
Pertemuan antara Kellen dan Daffa serta Amara yang belum tuntas, membuat Kellen sedikit kecewa. Mereka masih mempertimbangkan tawaran kerjasama darinya sebab akan berunding terlebih dulu dengan sang mertua.
Daffa dan Amara, tak bisa mengambil keputusan sepihak di karenakan tawarannya mengingatkan mereka dengan adiknya yang hilang dua puluh tiga tahun silam.
Pertemuan itu akan di lanjutkan pada keesokan harinya bertempat di Angkasa group. Kellen akan mencoba mengadakan pertemuan dengan Tama dan juga Nara. Daffa serta Amara pun akan turut hadir dalam pertemuan selanjutnya.
"Dek" Panggil Daffa lembut, lalu mendaratkan kedua tangan pada pundak Amara yang tengah duduk menghadap kaca rias dengan pandangan kosong.
"Hem!"
"Ada apa?" pria itu memutar kursi yang di duduki sang istri, lalu menarik kursi lain di depan meja kerjanya untuk ia duduki.
"Nggak ada apa-apa" sahutnya kemudian menghela napas agak panjang. "Tita sudah tidur?" tambahnya bertanya.
"Sudah"
Mereka yang sudah duduk saling berhadapan, tatapan Daffa begitu mengintimidasi.
"Ada apa?" Sekali lagi Daffa bertanya.
Amara menunduk, membuat Daffa kian tak percaya jika istrinya baik-baik saja.
Dari raut wajahnya sudah bisa di tebak jika Amara tengah menyembunyikan sesuatu.
"Nggak mau crita sama mas?" Dia bertanya seraya meraih kedua tangan Amara.
"Apa karena tuan El, kamu jadi teringat adikmu?"
Amara mengangguk.
"Rumah sakit itu yang sudah menghilangkan adikku, tapi mereka malah datang pada kita menawarkan kerja sama dan meminta dukunganku dengan menjadikanku kepala di family care"
"Mas juga nggak habis pikir kenapa mereka memilih keluarga kita untuk mendukungnya, padahal banyak sekali pengusaha di Indonesia yang jauh lebih bonafit untuk di mintai dukungan"
"Justru itu mas, popularitas serta elektabilitas dari family care akan meningkat jika mendapat dukungan dari keluarga korban. Rumah sakit itu, menurun drastis karena kasus Pelita, dan dari keluarga kita juga family care akan kembali melambung, itu sebabnya mereka memilih kita"
"Istri mas memang selalu menang dari mas"
"Aku serius mas" kata Amara lembut.
"Iya sayang kamu benar sekali. Secara tidak langsung mereka memang memanfaatkan kita, tapi kita juga tidak bisa berprasangka buruk dulu pada tujuannya sayang, karena mereka sudah membeli rumah sakit itu dan pasti tidak ada sangkut pautnya dengan pemilik lamanya. Mereka membelinya dari Tania kan?"
"Hmm"
"Nah wajar dong kalau mereka minta bantuan kita. Kalau kita berada di posisi tuan El, kita juga akan melakukan siasat seperti itu. Ini tak tik dalam berbisnis loh sayang"
"Tapi ngomong-ngomong mas, aku kok seneng liat asisten pribadinya itu ya"
"Nona Eve?" Daffa mengerutkan kening.
Amara menganggukkan kepala. "Imut, cantik, dan sepertinya dia sedikit gerogi tadi. Banyak melamunnya"
"Dia bukan WNI sayang, mungkin agak nervous karena bagi dia kita ini orang asing. Orang kalau ketemu dengan WNA, pasti grogi kan, guguplah, nervouslah. Iya nggak sih?"
"Iya, tapi wajahnya nggak ngebosanin di lihat, pengin natap terus jadinya, besok aku harus datang ke kantor daddy, supaya bisa bertemu dengannya lagi"
"Kamu suka?"
"Suka banget"
"Andai saja bisa, pasti mas bungkus terus bawa pulang, spesial buat kamu"
__ADS_1
"Bercanda lagi kan?"
Daffa terkekeh kemudian mengecup tangan Amara. "Itu karena kamu lagi kangen sama Pelita, jadi pas lihat nona Eve, secara tidak sengaja otak kirimu berfikir jika nona Eve adikmu"
"Entahlah, kalau saja Pelita nggak hilang, mungkin seusia nona Eve kali ya?"
"Sepertinya begitu, tapi pas mas lihat nona Eve, dia seperti wanita yang di bandara, yang pas lagi sama om Pijar itu"
"Oh ya? aku malah nggak ngeh, pas di bandara kan lihatnya cuma sekilas"
"Mas juga nggak begitu yakin juga si, dan kalau di perhatikan bibir nona Eve sangat mirip denganmu sayang"
"Oh ya?"
"Hmm"
Hening, keduanya hanya saling tatap sambil berbalas senyum.
"Ini kita mau ngapain lagi? mau lanjut cerita, atau langsung tidur, atau bukber dulu?"
"Bukber?" Alis Amara menukik.
"Buka bersama, alias bobo panas"
Daffa langsung mengangkat tubuh Amara lalu membawanya naik ke atas tempat tidur.
****
Ah sial, awas saja kalau mereka menolak kerja sama, aku akan membuatnya kolap.
