Personal Assistant

Personal Assistant
Teriak Histeris


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Kellen di gulung rindu yang begitu kuat. Rindu yang entah kapan bisa enyah dalam benaknya, rindu yang entah kapan bisa tergapai. Mengingat semua sikap sang istri yang kekeh minta bercerai, membuat kepercayaan dirinya kian terkikis.


Andai saja waktu bisa di putar mundur, mungkin dia tidak akan menuruti egonya yang terlampau tinggi. Ia justru mengabaikan nasehat sang mommy untuk jangan pernah menyimpan dendam apalagi membalasnya, membuat pria itu seketika mengalami penyesalan terdalam di sepanjang hidupnya.


"Eve ada mom?" tanya Kellen mencoba tenang. Ia langsung masuk begitu sampai di rumah mertuanya.


"Ada di kamar" jawab Nara sambil menerima uluran tangan sang menantu.


"Kalau daddy?"


"Daddy masih di kantor, bentar lagi mungkin pulang" jawab Nara melirik koper di tangan kiri Kellen. "Kamu mau kemana bawa koper El?"


"Aku ada pekerjaan di Hawai mom, malam ini akan berangkat"


"Ke Hawai"


"Hmm"


"Kok mendadak? nggak ngomong sama mommy sebelumnya?"


"Maaf mom, sibuk jadinya lupa"


"Berapa hari di sana?"


"Empat hari" sahutnya. "Boleh aku ke kamar mom?"


"Ya boleh, masuk saja sana"


Setelah Nara mengijinkan, Kellen langsung menuju kamar sambil menaruh koper kecil di sebelah sofa.


Pintunya tetutup, perlahan ia membukanya agar tak mengejutkan Eve yang ada di dalam. Ketika pintu sudah terbuka, tampak seorang wanita dengan rambut panjangnya yang di cepol tinggi, sedang berdiri di depan lemari yang posisinya membelakangi Kellen.


Menutup pintu pelan-pelan, pria itu mengikis jarak tanpa menimbulkan suara. Ketika langkahnya kian dekat, ia tersadar kalau wanitanya tengah memegang satu kaos sambil menghembuskan nafas berat. Kaos itu adalah milik Kellen yang sempat tertinggal beberapa waktu lalu saat menginap di sini, namun hanya tidur di kamar tamu karena Eve menolak untuk tidur dalam satu ranjang.


Tepat ketika Eve mencium aroma pada kaos yang tengah di pegangnya, Kellen memberanikan diri memanggil namanya.


"Evelyn!"


Wanita itu berjengit lalu berbalik. Sepasang mata indahnya sempat membelalak ketika netra keduanya saling bertemu. Cepat, ia menyembunyikan kaos polos putih di balik badannya.


"Kamu sehat kan?" tanya Kellen dari jarak tak kurang dari satu langkah. "Tidak ada keluhan apapun?" tanyanya lagi dengan sorot khawatir yang begitu jelas di raut wajahnya.


"Tidak"


"Sudah ke dokter lagi?"


"Sudah" Wanita itu menunduk malu sebab kepergok tengah memeluk kaosnya.


"Kapan?"


"Beberapa hari lalu"


"Beberapa hari lalu itu kapan?"


"Tiga hari yang lalu"


Kening Kellen berkerut, membuat sepasang alisnya menukik tajam. Melihat sikap Eve yang gugup, sejujurnya dia ingin memeluknya.


"Berarti saat kamu pingsan tiga hari lalu?"


Eve terkejut mendengar pertanyannya, padahal dia sama sekali tidak memberitahukan insiden itu pada suaminya.


"Kamu pingsan saat hamil? bagaimana bisa kamu pergi sendiri tanpa dampingan dari siapapun? andai saja yang menolongmu bukan dokter, apa jadinya?"


Seketika ingatan Eve memutar kejadian tiga hari yang lalu saat dia pergi ke taman hotel.

__ADS_1


Dia merasakan pusing kunang-kunang setelah seorang pria duduk di bangku sebelahnya sambil menghirup dan memainkan asap rokok.


Untung saja ada seorang dokter yang membantu menyadarkan dari pingsannya.


"Saya Adinda, jangan takut, saya seorang dokter"


Mengingat raut wajahnya yang kelam, Eve merasa jika dokter itu menyimpan banyak beban ataupun masalah. Eve pun meminta nomor ponsel dan mulai menjalin hubungan pertemanan dengan dokter cantik yang menolongnya.


"Aku minta maaf Ve" ucapan Kellen membuat fokusnya langsung buyar.


Tak mendapat respon, Kellen kembali bersuara.


"Aku akan ke Hawai selama satu minggu" katanya lirih. "Sebenarnya hanya empat hari, tapi di tambah perjalanan jadilah satu minggu baru bisa kembali"


"Pergilah, aku tidak peduli"


"Jaga kesehatanmu dan calon anak kita, setelah dari sana, aku janji akan sering menemanimu"


"Tidak perlu"


"Turunkan egomu demi anak kita, Ve! atau apa kamu mau anakmu tidak memiliki daddy? kamu tega memisahkan anakmu dari daddynya?"


Menelan ludah, entah kenapa ucapan Kellen menimbulkan denyutan tak kasat mata seakan menghantam keras hati Eve.


"Jangan keras kepala, aku pamit" Kellen menangkup paksa wajah Eve. Dia yang tak bisa melakukan apapun hanya bisa pasrah seraya memejamkan mata menerima kecupan lembut dari sang suami.


"Pergi dulu, I love you" bisiknya lalu ganti mengecup pucuk kepala Eve.


