Personal Assistant

Personal Assistant
Rahasia


__ADS_3

Dengan langkah lebar Kellen terus mencengkram tangan Ester erat-erat, lalu menariknya dan membawa ke arah taman di belakang rumah. Ia bahkan tak memperdulikan erangan adiknya yang merintih kesakitan akibat cengkramannya.


"Kak lepas, sakit kak"


Pria itu sama sekali tak mengindahi ucapan Ester.


Sesampainya di taman belakang, baru Kellen melepas cengkramannya, itupun menghempaskannya dengan kasar.


"Apa-apaan kau Ester?" Tanya Kellen sinis.


"Apalagi kalau bukan untuk memberikan pelajaran untuk bayi sialan itu"


"Kau tidak harus menamparnya Ester"


"Kenapa kak? bukankah kakak menikahinya hanya untuk menyiksanya?"


"Tapi bukan untuk menamparnya"


"Kakak tidak terima? apa kakak sudah mencintainya?" Selidik Ester.


Kellen menghela napas kasar. Lalu berkacak pinggang dengan satu tangan sementara tangan lainnya memijat keningnya.


Dari atas balkon, ada Eve yang melihat pembicaraan kedua adik kakak itu, tapi sayang, jarak mereka terlalu jauh membuat Eve tak bisa mendengar suara mereka.


"Kalau seperti ini caranya, kakak menyesal sudah memberitahumu?"


"Menyesal kenapa kak? tidak terima karena bayi itu menjadi istri kakak sekarang, jadi kakak tidak terima jika istri kakak ku tampar"


"Apa kau kemari hanya untuk menamparnya?"


"Iya, aku ingin melampiaskan kemarahanku pada dia yang sudah merenggut aunty kita"


"Kita tidak harus menyiksa fisiknya dek, seperti aunty kita yang tersiksa hidup di penjara karena tekanan batin, kita cukup membalasnya dangan cara menyiksa batinnya. Kalau kau menamparnya, kita siksa fisiknya, kita akan kalah Ester, pikirkan baik-baik. Jika kita memukulinya, tidak menutup kemungkinan kalau dia akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan penganiayaan yang kita lakukan"


"Kakak bisa mengendalikan diri di depan dia?"


Kellen mendesah. "Jangan gegabah Tere, kakak juga marah, tapi kita tidak bisa berbuat seperti itu"


Wanita itu langsung melipat tangannya di dada, lalu membuang pandangan ke arah lain.


Sedangkan Eve, langsung kembali memasuki kamar, toh akan sia-sia mendengar pembicaraan mereka.


"Lebih baik sekarang kau istirahat, kau tempati kamar di sebelah kakak"


"Tapi aku tidak sudi ya, kakak jatuh cinta sama dia"


Hening, Kellen tak mampu merespon kalimat sang adik.


"Kita masuk yuk" Ajak Kellen setelah hening beberapa saat.


"Kakak jawab dulu"


"Iya"


"Janji"


"Sudahlah, lebih baik kita masuk sekarang" Kellen merangkul pundak Ester dan melangkah masuk.


"Kau meninggalkan suamimu hanya untuk menampar Eve?" tanya Kellen seraya terus melangkahkan kaki.


"Iya kak, tapi kebetulan dia sedang di Beijing karena ada urusan bisnis di sana"


Ketika langkah mereka telah sampai di dalam rumah, mereka sama-sama menaiki tangga, kemudian berpisah di depan kamar.


Ester yang akan menempati bekas kamar Eve, langsung berjalan menuju pintu. Sementara Kellen memasuki kamarnya yang kini juga menjadi kamar sang istri.


Pelan, Kellen membuka pintu kamar. Ia mendapati istrinya sudah tidur dengan posisi terlentang.

__ADS_1


Duduk di tepian ranjang, fokusnya terus terarah ke pipi Eve yang agak membiru.


Maaf Ve!


Dua kali Ester menamparmu, pasti sakit kan?


Ragu-ragu Kellen mengulurkan tangan lalu mengusap lembut pipinya.


Maaf.


Bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Kellen menyesal sudah memberitahukan Ester tentang Eve. Karena dia tak tahan harus menyimpannya sendiri apalagi di sisi lain ada secercah cinta untuk bayi itu. Benar-benar tak bisa mengendalikan antara cinta dan kebencian.


Keluar kamar mandi, dia melangkah ke arah ranjang. Bersiap merebahkan diri di samping istrinya.


***


Paginya, aktifitas di lakukan seperti biasa. Bedanya, akan ada Ester duduk di meja makan untuk sarapan bersama.


Sembari menata makanan di atas meja, kepala Eve di penuhi pertanyaan kenapa Ester tiba-tiba datang dan menamparnya. Padahal seingat dia, baik hari kemarin maupun hari-hari sebelumnya, dia merasa tak pernah sekalipun berhubungan dengan Ester apalagi membuatnya naik pitam.


"Ayik, tolong lanjutkan menata menu-menu yang lain, aku harus bantu El siap-siap"


"Iya nona"


Usai mendengar jawaban Nuri, Eve langsung melangkahkan kaki menaiki tangga. Ia akan membantu suaminya menyiapkan segalanya.


Kembali turun, Eve melangkah di belakang Kellen dan Ester yang berjalan bersisian.


Lihatlah, mereka seperti sepasang suami istri sementara aku pembantunya.


Aku benar-benar di anggap mainan, bukan seorang istri yang di gandeng dengan mesra oleh suaminya lalu mengantar sampai depan rumah. Ada kecup di kening sebelum suaminya pergi bekerja.


Kellen dan aku? Sekalipun pria itu tak pernah memperlakukanku semanis itu.


