Personal Assistant

Personal Assistant
Ungkapan hati


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, berjalan tanpa meoleh ke belakang. Mataharipun seakan bergulir begitu singkat, baru saja muncul dari ufuk timur, tahu-tahu sudah tenggelam di bagian barat.


Di setiap harinya, Kellen selalu membuat darah Eve mendidih hingga perlakuannya menimbulkan denyutan nyeri yang tak kasat mata di dalam sana. Sebab ia tak berani membantah apalagi melawannya.


Pagi ini usai melayani sang suami menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa ke kantor, Eve merebahkan dirinya di atas kasur.


Ia menatap langit-langit kamar yang tampak begitu mewah. Kamar yang sudah ia tempati hampir dua minggu bersama Kellen, kamar yang juga menjadi saksi kebringasan suaminya dalam menjelajahi tubuhnya. Sentuhan itu benar-benar seperti sebuah pelampiasan amarah.


Beribu pertanyaanpun terkumpul di dalam isi kepala Eve, namun hingga detik ini dia belum juga mendapatkan jawabannya.


Dia bahkan tak mampu berspekulasi sebab ia tak menemukan alasan apapun di balik sikap dan perlakuannya. Hanya menangislah yang bisa ia lakukan untuk melepaskan segala sesak yang menghimpit dadanya.


Larut dalam drama yang menyakitkan, sebuah ketukan pintu tiba-tiba membuatnya tersadar. Eve berusaha bangkit menahan tubuhnya yang terasa remuk.


"Iya ayik?" ucapnya ketika pintu terbuka.


Dua minggu tak melakukan pekerjaan kantor, membuat Eve belajar tentang bahasa Indonesia. Sedikit banyak ia sudah mulai mengerti dan bisa munggunakannya, tapi tidak di depan suami serta Nuri. Ini akan menjadi rahasianya dengan harapan ia akan tahu alasan dari pria yang menikahinya atas dasar ancaman.


"Ada tamu nona"


"Siapa ayik?"


"Wanita itu bernama Nara"


Nyonya Nara?


Entah kenapa hatinya berbunga hanya dengan mendengar namanya.


Abaikan suami gila itu Eve. Nyonya Naralah yang datang kemari jadi aku harus menemuinya, sementara peraturannya, aku tidak boleh keluar dan bertemu keluarga Nalendra.


Tak pikir panjang, Eve langsung melangkah untuk menemuinya___


Nara berdiri begitu melihat Eve muncul di ruang tamu. Perasaan gelisah yang ia tahan sejak beberapa minggu lalu, kini berubah menjadi ketenangan setelah melihat gadis seusia putrinya yang hilang.


Mereka saling berpelukan untuk menuntaskan kerinduan yang sama-sama mereka pendam. Pelukan yang lebih dari satu menit, yang membuat keduanya tanpa sadar meneteskan air mata.


Ketika pelukan itu terurai, Eve dan Nara sama-sama menyadari air mata mereka.


"Nyonya menangis?"


"Tidak, saya hanya senang bertemu lagi denganmu" jawabnya jujur. "Lalu, kenapa kamu menangis?"


"Sama nyonya, saya juga senang bisa bertemu dengan anda. Mari silakan duduk"


Mereka duduk saling berdampingan dengan tangan yang masih saling menggenggam.


"Apa kabarmu? kenapa tidak pergi ke rumah sakit?"


"Kabar saya baik nyonya, saya harus mengurus suami saya, jadi dia melarang saya untuk bekerja"


"Mertua kamu gimana?"


Sesuatu yang Nara khawatirkan ketika seorang bos menikahi asistennya. Takut jika dia memiliki nasib yang sama seperti dirinya.


"Mertua saya baik nyonya"


Tapi suamiku yang justru tidak memperlakukanku dengan baik.


Sayangnya Eve hanya mampu berkata dalam hati.


"Benar?"

__ADS_1


"Benar, mereka bahkan menyayangiku seperti anak kandungnya"


"Syukurlah"


"Silakan di minum nyonya" suara Nuri membuat keduanya kompak menoleh.


"Makasih mbak" jawab Nara sambil tersenyum.


"Sama-sama"


Setelah kepergian Nuri, mereka kembali melanjutkan obrolan.


"Oh ya Eve, Sesekali ikut suamimu ke rumah sakit, atau ajak dia datang kerumah saya, kita makan malam bersama"


Andai saja bisa nyonya, bahkan aku ingin setiap hari berkunjung ke rumah anda, karena bertemu dengan keluarga anda aku seperti bertemu dengan mamah, keluargaku sendiri.


"Sesekali juga terima ajakan suamimu keluar, biar tidak jenuh setiap hari di rumah" tambahnya masih dengan sorot lekat menatap Eve.


Ajakan suami? apa dia bilang aku menolak ajakannya pada nyonya Nara? licik sekali dia, Sekali saja pria brengsek itu tidak pernah mengajakku, bahkan dia sama sekali tak mengijinkanku keluar rumah.


"Nanti kita bisa me time sama-sama, di kenalin juga sama teman-teman Amara yang lain, supaya makin banyak teman di sini"


"Iya nyonya"


Hampir tiga puluh menit berbincang, Nuri kembali menghampiri mereka kali ini untuk memberitahukan bahwa Kellen menelfon.


