Personal Assistant

Personal Assistant
Cemburu tak kasat mata


__ADS_3

Eve menghirup napas panjang-panjang sebelum memulai perjalanannya. Ia berusaha keras mengusir ketakuan yang merongrongnya sejak tadi.


Perjalanan ekstrim yang akan kembali ia lalui dan pastinya akan lebih ekstrim karena matahari sudah bergulir ke arah barat dan petang akan segera menyambut. Itu artinya, mereka akan berada dalam perjalanan di malam hari.


"Aku akan sering-sering mengajakmu ke sini"


Eve mencebik sebal. "Orang sepertimu memang tidak pernah peduli dengan ketakutan orang lain"


"Justru aku peduli, aku akan menghilangkan rasa takutmu dengan sering-sering berkendara melintasi jembatan ini"


"Ckk, kau akan senang melihatku menderita karena ketakutan kan?" Eve melirik Kellen. Ia berusaha menahan diri untuk tak mengomeli pria di samping kanannya yang tengah menahan senyum geli.


Entah apa yang lucu. Mungkin, wajah panik Eve merupakan hiburan tersendiri baginya. Sambil fokus mengemudi ia membalas lirikan Eve dengan gestur santai.


"Kau tahu, aku adalah wanita yang sabar? Jadi akan lebih baik kau tidak menguji kesabaranku, tuan El!"


Meskipun masih ada sisa deg-degan karena lirikan matanya, tetapi Eve sedikit berani melakukan konfrontasi meski tak frontal.


"Kenapa? kau tergoda padaku dengan sikapku yang manis tadi?"


"Bukankan kau yang tergoda denganku? kau tampak bahagia tadi saat bersamaku, kau menyukaiku?"


Kellen mengangkat satu alisnya. Detik berikutnya tawanya pecah.


"Ada yang lucu?" tanya Eve masih dengan tatapan terarah ke wajah Kellen.


Pria itu bukan menertawakan perkataan Eve, melainkan merasa senang karena setidaknya Eve tak memejamkan mata padahal mobil sudah melaju mulus di atas jembatan.


Mungkin karena kondisi yang sangat gelap dan hanya ada lampu jalan, penampakan laut tidak begitu terlihat. Membuat Eve sama sekali tak menyadari posisinya saat ini.


Mereka mengobrol dengan berbagai argumen, saling adu mulut dan sesekali saling mengejek. Sampai satu jam kemudian, mereka sudah memasuki area imigration tempat pengecekan data diri dan kendaraan.


Mereka di nyatakan lolos ketika melewati pemeriksaan imigration.


"Loh, kenapa tahu-tahu sudah di Macau?" gumam Eve lirih.


Kellen yang mendengar, tertawa lepas.


"Jadi kau tidak tahu kalau selama dalam perjalanan kau begitu cerewet?"


"Jadi kita sudah melewati jembatan itu?"


Kellen mengangguk meresponya.


"Oh my God, syukurlah aku selamat"


"Apa-apan kau ini?" Kellen mengernyit. "Ketakutanmu berlebihan tahu tidak"


"Diam kau"


Pria itu mendesah. "Sayang sekali ya, minggu depan kita harus ke Indonesia dan tinggal di sana hingga beberapa bulan, padahal aku ingin sekali mengujimu dengan menaiki motor melewati jembatan lintas laut"


"Aku tidak mau" sahut Eve.


"Ingat, pasal satu" kata Kellen dengan nada meledek.

__ADS_1


"Kau memang pengecut, beraninya mengancam"


Eve, eve kau benar-benar wanita unik. Siapa saja wanita yang dekat denganku, dia berusaha bersikap manis dan selembut mungkin. Tapi kau?


Kellen menggeleng penuh heran.


Menamparku, mengomeliku, bahkan tak segan mencaci makiku dengan sebutan-sebutan anehmu. Camarlah, cabul, bodoh.


Hhhhh.....


Tanpa sadar Kellen tersenyum di sela-sela mengemudinya. Hingga suara gelak tawa Eve menyadarkan dirinya yang tengah larut dalam lamunan.


"Kau memang tidak waras ya" ucap Eve dengan senyum geli. "Kenapa senyum-senyum?"


"Senang aja akhirnya aku bisa dekat lagi dengan Fiona" sahutnya santai.


Mendengar nama Fiona, wajah Eve berubah sedih, entah kenapa hatinya merasa tercubit dan seketika rasa nyeri terasa begitu kentara di dalam hatinya.


