
"Tapi nona, mengenai DNA, tolong jangan beri tahu siapapun termasuk Kellen"
Amara mengerutkan kening begitu mendengar kalimat Eve.
"Kenapa?"
"Aku takut Kellen memiliki rencana jahat padaku"
Sekali lagi ucapan Eve membuat Amara mengernyit keheranan. "Seorang suami tidak akan pernah jahat pada istrinya nona Eve"
"Tapi tidak dengan Kellen"
"Tapi kenapa?" Amara menyelidik.
"Untuk alasannya maaf aku tidak bisa memberi tahu nona"
"Ya sudah, nanti aku akan lakukan di rumah sakit papa Aksa. Biar aku minta bantuan Mita untuk menghandlenya"
"Terimakasih banyak nona Amara"
"Panggil aku kakak"
"Tapi_" kata Eve menggantung kalimatnya.
"Tapi kenapa?"
"Kalau ternyata aku bukan adikmu bagaimana?"
Amara tersenyum sebelum kemudian menjawab. "Kalaupun kamu bukan adikku, anggap saja aku ini kakakmu, tapi bicara mengenai filling, sepertinya kamu memang adikku"
"Filling?" kata Eve bingung.
"Kamu tahu? semenjak aku bertemu dengamu dan ada nama belakang mommy di belakang namamu, aku tiba-tiba selalu teringat Pelita setiap malam, tidak hanya aku, daddy dan mommy juga sering merindukanmu, dan jantung kami, selalu berontak jika bertemu denganmu"
Ternyata mereka memiliki insting seperti itu, apa yang aku rasakan juga sebuah insting bernama ikatan batin?
"Kamu tahu nona Eve?"
"Eve saja kak" potong Eve cepat.
Amara tersenyum lalu menunduk meraih tangan Eve untuk di genggam.
"Aku selalu ingin menatap wajahmu karena di sana, kerinduanku pada Pijar sedikit terobati. Begitu juga sebaliknya, jika melihat Pijar, maka kerinduanku padamu akan teratasi"
"Tadi nona bilang,,, kakak maksudku, namaku ada nama bu Nara, maksudnya?"
"Naraya Stevanie, itu nama mommy"
"Naraya Stevanie?" ulang Eve dengan fokus sepenuhnya menatap wajah Amara.
Amara mengangguk lengkap dengan bibir terulas lebar.
Bagaimana bisa si penculik itu memberiku nama Evelyn Stevanie?
Benar kata uncle, seharusnya penculikku target Kellen, bukan aku.
Aah... Lupakan Eve, mengenai siapa penculikmu, itu bukan urusanmu, sekarang fokus dulu pada DNAmu, setelah itu bicarakan mengenai penculikan itu, dan hindari Kellen untuk sementara.
Tapi, bagaimana dengan genma jika dimensianya kambuh?
Bagaimana dengan daddy mommy yang sudah menganggapku tidak hanya menantu tapi juga anak kandungnya sendiri?.
Tiba-tiba sekelebat bayangan kasih sayang Pandu dan Nayla melintasi ingatannya.
Tidak, aku tidak mau kembali pada El, dia harus merasakan akibatnya karena dia sudah menempatkanku dan calon anakku di dalam ruangan yang gelap.
Benar kata uncle, aku tidak boleh kembali jika belum memaafkan pria kejam itu.
"Eve" panggil Amara lembut.
"I-iya?"
"Kamu melamun?"
"T-tidak"
"Aku tahu pasti ada yang sedang kamu pikirkan, kamu boleh membaginya padaku"
"Tidak kak, aku hanya merindukan daddy dan mommy mertuaku, aku juga merindukan mamah Pelita"
"Mamah Pelita?"
"Yang merawatku sejak aku berusia tiga bulan" ujar Eve menangkis kebingungan Amara.
"Berusia tiga bulan? apa dia yang sudah menculikmu?" tanya Amara penasaran.
"B-bukan kak, bukan. Dia justru yang merawatku, dia menemukanku di depan gereja di Macau, dan saat papah dan mamah menemukanku, aku berusia tiga bulan"
"Jadi siapa yang menculikmu? apakah keluarga suamimu, pemilik family care?"
__ADS_1
"Bukan juga kak?"
"Lalu?" tatapan Amara begitu mengintimidasi.
