Personal Assistant

Personal Assistant
Rencana ke Korea


__ADS_3

Sore hari, tepat pukul lima, Amara di bantu oleh dua ART di rumah daddy dan mommynya memasak makan malam, ia juga mendapat bantuan dari sang suami, Daffa. Sementara Eve, Tama serta Tita tengah bercengkrama di ruang TV. Idris dan Ramdan sedang bermain catur di ruang tamu, sedangkan Rania sedang membersihkan diri di kamarnya.


Sebelumnya, pertemuan antara Idris, Rania dan Eve pun berlangsung sangat mengharukan. Bahkan Rania tak henti-hentinya mengucap syukur dan mengecupi kening serta pipi Eve bertubi-tubi.


"Ini mau di apain mih?" Amara yang tengah menumis bayam dan jagung, langsung memusatkan netranya ke arah sang suami.


"Apa itu?"


"Udang"


"Sudah di cuci?"


"Sudah"


"Panasin air pakai panci ini sayang, terus nanti kalau udah mendidih airnya, udangnya di masukin" Setelah mengatakan itu, Amara kembali fokus pada tumisannya.


"Cuma di rebus aja berati?" Pria itu meraih panci.


"He'em, nanti tuang kecap asin ke mangkuk kecil buat saos udangnya"


"Okay, siap sayang"


"Ini sop ayamnya sudah matang bu"


"Langsung taruh di meja makan mba milah" Namanya Jamilah, ART di keluarga Nalendra.


"Baik bu"


Hening, tak ada percakapan lagi di antara mereka. Hanya ada suara dentingan sutil dan kran air yang mengisi kesunyian. Sesekali ada suara sendok dan piring sebab Daffa sedang mempersiapkan alat makan di atas meja.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel milik Amara.


"Ponsel mami tuh, bunyi" Daffa mengatakannya seraya melirik ke atas kulkas.


"Bisa tolong di angkat, sayang"


"Bisa" Daffa berjalan beberapa langkah ke arah kulkas.


"Mommy sayang"


"Angkat aja mas, kita kerjain"


"Kerjain apa? jangan aneh-aneh deh"


"Nggak apa-apa sekali-kali kasih mommy prank"


"Assalamu'alaikum mom"


"Waalaiakumsalam sayang, Amara kemana Daff?"


"Ada lagi masak"


"Loh kalian di rumah mommy?"


"Iya, mom"


"Daddy mana? mommy telfon kok nggak angkat?"


"Lagi manja-manjaan tuh sama_"


"Sama daun muda mom" potong Amara cepat. Lalu menyambar ponsel dari tangan suaminya


"Daun muda? maksudnya apa nak?" tampak wajah Nara di layar ponsel yang menyorot bingung.


"Jangan aneh-aneh dek" pesan Daffa sambil menggelengkan kepala


"Dikit aja kok mas?"


"Kalian kok malah ngomong sendiri, ini mamih loh yang telfon"


"Mommy pengin ngomong sama daddy kan?"


"Ya jelas dong, mommy kangen banyak-banyak sama daddy"


"Bentar mom, Amui mau ke ruang tengah, karena daddy sedang ada di sana sama Tita sama Eve"


"Eve ada di rumah juga?"


"Tentu dong mom"


"Kebetulan dong, mommy juga kangen sama Eve"


"Daddy, ini mommy mau ngomong"

__ADS_1


"Eve, kamu peluk-peluk daddy yang mesra" tambah Amara yang membuat Tama dan Eve mengerutkan kening.


"Kenapa Mui" Tanya Tama mengernyit.


"Kita kerjain mommy dad" bisik Amara seraya menyembunyikan camera dari ponselnya"


"Kenapa gelap nak? mommy nggak lihat gambarnya Amui"


"Bentar mom, ini Amui sedang jalan ke daddy" dustanya, padahal dia sudah berada di rangan yang ia tuju.


"Itu oma ya mom?"


"Iya sayang, tapi Tita ke papi dulu ya minta tolong daddy supaya bantu Tita cuci tangan, karena sebentar lagi kita akan makan malam"


"Mami sama opa sama aunty Veve ada urusan dewasa ya?"


"Iya sayang"


"Ya udah Tita ke papi dulu"


"Halo Ara!! kok sepi si, masa lama banget cuma jalan dari dapur ke ruang tengah"


"Sabar dong mom"


"Kayak gini kak?" Eve yang tadi sedang menemani Ara mewarnai, kini sudah duduk di samping Tama lalu melingkarkan tangan di perut daddynya. Sementara Tama hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Kepalanya nyender di bahu daddy sayang"


"Gini" Kata Eve seraya bergerak sesuai intruksi sang kakak.


"Ok sip" Amara masih berbisik.


"Halo mom"


"Dari mana saja si nak"


"Ini daddy mom" Dia mengarahkan cameranya pada Tama dan Eve yang duduk dengan saling berpelukan. Sesekali Tama mengecup puncak kepala Eve. Otomatis, Nara yang melihat melalui Video call langsung membelalakan sepasang netranya.


