
"Aku nggak percaya ini Ra" ucap Mita setelah mengetahui hasilnya.
"Sini kertasnya, aku harus menemui daddy" Amara langsung menyambar kertas yang tengah di pegang Mita, lalu beranjak dari ruangan Mita.
"Aku akan mengantarmu Ra"
"Nggak usah Ta, aku bisa sendiri" sahutnya lalu menutup pintu.
"Hati-hati"
Dengan setengah berlari Amara melewati koridor rumah sakit menuju mobilnya yang terparkir di halaman Ar_Raudhah. Ia bahkan mengabaikan teman-temannya yang menyapa lengkap dengan tatapan penuh heran.
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, sesekali ia berdecak geram karena jalanan begitu padat dan macet.
Setelah menempuh hampir empat puluh lima menit, akhirnya Amara sampai di kantor Angkasa group milik orang tuanya. Tak peduli dimana ia memarkirkan kendaraannya, yang jelas para karyawan menyorot dengan raut heran campur bingung melihat sikap Amara.
"Mbak Mega, daddy sudah berangkat?" tanya Amara pada sekertaris Tama.
"Sudah mbak Ara, tapi sedang ada meeting dengan klien"
Amara langsung menuju ke ruang meeting begitu mendengar ucapan Mega. Sementara Mega yang menyorot penuh tanya terus memperhatikan punggung putri dari atasannya yang berlari dengan tergesa-gesa.
"Daddy" Pintu terbuka membuat seisi ruangan menoleh ke arah sumber suara.
"Ara"
Dengan keringat membasahi kening, Amara mencoba menormalkan nafasnya yang masih memburu dengan dada naik turun.
"Amui!" Cicit Tama kedua kali.
"Daddy-a"
"Ada apa nak?" tanya Tama seraya bangkit dari duduknya.
Bukannya menjawab, Amara malah berlari lalu melingkarkan lengan di pinggang Tama.
"Kenapa nangis? apa Daffa menyakitimu?" tebak Tama yang langsung di respon gelengan kepala.
"Terus?"
Amara masih bungkam, ia belum sanggup mengeluarkan kata demi kata untuk menjelaskan sesuatu pada sang daddy. Dan untung saja meeting kali ini dengan klien yang masih kerabat dekat dengan Aldika sehingga bisa memaklumi kondisi mereka.
"Daddy lagi meeting nak" ujar Tama sambil mengusap surai panjang putrinya.
"Bisa kita bicara di ruangan daddy?"
"Bisa sayang"
Wanita itu melonggarkan pelukan selagi daddynya meminta ijin pada Aldika dan klien untuk tidak mengikuti pertemuan mereka. Tama pun menyerahkan semua keputusan hasil meeting pada Aldika.
Setelah berpamitan, Tama serta Amara melangkah meninggalkan meeting room.
"Ada apa Amui? kenapa bisa sampai nangis begini?"
"Amui mau kasih tahu sesuatu ke daddy"
"Tentang apa?" Tanya Tama penasaran.
Belum sempat Amara menjawab, tahu-tahu liftnya datang. Keduanya memasuki lift yang akan membawanya ke ruangan Tama.
"Amui! kenapa diam nak? daddy penasaran loh ini, takut juga ada sesuatu yang terjadi"
"Ngomongnya di ruangan daddy aja"
__ADS_1
"Okay, tapi nggak pake nangis gini bisa kan?"
"Nggak bisa"
Satu alis Tama terangkat, lalu mengela napas dalam.
Selang dua menit, lift telah sampai di lantai ruangan Tama. Mereka berjalan beberapa langkah lalu Tama memutar handle pintu dan mendorongnya.
"Nah sudah di ruangan daddy, sekarang crita ke daddy ada apa"
"Daddy duduk dulu"
Tanpa mengatakan apapun, Tama menurut kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Sekarang katakan ada apa?" fokus Tama lekat menatap putrinya yang kini tengah mengeluarkan secarik kertas.
"Daddy baca ini!" Amara menggeser kertas di atas meja dan mendekatkan tepat di depan Tama.
"Apa ini Mui?" tanyanya, meskipun tangannya terulur meraih kertas di meja, namun pandangannya terus tertuju pada wajah Amara.
"Daddy baca saja"
Pelan, Tama membuka lipatannya, lalu menatap kertas itu penuh lekat.
*Pr*obabilitas Naraya Stevanie Nalendra sebagai ibu kandung dari Evelyn Stevanie adalah 100 %.
"A-apa ini nak?" Kini pandangan Tama sudah beralih ke wajah Amara kembali.
"Mommy Na ibu kandungnya Evelyn?"
Amara mengangguk dengan sepasang mata berbinar penuh haru.
"D-dari mana kamu dapat ini sayang?"
"Ara sendiri yang cek DNA mommy dan Eve dad"
Untuk kesekian kalinya Amara mengangguk.
"Kamu enggak bohongin daddy nak?"
"Mana mungkin Ara bohong sama daddy"
"T-tapi dari mana kamu tahu hal ini?"
"Tuan El, dia yang sudah menemukan Eve, ternyata tuan El selama ini juga mencari Pelita. Kata Eve, dia dapat informasi dari seseorang yang membantu penculik itu buat curi Pelita"
"Kapan tuan El mengetahui hal ini?" tanya Tama.
