Personal Assistant

Personal Assistant
Flashback dan tiket pesawat


__ADS_3

"Setelah saya mengambil bayi itu, saya pergi ke lokasi di mana saya dan Shella janjian, tuan"


Sebisa mungkin Sholla berusaha tenang, ia mengatakan kebenaran tentang itu dengan sangat hati-hati agar Kellen tak tersulut emosi..


Tidak hanya Kellen yang tercengang dengan aksi rencana Shella, Ben yang masih setia berdiri di belakang Sholla pun terkejut mendengarnya.


"Lalu?" Tanya Kellen.


"Shella membawa bayi itu ke suatu tempat, tapi saya tidak tahu tempat mana yang dia tuju setelah itu, karena tugas saya telah selesai dan saya sudah mendapat bayarannya, saya tidak peduli lagi, tuan" Ungkapnya dengan hati berdebar.


"Lantas bagimana kau tahu bayi itu bernama Evelyn Stevanie?"


"Pada saat saya menyerahkan bayi itu ke Shella, bukan dia yang menerimanya, tapi orang lain yang sudah di bayar juga oleh Shella"


"Terus?" tanya Kellen menyelidik.


"Saya sangat ingat seperti apa wajah wanita yang mengambil alih bayi itu dari gendongan saya. Hingga pada suatu hari, tepatnya empat bulan setelah kejadian penculikan itu, saya bertemu dengan wanita yang katanya sempat merawat bayi itu sebelum di buang"


"Wanita itu bernama Isna tuan, Isna adalah mantan pembantu keluarga Nalendra. Dia di pecat karena saat itu pak Tama tak bisa membayarnya karena pada saat itu perusahaan miliknya bangkrut. Setelah itu Isna merapat ke Shella karena dia butuh pekerjaan"


"Lalu, saat saya bertemu dengannya, dia bercerita bahwa dia sempat merawat bayi itu selama tiga bulan. Isna juga bercerita kalau Shella akan membuangnya jika usia bayi itu sudah di ijinkan menaiki pesawat karena Shella akan mengirim bayi itu ke luar negri. Tapi saya tidak sempat bertanya kemana Shella membuangnya, tuan"


Tanpa Jeda Shola menceritakan semuanya.


"Mengenai nama bayi itu, Isna mengatakan pada saya jika Shella menamainya Evelyn Stevanie, Shella sengaja menyematkan nama ibunya yang tak lain adalah Naraya Stevanie. Isna bilang jika di lain waktu Shella bertemu dengan gadis atau wanita bernama Evelyn Stevanie, dia bisa langsung mengenalinya. Itulah alasan kenapa Shella merubah nama Pelita menjadi Evelyn"


Seperti sebelum-sebelumnya, jantung Kellen langsung berdesir jika nama Eve di sebut.


"Pelita?" ucap Kellen tak mengerti.


"Iya tuan, nama bayi itu sebelumnya adalah Pelita, tapi nama itu belum di resmikan oleh Tama dan juga Nara" Tambahnya yang nyaris tanpa jeda.


"Tapi tuan, bukankah di dunia ini banyak sekali orang yang memiliki nama yang sama?"


Kellen pun membenarkan ucapan Shola.


"Kau benar-benar tidak tahu kemana Shella membuang bayi itu?"


"Tidak tuan, tapi jika ingin mengetahui kebenarannya ada pada balik punggung bayi itu. Jika nona Eve memiliki tanda lahir di sana, itu artinya Eve memang bayi yang sudah ku culik. Jika kurang yakin, bisa dilihat tahi lalat di balik telinganya, dan jika masih belum yakin juga, tuan bisa melakukan tes DNA untuk mencocokkan DNA antara Eve dan Naraya"


"Tanda lahir?"


Sholla mengagguk. "Karena Isna merawat bayi itu selama tiga bulan, Isna bilang padaku jika bayi itu memiliki tanda lahir berwarna merah muda di balik punggung sebelah kanan dan tahi lalat di belakang telinganya"


Setelah mendengar kalimat Shola, detik itu juga Kellen ingin sekali terbang ke Macau menyusul Eve hendak membuktikan tanda lahir itu. Dan usai pembicaraan ini, dia akan langsung mencari tiket pesawat yang bisa membawanya terbang ke negara kelahirannya.


