Personal Assistant

Personal Assistant
Penangkapan Shella


__ADS_3

Kellen dan Shella kompak menoleh ke arah sumber suara.


"R-Rena tolong mamah sayang" ucap Shella dengan terbata.


"Tuan El, lepaskan tuan" Sela Ben cepat.


Rena memang tidak datang sendiri. Dia datang bersama Ben di temani pengacaranya dan dua orang polisi.


Tadi setelah membuat laporan, Ben meminta pihak yang berwajib untuk segera menangkap Shella. Merekan pun setuju, dan mendatangi rumah sakit Surya Daya. Namun bukan Shella yang mereka temui melainkan Rena.


Karena sudah tiga hari ini rumah sakit itu di ambil alih oleh Rena, sementara Shella menggantikan pekerjaan Rena mengurus semua urusan di rumah.


"Tuan, anda tidak perlu mengotori tangan anda untuk menghukumnya" Kata Rena yang langsung membuat El mengernyit keheranan.


"Serahkan tugas ini pada pihak yang berwajib_"


"Apa maksudmu Rena?"


Belum selesai bicara, Shella sudah buru-buru memotongnya.


"Pak, tolong tangkap dia, selain melakukan penculikan itu, dia juga sudah membunuh papah saya"


Ucapan Rena membuat Shella membeku dengan sorot tak percaya.


"Apa yang kamu katakan Rena, kamu jangan coba-coba memfitnahku"


"Aku tidak memfitnahmu, mamah Shella, polisi sudah mendengarkan rekaman itu, mamah tidak bisa berkelit apalagi menghundarinya"


"Apa?"


Tercengang Shella mendengar perkataan anak tirinya.


"Kurang ajar kamu Rena, tidak tahu di untung, aku sudah susah payah membesarkanmu, menyekolahkanmu, tapi_"


"Tapi mamah membuatku terkurung di rumah ini dan menjadikanku pembantu?" potong Rena dengan mata berkilat.


Dua polisi sudah memborgol tangan Shella, sementara Kellen dan Ben hanya diam menyimak.


"Mamah tahu sendiri kenapa IMC berubah menjadi Surya Daya? Semua saham adalah milik kakekku, tapi setelah papah meninggal dan kakek juga meninggal, mamah menguasainya dan malah membuat pewaris satu-satunya menjadi pembantumu"


"Sadarkah kamu, mamah Shella? andai kamu bersikap baik padaku, mungkin kali ini aku akan membantumu menyembunyikan kejahatanmu, tapi sayangnya, perlakuan kejammu padaku membuatku tidak bisa menolongmu"


"Shella tolong bantu mamah nak, mamah tidak mau menghabiskan sisa umur mamah di delam penjara"


"Aku tidak peduli" jawab Rena tanpa melihatnya.


"Bapak bisa bawa dia sekarang" tambahnya merujuk kepada dua polisi.

__ADS_1


"Rena keterlaluan kamu, dasar anak tidak tahu diri, tidak tahu di untung, anak durhaka kamu!"


Menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan.


*Aku sudah menyingkirkan benalu yang selama ini menyiksaku...


Pah, semoga papa tenang di sana. Dan kakek, aku akan mengurus Surya Daya sebaik mungkin, satu-satunya peninggalan kakek*.


Perlahan, langkah Shella kian menjauh, Rena terus menatapnya meski hatinya sedikit teriris.


Bersambung..


Aku tambahin Spoiler novel baru ya...


yang berkenan silakan mampir...


Konflik rumah tangga ✅


Tentang pelakor ✅


Konflik Ringan ✅


Bahasa aku bikin sesantai mungkin dengan pov pelakor ✅


Just Spoiler


Aku langsung menuju ke Herquina Hospital begitu mendapat kabar dari salah satu tetanggaku jika mamah di larikan ke sana.


Setelah berlari cukup kencang, akhirnya aku sampai di depan bangsal milik mamah. Baru saja aku akan menyentuh handle pintu, tahu-tahu pintu itu justru terbuka. Sepasang mataku langsung bertemu pandang dengan dokter Zaskia yang menangani mamah. Dan kebetulan, beliau adalah dokter pembimbing ketika aku menjadi dokter koas di rumah sakit ini.


"Dokter Kia" ucapku reflek.


