
Sore, tepatnya pukul 17:00 Wib, Alvin datang bersama Risa ke Indonesia sebab sudah dua hari ini dimensianya kambuh dan dia terus menanyakan tentang Tania. Wanita yang sudah berusia di kepala delapan ini terus merengek ingin bertemu dengan Tania.
Karena Pandu sangat sibuk, jadi Alvinlah yang menemani Risa untuk perjalanan Macau-Hongkong-Indonesia. Kebanyakan perjalanan udara dari Macau ke Indonesia memang seringkali transit, kalau tidak di Hongkong ya di singapura.
Risa merasa sangat bahagia ketika sampai di rumah peninggalan sang putri. Selain itu, kerinduannya terhadap Tania juga akan segera sirna.
"Tuan Alvin, bu Risa" sapa Nuri begitu membuka pintu utama. "Mari masuk, tuan"
"Makasih Nur"
"Siapa dia Vin?" tanya Risa sambil melirik Nuri dengan sinis. Langkahnya tertuju ke rung tengah di mana ada TV LED selebar empat puluh inchi
"Loh bu Risa lupa sama saya? saya Nuri bu"
"Nuri? siapa Nuri?"
"Dia Nuri bu, yang ibu percaya buat menemani Eve disini"
"Eve siapa Vin?"
"Maksudku Tania bu"
"Tania?" gumam Nuri bingung. "Mari duduk dulu tuan"
"Kok sepi Nur?" tanya Alvin lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di sofa.
"Iya tuan, non Eve dan tuan Kellen lagi ke rumah sakit"
"Mereka baik-baik saja kan?"
"Mereka baik-baik kok tuan"
"Vin, mana Tania?"
"Tania lagi di rumah sakitnya bu"
"Oh jadi belum pulang?"
"Belum bu"
"Ya sudah ibu masuk ke kamar Tania dulu ya"
Nuri menatap Risa yang pergi menjauh dari area ruang keluarga.
"Tuan Alvin, ini bu Risa kenapa kok nona Tania terus yang di sebut"
Nuri memang belum tahu kondisi Risa yang menderita penyakit pikun dan menganggap Tania masih hidup yang ia kira adalah Eve.
"Ibu terkena dimensia Nur"
"Dimensia? apa itu tuan?"
"Dimensia itu sejenis penyakit lupa atau pikun"
"Jadi, bu Risa lupa soal kematian nona Tania, tuan?"
"Iya Nur" jawab Alvin lalu bangkit dan duduk.
"Ibu ingatnya Tania masih hidup dan malah mengira kalau Eve itu Tania"
"Astaga, saya baru dengar penyakit kayak gitu, tuan"
Alvin mendesah pelan. "Tolong ya Nur, nanti panggil Eve dengan nama Tania, kalau tidak takutnya ibu langsung menjambak rambutmu"
"Hah? menjambak tuan?"
"Iya, istriku dan kak Nay selalu jadi korban jambak oleh ibu, karena mengira sudah bersikap jahat pada Tania"
"Ya ampun kasian sekali bu Delita dan bu Nayla"
"Ya begitu Nur" sahutnya lalu menarik napas panjang. "Bikinin saya kopi, terus taruh di kamar tamu ya"
__ADS_1
"Baik tuan"
"Kamar tamunya sudah di beresin kan?"
"Semua ruangan selalu saya bersihin tuan"
"Okay. Cepat sedikit kopinya ya"
"Iya tuan"
Alvin berjalan menuju kamar tamu sementara Nuri melangkah ke arah dapur dengan sekelumit kebingungan tentang Risa.
***
Malam harinya, Nuri sudah menyiapkan makan malam dengan berbagai menu. Ia bersiap membangunkan Alvin yang sepertinya tertidur di kamar tamu sejak kedatangannya.
"Nuri, Kellen dan Eve belum pulang?" tanya Risa yang sudah kembali ingat dengan masa saat ini.
"Belum bu, nona Tania dan tuan El sepertinya pulang telat"
"Apa kau bilang, Tania?" Risa mengernyit dengan alis menukik.
"Iya bu"
Wanita itu seketika teringat dengan ucapan Alvin yang harus menyebut nama Tania di depan Risa, tapi sayangnya saat ini kesadaran Risa sudah kembali setelah tertidur hampir satu jam di kamar Kellen, dan Nuri tidak menyadari akan hal itu.
"Tania sudah meninggal Nuri, kenapa kau bilang Tania dan Kellen akan pulang terlambat?"
"I-itu, A-nu bu maksud saya nona Eve bu"
Risa menggelengkan kepala, menarik kursi makan kemudian duduk.
"Ini sudah siap semua Nur, buat makan malamnya?"
"Sudah bu"
"Sisihkan dulu buat Kellan sama Eve, terus panggil Alvin"
Kata tuan Alvin, bu Risa dimensia, tapi sekarang, dia baik-baik saja sepertinya._____
Mereka menikmati makan malam. Seperti biasa, Nuri selalu makan di meja bersama Risa. Kebiasaan sejak dulu memang, Risa yang pernah di rawat oleh Nuri, di mandikan, di suapi, dan di layani membuat Risa begitu menyayangi Nuri.
Sementara di rumah sakit, Kellen merasa malas pulang ke rumah, ia sama sekali belum tahu jika paman serta neneknya datang. Pria itu berkali-kali mengusap wajahnya dengan gusar. Sebagian dalam dirinya menyesal telah memperlakukan istrinya demikian, tapi sebagian lagi dia memang harus memberikan pelajaran supaya Eve tak mengulanginya.
