Personal Assistant

Personal Assistant
Hari ulang tahun


__ADS_3

Jalanan yang kita tempuh, tidak selalu berbanding lurus atau berjalan mulus sesuai ekspektasi kita. 


Terkadang itulah yang Eve pikirkan, selain bermimpi sesuatu yang indah, dia juga mempersiapkan hati, jiwa dan pikiran untuk memimpikan sesuatu yang buruk.


Meskipun kemungkinannya sangat kecil untuk bertemu dengan keluarga kandung, tapi ia akan terus berusaha meski sampai ke ujung dunia.


Biar bagaimanapun ia harus tahu tentang jati dirinya.


"Tiup lilinnya ya Ve" pinta Pelita ketika Eve membuka mata.


Gadis itu mengangguk dengan sorot kelam lalu mendekatkan mulutnya tepat di depan lilin dengan angka dua dan tiga.


Selamat ulang tahun Eve, terimakasih kau sudah menjadi kuat melalui jalanan yang berkerikil. Semoga panjang umur untuk diriku sendiri, sehat selalu dan segera di pertemukan dengan keluarga.


Seketika lilin padam saat Eve menghembuskan udara melalui rongga mulut. Dua puluh tiga tahun usianya, cukup matang untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi bukan itu tujuannya saat ini, ia akan fokus dengan karir agar segera bisa membayar hutang-hutangnya. Setelah itu, ia akan pergi dari kehidupan Kellen dan apapun yang berhubungan dengan keluarga Mahardani.


Tepat ketika tengah menikmati manisnya kue, tiba-tiba ada sesuatu yang memantik kekesalan Eve. 


Teriakan Kellen dari luar benar-benar membuat darahnya mendidih. Waktu satu jam, terasa begitu singkat jika di habiskan dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidup kita.


"Ve, kita harus pergi sekarang" ucap Kellen kedua kali.


"Sudah Ve, kau pergi saja" pinta Pelita. "Ini menyangkut pekerjaanmu, mereka sudah baik terhadap kita, balas perbuatan baik mereka dengan bersikap baik dan patuh pada atasanmu"


"Maaf ya mah, Eve tidak bisa menemani mamah lebih lama, tapi doa Eve selalu mengiringi langkah mamah"


"Pergilah, doa mamah juga selalu untukmu"


Eve mengecup punggung tangan Pelita, dan Pelita membalas kecupan di puncak kepala sang putri.


"Pergi dulu mah, bye"


"Bye sayang, hati-hati"


Begitu Eve keluar, ia langsung mendapati sosok Kellen berdiri di depan pintu. Pria yang berwibawa sebenarnya, tapi sayang di mata Eve Kellen adalah pria egois, semena-mena dan sesukanya sendiri, kejam dan arogan.


"Kita pergi sekarang"


"Hmm" sahut Eve malas.


"Bu, kami pergi dulu, maaf tidak bisa terlalu lama"


"Tidak masalah tuan, hati-hati di jalan"


"Ya, permisi, selamat pagi"


Pelita sedikit merunduk merespon ucapan Kellen.


****


Kellen dan Eve sudah siap melakukan perjalanan dari Macau menuju Hongkong dengan jalur darat. Sebenarnya Eve lebih suka naik kapal, selain lebih bebas menikmati hembusan angin laut, perjalanan laut juga terbukti lebih aman. Dia terlalu takut menaiki mobil yang harus melewati jembatan panjang sementara di bawahnya adalah lautan lepas. 


Kellen melirik ke arah spion samping sebelum kemudian memutar roda kemudi ke arah kanan. Perlahan mobil melaju keluar dari area rusun milik Pelita bergerak menuju jalan raya.


"Tadi ngapain aja Ve?"


"Apa yang bisa ku lakukan hanya dengan waktu satu jam?" Ketusnya tanpa melihat pria yang tengah fokus mengemudi.


"Kau tahu kita buru-buru" Kellen melirik sekilas ke arah Eve.


"Bukan kita tapi kau"


"Ayolah Ve, jangan kau rusak hari ini"


"Aku, merusak hari ini? Kau yang merusaknya, tuan El!"


Kellen menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan sedikit menggembungkan mulut.


