
Melihat betapa tulusnya Kellen meminta maaf pada Eve, Tama serta Nara merasa iba padanya. Apalagi saat dia mengatakan akan mengalihkan semua asset atas nama Eve, satu alasan bahwa dia memang benar-benar mencintai putrinya. Mungkin sebagian hati keluarga Nalendra juga merasa sakit hati, tapi Eve yang tengah mengandung anaknya, membuat Nara luluh sebab tak ingin calon cucunya jauh dari sang daddy. Bayangan saat Amara kecil yang sangat merindukan Tama pun tiba-tiba saja terlintas dan seakan berebut masuk ke dalam pikirannya.
Namun, Eve sendiri masih pada pendiriannya, wanita itu benar-benar tak bisa melupakan perlakuan kasar suaminya yang sangat menggores harga dirinya. Seorang istri yang seharusnya di manja, tapi justru di perlakukan layaknya ART dan bahkan seperti wanita malam.
"Kamu tahu bagaimana mommy Nayla kan Ve, dia tidak akan bicara padaku kalau aku tidak bisa membawamu pulang, tidak hanya mommy. Daddy, grandma, aunty Delita, bahkan uncle Alvin, mereka akan mengasingkanku"
Eve hanya bergeming sambil meremas jemarinya.
Pelita dan Zea yang duduk berdampingan merasa kasihan pada Kellen yang tengah bersimpuh di depan Eve.
"Ve" seru Kellen. "Aku harus ngapain?"
"Jangan muncul di hadapanku"
Tercenung Kellen mendengar kalimat Eve.
"Apa maksudmu Ve?"
"Setiap kali aku melihatmu, bayangan perlakuan kasarmu selalu mengusikku. Memang perlakuanmu tak menyakiti fisikku, tapi secara psikis, mentalku hancur apalagi saat bayangan gelap itu terulas di ingatanku, kamu bahkan tak memperdulikan teriakanku"
"Jangan ingatkan soal itu, Ve"
Di sana Tama tampak bangkit dari duduknya dan beranjak dari ruang keluarga.
Nara tampak menatap punggung suaminya yang pergi menjauh tanpa sepatah kata. Hanya selang lima detik, dia tiba-tiba bersuara.
"Za, ikut mama yuk, kita ke dapur bantu mbak Jamilah masak" Lirih Nara, dia juga mengajak Pelita untuk ikut serta, membiarkan Kellen dan Eve menyelesaikan masalahnya.
"Sudah ku bilang, aku menyesal Ve"
"Kenapa kamu mengurungku di sana dengan tanpa kasihan?"
"Aku tidak mau kalau kamu bertemu dengan orang tua kandungmu, itu sebabnya aku marah saat kamu ke rumah sakit dan bertemu dengan kak Ara"
"Kayak gitu kamu bilang cinta?" tanya Eve sinis, lengkap dengan mata memicing.
"Mungkin kalau bayi itu bukan kamu, aku sudah membawanya ke vila mommy di Jogja, tapi ternyata kamulah bayi yang ku cari, sebagian hatiku dendam, dan sebagian lagi ada cinta untukmu Ve"
"Lantas kamu mau apa dengan bayi itu jika bukan aku? mau membunuhnya"
Menelan ludah, sorot Kellen kelam menatap wajah Eve.
Tak ada pilihan lain, sebab kejujurannya saat ini adalah jawaban yang Eve inginkan.
Dengan berat pria itu mengangguk.
__ADS_1
Sementara Eve yang melihat anggukan kepalanya langsung bangkit dan melangkah menaiki tangga.
"Eve" teriak Kellen seraya menyusul langkahnya.
Nara, Pelita serta Zea menatapnya bingung campur penasaran.
Ketika langkahnya sampai di kamar, Eve yang hendak menutup pintu langsung di cegah oleh Kellen.
Tenaga Eve yang kalah kuat membuat Kellen mampu menerobos pintu kamarnya.
"Bagus kamu membawaku ke sini" ucap Kellen dengan senyum miring. Tangannya diam-diam mengunci pintunya.
"Mau apa kamu?" tanya Eve seraya melangkah mundur.
"Apa susahnya memberiku maaf Ve?" balasnya sambil melangkah maju. Melihat Eve mengernyitkan dahi, Kellen memberi kode dengan matanya.
"Jangan macam-macam kamu ya" Reflek Eve ketika melihat senyum jahil suaminya terkembang.
