Personal Assistant

Personal Assistant
Keluar dari rumah


__ADS_3

Duduk di tepian ranjang, tatapan mata Eve menyorot kosong nan sendu. Tak pernah terlintas dalam fikirannya ternyata orang-orang yang membuatnya nyaman selama ini adalah keluarga kandungnya sendiri.


Orang-orang yang ingin selalu dia temui adalah kakak dan orang tuanya.


Bagaimana bisa?


Eve menunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut.


Gautama, Naraya, Amara, Pijar, seolah nama itu berebut masuk ke dalam isi kepalanya, meronta-ronta agar dirinya segera menemui mereka dan memberitahukan bahwa 'akulah bayi yang hilang di family care, akulah bayi yang selama ini kalian cari, akulah bayi yang kalian rindukan.


Akulah,,,,


"Arrgghhh..!" Teriak Eve lalu meraih jam weker yang teronggok di atas nakas dan melemparnya ke arah pintu.


Bersamaan dengan itu, Kellen memasuki kamar dan dengan tangkas pria itu menangkapnya.


Secara otomatis pandangan mereka langsung bersirobok.


Eve yang menatapnya penuh benci sedengkan Kellen menyorot kelam sekelam malam ini.


Reflek tangan Eve mengepal sangat kuat, sekian detik kemudian bangkit dan melangkah menghampiri sang suami.


Saat langkahnya tepat berada di depannya, Eve mendongak, menatapnya kian tajam di iringi dengan rasa geram yang menyerbu relung jiwa.


Hilang kesabaran, suara tamparan menguar di kamar mereka. Satu kali mendarat di pipi kiri, ketika Kellen kembali menatap Eve, satu lagi tamparan di pipi yang sama.


Benar-benar hilang kendali, tamparannya yang sangat keras, bahkan membuat Kellen mengeluarkan cairan merah dari sudut bibir.


"E-Eve!" Pria itu mengusap darah segar dengan ibu jarinya


"Dua tamparan bahkan belum cukup untuk membalas rasa sakit hatiku, tuan Kellen"


Seakan untuk meminta maaf pun Kellen merasa berat. Dia hanya bergeming dengan tatapan nyalang.


"Aku rela mengabdikan diriku padamu seumur hidupku, tapi kenapa kau begitu tega padaku, El? Tidakkah kau berfikir ulang sebelum mengurungku? tidak adakah hati di dalam dadamu? tidakkah kau ingat dengan momyymu yang juga seorang wanita? atau setidaknya, lihatlah kebaikanku padamu"


Hening, pria itu benar-benar tak mampu mengeluarkan kalimat apapun bahkan hanya sekata sekalipun..


Tersenyum miring, Eve berdecak ketika pria yang tampak menakutkan, kali ini nyalinya mengecil bahkan tak punya nyali sama sekali.


"Aku sangat lelah" ucap Eve dengan tatapan penuh tak teralihkan. "Dan ketika aku lelah dengan semuanya, aku harap di situlah kau akan tetap diam seperti ini untuk merenungi kesalahanmu"


Eve menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali berbicara.


"Aku akan pergi dari hidupmu, ku pastikan kau tidak akan pernah bisa menemuiku"


Usai mengatakan itu, Eve mengangkat kakinya dan pergi dari hadapannya.


"Mau kemana kau?" Tangan Kellen dengan tangkas meraih pergelangan tangan Eve. Pandangan mereka kembali saling beradu.


"Menemui keluargaku" balas Eve tanpa basa basi.


Jawaban Eve sepersekian detik membuat Kellen tercengang, Ia berfikir keras mencari maksud dari ucapannya.


"Keluarga kandungku" Tambah Eve dengan ketenangan yang luar biasa.


Keluarga?


Apa Eve sudah tahu tentang keluarga kandungnya?


Bagaimana dia mengetahuinya?


Selagi Kellen sibuk dengan bisikan-bisikan hatinya, Eve berusaha melepas cengkramannya. Ketika berhasil, ia langsung melangkah menuruni anak tangga tanpa sekalipun menengok ke belakang. Sementara Kellen menatap nanar punggung Eve yang perlahan menjauh dari jangkauan matanya.


Apa dia mendengar percakapanku dengan uncle?

__ADS_1


Dia menguping diam-diam?


Tidak mungkin, dia tidak mengerti bahasa yang ku gunakan ketika bicara dengan uncle.


Kellen menepis dugaannya lengkap dengan gelengan kepala. Hingga fokusnya kembali, dia mendapati Eve sudah melangkah sampai di ruang tengah. Dengan langkah seribu Kellen berusaha mengejarnya.


"Berhenti di situ" teriak Kellen yang membuat Alvin langsung keluar dari ruang kerja.


Langkah kaki Eve terhenti, tapi hanya beberapa detik.


"Stop Evelyn Stevanie" Kellen terus melangkah untuk mengikis jarak di antara mereka.


Sementara Eve menghembuskan napas panjang mendengar nama lengkapnya di sebut, alih-alih berhenti ia malah terus melangkah menerobos ruang tengah menuju pintu utama.