"Ckk Eve, kau benar-benar membuatku murka, apa salahnya menurut dan tetap di rumah"
"Aarrghh,,, shi***"
"Tuan sudah waktunya pulang" kata Ben menyela lamunan bosnya.
"Jam berapa sekarang Ben?"
"Hampir jam sembilan, tuan"
Oh ya ampun sudah malam ternyata.
"Ayo Ben, kita pulang sekarang"
"Baik tuan"
Mereka berjalan menuju area parkir, Ben yang sudah siap dengan kemudinya, sekilas melirik Kellen melalui spion tengah. Pria itu duduk di bangku belakang tengah melamun tentang kemarahannya pada sang istri.
"Tuan apa kau baik-baik saja?" tanya Ben memberanikan diri.
"Iya Ben, aku baik-baik saja"
Ben mengangguk dengan bibir terkatup.
Kemudian hening, hingga tahu-tahu mobil sampai di pelataran rumah.
Kellen turun dari mobil begitu mobilnya berhenti, kemudian melangkahkan kaki menuju gudang tanpa sepengetahuan Ben.
__ADS_1
Dan Ben, memang selalu menjadi sopir antar jemput untuk Kellen. Dia selalu langsung pulang ke apartemennya setelah mengantar atasannya.
Dari jendela kamar ruang tamu, ada sosok yang mencurigai langkah Kellen. Pria itu sedang menyesap rokok sembari menikmati semilir angin di malam hari.
"El?" gumam Alvin, lalu mematikan bara di rokok yang masih panjang. "Mau apa anak itu?"
Merasa penasaran, Alvin segera keluar dari kamar, hendak menyusul Kellen yang tampak berjalan menuju gudang.
Di dalam gudang,
Eve terperanjat dengan raut pucat ketika mendengar suara decitan pintu terbuka. Wanita itu langsung berdiri ketika menyadari ruang gudang menjadi terang menyilaukan, dia sedikit menyipitkan mata karena pancaran cahaya lampu.
"Bagaimana hukuman kali ini?" Tanya Kellen menyeringai tajam.
"El, aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku"
"Bagus" sahut Kellen sadis. "Apa jaminannya kalau kau tidak akan mengulanginya lagi?"
Eve terdiam. Sementara dari balik pintu, ada yang mengintip dan menguping pembicaraan mereka. Pria itu menahan amarah dengan rahang mengerat dan tangan mengepal kuat.
"Apa kau bersedia ku kurung selama dua hari jika melakukan kesalahan yang sama?"
Eve mengangguk, wajahnya tampak kuyu dan lelah seperti kekurangan cairan.
"Baiklah" Kellen mencengkram dagu Eve. "Kau ku bebaskan, tapi ingat! jangan keluar dari rumah ini tanpa seijinku, mengerti?"
"Kellen!" Teriakan Alvin bersamaan dengan anggukan kepala Eve yang merespon ucapan suaminya.
Reflek, kellen melepas cengkramannya dari dagu Eve. Sepasang suami istri itu kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Uncle!" Lirih Kellen dengan terbata.
Pria itu melangkah lebar memasuki gudang lalu menarik tangan Kellen supaya bangkit.
Tanpa aba-aba, dua tamparan sekaligus melayang mengenai pipi kanan dan kiri pria itu.
"Apa-apaan kau El?" matanya tajam, setajam pisau yang baru di asah.
"Uncle, a-aku"
Mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.
"Apa kau pernah melihat daddymu memperlakukan mommymu seperti ini? apa kau pernah menyaksikan daddymu bersikap kejam pada istrinya, Apa kau juga pernah melihat uncle menyakiti aunty Delita?"
Kellen menelan ludah dengan susah payah, sama sekali tak mampu menjawab pertanyaan pamannya. Sementara Eve masih duduk dengan menempelkan kening di kedua lutut. Ia menyembunyikan wajahnya yang sembab dan pucat menyorot penuh luka.
"Jawab?" Sentak Alvin dengan nada tinggi.
Sunyi selama beberapa detik.
"Kau terlahir dari wanita berhati lembut El, bagaimana bisa kau bersikap kasar terhadap istrimu sendiri?"
"Uncle memang pernah menjadi pria jahat dan kasar, uncle memang pernah menyakiti hati banyak wanita, tapi setelah menikah, apa auntymu pernah mengeluhkan sikap uncle pada genma? pada genfa Hermawan?"
Kellen tertunduk.
"Kau tidak bisa menjawab rentetan pertanyaan unclemu?"
Ketika pertanyaannya tak mendapat jawaban, Alvin membuang napasnya dengan kasar. Pria paruh baya itu menunduk, mengalihkan pandangan ke arah Eve sekilas, lalu kembali menatap keponakannya.
"Masuk, dan tunggu uncle di ruang kerja!" pekiknya dengan suara lantang.
Pria itu bergeming sambil menatap sang paman yang tengah membantu Eve berdiri.
"Ayo nak, bangun! kita masuk ke rumah" lanjut Alvin merujuk ke Eve.
Setelah berhasil membantu Eve bangkit, pria itu menatap lekat wajah Kellen yang masih berdiri di tempat semula.
"Kau harus menjelaskan pada uncle" sinis Alvin lalu menuntun Eve dengan merangkul pundaknya.
Bersambung.
__ADS_1