Personal Assistant

Personal Assistant
Kemarahan


__ADS_3

Mendengar penolakan Eve, sepertinya Kellen memang harus berusaha lebih keras lagi untuk membujuk sang istri agar mau menerima permintaan maafnya.


"Tadi kenapa langsung pulang? tidak berpamitan dulu sama daddy sama mertuamu juga?"


Nayla mengantar teh jahe kesukaan putranya ke kamar.


"Eve malah meminta cerai mom"


"Cerai?"


"Hmm"


Rambut Kellen yang masih basah, membuat Nayla melangkah menuju lemari lalu meraih handuk kecil.


"Kesalahanmu memang sangat fatal. Mommy fikir kau mencintai Eve, tapi tidak tahunya malah ingin membalas sikap daddy mertuamu karena sudah memenjarakan aunty"


"El memang mencintainya mom"


"Mommy tahu"


Tangan Nayla dengan telaten bergerak mengeringkan rambut Kellen menggunakan handuk yang ia ambil tadi.


"Kalau mommy ada di posisi Eve, mungkin mommy juga akan ambil sikap yang sama"


"Terus mommy setuju kalau El pisah sama Eve, begitu?"


"Bukan, mana mungkin mommy setuju" sergah Nayla. "Eve itu wanita yang baik, jelas mommy tidak mau kehilangan menantu sepertinya. Dan kau harus terus berusaha mendapatkan maafnya, dia pasti akan luluh, El"


"Meskipun dia meminta cerai mom?" Kellen mendongak mencari netra Nayla. Disana Kellen bisa melihat anggukan kepala mommynya.


Nayla yang sempat menghentikan gerakan di atas kepala sang putra, kini kembali bergerak pelan.


"Terus berusaha, yakinkan dia kalau kau benar-benar ingin dia kembali padamu, berikan perhatian lebih, misalnya kirim bunga, perhiasan, atau makanan kesukaannya"


"Eve tidak suka perhiasan"


"Kalau gitu ganti yang lain, misalnya pakaian hamil. Perut Eve kan perlahan akan membesar, nah kamu kirim pakaian khusus untuk ibu hamil, tulis ucapan juga"


"Ngapain tulis ucapan, jatuhnya malah lebay mom"


"Ya tidak dong El" Kata Nayla menangkis. "Sudah kering nak" lanjutnya sambil merapikan rambut putranya.


"Makasih mom"


"Kalimatnya tidak perlu panjang-panjang, cukup I miss you, atau I love you"


"Itu kuno mom"


"Miss you my muse mungkin" imbuh Nayla. "My future bisa juga. Banyak sekali kata-kata manis yang langsung membuat hati wanita terkesan, El"

__ADS_1


Kellen bergeming seraya berfikir.


"Ya sudah, mommy keluar dulu, istirahatlah, siapkan dirimu menghadapi morning sick besok pagi" celetuk Nayla yang membuat Kellen seketika bergidik membayangkan setiap kali muntah di pagi hari.


"Good night my pipo-pipo"


****


Jam dinding sudah menunjuk di angka sembilan, Ben yang sedang ke kantor polisi bersama pengacaranya pagi ini belum juga memberi kabar tentang laporannya"


Sementara Shella, berniat melarikan diri dari Indonesia. Ia berencana pergi ke Australia dalam waktu dekat tanpa sepengetahuan Rena tentunya. Namun sepertinya dia tidak akan bisa kabur sebab ada beberapa anak buah Kellen yang sudah di perintahkan untuk mengawasi kediaman Shella.


Merasa geram dan sudah tidak sabar, Kellen akhirnya memutuskan pergi ke rumah Shella.


"Bisa bertemu dengan Mishella?" Dia yang sudah beberapa hari ini menjadi pembantu atas perintah Rena di rumahnya sendiri, membuat Kellen tak menyadari jika yang berdiri di hadapannya saat ini adalah yang dia cari.


"M-Mishella?" Wanita paruh baya itu tergagap. Wajah Kellen yang kerap sekali muncul di koran, tentu saja bisa dengan mudah di kenali olehnya.


"Dimana dia?" tanya Kellen datar tanpa ekspresi. Sepasang matanya yang di lingkupi kaca mata hitam, membuat Mishella tak tahu seperti apa kilat tajamnya.


"N-Nyonya sedang tidak ada, tuan"


"Dimana dia?"


Kellen Austin tidak mengenaliku? ternyata ada untungnya juga aku memakai pakaian pembantu seperti ini. Dengan penampilanku yang kucel dan kusam, pasti dia menyangka jika aku adalah ARTnya.