"Sebentar lagi kita akan melewati jembatan panjang, kau bisa melihat pemandangan indah"


Eve mengedarkan pandangan, benar hanya dengan sepuluh menit lagi mobil akan mulai menyebrang jembatan yang begitu eksktrim menurut Eve. Ini pertama kalinya dia pergi ke Hongkong melalui jalur darat. Sejujurnya ia sedikit takut sebab jembatan ini cukup panjang dan berada di atas air.


Alih-alih menyusuri pemandangan, Eve justru memejamkan mata, Ia berharap agar secepatnya melalui jembatan yang panjangnya kurang lebih 55km. Tapi apalah daya, butuh waktu hingga satu jam untuk melintasi jembatan laut terpanjang yang menghubungkan Macao-Hongkong. Dan waktu satu jam bagi Eve sangatlah lama.


"Buka matamu Ve, ini sangat indah?" Kellen melirik Eve yang tengah memejamkan mata.


"Diam kau! lebih baik kau fokus saja dengan kemudimu, konsentrasi dan jangan banyak bicara. Luruskan pandanganmu ke arah jalan"


Bukannya mengiyakan, Kellen justru terkekeh.

__ADS_1



Agar suasana sedikit lebih rilex, Kellen mencoba mendengarkan musik. Ia menyetel amplifier yang ada pada dashboard mobilnya.


Namun suara musik tak serta merta mengurangi ketakutan Eve. Terbukti dengan sepasang matanya yang tetap terpejam, berkali-kali menelan saliva, dan tangan yang sedikit gemetar.


Hingga satu jam berlalu, mobil mulai keluar dari jalur lintas laut.


Kellen menyentuh lengan Eve yang masih memejamkan mata.


"Ve, kita sudah sampai"


Tak ada respon dari Eve.


"Eve, kita sudah keluar dari jembatan itu"


Dia tidur??


Kellen menggelengkan kepala. Ia membiarkan Eve tertidur hingga mobilnya sampai di tempat tujuan. Kantor utama yang mengelola bisnisnya.


Mematikan kendaraan, sebelum kemudian melepas seatbelt.


"Eve, bangun Ve!" Kellen menggoyangkan lengan asistennya.


Eve menggeliat, perlahan ia membuka mata dan langsung mengedarkan pandangan.


"Kita sudah sampai" kata Kellen.


"Mau ikut turun, atau tunggu di sini?"


Turunlah, enak saja tunggu di mobil, jauh-jauh dari Macau ke Hongkong masa iya hanya duduk diam di dalam mobil.


Merasa tak di respon, Kellen membuka pintu mobil lalu turun.


"Hey, tunggu" teriak Eve seraya melepas seatbelt.


"Tunggu bodoh" gadis itu berlari menyusul Kellen.


Mendengar kata bodoh, Kellen langsung menghentikan langkahnya.


Dan...


"Aw" Eve menabrak punggung bosnya.


"Kalau jalan lihat ke depan Eve" Kellen berbalik. "Kalau masih ngantuk tunggu saja di mobil"


"Kau yang mendadak berhenti, tuan El"


"Kau yang menabrakku kenapa menyalahkanku?"


Eve mendengkus kesal.


Lalu mengekor di belakang Kellen yang sudah melangkahkan kakinya kembali.


Keduanya langsung di sambut oleh dewan direksi yang di tunjuk, lalu mempersilakan Kellen duduk dan memimpin rapat.


Selang tiga puluh menit, rapat telah usai. Eve yang memilih menunggu di luar merasa jenuh.


Melihat raut wajah sang asisten yang terlihat masam, Kellen berniat mengajaknya ke Hongkong disneyland sebelum kembali ke Macau sekaligus merayakan ulang tahun Eve.


Pria itu menarik paksa pergelangan tangan Eve untuk mengikuti langkahnya.


"Apa kita mau kembali ke Macau?"


"Tentu saja, memangnya kau mau tinggal disini?"


"Tapi aku tidak mau ikut denganmu"


Kellen menghentikan langkahnya, mau tidak mau Eve pun turut berhenti.


"Kenapa?"


"Aku mau naik kapal"


"Tidak bisa" Kellen kembali menarik tangan Eve.