"Justru keluarga suamiku berencana mencari penculiknya untuk balas dendam kak, dia juga balas dendam pada tuan Ta_"
Tidak, aku tidak bisa memberitahu kak Amara kalau Kellen menjadikanku alat untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada tuan Tama yang sudah memasukkan aunty Tania ke penjara.
Bagaimanapun juga, dia masih suamiku, dan saat ini aku sedang mengandung anaknya.
Sebuah ketukan pintu membuat Eve tersadar dari lamunan. Dia dan Amara langsung memusatkan perhatian ke arah pintu kamar.
"Bu Ara, dari tadi ponsel ibu berbunyi" ucap Cici seraya melangkah masuk.
"Makasih Ci" Amara menerima sodoran ponsel dari ARTnya.
"Sama-sama bu"
"Oh ya Ci, kakek sudah bangun?"
"Sudah non, kakek sedang berolah raga"
Usai mengatakan itu, Cici kembali keluar sementara Amara menatap layar ponselnya.
"Suamimu Ve"
"El?"
"Aku angkat dulu ya" wanita itu menggeser ikon untuk menjawab panggilannya.
"Selamat pagi tuan El?"
"Selamat pagi nona Amara, apa istriku baik-baik saja?"
Amara melirik wanita di depannya.
"Iya dia baik-baik saja, tuan Kellen"
"Bisa saya bicara dengannya?"
"Bisa" sahut Amara.
"Ve, suamimu mau bicara denganmu"
Sempat ragu, akhirnya Eve menerima uluran ponsel dari tangan Amara.
"H-halo"
Eve mengerutkan dahi.
"Ku mohon Ve"
Pria itu tak lagi memikirkan harga dirinya di depan sang istri, toh kemarahan sang paman dan tamparannya sudah cukup membuat Kellen merasa kehilangan harga dirinya itu. Disisi lain, dia merasa tidak akan mendapat dukungan dari kedua orang tuanya.
"Aku jemput ya?"
Hening, Eve masih membungkam mulutnya.
"Okay kamu boleh menenangkan diri di rumah nona Amara, tapi setelah kamu tenang, bilang padaku dan hari itu juga aku akan langsung menjemputmu"
Sejujurnya Eve juga ingin kembali karena rasa cinta untuk suaminya, diam-diam sudah bersemayam di hati. Namun, bayangan kegelapan di ruangan yang penuh dengan binatang-binatang menjijikan itu membuatnya bergidik ngeri. Tak hanya itu, sikap kejam Kellen pun sudah terpatri di ingatanya.
"Eve, aku minta maaf, mari kita mulai dari awal, bukankah kau pernah bilang rasa cinta itu ada untukku? aku pun mencintaimu"
"Beri aku waktu" ucap Eve akhirnya.
"Okay, aku akan memberimu waktu, dan kita akan bicarakan masalah ini pada orang tua kandungmu"
"Jadi benar mereka orang tua kandungku El?"
"Itu hanya sebagian dari instingku Ve, aku belum membuktikannya secara menyeluruh. Aku masih harus mengorek kebenaran tentangmu dari seseorang yang membantu penculik aslinya"
Terdengar hembusan napas berat dari Eve.
"Please Ve, pulanglah" Bujuknya tak mau menyerah.
"Beri aku waktu El"
"Baiklah, tapi tolong jangan terlalu lama, karena aku tidak bisa tanpamu"
Tak ingin mendengar bujuk rayunya, Eve memutuskan panggilan secara sepihak, lalu menyerahkan kembali benda tipis itu ke pemiliknya.
Melihat ekapresi Eve yang sedikit murung dan sendu, Amara memilih memberikan waktu untuk Eve menenangkan diri.
"Aku ambil sempel bercak darah kamu Ve"
Amara meraih jarum suntik lalu menusukkan di salah satu jari Eve.
"Awh" rintih Eve.
__ADS_1
"Cuma sakit sedikit Ve" kata Amara lalu meraih sapu tangan berwarna putih untuk mengelap jarinya yang sudah mengeluarkan cairan merah. Darah yang menempel di sapu tangan itulah yang nantinya akan di proses untuk tes DNA.
"Kamu sarapan dulu, tenangkan diri, dan jangan takut, aku akan selalu ada buat kamu" kata Amara lembut.
"Aku akan urus DNA kamu dan mommy, jika membutuhkan sesuatu panggil saja Cici. Atau, kalau kamu sudah bisa tenang, temui kakek Ramdan, papah dari mommy kita"
Meskipun belum tahu hasil DNA, Amara sudah sangat yakin kalau Eve adalah adiknya. Cucu kakeknya juga.
