Personal Assistant

Personal Assistant
Perasaan terikat


__ADS_3

Sosok pria duduk di kursi samping ranjang dengan tatapan terus menyoroti wanita yang terbaring dengan mata terpejam.


Ingatannya jatuh pada sosok dokter Amara yang begitu gigih menyelamatkan asistennya.


Sorot panik dari netranya serta keringat dan air mata yang menghiasi area wajah, jelas menandakan bahwa putri dari pria yang sangat ia benci benar-benar memaksimalkan pertolongan medis untuk Eve.


Apalagi ketika sepasang matanya menangkap tangan mulus dari dokter cantik bergetar karena gemetar, ia tak pernah membayangkan jika Eve saat itu sedang berada di masa kritis.


Apa yang terjadi jika Amara bukan dokter?


Apakah Eve tidak akan selamat?


Kellen mendesah, memegang tangan Eve, lalu menempelkan kening di lengannya.


Cukup lama dalam posisi itu, Eve pun membuka kedua matanya. Sorotnya langsung tertuju pada pria yang kini tertunduk. Eve tahu siapa pria itu, tapi tak tahu seperti apa ekspresi wajahnya, detik itu juga dia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut. Infus menggantung dan bau obat yang menyengat membuatnya tersadar bahwa dia sedang berada di rumah sakit saat ini.


Kejadian beberapa menit lalupun terekam sangat jelas di otaknya dan persekian detik ia memutar ulang dalam ingatannya.


Aku pingsan karena menahan rasa gerogi atau gugup yang berlebihan. Tapi kenapa bisa sampai pingsan saat bertemu dengan nona Amara dan wanita itu?


Apa aku pobia dengan warga negara asing?


Ah sepertinya tidak, saat kuliah, banyak teman-temanku berasal dari luar negri. Ketika bertemu dengan ayik Nuri juga biasa saja.


Tak ingin terbawa dalam situasi yang membingungkan, tiba-tiba wajahnya menghangat ketika melihat Kellen berada di sisinya. Jantungnya tidak lagi kebat-kebit tapi justru perasaan nyaman yang singgah di hatinya.


Selang sekian detik, Eve berusaha membangungkan sang atasan.


"Tuan El?"


"Tuan" panggilnya.


"Ve, kau sudah sadar?"


"Dimana pak Ben?"


"Dia sedang ada meeting untuk membahas tentang perpanjangan kontrak kerjasama dengan para pengusaha"


Bibir Eve mengatup melihat Kellen melepas genggaman tangannya.


"Apa ada yang tidak beres dengan jantungku?" tanya Eve sedikit khawatir.


"Dokter belum mengatakan apapun, nanti dokter Amara akan kesini memeriksamu"


"Dokter Amara?"


"Hmm" respon Kellen sambil mengangguk. "Masih deg-degan?"


Eve menggeleng.


"Kalau dokter Amara membuatmu tak nyaman, nanti aku minta dokter lain yang merawatmu"


"Dokter lain?" Eve menelan ludahnya.


Kalau bertemu dengan dokter lain akan membuat jantungku berontak, kan percuma juga. Kemungkinan aku akan kembali tak sadarkan diri.


"Nanti aku ngomong buat ganti dokter"


"Tidak usah tuan. Tidak perlu ganti, biar dokter Amara yang merawatku"


Entah kenapa hatinya menolak jika dokter lain yang menanganinya. Di saat jantungnya berdebam jika bertemu Amara, tapi nalurinya ingin sekali mendapat perawatan medis darinya.


"Yakin?" tanya Kellen.


"Iya"


Bersamaan dengan jawaban Eve, ada seseorang yang mengetuk pintu, detik berikutnya pintu itu terbuka menampilkan sosok Amara tengah tersenyum lebar.


"Sudah sadar nona Eve?" tanya Amara menggunakan bahasa mandarin.


Selain cantik dan seksi, Amara pun menguasai beberapa bahasa. Bahasa inggris, Mandarin dan Korea.


"Sudah"


"Saya periksa ya"


Eve mengangguk meski pelan.


Jantung yang tadinya terus berdebam tak karuan jika berdekatan atau bertatap muka dengan Amara, kini ganti perasaan nyaman yang bersarang dalam diri Eve.


"Apa yang nona Eve rasakan?" tanyanya lembut lengkap dengan bibir yang tersungging.

__ADS_1


"Sudah agak baikan dok, tapi bagaimana dengan jantung saya, apakah baik-baik saja?"


Amara tersenyum sebelum kemudian bersuara.


"Jantungmu sangat sehat, tapi karena perasaan takut, cemas, gerogi yang melampaui batas, kamu jadi sulit mengendalikannya dan akhirnya terjadilah denyutan yang melebihi batas maksimal. Jika jantung berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat, tekanan darah tidak terjaga dengan baik. Akibatnya, aliran darah ke otak terganggu dan menyebabkan pingsan"


"Jadi tidak ada masalah serius dengan jantungku dok?"


"Tidak ada"


"Terimakasih dok"


Amara mengerjap menganggukan kepala.


"Untuk malam ini, nona Eve harus menginap di sini, nanti ada suster yang akan mengecek tekanan darah secara berkala setiap dua jam sekali. Jika hasilnya terus baik dan stabil, besok sudah bisa pulang"


"Baik dok"


"Jika membutuhkan sesuatu, bisa panggil suster atau dokter yang jaga"


"Iya dokter"


"Kalau begitu saya permisi nona Eve, tuan Kellen"


Amara menunjukkan senyum ramahnya sementara


Kellen dan Eve kompak mengangguk.


"Dokter Amara?"


