
Oh my Genma!!
Ketika Kellen hendak berbalik, sepasang matanya mendapati sebuah kertas tak biasa di atas meja kerja Eve. Pelan, ia berjalan mendekat lalu di raihnya kertas itu.
"General Hospital?"
"Hasil DNA???"
Merasa tak percaya jika Eve bukan anak kandung Pelita, diam-diam gadis itu melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan sang mamah.
Dari hasil itu menyatakan jika dirinya memang bukanlah anak kandung Pelita.
Kellen yang membaca hasil DNA itu otomatis terkejut bukan main. Ia seakan tak percaya jika Eve bukanlah darah daging dari wanita yang beberapa waktu lalu melakukan transplantasi ginjal. Wanita yang sudah begitu Eve sayangi.
"Jadi Eve bukan anak kandung Pelita?" gumam Kellen lirih. "Anak siapa dia? dimana dan siapa orang tuanya?"
Entah apa yang membuat jantungnya berdetak sangat liar, yang jelas persekian detik kemudian ia merasa kasihan sekaligus iba terhadap Eve.
Cukup lama Kellen hanyut dalam lamunan, suara ponsel tiba-tiba mengagetkannya.
Ia langsung meraih benda tipis itu dari saku celana.
"Iya dad, selamat siang?" sapa Kellen setelah menggeser ikon berwarna hijau.
"Siang El, apa genma ke kantormu?"
"Iya dad, genma baru saja pergi dengan Eve. Sepertinya dimensia nenek kambuh, soalnya genma menganggap kalau Eve itu aunty Tania dad"
"Dia pergi kemana?"
"El tidak tahu dad, dia pergi bersama pak Adan, sepertinya genma membawa Eve ke mall"
Terdengar helaan napas berat dari Pandu di balik telfon.
"Ya sudah daddy dan mommy akan mencari genma"
"Dad"
"Iya nak?"
"Apa Eve ada hubungan darah dengan kita? kenapa genma begitu dekat dengannya ketika dimensianya kambuh dan malah tak mengenaliku?"
"Kau ini bicara apa El? Eve itu orang asing, sama sekali bukan bagian dari keluarga kita" Pandu dengan tegas menyanggahnya. "Mengenai genma dan dimensianya, nanti daddy jelaskan, okay"
"Iya"
"Ya sudah, daddy tidak ada waktu, kita ketemu di rumah, ajak Eve juga nanti malam"
"Iya dad, daddy hati-hati"
Setelah panggilan di tutup, Kellen kembali termenung seraya menatap lekat-lekat kertas yang masih ia pegang.
Pria itu menarik napas panjang sebelum kemudian menghempaskannya pelan-pelan.
Eve, wajahmu di penuhi amarah, tapi di sisi lainnya ada banyak cinta kasih terutama untuk orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengamu.
__ADS_1
Bu Pelita dan genma contohnya.
Tapi meskipun begitu, kau bukanlah wanita pemarah, hanya saja kau berhadapan dengan orang yang sok berkuasa sepertiku.
Siapa kau sebenarnya Ve? dari mana jati dirimu berasal?
Kau penuh dengan teka-teki.
Kellen mendesah...
Aku merasa ucapan mommy ada benarnya juga, kau seperti bukan warga Macau. Kau sama sepertiku, warga asing yang menetap dan menjadi penduduk sini.
"Tuan El, rapat sebentar lagi akan di mulai, tuan harus presentasi di depan para investor"
Terdengar suara ben dari arah belakang, membuatnya menoleh kemudian berbalik.
"Iya Ben"
Ben mengernyit keheranan.
"Dimana nona Eve, tuan?" Dia menanyakan keberadaan Eve, sebab tak menemukannya di meja kerjanya.
"Eve sedang pergi dengan genma"
"Apa dimensianya kambuh,tuan?"
"Iya Ben"
Ben mengangguk paham. "Waktu itu pak Pandu menelfon saya dan menanyakan alamat rumah nona Eve "
"Untuk apa?" tanya El setelah mendengar ucapan sekertarisnya.
"Kau sudah tahu kalau genma menganggap Eve itu aunty Tania?"
"Sudah tuan, pak Pandu yang memberitahu saya"
Kellen menghembuskan napas sedikit kasar.
"Okey, kita ke ruang rapat sekarang" Kata Kellen. "Aku sudah mempersiapkan segalanya"
"Baik, mari tuan" ajak Ben ramah.
