
Mobil melaju dengan kecepatan stabil, melewati jalanan yang mulai ramai di penuhi oleh kendaraan roda empat.
Eve dan Adan terlibat pembicaraan selama dalam perjalanan. Untuk mengusir rasa grogi yang menyerangnya, sesekali Eve menanyakan tentang bu Risa yang katanya tidak lagi menunjukan gejala dimensianya.
"Apa penyakit itu bisa sembuh pak Adan?" tanya Eve sedikit ragu.
"Kalau untuk sembuh total kemungkinan kecil nona, soalnya usia bu Risa sudah di kepala delapan, itu kata bik Chou yang mendengar langsung dari pembicaraan pak Pandu, pak Alvin dan juga dokter"
"Lalu, apa solusi untuk bu Risa?"
"Nyonya Risa harus minum obat secara teratur, itu anjuran dari dokter yang ahli dalam menangani penyakit dimensia di usia tua"
"Sudah berapa lama pak Adan bekerja di rumah Pak Pandu?"
"Sudah lama sekali nona" Pria itu melirik
Eve lewat spion tengah. "Sejak tuan muda El belum lahir, bahkan semenjak pak Pandu belum menikah"
"Sudah sangat lama ya"
"Sudah tiga puluh tahunan" jawab Adan.
"Kenapa bisa bertahan begitu lama pak?" Eve seakan ingin tahu.
Dia sangat penasaran kenapa bisa sang sopir mampu bertahan puluhan tahun dengan keluarga super arogan seperti Kellen. Padahal dia sendiri sudah ingin risign dari pekerjaannya yang baru beberapa bulan.
"Pak Pandu orang baik nona, bu Nayla dan nyonya Risa juga sangat baik"
"Kalau tuan El, baik juga?"
Pria yang tengah fokus mengemudi itu langsung mengangguk mantap di lengkapi dengan seulas senyum.
Dimana baiknya, kejam begitu kok di bilang baik.
Eve menghela nafas panjang, lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela sebelah kiri.
"Tuan El sudah di bandara ya pak?"
"Iya nona, tuan berangkat dari apartemen dengan pak Ben naik taxi, nanti tuan dan pak Ben akan menjemput kita di pintu masuk"
"Ohh.."
Jantung Eve berdetak kian cepat ketika mobil mulai memasuki area airport.
Semakin dekat dan semakin dekat, hingga sepasang matanya menangkap dua pria yang sangat familiar tengah berdiri sambil memegang koper masing-masing.
Sejenak, Eve terpana dengan penampilan Kellen yang tempak begitu cool dan stylish. Meski pria di sampingnya juga tampan, Kellen jauh lebih segalanya dari sang sekertaris.
Eve berusaha mengontrol emosionalnya agar bisa bersikap tenang sementara jantungnya berontak semakin gila.
Sampai ketika mobil berhenti tepat di depan kedua pria itu, Eve masih sibuk menormalkan ekspresinya. Kalau saja bisa, gadis itu pasti sudah kabur sebab sama sekali tak ingin keluar dari negaranya.
__ADS_1
Ah,, andai aku punya sihir, aku pasti sudah menghilang, dan pergi sejauh mungkin dari Kellen Austin. Tapi sayangnya, jangankan menghilang, bergeser satu langkah pun aku tak bisa, huufftt....
Gadis itu mendesah pelan.
"Nona, kita sudah sampai"
Ucapan Adan menyadarkan Eve yang tengah sibuk dengan pemikirannya.
"Tuan El dan pak Ben sudah menunggu"
"Iya pak"
Selagi Eve melepas seatbelt dan memperbaiki penampilan, Adan sudah lebih dulu turun lalu menurunkan koper milik Eve yang ia taruh di bagasi belakang.
Dengan debaran jantung yang semakin liar, Eve membuka pintu, satu persatu kakinya turun dari mobil.
Mereka berdua melangkah beberapa langkah menghampiri Kellen dan juga Ben.
"Ini kopernya nona" Adan menyerahkan koper berwarna Abu-abu saat langkahnya sampai di depan anak majikannya.
