
"Ini saudari kandung kamu, Jar" Nara memperkenalkan Eve pada Pijar.
Sebenarnya, Pijar sudah tahu tadi malam saat Nara menelpon Amara, tapi ia tak menyangka jika Eve serta daddynya akan datang hari ini.
"Eve, ini adik kamu, dia lahir selang sepuluh menit setelah kamu. Pijar Gala Nalendra"
"Kalau saja Eve enggak hilang, nama Eve sebenarnya itu Pelita, Pelita Stevanie Nalendra" sambar Tama menyela.
Saat Pijar dan Eve berdiri saling berhadapan, mereka terdiam dengan bola mata bergerak saling mengikuti gerakan manik hitam lawannya.
Ketika Pijar merentangkan kedua tangan, perlahan Eve mendekat kemudian melingkarkan lengan di pinggang Pijar yang memiliki tubuh atletis dan proporsional.
Pijarpun tanpa ragu membalas pelukan sang kakak yang justru tampak lebih kecil darinya.
Rasanya seperti mimpi, Eve yang begitu mengidolakan atlet dari Indonesia, ternyata adalah seseorang yang memiliki darah yang sama, bahkan mereka pernah saling berebut makanan saat berada di dalam kandungan. Pantas saja Eve tak mau melewatkan pertandingan yang di mainkan oleh Pijar. Dia selalu menonton meski hanya melalui televisi.
Wajah Pijar memang selalu ingin dia tatap setiap saat.
"Kakak kecilku" gumam Pijar, dagunya mendara di puncak kepala Eve.
"Kesempatan buat jadi istrimu sirna seketika"
"Apa?" Pijar melonggarkan pelukannya begitu mendengar kalimat Eve, lalu sedikit menunduk untuk melihat wajahnya, sementara Eve mendongak dengan menempelkan dagu di dada Pijar.
"Padahal aku penginnya jadi istrimu, tapi malah jadi kakakmu"
Pijar langsung menjentikkan jarinya di kening Eve.
"Kalau kamu pengin jadi istriku, kenapa malah menikah sama si tuan Macau?"
"Aku terpaksa menikah dengannya"
"Bohong, kamu cinta sama dia, kelihatan tuh dari mata kamu"
Eve tak lagi merespon, ia kembali mengeratkan pelukan kali ini ganti menempelkan salah satu sisi wajahnya.
Di sana Tama dan Nara tersenyum tipis melihat kelakuan anak kembarnya.
"Kita sarapan dulu yuk" Ajak Nara.
"Ayo, jangan sampai cucu opa kelaparan"
"Cucu?"
"Iya mom, Eve kan lagi hamil"
"Oh ya?" Nara menyentuh perut Eve.
"Heem, makannya kita harus cepat-cepat pulang, Kellen pasti udah kangen banget sama Eve"
"Biasa aja dad"
__ADS_1
"Loh kok biasa si Ve? kangen sama suami itu ibadah loh, mommy juga tiap hari kangen daddy"
Andai saja mom, tapi pria jahat itu tidak mencintaiku, dia menikahiku hanya karena ingin membalas tindakan daddy ke auntynya.
"Ya udah kita makan dulu, nanti kita adakan pertemuan dengan keluarga Kellen, mumpung tuan dan nyonya Pandu masih di Indonesia, kita juga harus berterimakasih pada El serta orang tuanya yang sudah mau menerima Eve dan menjadikannya menantu kesayangan"
"Dan lagi" tambah Tama dengan sorot serius. "Kita harus temui bu Pelita yang sudah merawat Eve"
"Bu Pelita?"
Mereka menarik kursi makan masing-masing.
"Ternyata yang nemuin Eve kebetulan namanya Pelita mom"
"Benar Ve?" Nara melirik Eve sambil menyiduk nasi.
"Iya mom"
"Berarti kita banyak agenda ya"
"Makannya kita nggak usah lama-lama disini"
****
Berita di temukannya bayi yang hilang dua puluh tiga tahun lalu sudah menyebar di media online maupun cetak. Berulang kali berita itu muncul di beranda, apalagi di balik fakta itu ada sosok Kellen yang jelas ketenarannya tak pernah redup. Dari mulai Pandu yang dulu selalu menjadi santapan media, sampai ke anak-anaknyapun seakan tak pernah lepas dari tatapan paparazi.
Namun, ada sosok wanita paruh baya yang menyorot tak suka atas berita bahagia yang datang dari keluarga Nalendra. Wanita itu, sangat menyesali perbuatannya. Bukan menyesali soal aksi penculikannya, melainkan menyesal kenapa dia tidak membunuh saja bayi itu.