Aku harus menarik kursiku sendiri sementara adiknya? Dia menarik kursi untuk Ester duduki.


"Kak, nanti aku ke rumah sakit ya, pengin lihat rumah sakitnya autny soalnya"


Dia berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


"Boleh, tapi kalau mau kesana, siangan ya biar nanti kakak temani lihat-lihat dari lantai satu sampai lima, sekalian temani kakak makan siang"


"Okey deh"


"Ingat pesan kakak, jangan bicara apapun di depan dia"


"Tidak masalah kalau kita ngobrolnya pakai bahasa sini, si bodoh kan tidak tahu kak"


"Meskipun dia tidak tahu kita ngobrolin apa, tetap saja jangan katakan apapun di depannya, pokoknya kakak tidak mau kau kelepasan bicara"


Disini, Eve berpura-pura sebagai orang yang tidak tahu apapun, meskipun tidak sepenuhnya paham dengan bahasa yang mereka gunakan, setidaknya Eve tahu jika mereka tengah menggunjingnya dan mengatainya bodoh.


"Aku tidak menyangka, ternyata target kita selama ini itu dia, dekat dengan kita kak"


Target? Target apa?


"Please Ester, jangan bahas ini di depan dia okey"


"Iya-iya kak, maaf"


Lalu hening, mereka fokus melanjutkan sarapannya tanpa banyak bicara.


"Kakak berangkat dulu"


"Hati-hati ya kak"

__ADS_1


"Hmm" pria itu menyahut sembari melangkah pergi.


Setelah kepergian Kellen, Ester menatap sinis ke arah Eve, tanpa mengatakan apapun, dia yang mendapat tatapan itu berusaha setenang mungkin agar emosinya tak terpancing.


"Ada yang aneh denganku Ester?" tanya Eve sesantai mungkin.


"Entahlah, sepanjang aku bertemu dengan seseorang, tidak pernah sekalipun aku hilang kendali lalu menamparnya. Tapi wajahmu itu, benar-benar memuakkan"


Eve tersenyum miring. "Asal kau tahu Ester, aku tidak akan membalas apa yang kau lakukan padaku tadi malam, anggap saja kau sedang melampiaskan amarahmu karena El sudah memilihku menjadi asisten sekaligus istri dari pada sahabatmu. But the next time, jangan salahkan aku kalau suatu saat aku membalas tamparanmu lebih dari dua tamparan"


Merasa geram, alih-alih merespon kalimat Eve, Ester justru berteriak memanggil Nuri.


"Ayiik!"


"Iya non" dengan tergopoh Nuri menghampiri meja makan.


"Bersiap-siaplah sekarang, temani aku berkeliling Jakarta"


"Baik non, tapi setelah saya membereskan semua ini ya"


"Tidak perlu ayik, biar dia yang bereskan" kata Ester melirik Eve. "Kau, bereskan semuanya, gantikan pekerjaan ayik Nuri hari ini. Jangan lupa, bereskan juga kamarku, jika kau tidak mengerjakan semua pekerjaan ayik Nuri, maka ayik Nuri yang akan ku pecat"


Ester langsung beranjak usai mengatakan itu. Mengabaikan tatapan Eve yang menyorot penuh benci.


"Saya bantu sedikit ya non"


"Tidak usah, ayik siap-siap saja, aku tidak mau ayik kehilangan pekerjaan"


"Tenang saja non, nona Ester tidak akan berani memecat saya"


"Tidak bik, aku tidak mau ambil resiko. Aku bisa kok"


"Yang sabar ya non"


Nuri sangat tahu bagaimana kondisi rumah tangga majikannnya.


"Menyatukan dua kepala yang isinya jelas berbeda itu susah non" ucapnya memberikan semangat. "Jangankan buat yang sudah menikah, yang pacaran saja kadang sampai putus nyambung berkali-kali. Tapi bedanya, kalau ikatan pernikahan tidak semudah itu di putuskan sebab ada janji yang sudah di ucapkan, bukah hanya di depan penghulu, wali dan saksi nikah, tapi juga di hadapan Tuhan" Nuri diam sejenak seraya mengamati wajah Eve. "Apapun masalah yang muncul dalam rumah tangga itu biasa, asalkan kita bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Begitu juga dengan nona Eve dan tuan El, meskipun ada banyak masalah dalam rumah tangga kalian, tapi yakinlah semua bisa di lalui. Jika tuan El tak pernah mau bersabar, dan selalu menang sendiri, nona Eve jangan lengah untuk memberikan perhatian, suatu saat tuan El pasti luluh, dan pernikahan kalian akan berjalan harmonis seperti tuan Pandu dan bu Nayla"


Eve mengangguk, setuju dengan apa yang di katakannya barusan.


"Makasih ya ayik"


"Sama-sama non. Jangan hiraukan ucapan nona Ester, ayik yakin tuan El akan membela nona jika dia berani macam-macam sama nona Eve"


Hhhhh,, apa benar Kellen akan membelaku di depan adik sepupunya?


Sepertinya kemungkinannya sangat kecil.


Di tengah-tengah membereskan meja makan dan mencuci semua piring bekas makan, ingatan Eve jatuh pada ucapan Ester yang mengatakan jika dialah targetnya selama ini.


Apa maksud ucapannya?


Aku terget mereka?


Tapi target apa?


Wanita itu mendesah...


Aku akan mencari tahu, tapi bagaimana caranya?


Mengatupkan bibir, lalu kembali membatin.


Hah,, sepertinya aku memang harus belajar lebih banyak bahasa mereka. Aku pasti bisa dan aku pasti akan tahu rahasia mereka.


Entah target apa yang mereka maksud? Setidaknya sekarang aku sudah tahu meskipun hanya sebagian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2