
"Siapa Ben?" Tiba-tiba sepasang mata Kellen begitu mengintimidasi.
Ben yang baru saja memutus panggilan, langsung membalas tatapan atasannya seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Paman Apri, dia sudah berhasil menemukan keberadaan Isna"
"Bagus" Balasnya dengan sorot penuh. "Lakukan tugas sesuai rencana, kita cari bukti sebanyak-banyaknya untuk menjebloskan Mishella ke penjara"
"Siap tuan"
"Pastikan Isna tidak menghubungi wanita jahanam itu untuk memberitahukan bahwa kita sedang memantaunya"
"Itu sudah kami atur, tuan"
Kellen mengngguk paham. "Lalu bagaimana dengan Eve?"
"Hasil DNA mengatakan jika nona Eve memang putri kandung mereka. Nona Amara meminta waktu beberapa hari untuk melepas kerinduannya, dia juga berjanji akan membantu kita membujuk nona Eve agar mau kembali ke rumah"
"Mereka tidak marah denganku Ben?"
"Tidak tuan, sepertinya nona Eve belum menceritakan kondisi_" Ragu-ragu Ben mengatakannya. "Maaf, rumah tangga tuan El"
"Jadi Eve belum mengadukan sikapku selama ini pada keluarganya?"
"Sepertinya begitu"
"Ya sudah, kau kembali ke ruanganmu, urus semua pekerjaan kantor, untuk pekerjaanku tolong bawa ke sini"
"Siap tuan"
Kellen memang tinggal di rumah sakit sebab kondisinya kian lemah, Ia harus merasakan mual di pagi hari serta seluruh tubuh terasa lemas, sementara di malam harinya, pria itu selalu tidur di pertengahan malam karena memang tak bisa memejamkan mata begitu saja. Ia selalu teringat kebersamaannya dengan Eve yang membuatnya ingin selalu tidur sembari memeluknya. Keinginan yang tak bisa terpenuhi itulah yang membuat El mendadak insomnia dan tampak kuyu di pagi hari. Jelas setiap orang yang menatap wajahnya, pasti akan mengira jika dia sedang sakit.
"Selamat pagi" Seorang dokter paruh baya di temani satu suster wanita membuka pintu setelah sebelumnya mengetuknya. Kedua orang itu tersenyum ramah seraya melangkah mendekat ke arah ranjang.
"Selamat pagi" Jawab Kellen dan Ben kompak. Ben yang hendak keluar dari bangsal Kellen, mengurungkan niatnya karena ingin mengetahui kondisi sang bos yang sebenarnya.
"Bagaimana tuan El, apakah masih mual dan muntah?"
"Masih dok"
"Kapan terakhir muntah, tuan?" Dokter bernama Vincen bertanya sambil mendengarkan detak jantung Kellen menggunakan stetoskop.
"Sekitar pukul lima"
"Begini tuan"
Ada rasa was-was yang mendadak singgah ketika dokter mengatakan itu. Persekian detik kemudian jantung Kellen pun terasa berdetak lebih kencang dari normalnya.
"Melihat hasil USG dan Endoscopy, sepertinya memang tidak ada masalah yang serius tuan, semuanya baik-baik saja"
"Lalu kenapa saya sering sekali muntah dan lemas dok, ini aneh"
"Maaf, boleh saya bertanya?" kata Vincen sedikit ragu.
Tak langsung menjawab, Kellen melirik Ben yang berdiri di sebelah kanan ranjang.
"Tanyakan!" Kata Kellen setelah kembali fokus menatap sang dokter.
"Maaf, apa istri tuan sedang hamil?"
Mendengar pertanyaan Vincen, Kellen menautkan kedua alisnya. Heran campur bingung.
"Apa hubungannya kesehatan saya dengan istri saya dok?"
__ADS_1
"Ada tuan"
Kerutan di dahi Kellen semakin nampak. "Maksudnya?"
"Dugaan saya sementara, tuan mengalami Kehamilan simpatik"
"Kehamilan simpatik?"
"Iya tuan. Itu jika istri tuan benar-benar sedang hamil"
"Tapi bagaimana bisa?" Dia tak mengerti, begitu juga dengan Ben yang menyorot penuh kebingungan.
"Ada beberapa suami yang mengalami ngidam karena sang istri sedang mengandung. Inilah yang di sebut dengan morning sicknes pada pria atau kehamilan simpatik"
Eve hamil? dan aku yang tersiksa? wah sepertinya bayiku itu tak terima jika mamahnya ku sakiti jadi dia yang membalasnya.
Manik hitam Kellen yang bergerak gelisah, kini menatap sekertarisnya penuh selidik.
"Ben, apa kau tahu tentang ini?"
"Saya belum tahu tuan"
"Selidiki secepatnya"
"Baik tuan" Sahut Ben mengangguk patuh.
