Personal Assistant

Personal Assistant
Antara benci dan cinta


__ADS_3

Pagi harinya,


Pria itu menggeliat bersamaan dengan mulutnya yang menguap.


Pelan, ia membuka mata lalu menoleh ke samping kiri dan mendapati tempat itu kosong. Sedetik kemudian ekor matanya melirik jam di atas meja tv.


07:34


Kellen bergerak untuk menyandarkan punggung di kepala ranjang. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sedikit kasar sebelum kemudian menyibakkan selimut.


Saat menyadari dirinya tak mengenakan pakaian, tiba-tiba sebagian ingatan tentang semalam menyeruak, ia kembali melirik ke samping dan netranya langsung mendapati sebercak darah mengotori sprei.


Sepintas ada rasa bangga dan bahagia.


She's still a virgin?


Reflek bibir Kellen tersungging, namun hanya bertahan sekilas di bibirnya sebab di detik berikutnya, senyum itu justru memudar ketika wajah Tania dan Tama seakan berebut masuk mengusik isi kepalanya.


Tama...!!!


Kalau saja tak ada hukum, aku pasti sudah membunuhmu untuk membayar nyawa aunty.


Pria dengan pembawaan tegas itu memijit keningnya lembut kemudian beranjak dari ranjang.


Sementara di balkon kamar hotel, Eve duduk merenungi nasibnya yang mendadak berubah status dari asisten menjadi istri.


Suatu hubungan yang tak di ketahui alasannya kenapa bisa terjalin.


Eve memang tidak tahu alasan kenapa Kellen tiba-tiba menikahinya, bahkan rencana Kellen langsung di dukung oleh Pandu dan juga Nayla.


Benar-benar membuat Eve tak berhenti menggelangkan kepala saking tak percayanya.


Apa tujuannya menikahiku? aku ini wanita biasa, bukan pesaing dalam bisnisnya, bukan pula wanita yang penting untuk keuntungan bisnisnya. Tapi kenapa pria sialan itu memutuskan hal terpenting dalam hidupnya secara tiba-tiba?


Apa maksudnya??


Apa karena neneknya yang terkena dimensia?


Ah, tanpa menikah dengannyapun, aku bersedia dengan senang hati berakting menjadi Tania jika sakitnya genma kambuh.


Selama menolong orang itu baik, dan aku bisa membantunya, kenapa tidak!


Dari pada menjalani hubungan seperti ini dan harus tersiksa batin dalam menghadapinya.


Andai saja aku tak berhutang padanya, pasti dia tidak bisa memaksaku menikah.


Oh tidak Eve, jangan menyesali hutang-hutangmu jika itu membuat mamahmu sembuh.


Wanita itu mengusap wajahnya gusar lalu melipat tangan di depan dada bersamaan dengan kakinya yang bergerak menyilang.


Matanya terpejam menikmati semilir angin yang berhembus sangat syahdu. Udara yang sudah dingin dengan suhu sekitar tujuh derajat, tak mampu membuatnya menggigil sebab terus di hantui rasa cemas.


Hingga cukup lama melamun, tiba-tiba sepintas bayangan keluarga Nalendra berkelebat, senyum dan tawa terlukis sangat jelas dalam angannya. Apalagi saat ingatannya jatuh pada sosok si kecil Tita yang berceloteh menggunakan bahasa inggris ketika bicara dengannya, itu memantik senyum Eve terulas begitu lebar.


Selang beberapa detik, tubuhnya berjengit ketika suara gesekan pintu tertangkap oleh inderanya. Reflek, kepala Eve menoleh sekaligus mendongak, dia menyadari tatapan tak biasa dari suaminya. Gelisahnya memuncak melihat raut wajah kaku dan dingin dari Kellen.


Eve yang tadinya menyimpan kesal pada sosoknya sejak semalam, mendadak di liputi rasa khawatir. Bungkamnya mulut Eve berubah, jika tadi karena kesal dan marah, tapi kini dia takut.


"Sarapan sekarang supaya kau memiliki tenaga untuk melayaniku"


Mendengar kalimatnya rasa cemas itu kian menyergap, apalagi ketika mengingat kata 'melayaniku' persekian detik wajahnya memucat.