Eve hanya bergeming sembari merasakan hangat kecupnya.


*****


Malam, setelah makan malam, Tama, Nara, serta Eve duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sementara Pijar langsung masuk ke kamar tak ingin ikut bercengkrama dengan keluarganya.


"Kellen pergi Ve?" tanya Tama sambil mengusap rambut Eve yang mendaratkan kepala di pangkuannya.


"Berapa hari?" tanya Tama menunduk menatap sang putri.


"Nggak tahu"


"El nggak bilang kapan pulang?"


Eve tak menyahut sebab jarinya fokus merespon pesan dari Shanum di grup chat.


"Eve" panggil Tama ketika sang putri tak menjawab.


"Enggak tahu dad, satu minggu katanya"


Sementara di sofa lain, tangan Nara bergerak mengganti chanel TV.


Tahu-tahu...


Pemerintah secara resmi menyatakan pesawat jenis boeng tujuan Indonesia-Hawai mengalami hilang kontak setelah lepas landas dari bandara Soeta.


Pesawat yang membawa sebanyak 190 penumpang termasuk awak kabin yang berada di dalam pesawat tersebut belum di ketahui keberadaannya.


Lebih dari dua pertiga penumpang adalah warga lokal.


Itu kata reporter, yang persekian detik membuat Nara melempar remote televisi kemudian membungkam mulutnya.


"Ada apa mom?" Tama dan Eve yang tak begitu fokus dengan acara berita di televisi, sontak mengalihkan pandangan ke arah Nara.


Melihat Nara terus fokus ke arah TV, otomatis pandangan Tama beralih ke layar selebar empat puluh inch di hadapannya.


"Dengan berat hati dan kesedihan mendalam, atas nama Pemerintah, kami menyatakan Syang Yi airlanes tujuan Indonesia-Hawai dengan nomor penerbangan 260 mengalami hilang kontak" kata Direktur Jenderal Departemen Penerbangan saat di wawancarai pada siaran berita.

__ADS_1


"Pesawat itu dijadwalkan tiba di Hawai besok sore, tetapi kemudian putus kontak sekitar pukul 21:05. Itu artinya satu jam setelah take of.


"I-ini apa maksudnya mom?" tanya Eve seraya bangkit. Tatapannya kosong ke arah televisi.


Menurut pihak Indonesia pesawat berada pada ketinggian 9.769 meter saat putus kontak. Dan sama sekali tidak ada peringatan bahaya yang dikirimkan sang pilot.


Berikut daftar nama penumpang kami sampaikan____


Setelah Eve membaca satu persatu nama para penumpang, ia langsung teriak histeris ketika menemukan nama Kellen Austin tertulis di sana. Sedetik kemudian wanita itu tak sadarkan diri dengan menjatuhkan dirinya di pangkuan Tama.


"Nak" panggil Tama panik lengkap dengan tangan bergetar.


"Bik, ambil air putih sekarang" teriak Nara. "Sayang, sadar nak"


"Ini airnya bu"


"Makasih bik" Nara menerima sodoran gelas dari ARTnya.


"Eve sayang, bangun nak, ada daddy sama mommy"


"Sadar nak"


Ketika Nara dan Tama sibuk menyadarkan Eve, ada begitu banyak notif pesan masuk yang membahas tentang hilangnya pesawat. Para anggota grup chat tak tahu jika salah satu penumpang pesawat itu adalah kerabat mereka.


"El" Lirih Eve ketika tersadar.


"Sayang, minum dulu nak"


"Daddy akan panggil Pijar untuk bersiap-siap antar kita ke bandara"


"Tolong sekalian ambil jaket mommy sama Eve"


"Iya" Pria paruh baya itu setengah berlari untuk memanggil putranya dan mempersiapkan diri.


"El gimana mom?"


"Kamu tenang ya, itu daddy lagi siap-siap kita akan ke bandara sekarang juga"


Tiba-tiba ucapan Kellen beberapa jam lalu saat berpamitan seakan terus terngiang di telinganya.


'Atau apa kamu mau anakmu tidak memiliki daddy? kamu tega memisahkan anakmu dari daddynya? '


Engak El, aku nggak mau membesarkan anak kita tanpamu.


Tolong jangan pergi, aku nggak mau anak kita nggak punya daddy.


Maaf sudah egois, aku akan memaafkanmu, tapi tolong kembali.


"Pakai jaket mom" Tama menyerahkan dua jaket. Satu untuk istrinya, satu untuk putrinya.


"Ayo sayang, pakai jaketmu"


Dengan tubuh yang masih gemetar sekaligus lemas, Nara membantu Eve mengenakan jaket.


"Sudah hubungi tuan Pandu dad?"


"Belum mom. Kita ke bandara saja dulu, cari informasi"


"Ayo dad, aku sudah siap" Sambar Pijar buru-buru.


"Langsung siapin mobil Jar, sambil coba hubungi El"


"Okay" jawab Pijar sambil berlalu.


"Sabar ya sayang, kita berdoa saja semoga ada keajaiban"

__ADS_1


Tak menjawab, pikiran Eve masih sibuk memutar ulang kenangan manis sekaligus pahit yang dia lalui bersama Kellen. Air matanya jatuh kian deras ketika mengingat masa-masa indah ketika berlibur di Hongkong saat hari ulang tahunnya. Bayangan percintaan mereka terakhir kali yang El lakukan dengan begitu lembut pun tak kalah ingin masuk mengusik pikirannya.


Bersambung.


__ADS_2