Personal Assistant

Personal Assistant
Kesepakatan kerjasama


__ADS_3

"Daddy, bukannya pemilik IMC itu Shella?" tanya Nara pada Tama. Mereka kini sudah berada di mobil hendak menuju ke kantor.


"Iya, kenapa?"


"Bagaimana kalau kita memberikan ijin dan mendukung sepenuhnya rumah sakit family care di buka kembali?"


"Kamu ini gimana si mom, kemarin ngotot menolaknya, sekarang berubah pikiran?"


"Aku kasihan melihat nona Eve"


"Kasihan kenapa?"


"Asisten pribadi dari pria arogan seperti Kellen. Daddy tahu kan media ngomong apa tentang pengusaha muda itu?" Kata Nara dengan sorot serius. "Kellen itu pria yang egois sayang, mommy khawatir kalau pingsannya nona Eve karena takut pada Kellen"


Kening Tama mengerut tajam.


"Takut kenapa memangnya?"


"Dia gagal mengupayakan kerja sama dengan kita mas. Mommy yakin Kellen pasti melampiaskan kekecewaannya pada nona Eve, jadi dia pingsan duluan memikirkan kerja sama yang gagal, karena dia pasti akan mendapat amarah dari bosnya"


Padahal, itu hanya alasan Nara saja.


"Gimana dad?"


"Nanti mommy nangis-nangis lagi ingat Pelita, sedih lagi, daddy pusing lihat mommy sedih banyak-banyak"


"Enggak daddy, mommy sudah ikhlas, justru kalau kita nggak memberikan izin, itu akan menjadi beban kita, karena secara tersirat kita masih dendam dan sakit hati pada family. Benar kan kata mommy?"


"Mommy yakin?"


"Yakin daddy" jawabnya mantap.


"Nggak sedih lagi ingat Pelita? nggak nangis kejer di pojokan?" ledek Tama.


"Daddy, ish"


"Ya daddy kan sedih kalau lihat mommy sedih"


"Enggak, mommy janji nggak akan sedih"


"Ya sudah nanti kita coba bicarakan lagi sama Amui sama ayah bunda dan papa"


"Makasih sayang"


"Jangan makasih dulu, takutnya nanti Amui, bunda sama ayah nggak setuju"


"Ya tugas daddy pengaruhi mereka dong"


Tama berdecih. "Dasar Kamu"


Beberapa menit setelah itu, terdengar bunyi ponsel milik Nara. Ia langsung meraih benda tipisnya dari dalam tas.


"Siapa mom?" tanya Tama tanpa melihat Nara.


"Amui sayang"


"Loudspeaker mom, daddy pengin dengar suaranya"


"Assalamualaikum nak"


"Waalaikumsalam mom. Lagi dimana?"


"Di jalan sayang, kenapa?"

__ADS_1


"Sudah jenguk nona Eve?"


"Sudah baru saja dan ini lagi jalan ke kantor"


"Amui sayang" ucap Tama.


"Itu suara daddy mom?"


"Ya iya lah nak, kalau bukan suara daddy, suara siapa lagi? selingkuhan mommy?"


"Astaghfirullah mom, nggak boleh ngomong gitu lho" sambar Tama tak terima. "Ngomongnya yang baik-baik aja"


"Iya maaf" Lirih Nara. "Sayang ada apa?" tambahnya tertuju untuk Amara.


"Boleh Amui minta sesuatu mom, mumpung lagi sama daddy sekalian ngomong di sini, nanti malam Amui sama mas Daffa datang ke rumah buat bahas lagi"


"Mau minta apa sayang, ngomong aja pasti daddy kasih" Tama sedikit meninggikan nada suaranya.


"Dad, boleh nggak daddy kasih ijin buat Family care supaya bisa beroperasi kembali?"


Tama mengernyit, kemudian berkata. "Kenapa sayang?"


"Enggak, Amui cuma pengin jadi kepala rumah sakit soalnya, biar karir Amui nggak monoton di situ-situ aja"


Sebenarnya bukan itu alasan Amara yang sebenarnya. Dia hanya ingin melihat wajah Eve lebih lama lagi, bahkan bila memungkinkan, dia akan mencoba menjalin hubungan baik dengannya.


"Kita bahas nanti malam saja ya nak, kamu juga harus ijin dulu sama suamimu"


"Iya dad"


Setidaknya, sang ayah sudah memberikan sinyal persetujuan. Masalah detailnya gimana, nanti malam bisa di bahas bersama keluarga.


"Makasih daddy, I love you"


"Di tutup dulu ya dad"


"Iya nak"


"Okey daddy mommy, hati-hati, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Yes setidaknya, mommy dapat satu dukungan dari putri mommy yang cantik" racau Nara sesaat setelah menutup panggilan


sementara


Tama mengangkat satu alisnya.


"Kenapa jadi begini si?"