"Terimakasih pak Adan"
"Sama-sama nona"
"Sudah siap semua?" Pertanyaan Kellen untuk Eve yang langsung di anggukan kepala.
"Sudah tuan"
"Iya, hati-hati pak Adan"
"Baik tuan, saya permisi"
Setelah Adan pamit, baik Kellen, Ben dan Eve langsung berbalik dan melangkah memasuki bandara international di Macau.
Eve memilih berjalan di belakang dua pria tampan yang melangkah sembari mengobrol. Mata Eve terus menatap punggung Kellen agar dirinya tak kehilangan jejaknya.
Sama sekali tidak menyangka kalau aku akan ke Indonesia. Seperti apa Indonesia, bagaimana cuacanya, dan seperti apa penduduknya? apakah juga ada Casino seperti di Macau?
Hidup di kelilingi oleh orang asing, apa aku bisa melaluinya?
Oh my God, aku berharap waktu berputar empat kali lebih cepat.
Seraya melangkah, Eve terus membatin. Sepasang kakinya terus mengikuti langkah pria di depannya.
Tiba saatnya boardingpass, Eve sama sekali tak memegang pasport dan tiket karena Kellenlah yang mengendalikannya.
Eve, sepertinya hidup dan matimu memang ada di tangan Kellen. Lihat saja sampai dia tidak menyerahkan pasport dan tiketku, aku berjanji akan langsung pergi dari sini.
"Ve" Kellen menggoyangkan tangan tepat di wajahnya.
"Ya tuan" Eve mendongak menyamakan level mata mereka.
__ADS_1
"Ini pasport dan tiketmu"
Eve mengulurkan tangan dan menerima sodoran dari tangan Kellen.
"Ben, kau paling depan. Kau duduk di depan kursi kami"
"Iya tuan" jawab Ben.
Melihat gelegat cinta di wajah Kellen untuk Eve, sepertinya Ben harus memendam perasaan suka
terhadapnya.
Satu persatu petugas pramugari memeriksa calon penumpang, kini giliran Ben, lalu Eve, dan terakhir Kellen.
Eve berjalan menyusuri lorong pesawat, mencari nomor tempat duduk yang tertulis sesuai pada tiketnya.
"Nona Eve, ini tempat dudukmu" Kata Ben sambil menunjuk seat bertuliskan A3.
Kursi VIP yang sudah di pesan oleh Ben. Karena permintaan Kellen yang ingin duduk bersebelahan dengan Eve, sementara Ben akan duduk di depan kursi Eve dan juga Kellen.
"Aku duduk denganmu kan pak?"
"Tidak, aku duduk di depamu" sahut Ben dengan senyum yang di paksakan.
"Duduk" sambar Kellen. Suaranya sangat dekat dari telinga Eve.
Eve duduk meski dengan sorot bingung, tak lama kemudian, Kellen turut duduk di sebelah kursinya.
Apa??
Aku akan duduk satu seat dengannya?
Astaga, kenapa tidak duduk dengan pak Ben saja.
"Ada apa?" tanya Kellen setelah sudah sama-sama duduk.
"T-tidak tuan"
Meski bukan pertama kali duduk berdampingan di dalam sebuah kendaraan, setidaknya saat duduk seperti ini di dalam mobil masih ada celah di antara keduanya.
Tapi ini, jaraknya benar-benar tak terkikis, bahkan bahunya nyaris bersentuhan. Di tengah-tengah mereka untuk di duduki oleh seorang bayi saja tak ada.
Duuhh, ini gawat, maksudku, detak jantungku yang gawat.
Ah, kenapa harus duduk dengannya si?
Eve menoleh ke arah Jendela, berusaha membuang rasa gerogi yang membelitnya.
Tarik napas dalam-dalam Ve, kau pasti bisa mengontrolnya. Mengontrol detak jantungmu yang kurang ajar itu, yang berdetak tak sopan dan tak tahu aturan.
Wanita itu menggembungkan mulutnya dengan bibir terkatup, sesekali berusaha menelan ludah yang terasa tercekat.
__ADS_1
BERSAMBUNG