Jantung Eve seketika berdebam mendengar nama Kellen, fokusnya langsung buyar memikirkan hukuman yang akan ia terima nanti malam.


"Nyonya, maaf sekali, saya harus mengangkat telfon dari suami saya dulu"


"Oh iya Ve, sekalian saya pamit ya, sudah cukup lama juga kita mengobrol"


"Iya nyonya"


Selang satu menit, ponselnya kembali bergetar. Eve buru-buru menerima panggilanya lalu menempelkan benda itu di telinganya.


"I-iya El?"


"Siapa yang datang?"


Sepertinya pria itu bertanya tanpa ekspresi. Andai Eve tahu seperti apa tajamnya mata Kellen, pasti dia sudah beringsut dengan tubuh gemetar.


"Nyonya Nara El"


"Kau lupa dengan peraturanku?"


"Dia datang El, aku hanya menemuinya sebagai tamu"


"Tetap saja kau sudah melanggarnya"


"Maaf"


"Atau kau memang sudah tidak menyayangi mamahmu?"


"Tidak El"


Setelah itu hening, tak ingin berdebat melalui telfon, Kellen mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Sampai ketika di malam harinya, usai makan malam dalam diam mereka sama-sama memasuki kamar dengan kondisi batin yang berbeda.


Begitu sampai di kamar, Samar-samar Eve mendengar pembicaraan Kellen melalui ponsel. Pria itu berkata agar para anak buahnya terus mencari keberadaan Isna dan mengumpulkan bukti untuk menjebloskan Shella ke dalam penjara. Meskipun Kellen menggunakan bahasa Indonesia, Eve sedikit faham tentang pembicaraan mereka.

__ADS_1


Eve berpikir jika sang suami sedang mencari pelaku penculikan bayi di rumah sakitnya dulu.


Tak lama kemudian suasana tenang kembali, tak ada lagi suara Kellen berbicara melalui telfon.


Ketika Eve sedang memasukkan baju yang sudah ia setrika ke dalam lemari, jantung Eve di buat hendak melompat keluar ketika tiba-tiba pria itu berdiri di belakangnya. Jantungnya kian ribut di dalam sana saat ia membalikkan badan dan berdiri sangat dekat. Bahkan hembusan napasnya terasa menyapu wajahnya.


"Lupa dengan pesanku?"


Cepat, Eve menyanggahnya dengan gelengan kepala.


"Terus, kenapa bisa menemui dia?"


"Dia datang, jadi harus ku temui El"


"Harus kau temui?" ulangnya yang langsung di iyakan dengan anggukan kepala oleh Eve.


"Tapi senang ketemu dia?"


Eve diam dengan menggigit bibir bawah.


Melihat Kellen mendekatkan wajahnya, otomatis Eve memejamkan mata erat-erat dan mengatupkan bibir rapat-rapat.


Saat Wanita itu merasakan hembusan nafas suaminya yang kian terasa kuat menerpa wajah, dia langsung menoleh ke samping.


"Sudah faham dengan hukuman yang harus kau terima?" tanya Kellen sinis tepat di telinga Eve.


Eve mengangguk.


"Tapi_" kata Eve ragu.


"Tapi apa?" potong Kellen cepat sambil memalingkan kembali wajah Eve agar menatapnya. "Mau protes?"


"Bisa besok saja El, beberapa malam ini bukankah kita sering melakukannya"


"Kenapa?"


"Aku lelah"


Saat tanpa sadar Eve menurunkan pandangan, namun dengan cepat satu tangan Kellen menyentuh dagunya membuat Eve kembali mendongak.


"Beri aku waktu untuk is_"


Kalimat Eve terpenggal karena tiba-tiba Kellen menempelkan bibirnya di bibir Eve. Ciuman kasar yang sama seperti sebelum-sebelumnya.


Tubuh Eve rasanya menegang, sapuan bibirnya yang kasar, serta gigitan kencangnya seperti membawa aliran listrik yang membuat aliran darahnya seketika beku, bersamaan dengan gelenyar aneh yang mampu melelehkan jaringan di otaknya dan membuat tubuhnya seketika terkulai lemas.


Pria itu menarik tangan Eve lalu menghempaskannya ke atas kasur.


Detik berikutanya, tangan Kellen terulur membalikkan badan Eve lalu menempatkan dirinya di atas tubuhnya.


"Jangan kau ulangi pertemuan itu" kata Kellen tanpa mengikis jarak wajah mereka. "Jangan temui dia jika datang kembali, mengerti?"


Eve menelan ludah kemudian mengangguk.


Lalu hening, mereka sama-sama menatap dengan sorot nanar.


Cukup lama mereka sama-sama tak bersuara, Eve memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa kau tidak mencintaiku El, sedikit saja?" tanya Eve. Dia seperti hilang kesabaran dengan perasaannya. Eve sangat berharap jika kejujurannya nanti, akan membawa perubahan dalam hubungan pernikahannya agar bisa menjalani hubungan suami istri secara normal.


"Meskipun kau memperlakukanku dengan begitu kasar, sebagai istri, perasaan cinta itu tetap ada di dalam hatiku untukmu El"

__ADS_1


Terdiam, Kellen tak bisa memberikan respon apapun atas ungkapan hati istrinya.


Bersambung.


__ADS_2