
Macau at 19:30 pm.
"Dimana kalian menyembunyikan anak saya hah?" Risa menjambak rambut Nayla dan Delita.
Bagi Delita, sang mertua sangatlah aneh, sebab sudah setua itu tenaganya sangat kuat bila dimensianya kambuh. Dia bisa menjambak rambutnya dengan tangan kiri sementara tangan kanan menjambak rambut Nayla, kakak iparnya.
"Kakak ipar macam apa kalian ini, berani mengusir adik dari suami sendiri?" Cengkramannya kian erat, membuat Nayla dan Delita kian mengerang kesakitan.
"Bu, kami tidak pernah mengusir Tania bu" Nayla menyentuh tangan Risa yang mencengkram rambutnya sangat kuat. "Tania sudah lama meninggal, ibu tahu kan?"
"Apa kau bilang?" Mata Risa menyorot tajam. "Sekali lagi kau bilang putriku sudah meninggal, ku adukan kalian pada Pandu dan Alvin, akan ku suruh mereka menceraikan istri seperti kalian"
"Maksud saya, Tania sedang meninggalkan kota ini bu" Nayla berusaha meralat ucapannya, namun emosi Risa justru kian memuncak bersamaan dengan tangannya yang kian kencang menjambak rambutnya.
"Kalian tidak mau mengaku? tidak mau mengatakan kemana kalian membuang adik ipar kalian hah?" cengkramannya lebih kuat dari sebelumnya.
"Aawhh.. ibu, ibu tolong bu, lepaskan tangan ibu, ini sakit bu"
"Kau pikir ibu tidak sakit saat tahu kalian membuang putriku?"
"Tapi kami tidak membuangnya bu" sanggah Delita sambil menahan rasa sakit.
"Lepaskan dulu tangan ibu dari rambut kami" kali ini suara itu keluar dari mulut Nayla. "Setelah ibu melepaskan kami, akan kami beritahu dimana Tania. Lagi pula bu, mas Pandu dan Alvin sebentar lagi akan pulang, kami harus menyiapkan makan malam untuk putra kesayangan ibu itu bukan?"
"Jadi benar kan, kalian yang sudah mengusir Tania dan membuangnya, ckk Ibu tidak habis pikir kalian setega itu. Kalau begitu jangan harap tangan ibu terurai dari rambut kalian yang jelek ini. Ibu tidak akan melepaskan tangan ibu jika kalian tidak memberitahu dimana kalian menyembunyikan Tania"
"Kak kenapa kakak malah bilang akan memberitahu dimana Tania? kan jadi ibu menyangka memang kitalah yang sudah menyembunyikannya"
"Maaf Del, kakak salah ngomong"
"Apa yang kau katakan menantu kurang ajar?" Tatapan Risa jatuh ke wajah Delita usai mendengar ucapannya.
"M-maksudku bu, benar kata ibu rambut kami sangat jelek, apalagi setelah ibu menjambaknya, pasti tambah jelek, iya kan bu_"
"Nyonya Deli, nyonya Nayla, saya sudah menghubungi tuan Pandu dan tuan Alvin, mereka sedang dalam perjalanan pulang nyonya" bik Chou gugup dan panik tentunya..
"Baru di perjalanan? lantas apa kami harus menahan cengkraman tangan ibu selama lebih dari tiga puluh menit, bik Chou?"
"L-lalu, apa yang harus saya lakukan nyonya Deli?"
"Bantu supaya ibu melepaskan kami"
"Hey Delita, banyak bicara sekali kau, mau ibu jambak lebih kencang lagi?"
"Ti-tidak bu" jawab Delita kilat.
"Sampai kalian tidak memberitahu ibu bahwa Tania baik-baik saja, tangan ibu tidak akan terlepas dari rambut kalian"
"Apa ibu tidak cape? lihatlah bu, bahkan kami lebih tinggi dari ibu, tangan ibu pasti lelah kan, kepala ibu juga terus mendongak, pasti nyeri juga kan bu?"
"Kau menghina bentuk tubuh ibu yang pendek ini Nayla?"
T-tidak bu, maksudku bukan begitu"
"Nyonya Risa, lepaskan nyonya Deli dan nyonya Nalyla, nona Eve sedang dalam perjalanan pulang" Janet turut panik dengan situasi rumah majikannya.
"Siapa Eve?" Risa megarahkan pandangan ke arah Janet.
