Personal Assistant

Personal Assistant
Resusitasi jantung paru


__ADS_3

Amara dan Nara teriak histeris ketika sepasang netranya menangkap tubuh Eve yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Untung saja Kellen dengan sigap menangkap tubuhnya yang nyaris tersungkur ke lantai.


Tak mampu menopang berat badannya secara mendadak, Kellen Bersimpuh di lantai dengan Memangku kepala Eve.


"Ve, bengun Ve" ucap Kellen menggunakan bahasa kanton. Tangannya terus menepuk-nepuk salah satu pipinya pelan.


"T-tuan tolong segera baringkan n-nona Eve di so-so-sofa" Amara tergagap seakan nafasnya tercekat. Entah kenapa seluruh tubuhnya gemetar melihat Eve pingsan.


Padahal dia yang notabennya seorang dokter, jangankan mengatasi orang pingsan, orang kecelakaan dengan tubuh berlumuran darah pun bisa dia atasi dengan tenang, tapi tidak ketika melihat Eve. Dia justru ikut merasakan lemas bak tubuh yang tak memiliki tulang. Sementara Nara hanya diam sambil terus menatap Eve yang wajahnya tampak pucat.


Perlahan, Kellen mengangkat tubuh Eve lalu membawanya ke arah sofa sesuai dengan arahan Amara.


Selagi Kellen berjalan menuju loby, tubuh Nara mendadak lemah, sepasang kakinya bahkan tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


Sekuat tenaga ia berjalan merembet dengan berpegangan pada tembok seraya menahan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat.


"Bu Nara, kenapa bu?" tanya Ratih panik. Salah satu dari pegawai resepsionis.


"T-tolong antar saya ke ruangan suami saya"


"Baik bu" Sahutnya lalu menuntun Nara menaiki lift.


Di sana, meskipun seluruh tubuhnya lemas, Amara berusaha membuat Evelyn tersadar dengan berbagai cara. Ia menaikkan kaki Eve lebih tinggi dari dadanya guna mengembalikan aliran darah supaya kembali ke otak, tak lupa juga melonggarkan pakaiannya agar lebih leluasa.


Dengan gemetar tangan Amara menyentuh pergelangan tangan, lalu berpindah ke leher untuk mendeteksi denyut nadi. Detik berikutnya dia semakin panik ketika mendapati Eve tidak bernapas dan denyut nadi tak terdeteksi.


"Mas tolong panggil ambulan secepatnya!"


"Baik mbak Ara" jawab Arun pegawai di kantor daddynya.


Sama sekali tak ada respon, tanpa pikir panjang Amara memberikan napas buatan melalui rongga mulut.


Satu detik, dua detik, tak ada reaksi. Dengan gerak cepat ia langsung melakukan resusitasi paru menggunakan tangannya. Ia berusaha keras mengupayakan pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh Eve.


Di saat Kellen serta Ben merasakan panik, Daffa datang menghampiri Amara sebab dia sempat berpapasan dengan Nara yang di tuntun oleh Ratih. Ratih pun menceritakan keadaan di lantai bawah.


"Dek" panggil Daffa, nafasnya tersengal efek dari berlari, namun tak mendapat respon dari Amara yang tengah fokus memberikan pertolongan pertama pada Eve.


Daffa melihat raut penuh kecemasan di wajah sang istri, keringat sebesar jagung pun tampak memenuhi kening, sementara matanya meluncurkan buliran bening.


Nona Eve, ayo bangunlah!

__ADS_1


Amara terus menekan dada Eve.


Bangunlah nona!


Get up!


Open your eyes!


Please nona!


______


Hingga beberapa detik berlalu,,,


Alhamdulillah yaa Rabb,,


Amara bersyukur dalam hati setelah merasakan denyut jantung dan nafas berat dari Eve.


Bersamaan dengan itu, datang ambulan dengan suara sirine memekakan telinga. Amara segera menyuruh Kellen untuk mengangkat tubuh Eve dan membawanya ke dalam mobil ambulan.


Di dalam ambulan, sudah ada dua suster yang akan memberikan pertolongan dan membantu memasangkan kuncup oksigen.


"Dek, mau kemana?" cegah Daffa ketika Amara hendak melangkah mengekor di belakang Kellen.


"Kita susul dengan mobil mas"


Amara mengangguk patuh.


Daffa langsung menggandeng tangan Amara menuju mobilnya.


***


Di rumah sakit Ar-Raudhah, Amara kembali menangani Eve yang detak jantungnya sangat lemah. Ia di bantu oleh Mita yang juga berprofesi sebagai dokter.


Selang hampir lima belas menit, Tekanan darah Eve sudah stabil, detak jantungnya pun sudah kembali normal. Eve masih tak sadarkan diri karena efek dari obat.


Amara menghirup napas dalam-dalam sebelum kemudian mengeluarkannya secara perlahan.


"Kamu hebat Ra, bisa bantu pasien melewati masa kritis tanpa peralatan medis" ucap Mita, mereka masih di ruang ICU meski telah selesai menangani Eve.


"Entahlah Ta, itu seperti magic, aku seperti melakukan di luar kesadaran dan kendaliku"


"Memangnya siapa dia? aku lihat wajahnya sepintas mirip Pijar"

__ADS_1


"Ngaco" Sanggah Amara "dia Eve, WNA dari Macao"


"Ya aku kan cuma bilang sepintas agak mirip"


"Aku juga merasa gitu si, tapi itu wajar kan, bisa kita lihat ada beberapa orang yang mirip dengan beberapa artis"


"Bener banget, orang bilang kita juga sedikit mirip kan, bahkan dosen kita dulu nyangkanya kita kakak adek"


Amara tersenyum, lalu mengalihkan wajah pada sang suster.


"Sus, pindahkan nona Eve ke ruang perawatan"


"Baik dokter"


Setelah mendengar jawabannya,


Amara dan Mita bersama-sama melangkah keluar. Ia langsung bertemu dengan Kellen yang sedang menunggu di bangku panjang.


Melihat Amara keluar dari ruang ICU, bergegas Kellen melangkah menghampirinya.


"Bagaimana dengan Eve dok?" tanya Kellen dengan sorot cemas.


"Tuan jangan khawatir, saat ini kondisinya sudah membaik"


"Syukurlah" lirihnya kemudian mengusap wajah.


"Sebentar lagi nona Eve akan di pindahkan ke ruang perawatan, anda bisa menemuinya di sana nanti"


"Baik, terimakasih dokter"


"Sama-sama tuan Kellen" Amara tersenyum lega. "Saya permisi tuan El?"


"Iya, silakan"


Kelegaan juga singgah di hati Kellen, ia sangat bersyukur Eve bisa di selamatkan meski sempat heran dengan kondisinya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


Sejenak ia merasa bersalah karena membiarkan asistennya menahan jantung yang tak nyaman serta tak membawanya ke dokter terlebih dulu. Padahal, Eve sempat mengutarakan keluhannya tapi malah dia mengabaikannya.


"Ben, kita ke kamar Eve"


"Iya tuan"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2