
Selagi di Macau, Kellen menyempatkan diri mengecek dan mengaudit semua hotel, restauran, serta seluruh peropertinya.
Semua catatan yang ternyata tak ada cacat sedikitpun membuat Kellen tersenyum dan semakin menyanjung para karyawannya. Dia bahkan tak segan-segan memberikan bonus bernilai tinggi pada seluruh staf sebagai apresiasi atas kerja cerdasnya.
Dewan direksi serta jajarannya bahkan segan kalau harus mengkhianati ataupun berbuat licik di belakang atasannya yang sudah begitu baik.
Namun, jika memang ada yang melakukan kecurangan, Kellen pun tak segan memecat langsung tanpa surat peringatan.
"Aku serahkan semua yang ada di sini padamu, uncle Rondi, mungkin lusa atau besok lusa daddy sudah kembali"
"Siap El"
"Okay uncle, aku harus ke bandara sekarang, karena mamah pelita sudah menunggu. Salam buat aunty Clara"
"Okay, hati-hati El, salam buat Eve dan juga keluarganya"
"Hmm"
Pria itu setengah berlari menuju halaman perkantoran, sang sopir yang sudah siap membuat Kellen langsung memasuki mobilnya.
"Cepat sedikit ya pak" pinta Kellen sambil memasang seat belt.
"Baik, tuan"
Selama dalam perjalanan, Kellen membuka menu galery di ponselnya. Ada begitu banyak folder tersimpan di sana, salah satunya adalah work. Berisi semua foto-foto yang berkaitan dengan pekerjaan, lalu ada folder daddy mommy yang isinya hanya foto Pandu dan Nayla.
Ia memilih folder dengan nama muse, di sana ada begitu banyak potret menampilkan wajah Eve.
Ia menyunggingkan senyum ketika mencermati foto-foto sang istri.
Aku merindukanmu Ve. Gumamnya dalam hati.
Tapi kau terlalu keras kepala.
Usaha apa yang harus aku lakukan supaya kau mau kembali padaku?
Beri tahu aku Ve!
****
"Kamu tahu Ve" Kata Tama ketika sang putri mengutarakan niatnya yang ingin bercerai. "Wanita hamil itu haram untuk di carai, jika memang kamu sudah mantap, tunggu anakmu lahir"
"Harus menunggu delapan bulan lagi?"
"Hmm" Tama menggumam sembari mengangguk, tangannya terulur mengusap belakang kepalanya lembut. "Setiap orang yang melakukan kesalahan, mereka berhak mendapatkan maaf jika meminta maaf dengan tulus, tapi tetap saja mereka juga akan mendapatkan hukuman. Kalau enggak di dunia, ya di akherat nanti"
Hening sesaat.
"Kalau boleh daddy tahu, selain El bersikap kasar, apa lagi yang dia perbuat? sampai-sampai kamu ngotot minta pisah?"
"Kesal saja sama dia"
Satu alis Tama terangkat mendengar jawaban Eve.
"Kalau kita sudah di sakiti ya otomatis kesal Ve, tapi kan ada setidaknya satu alasan yang membuatmu benar-benar nggak mau hubungan lagi sama dia. Daddy pengi tahu, apa itu?"
"Pengin balas dendam aja dengan cari pria lain, biar dia tahu gimana rasanya melihat orang yang dia cintai hidup bersama pria lain"
Tama semakin tak mengerti.
"Apa El selingkuh?" pertanyaan itu begitu frontal keluar dari mulut Tama.
Pandangan Eve terangkat lalu menatap daddynya lekat-lekat.
"Hmm" pria itu tampak mengangkat dagunya.
"Aku pernah membaca pesan di ponsel El dari seorang wanita, dia juga pernah dekat-dekat dengan para dokter wanita"
"Oh ya? kok kak Ara nggak pernah bilang, ya setidaknya gelagat El tercium dong oleh kak Ara"
"Tapi aku pernah kok, secara nggak sengaja lihat di akun twitter, foto El dengan dokter itu mesra, terus kemarin juga lihat dia di caffee dengan seorang wanita cantik"
"Masa si Ve?"
"Daddy nggak percaya sama aku?"
"Bukannya nggak percaya nak, tapi apa yakin pertemuan mereka itu sebuah perselingkuhan? belum tentu juga kan?"
"Tapi mereka saling melempar senyum, wanita itu juga tersipu pas El memujinya"
__ADS_1
"Apa dia Rena?"
"Rena? siapa dia?"
"Saudari angkat kamu?"
"Saudari angkat?"
Tama mengangguk.
"Pas penangkapan Shella, daddy kan ke kantor polisi" ujar Tama. "Waktu itu cuma Ben yang datang, pas daddy nanya, Ben bilang kalau anak tirinya Shela meminta El untuk membicarakan sesuatu"
Eve begitu saksama menatap manik hitam daddynya.
"Nah malamnya El telfon daddy kalau mau ke Macau jemput mamah kamu"
"Jemput mamah?" Eve kian tak mengerti.