"Maksud saya nona Tania nyonya"
"Benar bu, Tania sedang dalam perjalanan, pak Adan sedang menjemputnya" Kata Nayla.
"Kalau begitu, kemari kalian"
Risa menggiring Nayla serta Delita menuju sofa. Wanita tua itu duduk di sofa sementara dua menantunya duduk di lantai. "Kalian berdua duduk, kita tunggu sampai Tania benar-benar pulang dengan selamat" tambahnya masih dengan tangan mencengkram rambutnya.
"Kak apa kabar rambutku?" Lirih Delita saat sudah duduk bersimpuh di lantai dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Menyedihkan Del"
"Sakit sekali kak"
"Kau pikir kakak tidak sakit, kakak juga sakit Deli"
"Kenapa bukan kita yang di anggap Tania oleh ibu kak, bukankah jika Tania masih hidup, usianya tidak terlalu jauh dengan kita"
"Kau tahu kan Deli, Tania meninggal saat usianya dua puluh lima tahun, itu mungkin seusia Eve"
"Lantas kenapa bukan Ester, atau Zea?"
__ADS_1
"Diam Kalian" Sentak Risa dengan nada tinggi.
Mereka sontak mengatupkan bibir.
Selang hanya lima detik, Pandu dan Alvin datang dengan raut panik.
"Ibu" Cicit Pandu dan Alvin.
"Mas"
"Alvin"
Nayla serta Delita memanggil sang suami nyaris bersamaan.
"Bu, lepaskan Nayla dan Delita bu?"
"Kau ini bagaimana Pandu, mereka sudah mengusir dan membuang Tania, adik kandung kalian, tapi kalian malah membelanya, kakak macam apa kalian, apa kalian tidak sayang pada adik kalian?"
"Nayla dan Delita tidak pernah mengusir Tania bu"
"Tidak" Pekik Risa, ia bangkit dengan mata berkilat, tangannya menarik rambut menantunya supaya turut berdiri. "Ibu dengar sendiri mereka yang sudah menyembunyikan adik kalian"
"Awhh... ibu" Teriak Nayla dan Delita ketika tangannya menguat.
Alvin dan Pandu pun turut berdesis.
"Itu tidak benar bu"
"Ibu benar Alvin, ibu dengar sendiri kalau Nayla akan memberitahu dimana Tania berada tapi Delita melarangnya"
"Kapan aku bilang begitu ibu?" tanya Delita bingung.
"Bukankah kau tadi menyalahkan Nayla, yang hendak memberitahu ibu jika ibu melepaskan kalian? 'Kak Nay, kenapa kau malah akan memberitahu dimana Tania' bukankah kau mengatakan seperti itu tadi?"
"Iya bu, tapi bukan itu maksudku"
"Lantas apa?"
"Awh" Teriakan kembali meluncur dari mulut Nayla serta Delita.
"Mau ku jambak lebih kencang?"
"Tidak bu" jawab Mereka kompak.
"Sekali lagi kalian bicara, ibu benturkan kepala kalian"
"J-jangan bu" cegah Alvin dan Pandu kompak.
Risa melirik kedua putranya bergantian. "Kalau begitu suruh istri-istri kalian untuk jangan banyak bicara"
Mendengar ucapan sang ibu, Pandu memusatkan perhatian pada isrti dan adiknya.
"Nay, Deli, jangan banyak bicara dulu okey!"
"Tapi sakit kak"
"Tahan dulu, Eve sebentar lagi datang"
Selagi Pandu mengatakan itu, Alvin mengeluarkan ponsel dari dalam saku hendak menghubungi Adan yang tengah menjemput Eve. Namun, belum sempat pria itu melalukan panggilan, tiba-tiba Eve datang dengan tergopoh.
"T-tuan, nyonya"
Sepasang mata mereka kompak memindai tubuh Eve yang melangkah mendekat.
"Syukurlah" desis Alvin dengan suara lirih.
"Tania" ucap Risa.
"Ibu"
"Tania, kemana saja kau?"
"Bu, tolong lepaskan dulu tangan ibu" Eve berusaha tenang. Sejujurnya dia juga takut dengan kondisi Risa yang ternyata nekad melukai orang lain. Takut jika dia akan di amuk.