Mereka pun melangkah menuju ruang khusus untuk meeting.
Tak ada yang sulit untuk Kellen menarik hati para investor. Usai melakukan presentasinya, empat investor sekaligus langsung sepakat dan menandatangani surat perjanjian kerja sama.
Pria yang memiliki penampilan, kekayaan, kekuasaan dan apapun akan ia dapatkan sesuai dengan keinginannya.
Sikapnya yang diam tapi pasti, membuat banyak wanita menginginkan dirinya.
Namun pria itu selalu gagal dalam memilih wanita yang tepat. Untuk urusan wanita ia sama sekali tak pandai menentukan mana wanita yang baik dan mana yang tidak baik.
Terbukti dengan pilihannya waktu itu, ia bahkan bersyukur karena ungkapan hatinya yang terlambat, membuatnya terhindar dari wanita seperti Fiona. Sementara hatinya memiliki kriteria wanita seperti sang mommy. Wanita tangguh yang memiliki kelembutan dan tidak mudah marah.
"Selamat tuan empat kerja sama sudah kita sepakati" ucap Ben usai rapat selesai dan para investor sudah meninggalkan ruang meeting.
__ADS_1
"Serahkan ini pada Ester untuk di pelajari, dia akan memimpin di sini selama kita berada di Indonesia nanti"
"Baik tuan" jawab Ben sambil menata berkas kerja samanya.
"Untuk keperluan kita di Indonesia sudah kau persiapkan?"
"Sudah tuan, kita tinggal menunggu waktu, karena ada beberapa hal yang harus kita selesaikan dalam minggu-minggu ini di Panata Company.
Kellen menganggukkan kepala, satu tangannya menopang dagu dengan tangan lain mendarat di sandaran tangan.
****
Malam harinya, Kellen mendapat kabar dari sang mommy jika neneknya masih dalam kondisi pemikirannya tentang Tania. Itu sebabnya Eve tak kembali ke kantor karena harus ikut dengan Risa ke rumahnya. Dan saat ini, Kellen akan menyusul Eve sekaligus makan malam bersama dengan keluarganya.
Di rumah Pandu, Eve sedikit lega karena tak ada Ester di rumah kediaman Risa yang selalu menampilkan sorot tak suka terhadap dirinya.
Jelas saja Ester selalu menatapnya dengan tatapan benci, sebab alih-alih di terima menjadi asisten kakak sepupunya, sang teman justru menjadi asisten pribadinya.
Kellen lebih memilih Eve menjadi asisten pribadinya ketimbang menerima rekomendasi dari adik sepupunya, Ester.
"Mom"
"El, sudah sampai?" Nayla mengalihkan pandangan.
"Kau jemput adikmu?" lanjutnya seraya menata makanan hasil olahannya.
"Tidak mom, tadi dia bareng Tara sama aunty Deli, mereka mau ngurus soal perkuliahannya, nanti uncle Alvin yang mau antar Zea pulang"
"Cuci tanganmu, daddy menunggumu di ruang kerja"
"Genma gimana mom?" tanya Kellen lalu melangkah ke arah wastafle. Ia membuka kran air lalu meletakkan tangannya di bawah kucuran air.
"Kita harus berterimakasih pada nona Eve, dia sudah membantu kita mengatasi Genma"
"Segawat itu ya mom sakitnya genma?"
"Iya El, genma akan kehilangan akal sehat jika tidak meminum obat secara teratur"
"Sekarang kondisinya gimana?"
"Sudah kembali ingatannya, sekarang mereka ada di kamar. Tadi Eve bantu mommy dan bik Chou memasak, terus dia ke kamar genma untuk memanggilnya"
"Apa setiap kambuh genma selalu ingat aunty mom?"
"Sejauh ini si iya El, genma selalu cari Eve yang di anggap aunty Tania"
"Terus apa kita akan selalu bergantung pada Eve?"
"Entahlah El, ini belum kita bahas, tunggu gimana keputusan daddy sama uncle Alvin ya"
Kellen mengerjap merespon kalimat terakhir sang mommy.
"El ke daddy dulu mom"
"Hmm, suruh daddy keluar ya sayang, mommy tunggu di meja makan"
__ADS_1
"Iya mom" Kellen menjawab sambil berlalu, ia sedikit meneriakan suaranya.
Bersambung