"Iya soalnya kata El, kemungkinan mamah kandung Rena itu mamah Pelita"
"Apa?"
"Makannya" ucap Tama lalu menyelipkan anak rambut Eve ke belakang telinga. "Kalau suami datang, jangan di diamin. Apalahi datangnya bawain bunga, baju hamil, buah yang lagi kamu pengin"
"Tapi aku nggak suka bunganya dad, daddy tahu kan pas itu aku lg benci warna-warna itu. Pink dan merah hati" Eve bergidik " Iiihh kayak darah" celetuknya spontan.
Dan itu memantik sudut bibir Tama terangkat ke atas.
"Tapi setidaknya itu usaha suamimu supaya kamu luluh dan memaafkannya"
"Tapi yang dia lakukan justru sebaliknya, daddy"
"Tapi kan dia nggak tahu kamu lagi suka apa, iya kan?"
"Tapi kenapa dia tahu kalau aku lagi pengin anggur hijau"
Tama mengelengkan kepala, merasa ada saja sanggahan Ebe "Kak Ara"
"Nah kan, harusnya kalau memang benar-benar usaha, dia tanya langsung ke aku"
"Loh, bukannya kamu yang nggak mau di ajak kompromi?"
Eve menatap Tama penuh intimidasi.
"Enggak"
"Enggak salah" balas Eve cepat.
"Assalamualaikum, daddy"
"Waalaikumsalam, Pijar? nggak bilang kalau pulang"
"Kenapa memangnya dad?" dia meraih punggung tangan sang daddy.
"Ya enggak, nanti kan bisa daddy jemput"
"Memangnya aku anak kecil"
Baru saja Pijar duduk, tahu-tahu ada sebuah mobil masuk menerobos pintu gerbang.
Ketiga pasang mata itu fokus menatap mobil yang kini sudah berhenti di depan garasi.
"Itu mobilnya El kan? kok udah pulang aja" kata Tama dengan raut heran.
"Kakaakk" seru Zea setelah turun dari mobil. Gadis itu berlari dan langsung menghambur ke pelukan kakak iparnya.
"Zea!"
"I miss you so much my sister in law"
"Kamu di sini Ze?"
"Iya kak, aku ikut kak El dan mamah Pelita ke sini"
Saat Eve dan Zea saling berpelukan, Netra Eve mendapati El tengah menutup pintu mobil kemudian membuka pintu bagian penumpang. Sosok Pelita muncul membuat Eve mengurai pelukannya.
"Mamah" lirih Eve tak percaya.
Sembari melangkah, El merangkul pundak Pelita lengkap dengan sunggingan senyum.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum dad"
"Waalaikumsalam, El"
"Mamah" Eve memeluknya.
"Gimana kabarmu nak?" tanya Pelita sendu.
"Baik, mamah gimana?"
"Mamah juga baik"
"Mama bisa ngomong sini?"
Pelukan terurai.
Ada senyum terulas lebar di bibir Pelita.
"Kandungan kamu gimana?" Alih-alih menjawab, dia malah bertanya balik.
"Baik"
"Beruntung kamu sayang. Kamu yang hamil, El yang muntah tiap pagi"
Karena dia sudah mengurungku mah, jadi si baby nggak terima.
"Oh ya, dad, ini mamah Pelita"
"Jadi ini mamahnya Eve?"
Tama dan Pelita saling bersalaman.
"Terimakasih bu Pelita, sudah merawat anak saya selama ini"
"Sama-sama, tuan"
"Dad, ini Zea, adiknya El"
"Sore uncle" Zea mengecup punggung tangan Tama.
"Selamat sore, Zea"
"Ze, ini Pijar, adik kembarku"
"Nggak nyangka ternyata kakak punya kembaran, atlet terkenal pula" sahut Zea lalu mengarahkan pandangan ke arah Pijar.
"Hallo, Zea"
"Pijar"
Mereka tampak saling bersalaman.
"Ve, ajak masuk mamahnya, kenalin ke mommy"
Mendengar kalimat sang daddy, otomatis Eve langsung mengajaknya masuk.
"Ayo mah masuk"
"Mari bu Pelita, silakan masuk" sambung Tama ramah.
Tama dan Kellen berjalan di belakang Eve dan juga Pelita sembari mengobrol.
Sementara Pijar menatap Zea dengan sorot aneh sebab dia terus memandangnya.
Mungkin gadis ini belum pernah melihat pria tampan sepertiku.
Pria itu menggelengkan kepala.
Gadis berusia sembilan belas tahun itu memang terpesona dengan sosok Pijar.
Ternyata aslinya memang tampan. Zea membatin dengan seulas senyum, itu membuat Pijar semakin terheran.
Gadis aneh...!
"Nggak mau masuk?" tanya Pijar.
"M-mau"
"Masuk" sahutnya sambil menunjuk pintu.
__ADS_1
Bersambung...
Selamat malam... Semoga sehat selalu yaa 😍😍😍 miss you banyak-banyak.