
Satu minggu lebih Kellen di rawat di rumah sakit miliknya, dan hari ini dia sudah di ijinkan pulang. Selama dua minggu itu, Eve sama sekali tak menjenguknya.
Entah kenapa, rasa sakitnya tak bisa di tolerir padahal dalam hatinya, ia sangat mecintai suaminya.
Sementara tentang penganiayaan yang El alami, pihak keluarga sontak terkejut termasuk juga Ben Dixon Harefa yang menjabat sebagai tangan kanannya. Mereka terheran dengan keputusan Kellen yang mendadak mencabut laporannya setelah kedatangan Pijar kala itu.
Meski tak terima, tapi keputusan dari pria yang sedikit arogan itu tidak bisa di ganggu gugat. Meski ingin tahu alasan apa yang membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk menghentikan penyelidikan, tapi apa yang bisa mereka lakukan? mereka hanya mampu menelan bulat-bulat rasa penasarannya itu, sebab Kellen sama sekali tak memberitahu alasannya.
"Awh,, pelan-pelan kak!" kata Kellen saat Amara melepas jarum infus di tangannya. Amara yang menawarkan diri merawat adik iparnya, di terima dengan senang hati oleh Kellen.
"Ini juga sudah pelan, kamunya saja yang parnoan. Tita saja anteng pas kakak lepas
jarum infusnya, kamu malah rempong kaya emak-emak kehabisan bumbu dapur.
"Ini sakit kak"
"Kalau kamu nggak lebay, kamu nggak akan merasa kesakitan"
Balasan Amara membuat Kellen terdiam seakan kehabisan kata-kata.
"Eve gimana kak?" tanyanya setelah mereka sama-sama tak bersuara selama sekian detik.
"Dia masih pada pendiriannya, pengin pisah sama kamu, tapi kakak menangkap gelagat lain"
"Gelagat apa?"
"Ya seperti perasaan cinta, tapi nggak tahu juga sih" kata Amara. Selesai melepas selang infus, wanita itu duduk di tepian ranjang menghadap ke adik iparnya. "Ku lihat dari pancaran matanya, masih ada cinta buat kamu, tapi ada sisi trauma juga dari wajahnya, dia ingin kembali padamu, tapi takut kamu mengulang kekasaranmu"
"Sudah ku bilang aku menyesal kak, aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya, aku tidak akan melakukannya dan justru sebaliknya, aku akan mencintai dan memperlakukannya dengan lembut"
"Kalau begitu, keraskan lagi usahamu, yakinkan lagi istrimu, atau kakak saranin kamu bawa ke pskiater"
"Eve gila gitu kak?"
Reflek, tangan Amara mencubit agak keras lengan Kellen.
"Awhhh..."
"Kamu bilang adikku gila?"
"Aku cuma nanya kak" dia mengusap bekas cubitan di lengannya.
"Ke pskiater belum tentu gila, Kellen. Hanya saja kita perlu menyingkirkan rasa traumanya dengan bantuan psikolog"
"Oh, maaf aku nggak tahu soal itu"
"Makannya dengerin dulu orang menyelesaikan kalimatnya, jangan buru-buru memotong ucapannya"
"Iya maaf!" Ujar Kellen serius. "Tolongin ya kak, aku nggak mau kehilangan adiknya kakak yang keras kepala dan sialan itu"
"Apa kamu bilang?" Kali ini Amara memukul lengannya.
Pria itu tersenyum meringis. "Tapi sialan gitu aku cinta kak"
"Tapi nggak harus ngatain dia sialan kan?"
"Kakak nggak tahu aja julukan dia padaku"
"Apa memangnya?"
"Ada banyak"
__ADS_1
Amara menerutkan kening.
"Si camar, pria cabul, kurang ajar, sialan, laki-laki jahanam" Tambah Kellen menghitung dengan jarinya. "Dan masih banyak yang lainnya"
Amara langsung tergelak mendengarnya.
"Kenapa tertawa?"
"Kenapa di panggil camar dan cabul?" suara Amara teredam sebab ia menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Katanya kita sering ketemu tanpa sengaja, dan kalau ketemu justru sering membuat kita sama-sama emosi"
"Terus kenapa di juluki cabul?"
Alih-alih menjawab, Kellen malah melempar tatapan tajam.
"Kamu suka cabul?" tanya Amara menyelidik.