"Masuk" ucapnya memerintahkan.


Tak ada pilihan lain, Eve pun menurut.

__ADS_1


"Kenapa tidak jalan?" tanyanya ketika Kellen belum juga menjalankan mobilnya.


"Kita tunggu seseorang"


"Siapa?" Eve menoleh ke samping kanan lengkap dengan dahinya yang mengerut.


"Jangan banyak tanya"


Kalau saja bukan bosku, sudah ku tonjok wajahmu yang menyebalkan itu.


Satu menit, dua menit, hingga bermenit-menit tiba-tiba ada sosok yang mengetuk kaca mobil. Mata Kellen yang tengah terpejam langsung terbuka lalu menoleh dan membuka pintu.


"Terimakasih" Dia menerima satu kotak sesuatu yang entah apa isinya.


Setelah menutup pintunya kembali, Kellen meletakkan bungkusan itu di jok belakang.


"Apa itu?" tanya Eve penasaran.


Dari bungkusnya yang tertulis Maxim's cake, jelas kantong plastik itu dari sebuah toko kue.


Eve menarik bibirnya ke kiri saat pertanyaannya tak mendapat jawaban.


"Kita mau kemana?" Eve menyadari jika jalan ini bukan jalan menuju jembatan ekstrim.


"Hongkong Disneyland Resort" jawab Kellen cuek.


"Mau ngapain?"


"Menghabiskan waktu liburan kita"


Hati Eve sempat menghangat ketika mendengar kalimat Kellen, tapi tetap saja tak membuatnya menampilkan raut bahagia. Karena di hari ulang tahunnya, ia hanya menghabiskan waktu satu jam dengan sang mamah.


Setibanya di lokasi wisata, Eve kembali menatap bingung ke arah Kellen, sebab alih-alih turun, pria itu justru meraih bungkusan yang tadi ia letakkan di jok belakang.


Pelan, kantong plastik bertuliskan maxim's cake terbuka.


Kue tart tampak begitu cantik dengan hiasan buah di atasnya. Bukan kue ultah, tapi cukup membuat hati Eve terkesan.



"Happy birthday to you" ucap Kellen sendu.


Mata Eve menghangat, tak pernah ia bayangkan jika atasannya bisa semanis ini.


"T-tuan"


Kellen meraih satu potong kue lalu mendekatkan ke mulut Eve.


"Meskipun kau sangat lancang dan menjengkelkan, tapi aku adalah bos yang baik untuk karyawannya. Ayo makanlah!"


Tak mau Kellen menyuapinya, sebab jantung di dalam sana benar-benar berdetak tidak sopan, Eve hendak mengambil alih kue itu dari tangan Kellen, namun dengan cepat Kellen menjauhkannya.


"Kau hanya perlu membuka mulutmu"


Lagi-lagi Eve tersipu, sebagian dari dirinya merasa bersalah, sebagian lagi berusaha menormalkan perasaannya.


"Makanlah, ini hari spesial untukmu" kata Kellen dengan senyum tipis.


Ragu-ragu Eve membuka mulutnya lalu menggigitnya.


"Sang yat failok Eve"


"Thankyou, tuan"


"Tatap wajahku Ve"


"Aku bosan menatap wajahmu" jawab Eve asal. Bukan maksudnya tak sopan, tapi dia cukup gugup dan malu dengan perlakuan atasannya.


"Ini untukmu" Kellen menyerahkan kotak perhiasan.


"U-untuk saya tuan?"


"Memangnya tadi aku bilang ini untuk Ben?" Kellen mengangkat satu alisnya. "Terimalah, ini biasa di lakukan oleh seorang atasan pada bawahannya yang sedang berulang tahun. Jadi jangan salah paham"


Setelah melewati perayaan singkat di dalam mobil, mereka kemudian turun.


Kellen dan Eve menikmati hari libur di tempat yang paling di minati di Hongkong dengan penuh keceriaan. Hingga tak terasa tahu-tahu waktu sudah di penghujung sore dan mereka harus kembali ke negaranya.


Bersambung

__ADS_1


Sang yat failok : Selamat ulang tahun.


__ADS_2