Personal Assistant

Personal Assistant
Kemarahan dan Emosi


__ADS_3

Begitu melihat Eve tengah terlibat perbincangan dengan Amara, Kellen langsung melangkah menghampirinya. Ketika langkahnya kian dekat, dia berusaha menormalkan ekspresi wajahnya untuk menutupi amarah yang terus memuncak.


"Sayang" racaunya dengan senyum yang ia paksakan.


"El" sahut Eve sedikit terkejut dengan kahadiran suaminya yang tiba-tiba, pun dengan panggilan sayangnya. Ini pertama kali Kellen memanggil dengan mesra. Ada rasa takut yang begitu merongrong sebenarnya, tapi Eve dengan cepat menepis.


"Ada perlu apa kesini" Kellen melirik Amara dengan seulas senyum. Lalu ganti melirik Samira yang akhir-akhir ini sering memberikan perhatian.


"Aku mengirim kotak makan untukmu El"


"Oh, kalau begitu, ayo ke ruanganku" ajaknya dengan nada lembut.


"I-ya"


Eve mengalihkan pandangan pada Amara dan Samira lalu berpamitan. Sementara Kellen langsung mencengkram pergelangan tangan Eve dengan sangat kuat. Cengkraman sarat akan emosi yang semakin meletup-letup. Meskipun ekspresi wajahnya tampak santai dan ada senyum di bibirnya, langkahnya pun tak kalah tenang, tapi cengkramannya membuat Eve merintih dalam hati. Bahkan cengkraman itu meninggalkan luka di sana karena kuku pria itu sedikit tajam.


"Sakit El" lirih Eve yang tak di perdulikan olehnya.


Alih-alih membawa Eve ke ruangannya, Pria itu justru memencet tombol B2 pada lift. Area tempat parkir mobil para direksi dan karyawan.


Eve sadar jika kedatangannya ke rumah sakit membuat Kellen marah. Dan saat ini pria itu sedang meluapkan amarahnya pada pergelangan tangannya.


"El, kita mau kemana?" Tanya Eve setelah mengumpulkan keberanian sedikit demi sedikit.


Tak ada jawaban dari pria yang wajahnya kian memerah menahan marah.


Tempat parkir??? Eve membatin menahan luka di pergelangan tangannya yang sedikit mengeluarkan cairan merah.


Tepat di sisi mobilnya, dengan kasar Kellen membuka pintu mobil lalu mendorong tubuh Eve agar memasuki mobilnya. Setelah meminta kunci pada penjaga parkir, dengan Cepat dia menyusul masuk dan menempatkan diri di kursi kemudi. 


"Maaf El, aku melanggar aturanmu" sesalnya dengan keringat yang membasahi telapak tangan. Sesekali tangan kirinya mungusap bekas cengkramannya di tangan kanan.


Pria itu bungkam. Fokusnya hanya tertuju pada padatnya jalan yang ia lalui.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengantar kotak makan karena tadi pagi kau tak menghabiskan sarapanmu" lanjut Eve takut-takut.


Hening, hanya suara deru mobil yang melintas mendahului mobilnya. Sesekali terdengar bunyi klakson dari pengendara lain. Dan sepertinya, pria itu masih enggan untuk bersuara.


Menghela napas dalam, Eve mengeluarkannya perlahan. Pasrah dengan hukuman yang akan ia dapatkan setelah sampai di rumah. Tangannya bergerak mengusap cristal bening yang meluncur bebas di pipinya.


Jangan banyak bicara Eve, lebih baik persiapkan dirimu untuk menerima hukuman darinya. 


Eve membatin dengan rasa takut yang kian membelitnya.


Hhhh... Entah hukuman apa yang akan dia berikan padaku.


Sekian menit menempuh perjalanan, kini mobil mewah itu memasuki sebuah halaman luas.  Seorang satpam membukakan pintu tanpa melihat Eve yang duduk di samping bosnya.


Setelah gerbang terbuka sempurna, Kellen melajukannya melewati samping rumah dan berhenti di depan gudang yang di bangun terpisah dari rumah besarnya.


Masih menyimpan amarah, dia menarik tangan Eve agar segera turun dari mobil. 


"Kau akan membawaku kemana El?" Tanya Eve was-was. Dia tahu jika langkah Kellen tertuju ke sebuah gudang tempat penyimpanan barang yang sudah tak terpakai.


"Kau tahu konsekuensi yang harus kau terima jika melanggar aturanku"


"Tapi kenapa kau membawaku ke sini?"


"Masuk" sentaknya dengan agak sedikit menekan.


"Tolong El, kau tahu aku sangat takut dengan kegelapan. Jangan mengurungku disini El, ku mohon"


"Masuk"


"No Kellen, aku takut"


Mengabaikan permohonan sang istri, Kellen mendorong tubuh Eve hingga dia terjerembab ke lantai. Dengan cepat Eve bangkit lalu berlari hendak menahan tangan Kellen yang akan menutup kembali pintu gerbang.

__ADS_1


"El buka pintunya" Sekuat tenaga gadis itu membuka paksa pintu yang sudah tertutup rapat dan terkunci.


"Aku minta maaf El" teriaknya sekencang-kencangnya dengan satu tangan menggedor daun pintu sementara tangan lainnya bergerak pada hedle pintu.


"Tolong El, jangan hukum aku disini, aku janji tidak akan mengulanginya. Aku janji tidak akan ke rumah sakit dan bertemu dengan orang lain termasuk keluarga Nalendra"


Teriakan Eve sama sekali tak terdengar dari luar karena ruangan itu benar-benar sangat tertutup. Hanya ada lubang-lubang kecil seperti ventilasi untuk pergantian keluar masuknya udara.


Tanpa banyak berfikir, Kellen memutus kabel yang terhubung pada lampu gudang. Sementara Eve meraba-raba tembok berusaha mencari saklar untuk menyalakan penerangan.


Tak seorangpun tahu jika Kellen mengurung Eve di dalam gudang.


Si satpam yang tak menyadari ada Eve di dalam mobil, ia mengira hanya tuannya saja yang pulang dan kembali pergi setelah berhasil mengurung Eve. Banu yang masih berada di rumah sakit karena mengira Eve sedang menemui Kellen di ruangannya, sementara Nuri berada di lantai atas tengah menyetrika baju-baju milik Kellen serta Eve.


Sesampainya di rumah sakitnya kembali, Kellen segera menemui Banu yang sedang menunggu di dalam mobil sembari mendengarkan musik.


"Paman Banu"


"I-iya tuan, pulanglah sekarang"


Tapi nona Eve masih disini"


"Dia akan pulang bersamaku"


"Baiklah kalau begitu"


"Hmm"


Kellen terpaksa melakukan itu agar Eve tak main-main dengan aturannya. Keberanian Eve yang sudah begitu lancang datang ke rumah sakit tanpa ijin dan tanpa sepengetahuannya, membuat Kellen naik pitam sekaligus takut. Takut jika Identitas Eve yang ia sembunyikan dari keluarga Nalendra terbongkar. Apalagi ketika pria itu melihat istrinya berbicara dengan Amara, dan rasa takut itu kian menjadi jika tiba-tiba Eve mengatakan pada Amara bahwa nama Tama pernah di sebut saat pernikahannya.


bersambung...


PPDB \= Sibuk 😘

__ADS_1


__ADS_2