Personal Assistant

Personal Assistant
Pernikahan


__ADS_3

Tepat pukul tiga sore, Kellen dan Eve keluar dari apartemen. Langkahnya tegap menuju area parkir. Eve yang berjalan di belakangnya, melangkah malas seraya membatin.


Aku menyesal bekerja di panata.


Kenapa dulu tidak mengikuti saran Olivia supaya jangan menaruh berkas lamaran di perusahaan milik pria laknat itu.


Sekarang, aku terjebak di sini dan tidak bisa lari kemanapun.


Jangankan lari dan kabur, melangkah saja kakiku tak mampu.


Eve terus melangkahkan kaki mengikuti pria di depannya dengan langkah penuh terpaksa.


Pria tampan itu akan mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Sebelumnya, Kellen sudah mengabari keluarga bahwa saat ini dia sudah berada di Macau, dia juga sudah memberi tahu daddy serta mommynya jika dirinya dan Eve sudah sepakat untuk menikah.


Tanpa mengatakan apapun, Eve memasuki mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Pandangannya jauh terlempar ke arah kiri dengan pikiran kosong merutuki nasibnya.


Perlahan, mobil itu melaju hingga keluar dari area bawah tanah, Kellen mempercepat laju kendaraannya hingga tak terasa mobilnya telah sampai di depan rumah orang tuanya.


"Turun!"


Ya, aku pasti akan turun, kau tenang saja tuan kaisar.


Eve melepas seatbelt, membuka pintu lalu turun.


Ketika Kellen menggandeng tangannya, Eve merintih dalam hati sebab pria itu menggenggam tanganya sangat kencang.


Entahlah, sepertinya Kellen benar-benar tengah meluapkan rasa sakit hatinya atas kematian Tania yang sekaligus membuat genmanya bertingkah seperti orang kehilangan akal sehat karena mencari putrinya yang sudah lama meninggal.


Bagi Kellen dimensia neneknya adalah efek jangka panjang dari perbuatan Tama tempo dulu.


Tanpa mengetuknya, Kellen langsung membuka pintu rumah orang tuanya yang selalu tak terkunci di siang hari. Ketatnya penjagaan di rumah itu, membuat Nayla tak perlu menguncinya sebab sudah jelas para penjaga tak mengijinkan orang asing memasuki rumahnya.


Ketika melangkah masuk, Eve terkejut dengan penyambutan Nayla dan Pandu yang begitu hangat dan penuh keceriaan. Senyum lebar pun terulas di bibir sepasang suami istri itu.


"Kau sudah datang nak?" tanya Nayla.


Kellen mengecup punggung tangan sang mommy, lalu di susul mengecup pipi kanan dan kirinya.


"Selamat sore nyonya" sapa Eve dengan seulas senyum yang di paksakan.


"Jangan panggil nyonya lagi mulai sekarang. Panggil saja mommy"


"Hah?" Eve terperangah tak percaya.


Di sana senyum Pandu tak kalah sumringah.


"Loh kenapa Ve, kau akan jadi menantu mommy kan?" Nayla yang pada dasarnya adalah orang baik, tak memandang Eve dari segi materi.


Reflek mata Eve memindai tubuh Kellen yang sudah melangkahkan kaki menuju kamar Risa.


Drama apa lagi ini? mereka sudah tahu rencana pernikahan pria jahanam itu?


Oh astaga! aku benar-benar terjebak di neraka yang tidak ku tahu berapa puluh kilometer kedalamannya.


Kellen Austin, apa rencanamu sebenarnya?


"Ayo nak, masuk dulu" Suara Nayla membuyarkan fokus Eve.


"Iya nyonya"

__ADS_1


"Sudah di bilang jangan panggil nyonya, panggil mommy, okey! di biasakan dari sekarang"


"Iya mom" sahut Eve ragu-ragu, mereka sama-sama melangkah ke ruang tamu.


Kellen Austin, permainan yang luar biasa. Seharusnya kau mendapat penghargaan untuk ini.


Eve sama sekali tidak tahu jika Pandu dan Kellen memiliki tujuan berbeda dalam pernikahan yang rencananya akan di gelar dua hari mendatang.


Pandu mengira jika sang putra menikahinya karena sang putra memang tulus mencintai Eve, sementara pernikahan itu akan sangat menguntungkan bagi keluarganya terutama untuk Risa. Sedangkan Kellen, selain benar-benar mencintainya, juga ada rasa dendam yang ingin segera ia tuntaskan. Seumur hidupnya, dia bisa leluasa menyiksa batin Eve kapanpun dia mau.


Rasanya, ia seperti mendapatkan mainan menyenangkan bisa menikahi gadis yang memiliki tanda lahir di punggungnya.


Setelah semuanya sepakat, mereka akan menggelar pernikahan secara sederhana di salah satu gedung mewah milik Pandu di Hongkong. Mereka hanya mengundang keluarga dan para karyawannya.