Keraguan mereka memang sudah di taksir oleh Kellen, tapi ia tak akan menyerah sampai di sini. Kellen akan mempengaruhi mereka dengan mengatakan jika di bukanya kembali rumah sakit itu, maka akan ada kemungkinan bayi yang hilang bisa di temukan, meskipun kemungkinan itu sangatlah kecil.
"Apa mereka meragukan Eve Ben?" tanya Kellen menyelidik.
"Maksud tuan?" tanya Ben mengernyit.
"Kau lihat ekspresi dia saat pertemuan tadi? dia lebih sering melamun, menunjukan ekspresi yang membuat lawan bicaranya merasa seakan tidak ingin mempercayainya"
"Mungkin saja, tuan. Saya malah lebih sering melihat nona Eve tidak fokus serta gemetar"
"Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di negara orang, mungkin saja dia takut atau gugup, iya kan?"
"Bisa jadi tuan, dia merasa risau karena ini tempat asing baginya. Dan sekarang, dia malah merasa tidak enak badan"
Kellen menekan bibirnya ke dalam, mencoba berfikir dan mempersiapkan diri agar besok kesepakatan bisa deal dan di tandatangani oleh kedua belah pihak.
"Lalu bagaimana dengan Apri dan anak buahnya, mereka masih mencari informasi tentang bayi itu kan?"
"Masih tuan, tapi sepertinya belum membuahkan hasil, sebab tak ada satupun petunjuk untuk menemukan bayi itu"
"Tapi aku memiliki filling kalau pelakunya adalah orang dalam Ben, kau tahu kan media mengatakan sangat sulit mencari pelakunya karena saat penculikan itu terjadi, semua CCTV mati total"
"Iya tuan, tapi bukankah semua para pegawai suster dan dokter sudah di selidiki? dan memang tidak ada yang membuktikan mereka terlibat dalam penculikan itu?"
"Iya kau benar, penculik benar-benar cerdik, mereka melakukan penculikan itu dengan sangat matang, dan aku yakin mereka merencanakannya jauh-jauh hari"
"Benar, tuan" Sahut Ben. Kali ini wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. "Apa ini ada hubungannya dengan rumah sakit IMC tuan"
Mendengar ucapan Ben, Kellen langsung memusatkan netranya pada pria di depannya. "Rumah sakit IMC?"
"Ada artikel yang mengatakan saat pertama kali Family care beroperasi, nona Tania berhasil mengalahkan popularitas IMC hospital"
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan artikel itu Ben? aku tidak pernah membacanya"
"Tadi malam saya tidak sengaja menemukan artikel itu, dan setelah saya cari tahu lebih dalam, sama sekali tidak ku temukan informasi lain yang berhubungan dengan itu. Saya mencoba mencari tahu siapa pemiliknya, tapi sepertinya mereka sudah menghapus semua artikel tentang IMC. Hanya itulah informasi satu-satunya"
"Kau masih menyimpan artikel itu?"
"Masih tuan, saya sempat menyalin beritanya"
"Aku ingin melihatnya Ben"
Ben merogoh saku celana, kemudian menyerahkan ponselnya.
"Ini, tuan?"
Family Care berdiri di sela-sela surutnya rumah sakit terkemuka di Jakarta. Baru saja beroperasi, Rumah sakit ini mampu menyaingi dan menggeser posisi IMC hospital sebagai rumah sakit terbaik di Jakarta.
Dimana Family care di pimpin oleh seorang wanita mafia judi dari Macau.
Dalam hati Kellen membaca artikel yang hanya sebagian tertulis di sana. Lalu kembali menyerahkan ponsel kepada pemiliknya.
"Benar-benar sudah kau cari tentang IMC hospital Ben?" Kellen memastikan sekali lagi.
"Sudah, tapi tidak ada sama sekali, yang ada justru berita tentang hilangnya bayi di Family care"
"Sama sekali tidak ada?"
"Tidak ada tuan" sahut Ben di sertai gelengan kepala.
Dua pria itu saling tatap dengan pemikiran yang sama.
"Apa kau memikirkan apa yang ku pikirkan?"
"Iya tuan"
"Jadi intinya penculikan itu terjadi karena family care sudah mengalahkan IMC?"
"Iya tuan, dengan motif balas dendam"
"Tepat sekali Ben, Kita harus mencari tahu siapa pemilik rumah sakit itu"
"Benar tuan"
Kellen menghempaskan punggung ke sandaran kursi lalu menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa dulu mereka tidak berfikir kesana Ben?" lirih Kellen.
"Seperti yang kita tahu tuan, keluarga Mahardani hanya fokus pada nona Tania, sementara keluarga Gautama fokus pada bayi dan tuntutannya pada nona Tania. Mereka melupakan tentang IMC karena berita hilangnya bayi lebih populer saat itu, dan para penyidik lebih fokus untuk segera menemukan bayi itu"
"Dan di sinilah pemilik IMC menghapus semua yang berkaitan dengan informasi IMC" sambar Kellen.
"Tepat sekali, tuan"
"Mungkinkah tuan Gautama tahu pemilik IMC?" tanya Kellen dengan sorot serius.
"Kita coba tanyakan besok, tuan"
Bersambung
Ternnyata sudah berada di awal part klim*aks 😀😀😀 ngebut banget sayanya 😋😋😋 Efek gas pol rem blong...
Lanjut lagi yuk.. kita nikmatin alurnya yang sedikit muter-muter dan panjang-panjang.
__ADS_1
Kalau ada typo harap maklum ya, nanti di revisi lagi.