Dan saat ini wanita bernama Mishella tengah merasa cemas, takut kalau-kalau Tama mengusut kembali kasus itu. Di tambah lagi bahwa bayi yang sudah ia culik saat ini sudah menikah dengan pebisnis muda asal Macau.
Sudah pasti Tama akan meminta bantuan sang menantu untuk mencari penculiknya.
"Aku harus memastikan kalau Shola dan Isna tetap bungkam. Tersisa mereka berdua yang terlibat dalam penculikan Eve, aku tidak perlu khawatir tentang mas Jonas yang membantuku menonaktifkan semua CCTV di rumah sakit itu, karena dia sudah tiada"
"Aku sangat yakin, Kellen Austin pasti akan mencari tahu peristiwa di rumah sakit keluarganya"
"Dan aku harus cepat-cepat menemui Sholla serta Isna sebelum pria musang dari Macau itu lebih dulu menemukan mereka"
Tanpa dia sadari, ada sosok Rena anak dari almarhum suaminya yang mendengar gumaman kecilnya. Mishella, saat itu menikah di usia tiga puluh dua tahun, dia berjodoh dengan Jonas seorang duda beranak satu.
Ohh, jadi mamah dan papa yang sudah menculik bayi itu? ketika hidup papa di hantui rasa bersalah selama bertahun-tahun, ingin meminta maaf dan menceritakan semuanya pada keluarga Nalendra, mamah mencegahnya, lalu mereka ribut besar terus papa terkena serangan jantung.
Bukannya menolong papa saat itu, mamah justru membiarkan papa meregang nyawa. Setelah kematian papa, dia seenaknya menjadikanku pembantu di rumah besar ini.
Sekarang sudah cukup, semua akan berakhir! Akan aku gunakan vidio ini untuk mengancamnya.
Mau tidak mau, kamu harus lengser dari rumah ini sebagai ratu Mishella.
"Ternyata selama ini mamah menyimpan rahasia besar rupanya"
Suara Rena dari balik punggung, membuat Mishella terlonjak kaget. Ia langsung berbalik lalu mempertemukan netranya.
__ADS_1
"R-Rena"
"Iya, ada apa?" ucapnya santai di susul senyuman miring yang terbit dari sudut bibirnya.
"Apa maksudmu, Rena?"
Rena berdecih. "Seharusnya pertanyaan itu dariku mah, apa maksud ucapan mamah tadi?"
"Ucapan yang mana maksud kamu?"
"Tidak usah berkelit mah, sekarang jadikan aku ratu di rumah ini, maka mamah akan aman"
"Apa maksudmu?"
"Mamah ini bodoh atau neneknya bodoh si?"
Usai mengatakan itu, Rena langsung memutar rekaman video yang sempat di ambil.
"Kurang ajar kamu Rena" Sentaknya sambil berusaha merebut ponsel anak tirinya.
"Jangan jadikan aku pembantu mah, aku juga punya hak atas rumah ini, kalau bukan karena papah, rumah sakit mamah yang gulung tikar itu pasti tidak bisa beroperasi kembali, so kita tukar posisi. Aku ratu, dan mama pembantu. Dengan begitu, maka akan aku pastikan rekaman ini tidak akan pernah sampai ke keluarga Nalendra dan tentunya si musang Macau"
"Kamu mengancamku?"
"Ya begitulah, karena aku sudah muak dengan mamah"
"Apa kamu lupa, kalau aku yang merawatmu?" tanya Mishella memicing.
"Apa mamah lupa, bagaimana cara mamah merawatku?" Rena tak mau kalah.
"Dasar anak kurang ajar, durhaka, tidak malu!!"
"Hanya dengan satu klik saja, hidup mamah akan berakhir di penjara, MAU?"
"Apa maumu, Rena?"
"Sudah ku bilang tadi, kita tukar posisi"
"Tidak bisa"
"Jadi lebih milih hidup di penjara, begitu?"
"RENA!" Tangan Mishella terangkat hendak menampar Rena, namun dengan cepat gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu menangkap tangan Shella yang mengudara.
"Berani kamu Rena?"
"Tentu saja, karena kesabaranku sudah habis" Rena membalas tatapan Shella yang tajam. "Ku beri waktu satu menit untuk berfikir, atau dalam tiga puluh menit polisi akan datang dan membawamu pergi. Kamu akan meninggalkan rumah mewah ini karena kamu harus menghabiskan sisa umurmu di dalam sel. So, tentukan pilihanmu satu menit dari sekarang"
Aku akan menyiksamu terlebih dulu mamah Shella, setelah aku puas membalaskan rasa sakit hatiku, aku tetap akan menyerahkan video ini kepada keluarga Nalendra. Biar bagaimanapun, kebenaran harus menang, dan yang salah, wajib mendapat hukuman.
Bersambung....
__ADS_1