Eve sempat terkejut dengan keputusan Kellen dan keluarganya dengan pernikahan dadakan, namun tetap saja dia tak bisa berbuat apapun.


Selain ini permintaan Risa agar di percepat, Kellen juga harus ke Indonesia untuk mengurus rumah sakit yang baru saja beroperasi kembali.


****


Dua hari berlalu, Eve sudah tampil cantik dengan kebaya berwarna putih. Dia di rias bak pengantin wanita jawa khas Yogyakarta.


Risa, Pandu dan Nayla sepakat menikahkan Kellen dan Eve dengan cara islam, karena sejatinya mereka adalah keluarga muslim.


Sehari sebelum acara, Eve sudah mengucapkan dua kalimat syahadat yang di pimpin oleh salah satu ustadz terkemuka di Hongkong.


"Ve, kenapa melamun?" tanya Olive.


"Tidak kok Liv"


"Kau bahagia kan?"


"Tidak" lirih Eve.


"A-aku" Eve tergagap.


"Yah Eve, fokus dong fokus, kau mau merried, menikah dengan si malaikat maut"


Malaikat maut? Apa aku akan mati di tangannya?


Miris sekali nasibmu Ve.


"Eve" sentak Olive.


"I-ya Liv?"


"Senyum dong"


"Iya" Sahut Eve lalu tersenyum.


"Sayang, sudah mau mulai, keluar yuk" tiba-tiba, suara Nayla menginterupsi obrolan Eve dan juga Olive.


"Iya mom"


"Tania" Suara Risa membuat Nayla dan Delita langsung lari ke belakang tubuh Eve. Entah bagaimana caranya, Risa tiba-tiba masuk ke dalam ruang make up.


"Tania, kau akan menikah?"


"Ibu" Pandu serta Alvin berlari menyusul sang ibu.


"Iya bu" jawab Eve, dia faham jika Risa memanggilnya Tania, itu artinya Risa sedang berada di masa di mana Tania masih hidup.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali sayang. Siapa calon suamimu, kenapa ibu tidak tahu kau akan menikah?"


"Astaga kak, ibu pasti kambuh" gumam Delita lirih.


Risa menyorot tajam ke arah Delita dan Nayla yang berada di balik punggung Eve.


Nayla dan Delita kompak menggelengkan Kepala.


"Kenapa geleng-geleng kepala, hah?" Risa Menyelidik. "Apa kalian yang memaksa Tania menikah, supaya dia keluar dari rumah?"


"Ti-tidak"


"Ibu tidak percaya! sini kalian berdua, ibu akan menjambak rambut kalian"


"J-jangan bu" Delita langsung berlari berlindung di pelukan Alvin.


"Mas Tolong mas, jangan sampai rambutku berantakan, ini hari bahagia kita, anak kita akan menikah mas"


"Tenang sayang, ada Eve, dia pasti bisa mengatasinya"


"Lihat Pandu, Alvin, istri kalian akan mengusir adikmu dengan dalih menikahkannya"


"Tidak bu" Serga Eve cepat. "Tania akan menikah dengan pria yang Tania cintai"


"Kau tidak berbohong kan sayang?"


"Tidak bu?"


"Bu" ucap Pandu lembut lalu menyentuh pundak Risa. "Sudah waktunya Tania menikah, Nayla dan Delita tidak pernah mengusir Tania bu"


Risa memalingkan wajah lalu menatap Tania.


"Benar nak?"


"Benar bu, Tania akan menikah dengan pria yang Tania cintai"


Di sana Olive bergidik ngeri membayangkan nasib Eve.


"Tuan, penghulu sudah menunggu" Tiba-tiba suara Adan menggema membuat seisi ruang rias kompak menoleh.


"Iya Dan, kami akan segera keluar" jawab Pandu.


Selang beberapa menit, merekapun akhirnya keluar.


***


Acara berlangsung sangat khidmat, Pandu serta Nayla terlihat bahagia, pun dengan Pelita. Bahkan ia tak mampu mempertahankan air matanya yang membendung.


Seluruh hadirin menengadahkan tangan untuk mengamini doa dari pak Kyai setelah kata syah menguar di seluruh ruangan.


Hahaha, selamat menikmati permainan nikah-nikahan Eve, semoga kau bisa sabar menghadapi burung camar yang bodoh, pria laknat yang sialan.


Semoga kau tetap waras dan terhindar dari rumah sakit jiwa.


Evelin membatin dengan sorot sendu.


Sementara Kellen memasangkan cincin di jari manis Eve dengan senyum yang sulit di artikan.


"Kau milikku Eve" bisik Kellen usai mengecup kening istrinya.


Suaranya terdengar menyeramkan, membuat bulu kuduk Eve seketika meremang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2