
Selepas kepergian Kellen, Alih-alih menyusul keluar kamar, Eve justru membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia tak peduli dimana dia merebahkan tubuhnya, yang jelas kesadarannya masih ia kuasai dan sangat menyadari bahwa saat ini dirinya sedang berada di kamar milik bosnya.
Kellen yang melangkah menuju dapur, mendapati meja makan sudah terisi roti tawar, irisan tomat, irisan buah kiwi, dan irisan buah naga yang sudah di potong dadu
Ada toples mini berisi selai nanas dan teh chamomile yang juga sudah Eve seduh di teko kecil berbahan kaca.
Kellen baru tahu jika saat dia memencet bel, ternyata gadis itu hendak melakukan sarapan. Sudah jelas dengan kondisi meja makan dan piring yang terisi roti tawar dengan olesan selai di atasnya.
Menarik kursi kemudian duduk. Tangannya bergerak menuang teh ke dalam cangkir lalu meraih roti di atas piring dan melanjutkan mengolesi roti yang belum sepenuhnya terolesi selai nanas.
Menaruh tiga lapis irisan tomat serta tiga lapis irisan kiwi, sebelum kemudian menumpukkan roti tawar lainnya di atasnya.
Mengabaikan perutnya yang terus meronta, Kellen meletakkan piring berisi roti, buah naga dan secangkir teh di atas nampan dan membawanya ke kamar.
"Bangun!" ucapnya terdengar seperti memerintahkan sebenarnya.
Eve bergeming lalu menyembunyikan wajah di balik selimut.
Mendesah pelan, Kellen menaruh nampan di atas nakas.
Tak kurang dari lima detik, pria itu menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Eve.
"Bangun" pintanya kali ini sambil menarik paksa tangan Eve.
Eve terduduk dengan tanpa melihat wajah Kellen. Fokusnya terus mengarah ke lantai menatap sepasang kakinya yang berhadapan langsung dengan kaki pria di depannya.
Pria itu dengan telaten mengumpulkan rambut Eve menjadi satu lalu menggulungnya cukup tinggi. Bukan gulungan yang rapi sebenarnya, tapi cukup bagus bisa di lakukan oleh seorang pria. Hal ini bukan pertama kalinya dia lakukan, sebelumnya dia juga membantu mengikat rambut Zea ketika Zea menghukumnya untuk mengikat rambutnya.
Mendapat perlakuan manis seperti itu, tak serta merta membuat hati Eve melunak. Bayangan Kellen merobek bajunya seolah terus berputar-putar mengusik isi kepalanya.
Namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang mampu menggetarkan isi dadanya.
Pria itu duduk di hadapan Eve setelah menggeser kursi kerja yang terletak tak jauh dari ranjang, kemudian meraih piring dan menyuapkan roti ke mulut wanita yang sesekali masih meluncurkan buliran bening.
"Buka mulutmu!"
Hening selama sekian detik ketika perintahnya tak mendapat respon.
"Buka mulutmu kalau tidak ingin mamahmu masuk penjara"
Eve langsung mengarahkan netranya begitu mendengar ucapan Kellen. Pandangan mereka pun bertemu.
"Apa? kau mau melawanku? kau tidak akan pernah bisa Eve, karena aku bukan tandinganmu"
"Baru kali ini aku bertemu dengan pria sekejam dirimu"
"Dari pada kau bicara, lebih baik buka mulutmu! setelah makan, kau akan memiliki tenaga untuk melawanku" ucapnya dengan nada meledek.
"Lihatlah! kau tampak menyedihkan, kau kelaparan jadi cepat buka mulutmu"
__ADS_1
Manik hitam Eve terus bergerak mengikuti bola mata Kellen.
"Ku hitung sampai tiga, jika kau tidak membuka mulutmu, detik itu juga akan ku penjarakan mamahmu"
"Pengecut, beraninya mengancam" racau Eve lirih yang langsung di respon senyuman miring.
"Satu lagi" Ujarnya santai. "Kellen Austin tidak pernah main-main dengan ucapannya" lanjutnya yang langsung bisa melumpuhkan keberanian Eve.
"Satu" pria itu mulai menghitung dengan tangan terulur tepat di bibir gadis itu.
"Dua" kali ini tatapannya mengejek.
"Ti_"
Belum sempat kalimatnya selesai, Eve membuka mulut, sementara Kellen tersenyum miring penuh kemenangan.
"Selesai makan, kita bahas pernikahan kita?"
Diam sambil menatap pria arogan itu lekat-lekat, Eve berusaha menyusuri bola matanya yang menyorot penuh keseriusan.
"Kenapa kau ingin menikahiku?"