"Ingat jangan beritahu kebenaran ini pada siapapun, termasuk Gautama dan istrinya jika tidak mau kau masuk penjara"


"Mana mungkin saya memberitahu mereka tuan, hidup saya menjadi taruhannya, jika saya memberitahu semuanya pada keluarga Nalendra, saya pasti akan berakhir di penjara dan menghabiskan sisa hidup saya di dalam sana"


"Bagus" Pungkas Kellen dengan sorot sendu. Ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan sorot matanya yang tajam, sebab merasa was-was dengan kebenaran tentang Eve. "Keluargamu dalam pengawasan kami" Tambah Kellen sedikit mengancam, "Jika pembicaraan kita ini di ketahui oleh orang lai itu artinya kau yang sudah membocorkannya, dan keluargamu yang akan menanggungnya"


"T-tidak tuan"


"Pergi dari sini!" Perintah Kellen pada Shola "Ben antar dia!"


"Baik tuan"


Shola bangkit, lalu mendorong kursinya pelan.


"Saya permisi tuan, dan saya mohon, jangan penjarakan saya yang sudah terlibat dalam penculikan itu"

__ADS_1


"Jangan banyak bicara" tegas Kellen. "Pergi dari hadapanku!"


"Mari bu Shola saya akan mengantarmu"


Ragu-ragu Shola mengangguk. Kemudian berjalan di belakang Ben yang melangkah ke arah pintu.


Tangan Ben memutar kunci di susul dengan gerakan memutar hendle pintu.


"Silakan" ucap Ben, yang wajahnya kini sudah berubah. Satu hal yang membuat otak Ben berkelana memikirkan sesuatu.


Evelyn Stevani.


****


Usai mengantar Shola sampai depan pintu gerbang rumah mewahnya, Ben langsung tancap gas untuk kembali ke kediaman Kellen. Ia akan membujuk sang bos agar mengurungkan niatnya membalaskan dendam jika Evelyn itu memang benar-benar bayi yang selama ini mereka cari.


Di tengah jalan, Ben seperti melihat seorang wanita dengan pakaian yang menurut dia sangat aneh. Karena wanita itu dua kali datang ke rumah sakit, membuat Ben faham dengan dirinya.


Gadis itu adalah Ralline Shanum Daniswara. Putri ketiga dari pasangan Anita dan Emir Dhaniswara. Adik dari si kembar Shanas dan Sheina. Usianya lebih tua hampir dua tahun dari Eve.


Merasa gadis itu sedang mengalami kesulitan, Ben lantas menghampirinya. Memarkirkan mobil tepat di samping motor maticnya.


"Kenapa nona?"


Gadis yang biasa di sapa Shanum mendongak mempertemukan netranya. Ada sesosok pria sudah berdiri tegap di hadapannya.


Keningnya mengerut seperti tengah mengingat-ingat sesuatu.


"Oh iya saya Ben, menejer di rumah sakit Family care" Ben mengulurkan tangan.


Alih-alih menerima uluran tangan Ben, gadis berhijab syarii itu malah menangkupkan kedua tangannya di dada.


Tak ada jawaban dari Shanum. Dan ketika Shanum hanya diam, Ben kembali berucap.


"Saya pernah melihatmu menghadiri peresmian family care, saat itu anda datang bersama nona Amara, dan kedua, saya melihatmu saat datang bersama nyonya Nara"


"Saya Shanum, anak temannya mama Nara"


"Nona Shanum, kenapa dengan kendaraanmu?"


"Sepertinya kehabisan bensin, tuan"


"Kau tidak menghubungi keluargamu?"


"Tidak bisa, ponsel saya lowbat"


"Okey, saya akan membantumu"


Usai mengatakan itu, Ben berjalan ke arah bagasi mobil di bagian belakang, lalu meraih slang kecil berwarna putih bening.


