanmu sebagai istri tanpa banyak bertanya, okey!
Usai mengatakan itu, Kellen mendekatkan wajahnya.
Eve menahan napas ketika jarak wajah mereka kian terkikis. Detik berikutnya, pria itu menempelkan bibirnya pada bibir Eve lalu menggigitnya sangat kuat.
Tak bisa melakukan apapun, Eve hanya bisa menahan rasa sakit akibat dari gigitannya.
"Ingat perjanjian yang sudah kau tanda tangani" kata Kellen sarkas usai bibirnya terurai. "Lakukan kewajibanmu tanpa banyak protes, mengerti?" tambahnya dengan nada menegaskan.
Eve yang tadi sempat memejamkan mata, netranya langsung terkunci oleh manik hitam Kellen ketika ia membukanya.
Ia kembali memejamkan mata sambil berusaha menormalkan detak jantung yang kian berontak.
Detakannya semakin kencang ketika bibir Kellen kembali menempel di bibirnya. Ia yang awam dengan istilah kissing and skinship, hanya bisa diam namun sebagian dari dirinya menikmati sentuhan itu.
Ciuman dan cumbuan yang semakin intens tapi sangat kasar membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Sentuhan sarat akan sebuah hukuman untuk Eve, hukuman atas kesalahan yang Eve sendiri tidak tahu. Bahkan Kellen tak memberikan jeda ketika dirinya meronta kesakitan akibat penyatuan tubuhnya.
Sampai ketika mencapai puncak, pria itu langsung berbaring begitu saja tanpa mengenakan kembali pakaiannya. Lantas memejamkan mata di samping Eve dengan keringat membanjiri tubuhnya, mengabaikan fakta bahwa Eve tengah merasakan sakit di sekujur tubuh akibat ulahnya.
Disaat para pengantin bahagia di malam pertama, tapi bagi Eve, malam pengantinnya adalah malam yang mencekam.
Bersambung.
Ini untuk penjelasan singkatnya saja ya.
Menikah tanpa restu dari orang tua tetap sah di mata hukum selama ada wali hakim dari mempelai wanita dan diperbolehkan dalam agama asalkan pasangan kalian seiman dengan kalian. Karena pasangan yang baik dilihat dari baiknya agama dan akhlaknya.
Anggap saja Pernikahan Eve nggak di restui orang tuanya biar sah di mata hukum negara dan agama, tapi nanti mau dinikahkan lagi sama Tama sekalian resepsi karena dia ingin menjadi wali nikahnya Eve.
Tapi nanti di akhir eps..
Tadinya nggak akan aku jelaskan mengenai ini, tapi karena memang ceritanya harus kompleks dan agar terhindar dari cacat logika, jadi sedikit di jelaskan.
__ADS_1