Personal Assistant

Personal Assistant
Comeback Indonesia


__ADS_3

"Ingat, jangan katakan apapun dan pada siapapun tentang kondisi pernikahan kita" kata Kellen sarkas. "Mommy ingin bicara denganmu" tambahnya menyerahkan ponsel.


Eve yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, melangkah menuju ranjang lalu duduk di tepi kasur, sementara Kellen berjalan ke meja makan untuk menikmati sarapan.


"Halo mom"


"Sayang, gimana malam pertamanya? pasti menyenangkan kan? sebentar lagi mommy punya cucu dong" seru Nayla meledek.


Mengabaikan ledekan ibu mertuanya, Nara mencoba mengalihkan topik.


"Mommy sudah pulang ke Macau?"


"Sudah nak, kenapa?"


"Mamah juga?"


"Iya, kami semua langsung pulang ke Macau tadi malam, kami selamat sampai tujuan kok Ve, mamahmu juga sudah di antar sampai rumah"


"Kalau dimensia genma gimana mom?"


"Daddy Mommy sempat khawatir si, soalnya semalam genma terus diam mungkin mikirin Tania. Paginya mommy sampai tak mengijinkan daddy pergi ke kantor, takut dimensia genma masih kumat terus jambak-jambak rambut mommy, tapi pas keluar dari kamar, genma langsung nanyain kalian"


"Nanya gimana mom?"


"Nanyain, 'Eve sama Kellen gimana, pernikahannya lancar?' gitu sayang, terus genma juga bilang 'minta maaf ya kalau kemarin genma membuat kekacauan di pernikahan Kellen. Begitu sayang"


Eve hanya bergumam kecil dengan deheman merespon kalimat Nayla.


"Salam buat genma ya mom"


"Iya nanti mommy sampaikan" jawabnya lembut. "Kalian sudah sarapan?"


"Baru akan mom" Eve melirik Kellen.


"Sudah hampir pukul sembilan kalian baru sarapan? memangnya semalam lemburnya sampai jam berapa?"


"Mommy, jangan godain pengantin baru, kasihan mereka" Suara Pandu menyela obrolan mereka.


"Godain tipis-tipis tidak masalah" jawab Nayla menimpali ucapan Pandu. "Iya kan sayang?" tambahnya teruntuk sang menantu.


Karena Eve tak tahu bahasa yang Pandu dan Nayla gunakan, wanita itu hanya menjawabnya dengan iya.


"Ya sudah sayang, pergi sarapan dan nikmati bulan madu kalian"


"Iya mom"


"Bye sayang!"


"Bye mom"


Mendesah pelan, Eve lantas menggeser ikon merah untuk menutup panggilan.

__ADS_1


Ingatannya jauh melintang memikirkan kebaikan dan kelembutann ayah serta ibu mertuanya.


Apa ini? mereka begitu baik, tapi putranya sangat kejam dalam memperlakukan istrinya.


Parahnya aku tidak bisa mengadukan sikapnya pada siapapun.


Pernikahan macam apa yang sedang ku jalani?


Aku benar-benar tidak mengerti ada maksud apa di balik dirinya menikah denganku


"Sudah selesai bicara dengan mommy?"


Suara Kellen membuat Eve tersadar.


"Sudah" lirihnya.


"Kalau begitu cepat makan, kita sudah terlambat"


"M-memangnya kita mau kemana El?" Eve melangkah ke arah meja makan. Ragu-ragu dia.menarik kursi lalu duduk.


"Kau harus menemaniku mengaudit keuangan hotel di sini"


"Mengaudit?" Eve terheran.


"Kenapa?"


"T-tidak, tapi bisakah kalau aku tak ikut denganmu? aku merasa tidak enak badan"


"Tidak bisa, kau harus ikut denganku"


"Tapi El_"


"Jangan banyak protes"


Mendengar jawaban suaminya, Eve hanya pasrah sambil menghembuskan nafas frustasi.


Dia mulai mengoleskan selai pada roti untuk dirinya sendiri.


Karena Kellen sudah sarapan saat Eve bicara melalui telfon, Eve tak perlu melayaninya.


Pria itu meneguk satu gelas air putih sebelum kemudian bangkit menuju ranjang hendak menelpon bagian cleaning servis untuk mengganti spreinya yang kotor terkena noda merah.