"Berhenti kalau ingin mamahmu selamat"


Kali ini langkah Eve benar-benar terhenti lalu berbalik.


"Mamahmu berada di tanganku Evelyn" kata Kellen tersenyum miring.


"Mamahmu aman Ve, pergilah temui keluargamu"


Tiba-tiba suara Alvin menyela dan langsung membuat Kellen serta Eve memindai pandangannya.


"Jangan khawatirkan mamahmu, uncle menjamin keamanan untuknya"


Mendengar ucapan Alvin, Eve semakin bulat untuk pergi ke rumah orang tuanya.


"Pergilah nak, Banu akan mengantarmu, dan jangan kembali sampai kau memaafkan kesalahannya"


Eve kembali berbalik untuk melanjutkan langkahnya.


Jangan kembali sampai kau memaafkannya? Kellen mengulang kalimat sang paman dalam hati.


Itu artinya, Eve tidak akan kembali sebelum dia benar-benar memaafkanku?


"Eve, berhenti Ve!"


Mengabaikan teriakan Kellen, Banu yang masih ngrumpi dengan satpam langsung menyiapkan mobil begitu mendapat perintah Eve.


"Kita mau kemana non?" tanya Banu ketika sudah berada di dalam mobil.


"Ke rumah sakit paman"


"Baik nona"


Mobilpun melaju dengan kecepatan stabil. Tak banyak kendaraan yang lewat membuat Banu leluasa dalam mengendarai mobilnya. Hingga mobil itu tahu-tahu sudah berada di halaman rumah sakit.


"Paman, tunggu di sini, aku akan segera kembali"


"Baik nona"


Sebenarnya kondisi Eve sangatlah lelah dan lemah, tapi ia berusaha kuat agar langkahnya bisa secepatnya sampai di keluarga Nalendra.


Dua orang resepsionis langsung terkesiap begitu sepasang netranya mendapati nona muda mereka berjalan menghampirinya.


Mereka langsung tersenyum dan memasang wajah seramah mungkin.


"Nona Evelyn"


"Suster, apa rumah sakit menyimpan alamat rumah Gautama Nalendra?"


"Tidak nona, maaf"


"Kalau dokter Amara?

__ADS_1


"Kalau dokter Amara ada non" jawabnya.


"Catatkan untukku, sekarang"


"Baik nona"


Tak kurang dari lima menit, Eve sudah mendapatkan secarik kertas berisi alamat rumah Amara yang tak lain adalah rumah Ramdan yang sekarang sudah di bangun sangat mewah oleh Daffa.


"Terimakasih suster"


"Sama-sama nona"


Eve langsung bergegas kembali ke mobilnya.


"Paman, tolong antar aku ke alamat ini" perintah Eve seraya menyerahkan kertas itu.


Banu menerimanya lalu melihatnya sekilas.


"Baik nona"


Mobil kembali melaju dengan sangat hati-hati, mengingat waktu semakin malam dan sepertinya Banu sudah mulai mengantuk. Setelah beberapa menit, akhirnya mobil sampai di alamat tujuan.


Eve dan Banu sama-sama turun dari mobil lalu melangkah dan langsung memencet bel.


Tak menunggu lama, seorang satpam membuka pintu gerbang.


"Pak, bisa bertemu dengan nona Amara" kata Eve yang membuat satpam sedikit merasa curiga.


"Ibu sudah tidur, lebih baik kembali besok pagi"


"Tidak bisa pak, saya Evelyn saya ingin bertemu sekarang juga"


"Tapi maaf, kami tidak bisa membangunkannya"


"Ayolah pak, nona saya adalah atasan di rumah sakit tempat dokter Amara bekerja"


Mendengar ucapan Banu sang satpam merasa jika orang ini memang bukan sembarang orang.


"Baik, akan saya panggilkan" katanya mengalah.


Untuk berjaga-jaga, si satpam menutup pintu gerbang lalu melangkah memasuki rumah mewah majikannya.


Selang lima menit, satpam kembali membuka pintu gerbangnya dan mempersilakan masuk.


"Paman Banu bisa pulang sekarang"


"Tapi nona?"


"Saya akan di sini sementara waktu" lirih Eve.


Setelah di iyakan oleh Banu, Eve menerobos pintu gerbang, di sana sudah ada ART yang menyambut kedatangannya.


"Mari masuk" ucapnya ramah.


Eve mengedarkan pandangan begitu memasuki area ruang tamu. Ia melihat Amara dengan piyama tidurnya berjalan mendekatinya, sementara jantung Eve berdetak dengan sangat liar di dalam sana.


"Eve?" Amara terkejut. Tanpa dia duga, Eve memeluk Amara dengan di iringi isak.


Bingung, Amara mengusap punggunya penuh tanya.


Karena tubuh Eve terlampau lelah, jantungpun semakin ribut, di tambah perasaan yang berhambur menjadi satu, membuat Eve tak bisa mengendalikan dirinya.


Tiba-tiba saja, di pelukan sang kakak ia kehilangan kesadaran.


Bersambung

__ADS_1


Upnya besok lagi ya... 😀😀😀


__ADS_2