"Dokter Adinda?"


Ya, namaku Adinda Sofiana, calon dokter yang sebentar lagi akan mengucapkan sumpahku.Demi mewujudkan cita-cita, aku rela melakukan pekerjaan apapun asalkan halal. Selain itu, aku juga kerap sekali meminjam uang pada sahabatku jika aku membutuhkan secara mendadak untuk kepentingan praktek.


"Dok, bagaimana mamah saya?"


Dokter Zaskia lantas membawaku duduk di kursi tunggu depan ruangan mamah.


Sebelum menjawab pertanyaanku, ia menarik napas panjang dengan bibir menekan kedalam.


Aku dan dokter Zaskia sempat mengalihkan perhatian sejenak pada suster yang permisi masuk ke kamar untuk mengecek kondisi mamah. Begitu suster masuk, wanita berpakaian snelli di depanku kembali memusatkan perhatiannya padaku.


Sejujurnya, aku menjadi was-was ketika melihat raut wajah dokter yang memiliki satu anak itu. Ekspresinya benar-benar tak bisa ku tebak dan detik itu juga jantungku rasanya berhenti berdetak.


"Bu Meta harus segera melakukan pemasangan ring" Katanya yang membuatku persekian detik langsung menahan napas. "Jika tidak, jantungnya tidak bisa bekerja dengan baik dan akibatnya akan fatal"

__ADS_1


Setelah dokter Kia menyelesaikan kalimatnya, Tubuhku bergetar dan lemas secara bersamaan.


"Kira-kira berapa biayanya dok?"


"Biaya untuk perawatan tersebut berkisar antara delapan puluh juta hingga seratus lima puluh jutaan untuk satu ring saja"


"Seratus lima puluh juta?" kulihat dokter Kia mengangguk meski pelan.


Sementara aku menghirup napas dalam-dalam, berusaha menetralkan perasaan bingung yang merongrongku setelah mendengar jumlah angka fantastis keluar dari mulut dokter Kia.


Di satu sisi, aku tidak mau kehilangan mamah, tapi disisi lain, bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan aku baru saja akan mulai bekerja di rumah sakit ini?


"Apa tidak bisa menunggu satu atau dua bulan dok?  Saya butuh waktu untuk mencari uang itu"


"Ini sangat urgent dokter Dinda, kondisi beliau semakin hari semakin lemah, kita tidak bisa menunggu terlalu lama"


"Apa tidak ada cara lain selain pemasangan ring jantung?"


"Tidak ada dokter"


Aku menghembuskan napas pasrah. Tak ada pilihan lain, sepertinya aku memang harus berusaha mencari uang itu secepatnya. Apapun caranya, akan aku lakukan demi kesembuhan mamah.


Jika seorang ibu berani berkorban untuk anaknya, lalu apa salahnya jika aku juga berkorban untuk mama.


"Dokter dinda?"


Panggilan dokter Zaskia menyadarkanku dari lamunan.


"Maaf dokter"


"Saya tahu anda pasti kesulitan melalui ini, tapi yakinlah, semua ada solusinya, semua ada jalan keluarnya. Saya yakin dokter Dinda akan mendapatkan kemudahan"


"Terimakasih dokter Kia"


Dokter cantik itu tersenyum tipis. "Kalau begitu, saya permisi"


"Ya dokter, silakan!"


Begitu sosok dokter Kia bangkit dan melangkah meninggalkanku, aku kembali termangu dengan sekelumit masalah yang kian menjeratku.


Mencari cara bagaimana dan dimana bisa mendapatkan uang itu. Pinjam ke Fino sepertinya juga tidak mungkin, hutangku sudah cukup banyak padanya. Tapi jika harus ku cari, mau mencari kemana?


Diam selama beberapa detik, ku usap wajahku lembut. Aku merasakan hembusan nafasku yang kian frustasi. Apalagi di saat-saat seperti ini, aku sudah tidak punya siapa-siapa untuk mencurahkan segala permasalahan yang membelitku.


Pandanganku tertunduk menatap lantai, sementara jemariku saling bertaut di atas pangkuan.


Tiba-tiba, netraku menangkap sepasang sepatu tepat berhadapan dengan sepatu yang kukenakan.

__ADS_1



Masih baru banget


__ADS_2