"Aku tinggal dulu"
"Makasih kak"
"Aku akan melakukan apapun untuk adikku, meski harus mengorbankan nyawa"
Eve terharu dengan ucapan Amara, Reflek mereka berpelukan agak sedikit lama. Pelukan sarat akan kerinduan terhadap saudara sedarah.
***
"El, kau mau apa El?" Eve berjalan mundur ketika Kellen melangkah maju.
Alih-alih menjawab, Kellen justru tertawa sinis.
"Kau pikir ucapanku di telfon itu benar-benar tulus dari hati, tidak!" kata Kellen lalu melirik benda tajam yang ia pegang. "Itu hanya muslihatku agar kau mau kembali padaku Eve. Aku justru membawamu pulang agar aku bisa dengan mudah membunuhmu menggunakan pisau ini"
Eve tercengang mendengar kalimat sadisnya. Tidak ia sangka sama sekali jika bujuk dan rayunya yang begitu manis hanyalah sebuah bualan.
"J-jangan El, ada anakmu di dalam perutku" Wanita itu mendur satu langkah.
"Aku tidak peduli Eve, yang utama dalam hidupku adalah nyawa di bayar dengan nyawa"
Eve menggeleng lengkap dengan deraian air mata yang sudah mengalir sangat deras.
"Setidaknya beri aku waktu sampai melahirkan anakmu, setelah itu kau bisa membunuhku, El"
"Apa kau bilang? apa secara tersirat kau memintaku merawat bayimu?"
Suara tawa kembali terdengar.
Sementara Eve menatapnya tak percaya.
"Ku mohon El, jangan bunuh aku"
"Tidak bisa Evelyn Stevani, aku harus membunuhmu karena itu adalah misi terbesarku agar rasa sakit hatiku segera tuntas"
Kellen melangkah maju dan Eve terus melangkah mundur hingga punggungnya tahu-tahu berakhir di sisi tembok gudang tempat penyekapan beberapa waktu lalu.
"Kau pasti tahu, julukan apa yang mereka sematkan untukku"
"M-malaikat maut?" gumam Eve lalu menelan ludahnya.
"Iya, siapa yang berani bermacam-macam denganku, maka nyawa melayang, dan kau, sudah berani mengusikku bahkan sampai aku memohon tanpa malu demi bisa membawamu pulang"
"Tolong El, pikirkan sekali lagi sebelum kau membunuhku"
"Tidak perlu Eve, aku sudah memikirkannya selama bertahun-tahun, dan pisau ini akan ku tancapkan bahkan lebih dari sepuluh tusukkan di perutmu"
"Tidak El ku mohon"
Satu detik, dua detik, suara tawa terdengar begitu memekakan telinga.
Pisau itupun akhinya tertancap di perut
Eve.
"J-jangan El_____!!"
Eve terbangun dengan buliran keringat sebiji jagung memenuhi kening, nafasnya memburu dengan jantung berdetak melebihi batas normal.
Reflek, tangannya mengusap perutnya dan sepersekian detik ia langsung menghembuskan napas lega.
"Syukurlah hanya mimpi"
Dengan nafas masih terengah-engah, Eve kembali bergumam.
"Aku tidak akan termakan oleh rayuannya, tidak akan pernah" Eve menggeleng.
"Aku harus memastikan anakku aman, dan aku tidak akan mau meski dia membujukku dengan rayuan manis apapun, aku tidak akan terpengaruh"
Bersandar pada headboard, Eve mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Di dalam sana, jantungnya masih berdebam tak karuan mencoba menemukan ritmenya
kembali.
Menarik napas dalam-dalam, wanita itu meraih gelas lalu meneguknya hingga tersisa setengahnya.
Seperti dirinya yang mendapat julukan malaikat maut, rayuannya pun begitu mematikan
Aku tidak boleh kembali padanya, jika aku ingin anakku selamat.
Tadi, seperginya Amara, dan setelah menghabiskan sarapannya, Eve langsung tertidur sebab merasa lelah dan mengantuk karena semalaman tak bisa memejamkan mata hingga pukul empat dini hari.
__ADS_1
Bersambung.
Udah gak bisa crazy up.. maaf😘😘 akan aku usahakan up setiap hari.