"Karena aku sudah terlanjur melihat dua buah yang ada di dadamu"
Eve sempat tercenung, namun hanya sesaat.
Sejujurnya bukan itu alasan yang sebenarnya. Ada banyak hal yang mendorong Kellen ingin sekali menikahi gadis yang tidak hanya cantik, tapi juga pintar dan berpengetahuan luas. Salah satunya adalah genma dan keinginan dia untuk menyiksa batinnya.
"Aku tidak sudi menikah dengan pria sepertimu"
"Itu berarti Pelita akan masuk penjara"
Mendengar nama mamahnya di sebut, Eve kian memberengut dan keberaniannya kian menipis. Ia memilih diam sambil menikmati suapan roti dari pria yang sebenarnya sudah berhasil masuk dan bersemayam di dalam hatinya.
****
Hari semakin siang, Kellen sudah bersiap dengan perjanjian nikah yang sudah di buatnya, dan mau tidak mau harus di sepakati oleh kedua belah pihak. Eve dan dirinya.
"Baca baik-baik setelah itu segera tanda tangani. Jika melanggar maka mamahmu yang akan menanggungnya"
Kellen meletakkan kertas itu di atas pangkuan Eve.
Saat ini mereka duduk di sofa ruang TV.
Pelan, Eve meraih kertas itu, lalu membacanya dalam hati, poin demi poin.
Harus melayani layaknya seorang istri terhadap suami, dalam hal apapun dan dimanapun jika di perlukan.
Setiap perkataannya adalah perintah yang harus di patuhi oleh pihak istri.
__ADS_1
Hanya akan tinggal di rumah mengurus rumah tangga, dan menyambut suami pulang.
"Perjanjian macam apa ini, tuan El?" Eve mendongak untuk mempertemukan netranya.
"Jangan banyak bertanya, baca dan tandatangani secepatnya"
Sempat kecewa, lantas Eve kembali mengarahkan pandangan pada kertas yang ia pegang. Terdiam dan tak bisa berbuat apapun, karena pria di depannya adalah pria berkuasa yang bisa melakukan apa saja, bahkan hanya dengan menjentikan jari semua keinginannya langsung terpenuhi.
Dia memang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia mau. Semuanya, kecuali cinta. Ku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan cinta tulus dari istrimu tuan El.
Gadis itu membatin, lalu kembali membaca isi perjanjian berikutnya.
Melakukan semua kewajiban sebagai istri tanpa banyak protes apalagi menuntut.
Sampai di sini, Eve langsung menandatangani surat itu. Perjanjian pranikah yang isinya hanya menguntungkan salah satu pihak membuatnya tak berniat membacanya hingga selesai.
"Kau sudah membacanya?" tanya Kellen penuh selidik.
"Apa maksudmu tuan El, mau ku baca atau tidak, semua tidak akan merubah isi dari surat ini, bukan? lantas untuk apa aku buang-buang tenaga serta waktuku membacanya sampai selesai, kalau pada akhirnya mau tidak mau aku harus setuju dan menandatanganinya"
Kellen yang terkejut dengan kalimat Eve, reflek bibirnya menyunggingkan senyum seakan meremehkan.
"Kebaikanmu pada mamahku, akan ku bayar dengan pengabdianku seumur hidupku, Kepuasan anda tuntas sekarang, tuan El?"
"Bagus" Responnya mengabaikan kalimat terakhir Eve. Kemudian meraih kertas yang baru saja di tanda tangani. "Bersiaplah kita akan ke rumah daddy untuk membicarakan pernikahan kita"
"Aku yakin, orang tuamu tidak akan pernah setuju dengan rencana pernikahan yang kau buat"
"Ckk, kenapa?"
"Aku akan bilang pada mereka jika pernikahan ini terjadi di atas surat perjanjian"
"Kau tidak akan bisa, mereka tidak akan percaya padamu"
"Kau salah tuan El, mereka tidak akan pernah merestui pernikahan kita, karena kita berbeda, aku bukan tandinganmu"
"Kau yang salah Eve, karena keputusanku akan di terima dengan senang hati oleh keluargaku"
Eve berdecih geram, tangannya mengepal, rahangnya mengeras, sementara wajahnya menyorot benci.
Tanpa mengatakan apapun dia bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju kamar.
Evelyn Stevanie,,
Ini yang bisa ku lakukan padamu,,
Karena aku tidak akan pernah bisa membunuhmu.
Rasa cintaku padamu, sama besarnya dengan rasa benciku pada daddymu.
__ADS_1
Pria itu membatin dengan pandangan menatap kepergian Eve hingga tubuhnya menghilang di balik pintu.
Bersambung