
Suasana di meja makan cukup canggung, apalagi Ben yang pikirannya bercabang sebab sang bos belum juga kembali. Padahal tadi El mengatakan hanya sebentar dan akan kembali sebelum makan malam, tapi sampai makan malam di mulaipun sang bos belum juga kembali.
Sebagian dari hatinya lagi mengontrol detak jantung yang semakin menggebu saat duduk dalam satu baris dengan Shanum. Kalau saja tidak ada Zea di tengah-tengah mereka, mungkin keduanya merasa kikuk yang berlebihan. Sementara Zea terus melirik Pijar yang duduk berhadapan dengannya. Ada Eve dan juga Nara duduk di samping kanan kiri Pijar. Sedangkan Tama duduk di ujung meja memimpin makan malam.
Tiba-tiba terdengar notif pesan masuk ke ponsel Pijar. Mereka yang tengah mengunyah makanan melirik ke arah dimana ponsel itu berada.
Dengan cepat pria itu meraih ponsel di sebelah piringnya.
"Semua beres bos, pria itu tidak mungkin mengenali kami karena kami memakai penutup kepala"
Sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat.
Tidak semudah itu mendapatkan maaf Eve, Setidaknya, harus berkorban sedikit, ya dan harus ada luka di tubuhmu, El!
"Siapa nak?" tanya Nara sambil meraih telur dadar lalu menaruhnya di atas piring sang suami.
"Teman mom"
"Makan dulu Jar"
"Iya dad"
Kenapa setelah membaca pesan dia langsung tersenyum?
Apa dari pacarnya?
Zea mengatupkan bibir penuh rapat, lalu menarik ke kiri dengan mata melirik ke wajah Pijar.
Sudah punya pacar, ternyata.
"Sha, tadi kamu bilang daddy sama mommy lagi nengokin oma, opa omma baik-baik saja kan?"
"Baik-baik aja mom"
"Nggak lagi sakit?"
"Engga" jawab Shanum. "Opa Idris sama oma Rania sudah berapa hari di rumah kak Ara ma?"
"Sudah dua hari ini sayang"
Hanya selang sekitar sepuluh menit, kembali terdengar dering ponsel dan kali ini berasal dari ponsel milik Ben.
Nona Amara?
Apa ada masalah dengan family care?
"Tuan, nyonya, saya permisi angkat telfon dari nona Amara"
"Amara? ada apa, pak Ben?"
"Entahlah, tuan Tama"
"Ya sudah cepat di angkat, siapa tahu penting"
"Saya permisi nyonya, tuan"
"Ya silakan"_____
Pasti kak Ara akan mengabarkan kalau pria itu sekarat dan sekarang berada di ruang HCU.
Mampus kamu El, meskipun daddy mommy memaafkanmu dengan mudahnya, tapi tidak denganku karena aku juga merasakan sakit beberapa bulan ini. Setelah ku pikir-pikir, ternyata kamu sedang menyiksa saudari kembarku, bahkan aku ikut merasakan sesak seperti saat di ruang kegelapan, turut merasakan dinginnya lantai serta bau tak sedap. Dan itu aku rasakan bersamaan dengan Eve yang terkurung di dalam gudang rumahmu.
Andai saja Eve sedang tidak mengandung anakmu, mungkin aku sudah membuang tubuhmu ke laut.
Hingga beberapa menit berlalu, Ben kembali ke ruang makan dengan perasaan cemas.
"Maaf tuan dan nyonya Gautama"
Mereka yang berada di meja makan langsung menatap Ben dengan tatapan Heran.
"Ada apa pak Ben?" tanya Tama menyelidik.
"Saya harus ke rumah sakit sekarang, tuan El di larikan ke sana dalam kondisi kritis"
__ADS_1
"Apa?"
"Maaf nyonya, saya belum bisa memberikan penjelasan apapun, saya harus memastikan kondisi atasan saya"
"Iya, pak Ben" jawab Tama.
"Ve, kamu nggak ikut pak Ben?"
"Enggak mom, aku lelah pengin istirahat"
Mendengar jawaban Eve, Nara merasa tak enak hati, sementara Tama langsung menyerukan suaranya.
"Pak Ben, nanti kami akan menyusulmu"
Ben merespon dengan anggukan kepala "Permisi!"
"Kak aku ikut denganmu" ucap Zea.
"Ayo"
Tama serta Nara menatap kepergian Zea dan pria tampan yang semakin menjauh dari pandangannya. Sejujurnya, Tama dan Nara sedikit heran dengan sikap Eve yang benar-benar acuh terhadap suaminya. Namun tak bisa di pungkiri, karena sikap Kellen memang sudah benar-benar keterlaluan.
"Mom, aku udahan makannya" potong Pijar seraya mengelap mulutnya menggunakan tisu.
"Mau kemana Jar?"
"Antar kak Shanum pulang" jawab Ben asal. "Ayo kak, buruan sebelum aku berubah pikiran"
Shanum mengangguk, sebelum bangkit, ia meneguk air mineral dari gelasnya.
"Aku permisi ya ma"
"Hati-hati ya"
"Iya ma"
"Kamu hati-hati ya Jar"
*****
"Ve, suamimu di rumah sakit lho" Kata Nara, ia membawakan satu gelas susu untuk sang putri.