"Mau sayang-sayang kamu kok malah nuduh mau macam-macam"
"Ngapain senyum-senyum begitu? jelas kalau kamu mau macam-macam, kan?" Langkah Eve terhenti karena kakinya menyentuh sisi ranjang. Otomatis dia langsung terduduk di tepian kasur.
Sementara Kellen, langsung mencondongkan badannya ke depan membuat Eve seketika merebah.
"K-kamu mau apa El?"
Dengan posisi Kellen yang mengungkung tubuhnya, membuat Eve langsung menahan napas.
"Menyingkir dariku El, kalau tidak aku akan teriak?"
"Teriak saja, pintu sudah ku kunci, mereka tidak akan bisa masuk untuk menolongmu"
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Menunggu maafmu"
"Aku tidak mau memaafkanmu"
"Kalau begitu kita akan terus berada di posisi seperti ini" ujar Kellen dengan seringai jahil. "Aku akan senang karena aku bisa menatap wajahmu sepuasku"
Dan jantung Eve, rasanya jatuh mendengar ucapannya barusan. Eve menelan ludah, menahan napas, sekaligus menahan kesal yang rasanya kian jadi.
"Aku sudah memberikan semuanya padamu, kamu dan anakmu" Kata Kellen sambil membelai lembut pipi Eve "Anakku juga tentunya, akan menjadi pewaris tunggal kekayaan Pananta Co Ltd. Pewaris tunggal" ulangnya yang justru memantik rasa nyeri di hati Eve karena teringat betapa lelahnya ketika masih bekerja di Panata.
"Kamu mau apa lagi dariku kalau semua yang ku punya sudah ku berikan untukmu agar aku mendapatkan maafmu"
__ADS_1
"Aku memaafkanmu, tapi aku nggak mau kembali pada pria kejam sepertimu, pria yang merendahkan istrinya terutama saat di atas ranjang" Lirih Eve, tanpa menatapnya, mencoba menyembunyikan kesal dari hadapan suaminya.
"Jangan ingatkan aku soal itu" ucap Kellen mengulang kalimatnya beberapa saat lalu.
Eve menggumam sembari memejamkan mata. "Lalu siapa dokter Samira?" tanpa sadar, Eve mengeluarkan sedikit unek-uneknya.
Tak langsung menjawab, Kellen menatap Eve dengan seksama. pandangannya benar-benar tak teralihkan barang sedetikpun. Bahkan saat Eve memalingkan wajah, kepala Kellen turut bergerak hingga wajahnya berada di depan wajah Eve.
Tiba-tiba tangannya bergerak meraih ponsel yang layarnya menyala dari kantong celana.
"Kenapa enggak di terima?"
"Yakin, mau dengar aku terima telfonnya?"
Kellen memperlihatkan layar ponsel dan otomatis Eve membacanya dalam hati.
"Bilang padanya untuk jangan menghubungi suamimu" Bisik Kellen "Mungkin jika kamu yang bilang, dia akan berhenti menelponku"
Setelah mengatakan itu, ibu jarinya menggeser ikon berwarna hijau kemudian menempelkan ponsel di telinga kiri Eve.
"Halo" ucap Eve sedikit ragu.
Hening selama dua detik.
"Di matiin" lanjut Eve.
Pria itu kembali menatap layar ponselnya.
"Pergi dari si_"
"El" terdengar suara seseorang dari luar kamar sembari mengetuk pintu. "Ben mencarimu"
Suara itu benar-benar membuat Eve setidaknya bisa bernapas lega.
"Aku lupa kalau ada urusan dengannya" kata Kellen lalu menarik tangan istrinya supaya bangkit. "Kita belum selesai bicara, kita akan lanjutkan setelah urusanku selesai" tambahnya lalu mengangkat dagu Eve.
Sebelum pergi pria itu mengecup bibirnya dan sedikit memberikan gigitan lembut.
"I love you"
"Aku nggak cinta sama kamu El"
"Kenapa suka sekali bohongin diri sendiri? aku masih ingat seperti apa wajahmu saat kamu mengatakan ada cinta untukku Eve! aku bahkan merekamnya di ingatanku"
Wanita itu tergagap, teringat saat dia mengatakan itu. Ungkapan itu memang benar-benar di ucapkan dengan sangat tulus dari hati yang terdalam.
__ADS_1
Melangkah pergi, Eve menatap punggung Kellen yang menjauh dari pandangannya.
Bersambung.