Baru saja melangkah sekitar dua langkah, secara reflek Eve memanggilnya.


"Iya nona Eve?" Amara berbalik dengan sorot heran.


"Dokter mau pulang?"


Pertanyaan Eve membuat Amara terkejut, namun hanya sesaat.


"Iya"


"Be careful"


Tak langsung menjawab, sebab Amara sibuk menormalkan detak jantung yang sepersekian detik berdesir. Sebagian hatinya ingin tetap disini untuk menemaninya, sebagian lagi seakan tak rela harus meninggalkannya.


Eve tersenyum meresponnya.


Usai kepergian Amara, Eve kembali memusatkan perhatian pada Kellen. Raut kuyu dan lelah terlukis jelas di wajah pria itu membuat Eve merasa tak enak hati.


"Tuan, kau bisa pulang"


"Kalau aku pulang siapa yang menjagamu?"


"Aku bisa sendiri"


"Di sini tidak seperti di Macau Ve, jika di negara kita pasien tidak boleh di tunggu kecuali jam besuk, tapi di sini dua puluh empat jam harus ada satu anggota keluarga yang menjaganya"


"Kalau begitu, biar Ben yang menemaniku atau ayik Nuri"


"Kenapa harus merepotkan mereka kalau aku juga bisa. Selain itu mereka lelah seharian bekerja"


"Tapi tuan_"


"Sudah jangan mengatur siapa yang menemanimu, karena aku sudah memutuskan aku yang akan berjaga di sini"


Mendengar ucapan Kellen, seketika hatinya berbunga-bunga, tapi tak serta merta membuat dia menyadari dengan perasaannya. Eve tetap menangkis dan membenci sang atasan.


"Selamat malam"


Seorang wanita paruh baya memasuki ruangannya sambil mendorong kereta makanan.


"Makan malamnya nona"


"Terimakasih" Balas Kellen.


Sepasang mata petugas koki melirik nama dan usia yang tertulis di salah satu sisi ranjang bagian kaki.


Evelyn Stevani??


Namanya seperti tak asing bagiku. Evelyn Stevani, Evelyn.


Wanita itu berusaha mengingat nama itu.

__ADS_1


Ah, entahlah banyak sekali nama yang sama di dunia ini. Bahkan selama aku bekerja di rumah sakit banyak nama pasien yang sama.


Dia berlalu seraya mendorong kembali kereta makanan keluar dari bangsal Eve.


****


Karena Amara juga sempat mendengar kondisi Nara yang lemas dan nyaris tak sadarkan diri, Amara meminta sang suami untuk membawanya pulang ke rumah orang tuanya.


Selama dalam perjalanan, ingatan Amara terus tertuju pada aksinya saat di kantor Angkasa. Ini pertama kalinya dia menangani pasien di iringi dengan kepanikan dan ketakutan di level paling atas. Entah apa yang memantiknya sepanik itu, yang jelas pikirannya sangat takut bila terjadi sesuatu pada Eve. Perasaan empati dan terikat terasa begitu kuat terjalin dalam dirinya.


Setibanya di rumah orang tuanya, Amara langsung turun dari mobil tanpa memperdulikan suaminya yang menatapnya dengan sorot heran.


Pria itu sampai menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.


"Mom" teriak Amara memanggil.


Nara yang saat ini sedang berada di ruang tengah, langsung menoleh mencari wajah putrinya.


"Salam dulu nak" kata Tama mengingatkan.


"Assalamualaikum daddy, mommy"


"Waalaikumsalam"


Amara meraih tangan Tama dan Nara bergantian.


"Opa oma dimana?" tanyanya lalu duduk di sebelah Nara.


Belum sempat Nara menjawab, suara salam dari Daffa menguar.


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.


"Oma opa di kamar" Tambah Tama kemudian mengulurkan tangan untuk di kecup oleh sang menantu.


"Mommy gimana, kata mas Daffa sempat mau pingsan tadi siang?"


"Iya, tapi sudah baik-baik aja sekarang"


"Kenapa bisa?" Amara bangkit, lalu melangkah menuju lemari tempat penyimpanan P3K.


Alih-alih menjawab, Nara justru melempar pertanyaan balik.


"Gimana gadis itu?"


"Sudah baikan" Amara kembali dengan membawa tensimeter.


"Kenapa tiba-tiba bisa pingsan Mui"


"Stres campur gugup mom, bisa jadi pemicu takanan darah menurun, kalau nggak bisa ngendaliin bisa langsung drop"


"Kecapean juga kali ya"


"Terlalu shock juga mungkin, atau karena dia warga asing, jadi sedikit nervous begitu bertemu dengan orang asing di sini"


"Tapi tidak ada masalah yang serius kan?"


"Tidak ada mom"


"Besok rencananya mommy pengin jenguk Ra"


"Jenguk aja, tapi pagi ya, takutnya kalau siang udah pulang dianya"


"Iya" jawab Nara lalu beralih menatap Daffa. "Makan dulu Daf, tadi mommy bilang ke Jamila buat nyisihin makan malam buat kalian"


"Iya mom" Daffa bangkit lalu melangkahkan kaki ke ruang makan.


"Dad, gimana jadinya kerjasamanya?"


"Batal Mui"


"Kenapa?"


"Karena kita menolak memberi ijin pengoperasian Family care dan menolak mendukungnya, jadi kerjasama juga di betalkan"


"Oh begitu"


Kalau batal, itu artinya aku udah nggak bisa ketemu lagi dengan nona Eve, karena nggak ada kepentingan yang mengharuskan kami bertemu.


"Cepat temani suamimu makan"


Setelah mengiyakan, Amara bangkit dengan perasaan kecewa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2