"Kau tuli?"


"Katakan yang jelas" sentaknya dengan raut tegas.


"Dia sudah meninggal, tuan"


"Apa? sudah meninggal" Pria itu melepas kacamatanya.


"I-iya tuan"


Astaga, bagaimana bisa aku mengatakan diriku sudah meninggal.


Tapi apa boleh buat, seperti dugaanku Tama pasti meminta bantuan menantunya untuk membuka kasus ini kembali.


"Maaf tuan, saya tidak bisa menerima tamu saat ini, karena majikan saya sedang tidak berada di rumah"


"Siapa majikanmu?"


"Nona Rena putri dari almarhum suami sa_, m-maksud saya suaminya nyonya Shella"


"Kau pikir kau bisa menipuku?"


Kellen langsung mencengkram dagunya kuat-kuat setelah cukup lama beradu pandang dan mencurigai gelagat anehnya. Diapun akhirnya menyadari jika wanita di hadapannya adalah Shella.

__ADS_1


"Apa maksudmu mengatakan jika Shella sudah tiada?"


Kedua tangan Shella memegang pergelangan tangan Kellen yang kini tengah menekan kedua pipinya.


"Kau pikir bisa kabur dariku?" Kellen tersenyum meremehkan. "Aku tidak sebodoh itu, wanita licik"


Tiba-tiba terdengar suara satpam yang datang menghampirinya.


"Apa maksud anda membuat keributan di sini tuan?"


Kellen menoleh. "Diamlah jika tidak ingin berurusan denganku"


"Kau yang diam karena sudah melakukan kejahatan di rumah majikan kami"


"Aku hanya ingin menangkap wanita ini, jadi tutup mulutmu jika tidak mau anak buahku menghabisi keluargamu" Pandangan Kellen kembali beralih menatap Shella. Sementara si satpam, langsung terdiam mendengar ancamannya.


"Lepaskan aku, tuan?"


"Apa? melepaskanmu?" Kellen terkekeh geli. "mana mungkin aku melepaskan wanita yang sudah membuat tanteku harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, dan lagi, tidak mungkin aku membiarkan wanita yang sudah memisahkan istriku dari keluarganya bebas begitu saja"


"Atau kau memang ingin mati saat ini juga?" cicit Kellen dengan nada meledek. "Aku bisa membantu nyawamu terlepas dari ragamu, kalau kau mau"


"Aku tidak tahu soal tante dan istrimu, bukan aku yang melakukannya"


"Sudah ku bilang, aku tidak bodoh Shella, aku tahu segalanya, Shola dan isna, sudah berada dalam genggamanku, mereka sudah mendekam di penjara saat ini"


"S-Shola?"


"Kenapa? kau terkejut mendengar namanya?"


"Bukankah kau memberikan imbalan yang cukup fantastis padanya untuk sebuah misi menghancurkan family care dan membalas rasa sakit hatimu pada ibu mertuaku? bukankah kau membayar Isna untuk merawat bayi yang kau culik selama tiga bulan? mereka sudah mengakuinya Shella, dan sebentar lagi kau akan menyusul mereka ke dalam penjara"


Shella berdecih. "Apa kau memiliki bukti akurat kalau aku yang melakukannya? Sholla dan Isna bisa saja memfitnahku karena mereka tidak memiliki bukti apapun terkait hal itu, tuan Kellen"


"Kurang ajar kau, berani mengatakan itu di depanku"


Hilang kesabaran, tangan Kellen yang masih bertahan mengapit kedua pipinya langsung menghempaskan Shella hingga wanita itu jatuh tersungkur.


Shella yang sudah semakin tua, membuatnya lemah dan tak secerdik dulu.


Pria itu berjongkok di hadapannya salah satu lengannya bertumpu pada lututnya, sementara tangan lainnya kini mencerngkram leher Shella.


"Kau salah sudah berurusan denganku Mishella" ucapnya dengan penuh penekanan, tangannya semakin kuat mencekik lehernya.


"Jika hukum negara tidak bisa memenjarakanmu, maka aku sendiri yang akan membunuhmu, dengan tanganku sendiri"


"B-bunuh saja a-aku" ujar Shella dengan susah payah. "Aku senang jika kau mendekam di penjara, dengan begitu, keluarga Tama pasti akan kembali menderita dengan menanggung malu karena putrinya memiliki suami seorang pembunuh"


Mendengar kalimat Shella, tangan Kellen semakin kuat, semakin kuat sebelum kemudian mendengar suara dari balik punggungnya.

__ADS_1


"Hentikan tuan!"


Bersambung


__ADS_2