
Puas memeluk dan mencium kening serta pucuk kepala Eve, Tama mengurai pelukannya lalu memberikan kesempatan pada papa mertua untuk melepas rindu.
"Sun tangan kakek nak, beliau adalah papahnya mommy"
Pandangan Eve beralih ke Ramdan, dimana kedua mata pria tua itu tampak begitu sembab.
"Kakek" Eve mengecup punggung tangan Ramdan.
"Masyaa Allah, masyaa Allah, Allahu Akbar nak" Ramdan berdiri.
Mereka berpelukan setelah mengikis jarak kira-kira dua langkah.
"Alhamdulillah yaa Mutakabbir, ternyata selama ini kakek sudah menghabiskan waktu hampir satu minggu dengan cucu kakek, Masyaa Allah. Pantas saja ketika mengobrol denganmu seperti tadi, kakek teringat masa-masa tiga puluhan tahun yang lalu, dimana mommymu pertama kali mengandung Amara. Kakek sering sekali berbincang dengan mommymu dulu. Kami sering menghabiskan waktu berdua karena kakek dan mommymu adalah satu-satunya keluarga yang kami miliki"
"Kakek" gumam Eve dengan suara tertahan.
"Doa kakek di sepertiga malam terakhir, selama dua puluh tiga tahun, hari ini terjawab sudah. Keinginan kakek untuk bertemu denganmu sebelum ajal kakek menjemput telah Allah penuhi. Allahu Akbar, dua puluh tiga tahu terpisah akhirnya bisa bertemu kembali nak, cucu kakek yang bahkan belum pernah kakek lihat " Ramdan menjeda kalimatnya untuk sesaat. Ia menghirup napas dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. "Mommymu yang selama ini terus menangis saat teringat putrinya yang hilang, pasti bahagia bisa menemukanmu"
"Kuasa Allah benar-benar luar biasa, Dia tahu caranya bagaimana supaya kami para manusia bisa terus ingat pada-Nya, dan kamu Eve, adalah cobaan terberat dari-Nya yang masyaa Allah membuat kami selalu ingin mengadu pada-Nya agar bisa di pertemukan denganmu"
Tak hanya Ramdan, air mata Amara dan Tama pun sudah kian deras. Ini baru Tama dan Ramdan, belum lagi Idris, Rania, Nara serta Pijar yang juga sangat ingin bertemu dengan Pelita mereka, sudah pasti pertemuan itu akan lebih mengharukan.
__ADS_1
Mengisi lebih banyak oksigen ke paru-parunya, Ramdan terus mengusap punggung Eve, rasanya beban yang tersimpan selama bertahun-tahun, kini bisa lepas dan sirna hanya dengan pelukan erat dari cucunya yang hilang. Rasa khawatir akan kehidupan cucunya yang sama sekali tak di ketahui seperti apa nasibnya, kini menghilang tanpa jejak.
Pelukan mereka terurai, Ramdan mengecup kening Eve dalam dan lama.
Kini giliran Amara. Eve yang sudah mengalihkan netranya menatap sang kakak, sudah tak sabar ingin memeluknya dan mengadu betapa sulitnya kehidupannya saat bersama mamah angkatnya. Harus bekerja siang malam demi cita-citanya, bahkan dia rela di injak-injak oleh atasannya agar bisa menyelamatkan nyawa wanita yang sudah merawatnya. Yang terbaru, ia rela mengabdikan dirinya pada Kellen demi Pelita agar tak masuk penjara karena hutang-hutangnya. Ingin sekali Eve memeluk Amara untuk berbagi beban serta kekhawatiran yang masih bersemayam di hatinya.
"Kak"
"Adek" sahut Ara dengan bibir bergetar. "I miss you dek"
"Kakak, aku sendirian selama ini, aku lelah kak" keluhnya manja.
"Enggak dek, Sekarang ada kakak, ada daddy, mommy dan saudara kembarmu juga, kamu ngga perlu takut lagi, ada kami yang akan selalu menjagamu, akan selalu ada untuk kamu"
Pelukan yang lewat bermenit-menit, membuat Tama reflek ikut melingkarkan tangan memeluk kedua putrinya.
"Daddy akan selalu ada buat kalian sampai nafas daddy terhenti"
"I love you daddy" ucap Amara lirih.
"Daddy love you too, my two daughters"
__ADS_1
Salah satu tangan Amara dan Eve bergerak melingkar di pinggang sang daddy.
"Kalau kita beri tahu mommy dan Pijar sekarang, mereka pasti akan langsung cari tiket buat terbang ke Jakarta"
"Biarin aja dulu dad" Suara Amara teredam sebab masih berada dalam kungkungan lengan kekar daddnya. "Kasihan Pijar kalau mommy pulang, nanti nggak ada yang kasih suport di pertandingan finalnya"
"Tapi daddy sudah nggak sabar pengin beritahu mommy. Mommy kan juga sayang sama Pijar, kayaknya nggak mungkin ninggalin Putranya yang sedang bertanding, mommy orang yang bijak, pasti akan mempertimbangkan lagi, mommymu pasti akan bersabar sampai putranya memenangkan pertandingan"
"Ya udah beritahu saja nanti malam, siapa tahu bisa menjadi imun buat Pijar memenangkan pertandingannya"
"Nanti malam pertandingan terakhir kan?" tanya Tama"
"Hmmm" Sahut Amara. Sementara Eve hanya diam meresapi pelukan daddy dan kakaknya. Menghirup aroma yang terasa begitu menenangkan yang menguar dari tubuh Tama dan Amara.
"Berati opa, oma, dan Daffa yang belum tahu hasilnya selain mommy dan Pijar kan?"
"Iya dad"
Tama menghela napas panjang mendengar respon Amara.
Usai berpelukan yang cukup lama, diam-diam Amara mengirim pesan pada Ben supaya jangan datang ke rumah membawa Eve pulang. Amara meminta waktu untuk melepas rindu dengan Eve selama beberapa hari ke depan. Setelah itu, dia berjanji akan membujuk Eve agar mau kembali pada suaminya. Ben menyetujui sebab Pandu dan Nayla yang memintanya. Amarapun sudah memberitahukan pada keluarga Mahardani bahwa hasil DNA antara Eve dengan Naraya sangatlah cocok bahkan hingga seratus persen.
__ADS_1
Merasa bersalah dan sadar dengan kondisi keluarga Nalendra, Pandu serta Nayla memberikan waktu untuk mereka melepaskan rindu yang tertimbun puluhan tahun. Mereka pun berniat datang ke kediaman Nalendra untuk meminta maaf atas perlakuan Kellen selama ini pada Eve yang memang belum di ketahui oleh Tama dan Nara. Keluarga Tama memang belum tahu seperti apa Kellen memperlakukan putrinya selama ini sebab Eve sama sekali belum cerita pada keluarganya tentang kekejaman suaminya selama usia pernikahan mereka.
Bersambung...