Nyeri yang semalam saja belum reda, kini harus melayaninya kembali.


Apa bulan madu memang seperti ini?


Ragu-ragu Eve bangkit lalu berjalan memasuki kamar, sepasang matanya tertuju pada meja makan yang sudah di penuhi beberapa menu khas hotel milik suaminya.

__ADS_1


Duduk di kursi makan, Eve nyaris memekik ketika Kellen meraih dagu agar sang istri mendongak menatapnya.


"Kenapa kau tak menyiapkan baju untukku?" tanya Kellen dingin.


"A-aku lupa" jawabnya was-was.


"Kau bilang lupa? apa kau juga lupa bahwa aku ini suamimu?"


Diam-diam Eve menelan ludah. Melihat sorot matanya yang tajam, membuat Eve mendadak tertunduk diliputi rasa cemas yang memuncak.


Tak lama kemudian, Kellen kembali mengangkat dagunya dan menahannya agar kembali menatapnya.


"Kenapa lupa?" pertanyaan yang terdengar lebih menakutkan dari sebelumnya.


"Kau sengaja kan? atau, kau memang ingin memperolokku dengan tidak menghormatiku sebagai suamimu?"


Eve mengerjap mendengar kalimat suaminya yang seolah menuduhnya.


"Kau menyinggungku Eve?"


Kepala Eve menggeleng.


"Lalu apa? mau bilang tak sengaja? mau bilang begitu?"


Kembali Eve menggeleng.


"Bicara!" ucapnya datar dan tegas. "Kau di anugerahi mulut lengkap dengan suara untuk bicara. Kau wanita berpengetahuan Eve, jangan hanya menggeleng dan mengangguk seperti anak kecil" sinisnya dengan tatapan menghujam.


"Tidak mau bicara?" tanya Kellen menguatkan cengkramannya di dagu Eve.


Melihat Eve tetap diam, pria itu menghembuskan napas pelan.


"Sepertinya aku memang harus menghukummu" ujarnya lalu menarik Eve agar bangkit dari duduknya.


Eve yang kini sudah berdiri, kedua tangannya berpegangan pada sisi meja.


"Kau senang mendapat hukuman kan?"


Eve yang berontak, di buat tak berkutik ketika satu tangan Kellen mencengkram tangan Eve yang mencoba mendorongnya.


Ciumannya semakin kasar, seakan dia tengah meluapkan marahnya pada Eve.


Pria itu bahkan menghimpit tubuhnya hingga Eve semakin kesulitan meronta. Kellen terus dan terus mencium istrinya.


Ciuman yang terasa begitu menyakitkan, apalagi ketika tahu air mata Eve jatuh membasahi pipi, pria itu langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Eve menyerah, benar-benar menyerah dengan deraian air mata, wanita itu membiarkan sang suami menangkup wajahnya dan terus menciumnya dengan sangat kasar.


Bahkan kedua tangan Eve yang sudah terbebas dari cengkraman, tak berani memberikan perlawanan atau penolakan. Hatinya benar-benar sakit mendapat perlakuan buruk dan kasar dari suaminya.


Pria yang saat ini tengah menciumnya dengan beringas, menelusupkan lidah setelah menggigit bibirnya, tak peduli dengan sang istri yang hanya diam dan menangis.


Begitu rakus, begitu kasar, dia tak berhenti melakukannya hingga lewat bermenit-menit.


Masih dengan mata terpejam, Eve merasakan bibir itu terurai dan berganti dengan keningnya yang menempel.


Eve bergeming, memilih menata hati yang di buatnya hancur berkeping-keping.


"Lihat aku!" perintah Kellen dengan nada datar khas miliknya.


Dengan posisi masih terhimpit antara Kellen, dan meja makan, Eve memilih untuk tak menuruti perintahnya.


Ada ketidakrelaan dalam hati untuk langsung menuruti pria egois seperti suaminya.


"Buka matamu dan lihat aku" ulang Kellen.


Eve masih memejamkan mata sama sekali tak sudi untuk membukanya.