"Kau tahu, dia batal nikah dengan tunangannya" lanjut Kellen. "Itu artinya akan ada kesempatan untukku menikahinya"


Lagi, kalimat Kellen membuat jantungnya berdebam kian hebat.


Ohh,, ternyata Fiona yang sudah membuatnya senang, dan mungkin saat dia bermain-main di disneyland tadi, dia sedang mengekspresikan kegembiraannya itu. Bukan karena dia senang berada di dekatku.


Eve, ada apa denganmu? kau cemburu?


Ah,, tidak mungkin, kau membencinya Ve.


"Ve, kau kenapa?" Selidik Kellen.


"Ya memangnya siapa lagi kalau bukan kau"


"T-tidak apa-apa" Eve berusaha menormalkan ekspresinya.


"Wanita aneh"


Eve bergeming dengan pandangan lurus ke depan. Biasanya jika Kellen mengumpat, dia akan membalas umpatannya, tapi kali ini Eve terima begitu saja di bilang aneh olehnya.


"Ve?" Kellen mengerutkan dahi.


"Kau tidak apa-apa?"


"Jangan banyak bertanya, lebih baik kau naikkan kecepatanmu, aku ingin segera sampai, aku lelah, ingin istirahat"


Ada apa dengannya?


Sebelum aku menyebut nama Fiona dia begitu galak, tapi setelahnya kenapa mendadak jadi pendiam?


Apa dia tidak suka?


Dia cemburu?


Dengan di penuhi tanda tanya, Kellen terus melajukan mobilnya hingga mobil itu berhenti di area parkir apartemennya.


Eve langsung melepaskan seatbelt, tanpa menunggu atasannya, ia melangkah menuju lift.

__ADS_1


Sementara Kellen berlari karena tiba-tiba Eve langsung menutup pintu lift tanpa menunggunya. Namun dengan cepat Kellen mencegah pintu besi itu menggunakan kakinya agar tak tertutup.


"Kau kenapa? mendadak aneh!"


"Tidak apa-apa" jawabnya cuek.


"Tidak apa-apa kok murung?"


"Bisa diam?" Eve menoleh ke arah Kellen, sedikit menengadahkan kepala agar bisa mempertemukan netranya. "Aku lelah"


Suara lift terdengar usai Eve mengatakan itu.


Kellen menekan tombol agar pintu lift bisa terbuka lebih lama.


"Hari ini sampai besok pagi aku masih libur kan? jadi aku tidak perlu membuatkan teh jahe untukmu" Pungkas Eve sambil melangkah memasuki unit apartemen.


"Cuma buatkan teh jahe aja Ve, tolonglah aku tidak bisa tidur sebelum meminum teh jahe buatanmu"


"Janet akan membuatkannya untukmu"


"Tidak mau" sahut Kellen cepat. "Aku cuma mau buatanmu"


Mereka sudah memasuki apartemennya.


"Kau bukan anak kecil, tuan"


"Aku mau kau buatkan aku teh jahe, nona"


Mendesah pelan, terpaksa Eve menuruti perintah bosnya.


"Akan ku buatkan sekarang, tapi setelah itu kau tidak boleh menggangguku"


"Temani sampai aku menghabiskan teh jahe dan tidur"


Mata Eve melebar.


"Kau bukan anak kecil Kellen Austin"


"Kau bilang apa?" tanya Kellen.


"Aku lelah tuan El"


"Aku hanya menyuruhmu menemaniku, tidak menyuruhmu berlari"


Menghela napas panjang, lalu mengeluarkan dengan berat. Eve melangkah ke area dapur, sementara Kellen memasuki kamar.


Selang lima belas menit, teh jahe sudah siap, Eve langsung membawanya ke kamar untuk di letakkan di atas meja.


Setelah mengetuk pintu dan tak ada yang menyahut, Eve langsung membuka dan melangkah masuk bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka.


Di sana ada sosok pria yang hanya mengenakan handuk setengah pinggang. Satu tangan mengeringkan rambutnya yang basah, sementara tangan satunya menutup kembali pintu kamar mandi.


Sepasang mata mereka langsung bertemu pandang, mereka sama-sama bergeming dengan tatapan penuh lekat.


Susah payah Eve menelan saliva, sedangkan Kellen jakunnya bergerak naik turun. Jantung mereka pun tak kalah ribut seakan turut berontak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2