
Dalam hati, Eve merintih kesakitan ketika cengkraman itu kia mengerat.
Benar-benar tak tahu apa yang memantik kekesalan bosnya. Tak ada angin serta hujan, tahu-tahu emosinya memuncak, sementara Eve, bingungnya kian lebih ketika di jadikan pelampiasan amarahnya.
Saat langkahnya telah sampai di dalam kamar, Kellen melempar tubuh Eve hingga ia terjerembab di atas tempat tidur, tangan lain mengunci pintu dan melempar kunci itu ke sembarang arah, setelahnya ia berjalan mendekat ke arah ranjang.
Tatapannya memerah, seperti singa kelaparan.
Detik itu juga rasa takut bersarang dalam diri Eve. Gadis itu bangkit lalu duduk dengan kedua tangan mendarat di atas kasur di samping kanan dan kiri pinggangnya.
"A-ada apa denganmu El?" tanyanya takut-takut.
Pria itu bergeming, menatap penuh lekat dengan sorot tajam.
Eve bergerak mundur ketika Kellen semakin mendekat.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Eve, dengan susah payah ia menelan saliva sambil membuang jauh-jauh rasa takutnya.
Jangan takut Eve! rileks, dan tenanglah
Eve terus bergerak mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan headboard.
"Tuan, tenanglah! kita bicarakan baik-baik jika ada masalah" bujuk Eve berusaha meredakan emosinya yang dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
"Apa aku harus tenang jika mengetahui fakta yang sebenarnya?"
"F-fakta? Fakta apa tuan?"
Kellen mengangkat sudut bibirnya lalu melangkah ke tepian kanan ranjang.
Eve yang masih di kuasai perasaan cemas, sepasang manik hitamnya mengikuti kemana tubuh Kellen terarah.
"Diam dan buka bajumu, sebelum aku yang membukanya dengan paksa"
Eve tecengang, tak percaya dengan kalimat bosnya.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Buka bajumu sekarang juga" sentak Kellen. Dadanya naik turun menahan emosi yang kian naik.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan?" bentak Eve tak mau kalah.
"Jangan banyak bertanya, cepat lakukan"
"Jangan memaksa, karena aku tidak akan pernah membuka bajuku"
"Jadi kau mau di paksa?" tanya Kellen tersenyum miring.
"Jadi kau berniat memaksaku, tuan El"
"Iya" Sahutnya menahan marah teringat semua perkataan Shola.
Melangkah lebih dekat, Kellen menatapnya dengan sangat intens.
Eve sempat menunduk tapi dengan kasar Kellen membuatnya mendongak dengan mencengkram dagunya kuat-kuat.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya melampiaskan amarahku padamu Eve" ucap Kellen mengabaikan sorot nanar dan air mata Eve yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.
"Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya untuk membuka baju tanpa ku paksa, tapi kau sepertinya menantangku yang langsung membuatku tak segan melucuti pakaianmu"
"Rendah sekali kau tuan, pria sepertimu, dengan lancang melucuti pakaian asistenmu"
Eve berusaha melepaskan tangan Kellen yang menyentuh dagunya, namun tangan Kellen yang satunya, terus menepis dan malah mencengkram pergelangan tangannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku berhasil melihat punggungmu"
"Kau mau apa dengan punggungku?"
"Aku mau kebenaran tentangmu" timpal Kellen dengan nada agak meninggi.
"Kebenaran tentang apa maksudmu"
"Cepat buka bajumu lalu berbalik Eve!"
"Aku tidak mau" Mata Eve membulat sepenuhnya, membalas tatapan bosnya yang tajam.
"Baiklah aku yang akan melepaskan bajumu"
Usai mengatakan itu, tangan Kellen yang tadi ia gunakan untuk mencengkram dagunya, ia gunakan untuk menarik paksa piyama tidur yang Eve kenakan.
__ADS_1
Sekuat tenaga Eve berusaha mempertahankan baju agar tetap melekat di tubuhnya, namun usahanya sia-sia.
Menyarah, Eve banar-benar menyerah ketika ia kehabisan tenaga, dan akhirnya Kellen berhasil merobek bajunya.
Eve yang terbiasa tidur tanpa mengenakan bra, langsung menutupi bagian dada dengan kedua tangan.
Ketika dengan paksa Kellen memutar badannya, betapa terkejutnya mengetahui tanda itu melekat di balik punggung Eve.
Tanda lahir berwarna merah muda selebar biji jagung langsung tertangkap jelas oleh netranya.
Sementara Eve, tangannya terulur menarik selimut untuk menutupi bagian depan tubuhnya.
Diam dengan deraian air mata, Eve melipat kedua kaki lalu menempelkan kening pada lengan yang mendarat di permukaan lutut, tangan kirinya menahan selimut di bagian dadanya yang berguncang karena isak. Hatinya benar-benar teriris mendapat perlakuan dari atasannya.
Tak sampai di situ, Kellen dengan cepat mendaratkan salah satu lututnya kemudian menyibakkan rambut panjang Eve yang tergerai. Di belakang telinga, dia juga melihat ada tahi lalat dengan ukuran kecil, tapi cukup menonjol, membuat Kellen seketika melemah.
Pria itu menghirup napas dalam-dalam lalu barbalik. Detik berikutnya ia duduk di tepian ranjang memunggungi wanita yang ada di belakangnya.
Kedua tangan kokohnya mengusap wajahnya gusar.
Evelyn adalah bayi yang hilang?
Bayi yang membuat orang tuanya ngotot memenjarakan tante kesayanganku?
Apa aku harus membunuhmu?
Kenapa harus kau Eve?
Pelan, Kellen bergerak bangkit, lalu berjalan menuju lemari. Ia meraih satu kaos miliknya kemudian melangkahkan kaki ke arah Eve.
Pria itu memasukkan lobang kaos ke kepala Eve ketika sudah berdiri di hadapannya.
Memakaikan bajunya yang kebesaran di tubuh Eve layaknya ayah yang membantu putrinya mengenakan pakaian.
Gadis itu hanya diam menurut, dengan pandangan kosong dan mata sembabnya.
"Aku akan menikahimu, dan kau harus setuju" dia mengatakannya seraya mencari kunci yang tadi ia lempar. "Jika kau tidak setuju, maka mamahmu yang akan menjadi sasarannya, dia akan mendekam di penjara karena hutang-hutangnya"
Setelah tercengang dengan sikap bosnya beberapa menit lalu, kini ia kembali di kejutkan dengan perkataanya yang akan menikahinya.
__ADS_1
Hati dan pikirannya di penuhi banyak pertanyaan, namun ia tak berani menyuarakan apa yang ada di benaknya. Tak ada lagi rasa hormat untuk Kellen, yang ada hanyalah kebencian yang sepersekian detik mengakar dalam hati.
Bersambung