"Sebelum pernikahan El dan Eve, dad"
"Sebelum pernikahan mereka?" Tama terkejut. "Itu sudah tiga bulan yang lalu, kenapa tuan El tidak memberitahu kita Mui?"
"Mungkin tuan El mencari waktu yang tepat dad, dan dia langsung menikahi Eve karena ingin melindungi Eve dari si penculik. Amui sempat mendengar kalau Kellen masih terus mencari penculik sebenarnya dengan mengorek informasi dari orang yang tahu tentang penculikan Eve"
"Siapa orang itu?" tanya Tama ingin tahu.
"Belum tahu dad, Amui dan tuan El belum bertemu kembali karena dia sedang di rawat intensive di rumah sakit"
"Dia sakit?"
"Iya daddy, dia mengalami kehamilan simpatik, karena saat ini Eve tengah mengandung tiga minggu"
"E-ve hamil?"
__ADS_1
"Hmm" Amara mengangguk.
"Sekarang ayo kita ke rumahmu, daddy pengin peluk Pelita"
"Ayo dad"
****
Di teras rumah, Ramdan dan Eve sedang terlibat pembicaraan seraya menikmati tomat dengan begitu lahapnya.
Tadi setelah sarapan, Evelyn meminta Cici untuk membeli satu kilo tomat, karena entah kenapa, tiba-tiba saja ia ingin sekali memakan buah itu. Dan ini adalah tomat kelima yang sedang ia gigit.
"Kamu tahu nak, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jadi kakek harap, itu adalah tomat terakhir yang kamu makan pagi ini"
"Iya kek"
Ramdan tersenyum sambil memperhatikan Evelyn yang begitu lahapnya memakan buah tomat. Ia teringat Nara yang juga suka sekali dengan buah asam itu. Dulu, Ramdan pernah menanamnya di halaman belakang rumahnya. Belum sampai tomat itu memerah, sudah di petik oleh sang putri dan di lahapnya.
"Kalau bisa nak Eve, jangan terlalu lama meninggalkan suami" nasehat Ramdan untuk kesekian kalinya. "Di agama manapun, kakek yakin jika pergi dari rumah untuk menghindari permasalahan dengan sang suami, itu di larang. Seperti di agama kakek, hukum istri meninggalkan suami adalah haram. Istri yang keluar rumah tanpa mendapatkan izin dari suami, maka ia akan mendapatkan laknat dari malaikat bahkan jika dilakukan hanya dalam satu detik saja"
"Laknat? apa itu kek?" tanya Eve yang melambatkan gerakan di mulutnya. Kata-kata itu masih asing baginya
"Laknat itu adalah siksaan yang amat sangat pedih dari Allah, untuk umatnya yang berbuat dosa"
"Bagaimana kalau istri di siksa oleh suaminya kek?"
"Kalau untuk kasus KDRT, kamu bisa langsung mencari pertolongan, hubungi keluarga, jangan di pendam sendiri" Jawab Ramdan dengan tatapan curiga. "Apa suamimu menyiksamu nak Eve?"
"T-tidak" elaknya gugup.
Bersamaan dengan jawaban Eve, terdengar suara pintu gerbang di buka oleh satpam.
Tampak mobil berwarna hitam memasuki area rumah mewah berlantai tiga setelah pintu terbuka. Ramdan dan Eve pun kompak memusatkan perhatian ke arah mobil yang baru saja berhenti.
Sekian detik kemudian, sosok Tama dan Nara membuka pintu mobil lalu keluar.
Pandangan Tama langsung tertuju pada Eve yang sedang duduk berdampingan dengan Ramdan yang di batasi sebuah meja.
Tak mau basa basi, pria itu langsung berlari untuk memeluk putri kandungnya yang menghilang bertahun-tahun lamanya.
Begitu berdiri di hadapannya, Tama menarik tangan Eve agar berdiri, detik itu juga ia memeluknya erat-erat. Ada isak yang keluar dari mulut Tama dan seketika membuat Ramdan serta Eve bertanya-tanya.
"Pelitaku!" gumam Tama lalu mengecup pucuk kepalanya.
Apa hasilnya positive? aku adalah anak kandung mereka?
Apa benar mereka adalah keluargaku?
"Sayang, maafkan daddy nak, daddy tidak menjagamu dengan baik" kata Tama memutus pemikiran Eve.
"Daddy? A-apa hasil DNAnya mengatakan jika aku adalah bayi kalian yang hilang?"
Meskipun tak mengeluarkan suara, namun anggukan kepala Tama serta Amara sudah cukup bisa di mengerti oleh Eve.
Amara yang berdiri di balik punggung Tama, tampak mengusap pipinya yang basah.
"D-daddy? jadi pak Tama adalah daddyku?"
"Iya nak" sahut Tama sambil menahan isak. "Aku daddymu, dan Nara adalah mommymu, mommy yang melahirkanmu dan Pijar nak"
Seakan tak percaya, persekian detik kemudian bendungan di pelupuk mata Eve luruh seketika.
Sementara pak Ramdan, ia yang tadi sempat berdiri karena terkejut pada sang menantu yang tiba-tiba memeluk Eve, kembali terduduk lemas mendengar fakta yang ia dengar.
__ADS_1
Dia cucuku? Bisik Ramdan dalam hati.
Bersambun****g