"Cuma adik kak Ara yang berani mengataiku seperti itu, satu lagi, cuma dia satu-satunya yang berani menamparku berulang kali"
"Tapi masih jadi satu-satunya yang kamu cintai kan?"
"Menurut kakak?"
"Okay, nggak usah di jawab. Sekarang pulanglah, lihat jadi apa bunga-bunga yang kamu kirim serta hadiah-hadiah untuk istrimu yang sialan itu"
"Jadi apa kak?"
"Bunganya numpuk di tong sampah, karena bunga-bunga yang kamu kirim, adalah warna yang tidak dia suka. Lalu hadiah-hadiahnya, ada yang ia kasihkan pada mbak Jamilah, pada Cici, pada istrinya pak sopir dan sebagian lagi numpuk di kamar tamu"
"Apa?"
"Hmm" Amara menganggukkan kepala.
"Memang, tapi pas kamu kasih bunga hijau itu, dia pas lagi benci sama warna hijau"
"Aku juga kasih warna lain kok kak, ada ungu, merah muda, biru, jingga, putih"
"Iya, tapi warna-warna itu datangnya pas lagi dia nggak mood sama warnanya"
"Emang dasar sialan dia kak"
Bukannya marah sang adik di katain sialan, Amara justru tertawa renyah.
Hingga kedatangan Ben, menginterupsi tawa Amara.
"Eh pak Ben? Mau jemput si camar?" tanya Amar setelah tawanya reda.
Kening Ben mengernyit dengan sorot heran.
"Jemput tuan El, nona Ara"
"Ya, silakan bawa dia pulang, aku sudah bosan melihat wajahnya"
Ben tersenyum meski dalam hatinya merasa kebingungan.
"Oh iya" sambung Amara yang membuat Kellen serta Ben menatap wajahnya. "Bagaimana hubungan anda dengan NumNum pak Ben"
Pertanyaan Amara membuat garis di kening Ben semakin tampak jelas.
"NumNum?" tanyanya tak mengerti.
__ADS_1
"Shanum"
"S-Shanum?" ulang Ben tergagap dengan wajah bersemu merah.
"Jangan gugup gitu"
Setelah mengatakan itu, Amara langsung pamit dan keluar dari bangsal Kellen.
Shanum? kenapa nona Amara bisa bicara soal wanita itu? Apa Shanum cerita padanya? Tapi cerita tentang apa? Tentang seringnya kita bertemu tanpa sengaja?
Persekian detik hatinya entah kenapa berbunga-bunga kala mengingat wajah Shanum.
Kira-kira, seperti apa rambutnya? panjang seperti nona Eve? Pendek seperti ayik Nuri? atau, bergelombang seperti nona Amara?
"Ben?" tatapan Kellen begitu mengintimidasi.
"I-ya tuan?" Dia terlonjak kaget.
"Kamu ada hubungan dengan si Shanum?"
"T-tidak"
"Lantas kenapa kak Ara bertanya seperti itu?"
"Saya tidak tahu, tuan"
Mendapat tatapan aneh dari bosnya, Ben yang kikuk berusaha menormalkan ekspresi wajahnya.
"Tuan, lusa ada dua pertemuan di Hawai dan Kanada, tuan akan menghadiri yang mana?"
"Bersamaan Ben?"
"Iya, tuan"
"Saya yang akan ke Hawai"
"Baik tuan, saya akan ke Kanada untuk mewakili tuan El"
"Daddy atau uncle Alvin nggak ikut?"
"Paman Alvin akan ke Kanada bersama saya, nyonya Delita juga akan ikut serta"
"Mau bulan madu mereka?"
Ben mengedikkan bahu merespon kalimat Kellen.
"Kalah kita sama mereka yang udah tua, kamu juga Ben, kapan nikah?"
"Belum waktunya tuan?"
"Banyak bule di Kanada, kamu bisa cari di sana"
"Saya tidak suka bule?"
Alis Kellen terangkat satu. "Sukanya Shanum?"
"Hah?" Ben terkejut mendengar ucapan sang bos.
"Lebih baik, mari kita pulang tuan"
Selang tiga menit, Dua pria tampan itu bersama-sama melangkahkan kakinya. Para suster dan staf rumah sakit yang berpapasan dengan mereka menunduk ramah lengkap dengan ukiran senyum.
__ADS_1
Bersambung...
Tinggal beberapa part lagi, sepuluh kurang lebihnya..😉