"D-daddy? daddy kok peluk-pekuk Eve begitu si?"


"Mau gimana lagi, daddy butuh kehangatan, sementara mommy nggak pulang-pulang"


"Tapi kenapa Eve dad, maksudnya apa?"


Tama kembali mengecup puncak kepala Eve.


"Dan kamu Eve! mommy memang menyuruhmu untuk menganggap mommy dan daddy seperti orang tua kamu, tapi nggak gitu caranya, apalagi sampai peluk-peluk begitu, dia itu pria tua, sama sekali enggak pantas buat kamu" lanjutnya bersungut-sungut.


"Mau bagaimana lagi mom, aku dan daddy saling sayang"


"Jangan gila kamu Ve!!"


"Mommy" Tiba-tiba saja Eve menangis sebab sudah tidak tahan ingin memeluk Nara.


"Kenapa? saya kira kamu perempuan baik-baik, ternyata kamu murahan ya, sudah menusuk orang yang sudah baik sama kamu, padahal suami kamu bahkan lebih tampan dan lebih kaya raya di banding suami saya"


"Tahu malu sedikit Eve, pria itu siapa? dia enggak pantas kamu rayu, dia sudah punya cucu"


"Mommy, I love you, I miss you, I want to meet you soon"


"Apa maksud kamu hah, nggak usah ngelunjak kamu?"


"Mommy" sela Tama sambil mengurai pelukannya.


"Dengerin daddy"


"Apa? apa daddy mau bilang daddy mencintai Eve? mau menikahinya?"


"Dengar dulu mom"


"Dengar apanya, dia daun muda loh"


"Mommy pasti terkejut setelah daddy ngomong yang sebenarnya"


"Ini nggak lucu ya! dan mommy udah terkejut sebelum daddy ngomong" desisnya. "Mommy akan aduin ke Pijar kalau daddy udah nyakitin mommy"


Naraya langsung memutus panggilannya.


"Kasihan mommy loh Mui" kata Tama melirik Amara.


"Di matiin dad?"


"Iya"

__ADS_1


"Sini ponselnya"


Setelah Tama menyerahkan ponsel ke tangan Amara, Amara langsung mengirimkan hasil DNA. Dan tak kurang dari dua menit, Naraya kembali menelfon.


"Assalamu'alaikum mommy"


"Waalaikumsalam. Amui apa maksudnya itu?"


"Mommy masih belum paham? padahal di situ sudah jelas loh"


"Jangan bikin mommy deg-degan nak"


"Mom, Eve itu Pelita, putri mommy"


"P-pelita?"


Amara mengangguk dengan seulas senyum.


"Kalian ngerjain mommy ya?"


"Enggak mom" Sergah Amara cepat. "Eve itu Pelita, Ara udan cek kecocokan DNA antara Eve dengan mommy"


"K-kamu serius sayang"


"Dua rius mom"


"Enggak bohongin mommy?"


"Enggak"


"Sumpah demi apa nak?"


"Demi mommy sama daddy"


Hening, Nara bergeming seraya menutup mulut menggunakan tangan kirinya.


"Mom, ternyata selama ini Kellen sudah bersama Eve, dia menikahi Eve begitu tahu kalau Eve itu anak mommy"


Naraya masih membatu.


"Mom, kita menemukan Pelita"


"Kamu benar-benar nggak bohongin mommy kan?"


"Enggak mom"


"Mommy akan beri tahu Pijar, sebentar"


Panggilan tiba-tiba kembali terputus.


"Yah di putus lagi"


"Gimana Mui?" tanya Tama menyelidik.


"Tadi katanya mau ngasih tahu Pijar, eh tapi malah terputus"


"Ya sudah nanti telfon lagi setelah makan malam, kamu kirim pesan ke mommy, bilang kita mau makan dulu, nanti setelah makan kita telfon lagi. Bilang juga daddy minta maaf tadi udah bercandain mommy"


"Iya dad, Amui ngerti kok"


"Sudah Ve, jangan sedih, nanti telfon mommy lagi" kata Tama menenangkan putrinya yang sudah menangis karena terharu melihat wajah sang mommy.


"Kangen mommy dad"


"Besok lusa mommy pulang, kalau kamu sudah nggak sabar, malam ini juga daddy pesan tiket, kita susul mommy dan Pijar ke Korea"


"Yang benar dad?" Amara seakan tak percaya.


"Benar dong, demi putri daddy supaya nggak nangis lagi"


"Itu ide yang bagus dad, kalau serius mas Daffa pesan tiket sekarang"


Tama melirik Eve. "Gimana nak? mau susul mommy ke korea?"


"Boleh dad?"


"Boleh sayang"


"Kalau gitu aku mau" pungkas Eve.


"Ok, kak Ara minta Daffa buat pesan dua tiket"


"Siap daddy" sahut Amara riang.

__ADS_1


"Okey, sekarang kita makan dulu"


BERSAMBUNG


__ADS_2