Slang sepanjang dua meter akan dia gunakan untuk mengalirkan bensin dari mobilnya ke motor milik Shanum.


"Buka bagasimu lalu buka penutup tangkinya!" kata Ben memerintahkan. Ia menyesap selang itu dengan mulutnya, setelah bensin tampak sudah naik, ia menutup mulut slang menggunakan ibu jarinya, kemudian memasukkannya ke mulut tangki motor milik Shanum.


Hampir dua menit, motor matic itu sudah terisi penuh, Ben langsung menghentikan aliran bensin lalu menutup kembali tangki motor dan Mobilnya.


"Terimakasih tuan"


"Sama-sama" balasanya datar tanpa ekspresi. Ia mengulun slang itu lalu memasukkannya kembali ke bagasi mobil.


"Kau bisa pulang sendiri?" tanya Ben saat sudah kembali berdiri di samping motornya.

__ADS_1


"Bisa"


"Baiklah kau jalan duluan"


Shanumpun menstater motornya sebelum kemudian menarik gas di tangan kanan.


Ia juga sempat membunyikan klakson sebelum melajukan motor yang di respon anggukan kepala oleh Ben.


Ben terus memandangi wanita itu hingga tak lagi terlihat oleh netranya.


Memasuki mobil, ia kembali melajukannya sampai mobil itu berhenti di halaman rumah Kellen.


Melangkah dengan terburu-buru, Ben langsung menuju ke ruang kerja karena Kellen sudah menunggunya di sana. Pria itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya duduk usai pembicaraan yang mencengangkan itu selesai.


"Sudah kau antar?" tanya Kellen begitu Ben memasuki ruangannya.


"Sudah tuan"


"Pesankan tiket ke Macau sekarang juga" perintah Kellen. Ia menggeser laptopnya ke hadapan Ben.


Ben langsung melakukan perintahnya.


Selang lima menit, pria itu sedikit mendongak lalu menatap atasannya.


"Tidak ada tiket menuju Macau Tuan, tapi ada tiket transit di Spore, dari Spore nanti langsung terbang ke Macau"


"Kapan itu?"


"Malam ini tuan, penerbangan pukul sebelas. Hanya itu tiket terakhir hari ini. Kalau tuan ingin menunggu esok hari, ada penerbangan pukul sembilan pagi menuju Hongkong. Dari Hongkong baru ke Macau"


Kalau aku ambil tiket pagi, artinya aku akan sampai di Macau besok malam, sementara aku sudah tidak bisa menunggu sampai besok.


Pria itu melirik jam di pergelangan tangannya.


"Pukul berapa tepatnya tiket transit di Spore sampai ke Macau?"


"Pagi hari sekitar pukul delapan waktu Macau"


"Pesan tiket itu sekarang, antar aku ke bandara"


"Baik tuan" jawab Ben patuh. "Tapi tuan, bagaimana jika nona Eve memiliki semua tanda lahir itu? apakah tuan akan tetap balas dendam?"


"Belum aku fikirkan Ben, aku harus memastikan terlebih dulu"


Setelah mengatakan itu, Kellen berdiri hendak menuju kamar untuk bersiap.


"Kalau boleh saya menyarankan" kata Ben sedikit ragu. "Tuan batalkan rencana menyekap bayi itu ke Suseno Vila, tuan"


Kellen berhenti, tangannya menyentuh Handle pintu.


"Kenapa Ben?"


"Tidak tuan, saya hanya menyarankan supaya tuan terhindar dari penyesalan"


Ben sangat tahu jika Kellen sebenarnya menyukai Eve. Terlihat dari aura wajahnya yang selalu bahagia ketika sedang bersama Eve. Dari tatapannya, Ben juga tahu bahwa Kellen mencintai asistennya.


Tak mengindahi ucapan sekertarisnya, Kellen membuka pintu lalu keluar dari ruang kerjanya.


Besambung.


Pertemuan Ben dan Shanum, gadis pesantren yang akan di buat cerita tapi nggak tahu kapan.. kasih kode dulu 😀😀😉

__ADS_1


__ADS_2