"Aku nggak peduli mom, keputusanku sudah bulat, aku ingin bercerai"
"Di pikir-pikir lagi ya, kasihan anak kamu nanti, dia juga butuh papanya"
"Hubungan yang dari awalnya dengan kebohongan, untuk apa di pertahankan? dia sudah tahu dari awal pernikahan kalau aku anak kalian, tapi pria sialan itu justru menutupinya dengan mengatakan jika daddy hanyalah orang baik yang harus di sebutkan namanya dalam ikrar pernikahan, padahal makna yang sebenarnya adalah perwalian untuk mempelai wanita"
"Maksud kamu?" Nara tak mengerti.
"Saat Kellen mengucapkan ikrar, nama daddy sempat di sebut mom. Pas aku tanya, dia jawab kalau daddy sudah baik padaku itu sebabnya dia menyebut nama daddy saat nikah, aku nggak tahu apa maksudnya saat itu, tapi sekarang aku tahu, alasan kenapa Kellen menyebut nama daddy, itu karena daddy adalah waliku"
Mendengar penjelasan Eve, Nara menghela napas panjang, kemudian meraih tangan sang putri.
"Baiklah, kalau kamu memang sudah mantap, mommy nggak bisa mencegahmu, jika itu keputusanmu yang paling baik, mommy hanya bisa mendukungmu dan mendoakanmu"
"Makasih mom" Nara menarik tubuh Eve ke dalam pelukannya.
"Kamu nggak mencintai suamimu?"
"Cinta itu ada mom, tapi kalah sama perlakuan kasarnya padaku"
"Ya sudah habiskan susumu, setelah itu istirahat"
"Mom, boleh tidur sama daddy mommy?"
Kening Nara mengerut mendengar permintaan sang putri.
"Boleh, tapi habisin susunya dulu, setelah itu kita ke kamar mommy"
Setelah meneguk hingga tandas, Nara serta Eve bersama-sama melangkah menuruni anak tangga. Setibanya di kamar, Tama yang tengah menatap layar notebook, langsung mengangkat pandangan ke arah pintu. Pria itu spontan melepas kacamatanya saat Eve memasuki kamarnya.
"Loh sayang, ada apa?"
__ADS_1
"Mau tidur di sini"
"Mau tidur di sini?" ulang Tama bertanya.
"Hmm, boleh kan dad"
"Ya boleh dong, tapi mommy kemana?"
"Tadi ke dapur naruh gelas" jawabnya lalu merebahkan diri di samping Tama.
Terdengar bunyi turn off dari notebook yang Tama gunakan.
"Sini peluk daddy"
Pelan, Eve bergerak merapatkan tubuhnya kemudian melingkarkan tangan di perut Tama.
"Dulu pasti kak Ara sama Pijar puas di peluk-peluk sama daddy sama mommy"
"Kalau kamu iri sama kak Ara, kamu salah" kata Tama sambil mengusap lembut kepalanya. "Karena daddy dan kak Ara juga sempat berpisah selama enam tahun"
Mendengar kalimat sang daddy, Eve mengangkat kepala lalu menatap daddynya.
"Terpisah gimana dad?"
"Dulu daddy sama mommy sempat berpisah, padahal kami baru saja menikah"
Ucapan Tama membuat Eve terkejut. Dengan cepat wanita itu langsung bergerak bangkit lalu duduk bersila menghadap Tama. Tangannya meraih bantal dan menaruhnya di atas pahanya.
"Berpisah gimana, dad?" tanya Eve penasaran.
Tama tersenyum melihat tingkah putrinya.
"Yang dapat kasih sayang dari daddy sama mommy sepenuhnya ya cuma Pijar, cuma anak itu yang puas main-main sama daddy sama mommy"
"Daddy sama mommy pisah kenapa?"
Tama pun menceritakan semua kejadian di masa lalunya, kecuali kejahatan sang bunda.
"Oh, jadi gitu"
"Ini mommy kok lama?"
"Enggak tahu" balas Eve kembali merebahkan diri.
"Daddy ke kamar mandi dulu ya"
"Iya"
Cinta daddy sama mommy kuat juga, berpisah sampai tujuh tahun, tapi daddy menolak menikah lagi demi nggak mau khianati mommy.
"Beruntung banget si mommy"
"Ve" terdengar suara pintu terbuka. "Siapa yang beruntung?"
"Mommy"
"Mommy?"
"Hmm, daddy tadi crita banyak tentang masa lalu daddy sama mommy, kisah cinta mommy sama daddy unik juga"
"Kisah cinta kamu dan Kellen juga nggak kalah unik kok nak" Nara membuka lemari lalu meraih daster untuk ia kenakan. "Terus daddy kemana?"
"Di kamar mandi"
Unik gimana? mencengangkan iya, tragis juga.
Setelah Tama keluar, kini ganti Nara yang memasuki kamar mandinya, sementara Eve sudah memejamkan mata meski kesadarannya belum menghilang.
Tama langsung merebahkan diri di samping kanan putrinya. Di susul Nara yang juga merebahkan diri di samping kiri Eve. Ada dua tangan menumpuk di perut wanita berusia dua puluh tiga tahun.
Tangan Tama dan juga Nara.
Bersambung
__ADS_1