Eve yang mendengar pembicaraan Kellen melalui suara interkom di kamar mereka, langsung melangkah mendekat dan mengeluarkan suaranya.


"El, spreinya biar aku bersihin dulu"


Kellen mengangkat satu alisnya saat tahu-tahu sang istri berdiri di sampingnya.


"Kau mau protes lagi?"


"T-tidak, aku hanya ingin membuang noda kotor yang melakat pada sprei sebelum OB menggantinya"

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini! please jangan memantik emosiku kembali naik Eve"


"Tapi El, itu ada noda merah di sana"


"Kenapa memangnya? mau ada noda merah, noda kopi, noda apapun itu, itu urusan mereka"


"Sebentar saja ku kucek El, hanya di bagian yang kotor saja"


"Selesaikan sarapanmu, jangan banyak bicara, okey Eve! oh atau kau mau aku menyuruhmu menyuci semua sprei di hotel ini?" Nadanya meninggi, benar-benar seperti sedang berantem dengan seseorang.


Menelan ludah, Eve tak lagi membantah, ia akan membiarkan privasinya di ketahui banyak orang.


Membalik badan, ia kembali duduk di tempat tadi, bukan untuk melanjutkan sarapannya karena ia sudah tak ada nafsu. Tapi untuk menghindari amarah El yang kemungkinan akan membuatnya kembali merasakan sesak.


Satu menit berlalu, tiga orang cleaning service memasuki kamarnya. Kellen mengajak Eve ke area kolam renang dan membiarkan tiga orang itu membersihkan tempat tidurnya.


Jika boleh memilih, Eve lebih baik menunggu di balkon selagi mereka membersihkan kamar. Atau ia akan meminta para pegawai hotel untuk pergi dan dia sendiri yang akan merapikan kamarnya.


Tapi pria brutal itu tak bisa di hindari. Ia bagaikan kaisar yang setiap kata adalah titah yang harus Eve patuhi.


***


Dua malam menginap di hotel miliknya, hari ini Kellen dan Eve akan kembali ke Indonesia. Tapi kembalinya mereka, Eve sudah tidak lagi menjadi asistennya, itu artinya Eve tak lagi pergi ke rumah sakit.


Bukan itu yang membuat Eve heran, tapi larangan Kellen agar tak pernah sekalipun keluar dari rumahnya apalagi untuk menemui keluarga Nalendra. Tama, Nara, Amara, Pijar serta si kecil Tita yang justru ingin sekali dia temui begitu sampai di Jakarta.


Eve hanya akan berada di dalam rumah menunggu suaminya pulang kerja. Sudah ada cctv juga yang akan mengawasi gerak-geriknya selama di rumah.


Pria ini benar-benar mengekangku, dia benar-benar membuatku tersiksa.


Kau harus sabar Ve, setidaknya keluarganya tidak gila seperti dia.


Eve terus menarik koper mengikuti langkah lebar suaminya.


Pria itu, bahkan tak peduli denganku yang berjalan terseok menahan nyeri di salah satu bagian tubuhku.


Kalau saja aku memegang senapan saat ini, pasti peluru itu sudah meluncur di punggungnya. Dua tembakan! ah tidak empat atau lima tembakan.


"Cepatlah Eve, kita sudah terlambat" ucapnya dengan suara tertahan.


"Kau sudah membuat rasa nyeri di bagian tubuhku, seharusnya jalan pelan-pelan atau kau yang membawa koper ini. Its okey kau tidak kasihan denganku, tapi bayangkan jika mommymu di perlakukan seperti ini"


Kellen menghentikan langkahnya, lalu menatap Eve dalam-dalam.


Jangankan mommy, aku sebenarnya tak tega dan merasa bersalah padamu, tapi daddymu Eve, dia yang sudah mengusik hidupku lebih dulu. Andai Ester juga tahu bahwa kau anak dari pria yang menjebloskan aunty kesayangannya ke penjara, aku yakin kebencian Ester padamu akan lebih dari ini.


Eve yang mendapat tatapan itu langsung memutus atensinya kemudian melempar ke arah lain.


Tak ada ucapan apapun, Kellen meraih koper itu lalu menariknya dan kembali melangkah dengan lebar menuju ruang tunggu untuk boarding pass.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2