"Dok, jelaskan lebih detail tentang morning sick, atau sickness atau apapun itu"
"Iya tuan, jadi kehamilan simpatik itu bukan hanya muntah saja, tapi juga seperti menginginkan sesuatu, entah itu makanan, menghirup aroma yang tidak di sukai menjadi suka dan sebaliknya, atau bisa jadi ingin selalu berdekatan dengan sang istri"
"Itu berlaku sampai kapan dokter"
"Tidak tentu tuan, bisa berjalan hanya satu minggu di awal kehamilan, satu bulan, dan bahkan selama masa kehamilan"
"Apa?"
"Maksudnya selama sembilan bulan sepuluh hari?"
"Iya" sekali lagi Vincen mengangguk.
"Saya tidak mau tahu dok, kehamilan simpatik itu harus hilang, ini sangat menyiksaku, di tambah lagi setiap malam aku ingin selalu ti_"
Tidak.
Kellen memenggal kalimatnya sendiri dalam hati.
mereka tidak boleh tahu kalau setiap malam aku tidak bisa tidur karena ingin memeluk Eve. Bisa-bisa Ben menertawakanku.
"Maksudku, bagaimana supaya ini segera hilang dokter?"
"Tidak ada cara lain. Tuan harus sering-sering berkomunikasi dengan nona Eve"
Kellen menghembuskan nafas kasar sembari menggembungkan mulutnya.
Tangannya bergerak mengusap tengkuknya pelan-pelan.
"Kalau begitu, saya permisi tuan"
"Ya silakan"
Selang tak kurang dari dua puluh detik, Vincen dan suster pendampingnya sudah keluar dari kamar.
"Bawa Eve pulang Ben, apapun caranya!"
__ADS_1
"Maaf tuan, bukan maksud saya menolak perintah, tapi saran saya, akan lebih baik jika tuan datang sendiri untuk membujuknya"
"Kenapa?"
"Nona Eve pasti akan terkesan, apalagi jika tuan datang meminta maaf dan bersimpuh di hadapannya, saya yakin nona Eve akan luluh"
"Apa aku bisa melakukannya Ben?"
"Di coba saja tuan. Jika tuan benar-benar mencintainya, apapun harus di lakukan untuk memperjuangkannya"
"Kau yakin?"
"Yakin, dan tuan El harus bisa lebih yakin dariku"
"Kau cari tahu dulu apakah benar Eve sedang hamil"
"Baik tuan! kalau begitu, saya permisi"
"Hmm"
***
Di tempat lain, Tama dan Eve yang langsung bertolak ke Korea untuk menyusul Nara dan Pijar, pagi ini pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di negri gingseng.
Kedatangan mereka sama sekali tak di ketahui oleh Nara. Eve yang sudah tak sabar menunggu hari esok, tanpa pikir panjang sang daddy langsung memenuhi keinginannya untuk segera bertemu dengan ibundanya.
Pelan, Tama menekan Bel di pintu apartemen milik Nara, tempat yang tak pernah bisa Nara lupakan. Karena di apartemen inilah dia mengenang masa kecil Amara.
Perlahan pintu itu terbuka, sosok Nara yang tengah memegang sutil seketika terkejut melihat suaminya tiba-tiba saja berada di depan pintu apartemen.
"M-mas Tama!" Fokusnya penuh menyoroti netra suaminya.
"Assalamu'alaikum"
"W-waalaikumsalam" sahut Nara dengan nada tak percaya.
Detik berikutnya, Nara langsung menghambur ke pelukan sang suami. Tak lama kemudian, sepasang netranya mendapati Eve yang berada di samping Tama.
"Eve" dia melepas pelukannya, dan ganti memeluk putri kandungnya.
"Mommy"
"Dari awal kita ketemu, mommy memang sudah merasa sangat dekat denganmu, kamu selalu ada di dalam pikiran mommy"
"Mommy"
Nara menangkup wajah Eve setelah sebelumnya mengurai pelukannya. Ia mencermati wajah Eve dari mata, hidung dan mulut..
"Pijar, kamu sangat mirip dengan adikmu Ve" lirihnya sendu lalu
mengecup kening Eve dalam dan sedikit agak
lama.
"Masuk dulu yuk" Kata Tama menginterupsi kecupan Nara di kening Eve.
"Ayo sayang kita masuk, kita sarapan mommy baru saja selesai masak"
Mereka melangkah masuk. Nara langsung membawanya ke area makan, dan langsung beranjak untuk membangunkan Pijar.
"Daddy, Eve ayo duduk, Mommy panggil Pijar dulu"
Sejujurnya, Nara masih sedikit gugup bukan karena apapun, hanya saja ia seakan masih tergagap bahkan tak percaya jika putri kandungnya sudah berada di dekatnya selama beberapa bulan ini.
__ADS_1
Bersambung....
Konsentrasi sedikit berkurang karena kesibukan di dunia real...😣😣😣