Personal Assistant

Personal Assistant
Kedatangan Ester


__ADS_3

Kini aku akan merubah caraku El, aku akan membuat kau mencintaiku. Akan ku runtuhkan tembok tinggi yang sudah kau ciptakan.


Mungkin sikap datar dan apa adanya dariku, juga membuat tembok itu kian tinggi dan kokoh, tapi mulai sekarang, aku akan membujukmu dengan kelembutan dan cintaku.


Eve terus bergumam dalam hati sembari mengaduk teh jahe yang sedang dia buat.


Sementara di ruang Kerja, Kellen terus memikirkan ungkapan hati istrinya. Ucapan beberapa waktu lalu yang terus mendengung memekakan telinga. Membuatnya kian merasa bersalah dan timbul rasa nyeri di dalam sana.


Meskipun kau memperlakukanku dengan begitu kasar, sebagai istri, perasaan cinta itu tetap ada di dalam hatiku untukmu El.


"Benarkah dia mencintaiku?" gumam Kellen lirih saat teringat kalimat yang terus membuyarkan konsentrasinya. Matanya menyorot pada bayangan dirinya di layar laptop yang tak menyala.


"Aku juga mencintaimu Ve, tapi egoku melemah di hadapanmu, aku belum bisa terima jika kau adalah bayi itu"


"Aku bahkan tidak bisa menerima fakta itu"


"Jika bayi itu bukan kau, pasti hubungan kita akan sangat menyenangkan. Tapi sayangnya, ketika kau berada di dekatku, aku tidak bisa menahan diriku untuk tetap diam"


Ketika tengah larut dalam lamunan, fokusnya buyar saat menyadari pintu ruang kerjanya terbuka.


Pria itu langsung menegakkan posisi duduknya begitu sepasang netranya mendapati sosok Eve melangkah mendekat.


"Aku bawakan teh jahe untukmu?"


"Letakkan di situ" jawabnya sambil melirik ke atas meja.


Jika biasanya Eve hanya meletakkan cangkir berisi teh jahe kemudian langsung beranjak keluar, tapi kali ini tidak. Wanita itu akan menemani sang suami mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Ngapain duduk di sini?" tanya Kellen terkejut.


"Kenapa memangnya? bukankah kau suamiku, jadi aku berhak menemanimu kan?"


"Pergi ke kamar sekarang juga"


"Aku tidak mau, aku ingin ada di dekatmu"


Kellen mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Apa-apaan si Ve, cepat keluar, tunggu aku di kamar"


"Aku tidak mau El, kalau kau menyuruhku ke kamar, kau juga harus ikut denganku ke kamar"


"Kau mau ku hukum?"


"Terserah kau saja, jika menghukumku membuatmu senang, aku ikhlas, meskipun kau melakukannya dengan sangat kasar"


Tertegun begitu Kellen mendengar ucapan Eve.


"Kau kesambet?"


"Kesambet?" Eve mengernyit bingung. "Tidak, biasa saja" lanjutnya santai.


Kellen menghempaskan napas kasar.


"Kau ini hanya mainanku Ve, harusnya kau sadar"


"Mainan?" Lirih Eve menahan nyeri di ulu hati yang tahu-tahu terasa begitu kuat. Hampir satu bulan menikah, baru kali ini ia mendengar sang suami mengatakan jika dirinya hanyalah mainan. Mainan pemuas nafsu mungkin. Pikir Eve.


Menggeser kursi yang di duduki, Eve akhirnya bangkit, ada sorot terkejut dari mata Kellen.


"Siapa yang mengijinkanmu pergi?" Tanya Kellen ketika Eve baru mengambil tiga langkah menjauh. "Berhenti dan duduk kembali di tempatmu tadi!"


Langkah Eve terhenti, namun hanya beberapa detik, setelah itu Eve kembali melangkah tanpa sekalipun menoleh ke belakang.


"Sudah tidak mau dengar kata suami?" kali ini nadanya terdengar naik.


Eve tak merespon, ia menghembuskan napas berat dan terus melangkah keluar dari ruang kerja.


Nyeri di ulu hatinya kian menjadi, tiba-tiba lengan Eve di cekal dan tubuhnya di balik dengan paksa ketika dia hendak membuka pintu.


"Selain keras kepala, kau juga sulit berkompromi rupanya" ujar Kellen di iringi senyum tipis yang membuat wajahnya justru terkesan angkuh.


"Kompromi apa yang kau maksud tuan El?"


Satu ujung alis Kellen naik, seakan heran dengan ucapan Eve.

__ADS_1


"Apa selama ini kita selalu berkompromi dalam pernikahan kita? kau memperlakukanku dengan sangat kasar, aku tidak keberatan, karena aku pikir kau belum mencintaiku, dan aku belum mencintaimu, Aku diam ketika kau langsung meninggalkanku usai kebutuhan biologismu terpenuhi, aku terima kau sibuk dengan pekerjaanmu, aku juga tidak keberatan harus melayanimu setiap hari, kupikir memang tidak semudah itu membuka hati untuk kita masing-masing" Ujar Eve kemudian dengan panjang lebar. "Aku bahkan berpura-pura tidak tahu apa-apa saat kau menghabiskan waktu dengan para wanita dokter yang bekerja di rumah sakitmu. Kau pasti terkejut dari mana aku tahu, tapi mereka merasa bangga memposting kedekatannya denganmu"


Eve memberi jeda sejenak, bukan untuknya, tetapi untuk dirinya sendiri, karena jika tidak, jelas emosinya akan meledak dan Eve akan berakhir menangis di depannya.


"Aku harus kompromi bagaimana lagi tuan El? kau memperlakukan wanita di luar sana begitu lembut, tapi memperlakukan wanitamu dengan sangat kasar, Aku harus kompromi yang bagaimana kalau statusku kau anggap remeh?"


Memberanikan diri, Eve melepaskan cengkraman tangan Kellen di lengannya.


"Aku belum selesai bicara"


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Kenapa kau menganggap aku meremehkan statusmu?"


"Karena kau sangat keberatan mendengar permintaanku yang ingin menemanimu disini, tidak hanya itu, semua sikapmu, benar-benar sudah meremehkan statusku sebagai istrimu"


Kau benar, aku meremehkanmu Ve, itu karena daddymu yang sudah membuatku memperlakukanmu seperti ini.


Setelah berhasil melepaskan tangannya, Eve langsung berbalik.


Baru saja pintu terbuka, sudah ada Ester yang berdiri di depannya, menyorot dengan mata berkilat penuh amarah.


Tiba-tiba, satu tamparan dengan sangat keras mendarat di pipi Eve. Tidak hanya Eve, Kellenpun terkejut dengan sikap adik sepupunya yang mendadak menampar sang istri.


"Kenapa kau menam_" kalimat Eve terhenti karena tiba-tiba Ester kembali menampar pipi lainnya.


"Ester" Bentak Kellen lalu segera meraih tangan adik sepupunya.


"Hentikan tanganmu Ester!" ucapnya sambil menghempaskan tangan Ester.


"Aku tidak bisa kak, dia adalah ba_"


"Cukup" potong Kellen cepat, lalu mencengkram pergelangan tangan Ester.


"Pergi ke kamar sekarang juga, tunggu aku di sana" ucap Kellen menoleh ke wajah Eve.


Tanpa menunggu jawabannya, Kellen langsung menarik tangan Ester dan membawanya keluar dari rumahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2