"Ibu tidak akan melepaskan tangan ibu Tania, mereka sudah jahat padamu, mereka sudah mengusirmu dari rumahmu sendiri"
"Tidak bu, mereka tidak mengusirku. Aku hanya pergi untuk bekerja"
"Kalau kau pergi bekerja, kenapa sampai berhari-hari nak? jangan kau sembunyikan kejahatan kakak iparmu, katakan yang sebenarnya pada kakak-kakakmu kalau istrinya sudah mengusirmu Tania"
__ADS_1
"Tidak bu, nyonya Nayla dan nyonya Deli sangat baik, mereka tidak pernah mengusiku"
"Kau panggil mereka apa? nyonya?" Risa seakan tak percaya.
"Maksud Tania kak Nay dan kak Deli bu" potong Pandu cepat. Dia tahu jika Eve pasti canggung memanggil istri dan adiknya dengan sebutan kakak.
"Iya itu maksud saya bu"
"Orang jahat seperti mereka, harus di beri pelajaran Tania"
"Tapi bukan dengan menjambak rambutnya bu. Ayo sekarang lepaskan tangan ibu, aku ingin ibu menemaniku"
"Okey, ibu akan melepaskan mereka asalkan mereka janji tidak akan mengusirmu"
"Iya kami janji bu"
Mendengar ucapan Delita, Risa menatap kedua putranya.
"Kalian dengar itu kan? mereka berjanji, itu artinya istri-istri kalian sudah mengusir adik kalian sendiri?"
Setelah mengatakan itu, Risa mengurai tangannya dari rambut Delita dan Nayla. Dia sedikit mendorong dua menantunya ketika melepaskannya.
Sementara Alvin serta Pandu, langsung menangkap tubuh istrinya masing-masing.
Kondisinya benar-benar menyedihkan, rambutnya yang berantakan, serta matanya yang menyorot kesakitan membuat Pandu merasa kasihan. Bahkan ketika Nayla merapikan rambutnya, ada banyak helaian rambut berada di tangannya.
"Oh rambutku, rontok"
Nayla melingkarkan tangan di pinggang suaminya.
"Sudah, ku antar ke kamar ya, istirahatlah di sana" kata Pandu.
Alvinpun membawa Delita ke kamar mereka yang menempati bekas kamar Tania jika menginap di sini.
Sedangkan Eve, melangkah membawa Risa ke kamarnya.
****
Di ruang kerja, Alvin dan Pandu sedang membicarakan tentang Ibunya. Mereka meninggalkan istrinya yang sudah terlelap beberapa menit lalu.
"Bagaimana ini kak?" Alvin menopang dagu dengan salah satu tangan.
"Entahlah Vin, penyakit ibu semakin parah, sering sekali kambuh"
"Apa kita akan terus merepotkan Eve? ibu akan tenang begitu Eve datang"
Pandu diam, dan diamnya itu justru berfikir keras mencari solusi untuk masalah sang ibu.
"Kak, bagimana kalau kita jadikan Eve anggota keluarga kita?"
Pandu mengernyit dengan sorot penuh selidik.
"Maksudmu?"
"Kita nikahkan Kellen dengan Eve"
"Tidak mungkin Vin, Kellen sangat membenci Eve"
"Bagaimana kakak tahu Kellen membenci Eve?"
"Pria itu, selalu membuat Eve kesal"
Kening Alvin persekian detik mengernyit tajam.
"Begitu juga dengan Eve, dia sangat membenci El karena selalu menyiksanya dengan setumpukan pekerjaan.
"Lalu bagaimana kak? kita tidak mungkin meminta Eve menjadi perawat ibu"
"Bisa, asal kita membayarnya dengan gaji tinggi"
Alvin mencebik dengan sudut bibir terangkat. "Aku tidak yakin kak"
"Kenapa?"
"Gadis pintar dan cerdas seperti Eve, tidak mungkin mau menjadi perawat lansia kak, gadis itu sama sekali tidak mengagungkan uang, dia pasti memilih pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Dia gadis yang berbeda dengan gadis lainnya"
"Maksudmu?" tanya Pandu tak paham.
"Kakak tahu posisi Eve kan, personal assistant, jika dia mau, dia akan merayu Kellen yang jelas memiliki banyak uang, tapi tidak kak, kesimpulannya Eve pasti akan menolak meski kita membayarnya dengan gaji tinggi"
__ADS_1
Pandu terdiam, sambil menimbang-nimbang saran dari adiknya.
Bersambung