__ADS_1


Sementara keningnya masih menempel dengan kening Eve. Salah satu jarinya tiba-tiba mengusap pipi Eve yang basah.


"Kau tidak suka ku perlakukan seperti tadi?" nadanya lembut.


"Kalau tidak suka, bilang. Kau pasti tahu apa gunanya mulutmu ini kan?"


Beberapa detik usai mendengar ucapannya, Eve memberanikan diri membuka mata. Ada titik air mata yang jatuh namun Kellen langsung mengusapnya dengan ibu jari.


Jarak wajahnya begitu dekat, Eve yang masih ketakutan langsung menurunkan pandangan agar tak bertemu pandang dengannya.


Rasanya, Eve ingin sekali mendorong tubuhnya, akan tetapi dirinya seperti tak lagi punya tenaga. Energinya seolah habis tersesap oleh ciumannya yang kasar.


"Apa keberanianmu terkikis?" tanyanya tepat di bibir Eve.


Perkataannya barusan, memberikan keberanian untuk Eve mendongakkan kepala.


Begitu kepalanya menengadah, sorot mata Eve langsung bertemu dengan manik suaminya yang sekelam malam. Tak ada lagi sorot tajam seperti ketika mengintimidasinya beberapa menit lalu.


"Kenapa tidak menyiapkan baju ganti untukku, dan malah duduk santai di balkon, hmm?"


"A-aku benar-benar lupa El" Wanita itu menahan napas.


"Tapi kau tak lupa kalau aku suamimu kan?"


Eve menggeleng.


"Jawab pakai mulutmu, bukan pakai bahasa tubuh, kau tidak sedang bicara dengan suami yang bisu, akupun tidak sedang bicara dengan wanita bisu"


"Maaf" Entah kenapa, keberanian Eve benar-benar terkikis dan menghilang tak tahu kemana.


"Apa konsekuensi yang harus kau terima jika kau tak melayani suamimu dengan baik?"


Manik hitam Kellen tak terputus saat menanyakan itu


Sementara Eve tak berani memutus kontak mata mereka sebab ada tangan Kellen yang menahan dagunya.


"Aku minta maaf El" katanya lirih.


"Kau pikir aku benar-benar marah karena itu Ve?"


"Iya" jawab Eve tanpa pikir panjang. Karena memang itulah satu-satunya alasan atas kemarahannya.


Hening, mata mereka saling menatap lekat.


Tidak mungkin aku akan marah hanya karena hal sepele seperti itu Ve.


Mana mungkin aku marah pada wanita yang ku cintai.


Tapi sayangnya, wanita itu adalah putri dari pria yang sangat ku benci, pria yang memantik kekesalanku hingga rasa benci itu berhasil mengalahkan rasa cinta.


Aku membencimu Evelyn Stevani Nalendra.


Jarak mereka yang begitu dekat membuat Kellen tak hanya merasakan hangat napasnya, tetapi juga detak jantung yang berdegup cukup kuat.


Andai kau tahu aku bersyukur memilikimu, lalu apa yang akan terjadi jika kau tahu daddymu yang sudah membuat auntyku meninggal?


Kau sangat tahu aku sedang mencari seorang bayi, lalu bagaimana perasaanmu jika tahu kaulah bayi yang ku cari?


Tiba-tiba, Kellen memutus kontak mata mereka lalu bergerak, bukan menjauh, tetapi menoleh ke arah nakas di mana ponselnya tengah berkedip.


"Sekarang cuci mukamu, kita sarapan"


Eve hanya diam menatap bidang dadanya yang berbalut kaos tipis. Sementara Kellen menunduk menatapnya.


"Jangan biarkan nama baik suamimu hancur di depan keluarga, rekan bisnis dan media jika kau tidak ingin ku hukum lebih dari ini, ingat, mamahmu berada dalam genggamanku"


Eve tak berani menyahut baik dengan bahasa tubuh, ataupun suaranya. Ia takut jika jawabannya akan memantik emosinya kembali naik.

__ADS_1


"Cuci muka sana" perintah Kellen lalu beranjak dari hadapan Eve menuju nakas untuk melihat siapa yang baru saja menelfonnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2