"Mommy yakin, Daffa juga akan memberikan apapun yang istrinya minta"


"Maksud mommy?"


"Mommy sama Ara sepakat memberikan ijin. jadi mommy yakin kalau Daffa akan langsung ke kubu mommy mertua dan istri cantiknya. Setelah itu, daddy nggak akan kuat tanpa mommy, akhirnya, daddy juga setuju terus merapat ke kubu mommy"


Tama terkekeh mendengar ucapan Nara.


"Kalau enggak gimana coba?" tanya Tama, kini mobilnya sudah sampai di area parkir kantor.


"Selama ini kan kalau daddy udah mutusin, kalian nggak bisa gerak sana sini, terus ujung-ujungnya ngikut daddy, iya kan? Kalau udah gitu, pasti mommynya diam-diam sampai tiga hari. Nggak apa-apa lah kalau cuma di diemin tiga hari"


"Daddy" pekik Nara membuat Tama kian tergelak.

__ADS_1


"Udah sampai kantor mommy"


Nara tahu, Tama hanya bercanda. Tinggal tambahin gula dikit ngomongnya biar manis, pasti akan setuju.


"Ayo turun"


"Daddy please!" Wanita itu memohon, menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Nggak usah nunggu nanti malam buat bahagiain mommy. Siang ini juga daddy hubungi pak Ben untuk datang kembali ke kantor kita"


"Daddy serius?"


"Untuk istri sama anak tercinta, apa coba yang enggak"


"Aaahhh, makasih daddy... I love you banyak-banyak"


"Hmm"


"Harusnya balas I love you too"


"I love you too mommy"


"Nah, gitu dong, kan jadi gantengnya tambah pake banget"


"Ish, ish, udah punya cucu juga masih sok centil"


Nara memang menjadi manja dan kekanak-kanakkan, tapi itu hanya di depan suaminya.


***


Seperti janji Tama, siang ini Tama meminta Arfan menghubungi sekertaris Ben untuk datang kembali ke Angkasa membahas tentang rumah sakit Family care.


Dan di jam ini, Ben datang sendiri untuk menyepakati kerjasama mereka, sebab Kellen menolak hadir dengan alasan ingin menemani Eve yang baru saja pulang dari rumah sakit. Kellen menyerahkan semua keputusan pada Ben, dan Ben sendiri tahu apa yang harus dia lakukan.


"Sebenarnya tuan Tama" lanjut Ben hati-hati. "Tujuan kami kemari, selain membuka kembali rumah sakit itu, kami juga ingin tinggal di sini untuk mencari tahu tentang penculikan putri tuan dan nyonya, kami ingin mencari keadilan untuk Tania. Kami meyakini bahwa rumah sakit kami hanyalah korban fitnah dari pemilik IMC karena pada saat itu, Family care berhasil menggeser IMC sebagai rumah sakit terbaik. Dan untuk membalas rasa sakit hatinya, mereka malah menculik putri tuan dan nyonya Tama"


Usai mendengar pernyataan Ben yang agak panjang, Nara langsung berfikir jika hilangnya Pelita juga karena ulah dari pemilik IMC yaitu Shella, mengingat dirinya pernah punya masalah dengannya.


"Tadi anda bilang bahwa penculik itu adalah pemilik IMC, jadi kemungkinan besar apakah pelakunya adalah Mishella?" tanya Nara serius.


"Itu hanya dugaan kami saja nyonya, karena kami belum menyelidikinya dan kami juga belum memiliki bukti. Tapi kami janji, sebagai ucapan terimakasih kami karena sudah di berikan ijin serta dukungan, kami akan membntu tuan mencari keberadaan putrinya, kami akan memberikan hukuman pada penjahatnya yang sebenarnya"


Menurut Tama dan Nara ucapan Ben ada benarnya. Sedihnya selama ini tidak menghasilkan apapun, dan malah semakin membuatnya merasa bersalah. Namun kini tidak lagi. Seperti yang Ben katakan. Penjahat yang sebenarnya masih bebas berkeliaran tanpa dosa.


Sedihku selama ini tak ada gunanya, sekarang yang harus ku lakukan adalah mencari putri kandung kami dengan bantuan pengusaha muda dari Macau.


Yaa Rabb, semoga langkah kami membuahkan hasil. Semoga ada titik terang mengenai putri kami. Bantu kami Tuhan...


Nara membatin.


Pelita, daddy akan berusaha sekali lagi nak, sebelum daddy mendapatkan fakta yang akurat tentang kamu, daddy belum mendapatkan jasadmu, daddy akan terus berusaha sekuat tenaga.


Dan kali ini, daddy melakukannya dengan hati gembira, tanpa air mata.


Kerja sama pun terjalin. Mereka saling menandatangani berkas-berkasnya, lalu saling berjabat tangan.


"Deal tuan Ben?"


"Deal" balas Ben.


Ini akan menjadi kabar baik untuk memuluskan rencana bosnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2